000 DAFTAR ISI

download 000 DAFTAR ISI

of 15

  • date post

    12-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of 000 DAFTAR ISI

  • 91

    TEKNIK PEMANGKASAN (Shorea leprosula Miq.) SEBAGAI BAHAN PERBANYAKAN VEGETATIF DENGAN CARA STEK

    Prunning Techniques of Shorea leprosula Miq. as Vegetative Propagation Material for Cutting

    Maman Sulaeman

    Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 15 Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta - 55582

    I. PENDAHULUAN

    Perbanyakan secara vegetatif menggunakan metode stek pucuk telah dijadikan

    solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan bibit jenis meranti tembaga (Shorea

    leprosula) (Mashudi dkk., 2012; Danu dkk., 2010). Hal ini dilakukan karena perbanyakan

    secara generatif untuk jenis tersebut dipandang masih menemui beberapa kendala akibat

    sifat bijinya yang rekalsitran dan musim berbunganya yang tidak berlangsung setiap

    tahun (Badan Litbang Kehutanan dan Perkebunan, 1998).

    Hartmann dkk. (1997) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa keberhasilan

    stek pucuk dipengaruhi oleh kondisi bahan tanaman, lingkungan dan pengatur zat

    tumbuh. Faktor bahan tanaman meliputi karakter genetik, kandungan cadangan makanan,

    ketersediaan air, hormon endogen tingkat juvenilitas dan umur tanaman. Faktor

    lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan penyetekan, antara lain media perakaran,

    kelembaban, suhu, intensitas cahaya dan teknik penyetekan.

    Tingkat juvenilitas bahan stek sangat dipengaruhi oleh umur tanaman dan

    merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan perakaran bahan stek

    (Galopin dkk., 1996; Hartmann dkk., 1997). Tingkat juvenilitas pucuk bahan stek

    umumnya menentukan kandungan auksin dan nutrisi bahan stek. Tanaman yang tua dan

    sulit berakar dapat direjuvenasi. Salah satu teknik rejuvenasi adalah dengan melakukan

    pangkasan pada pohon tersebut.

    Meskipun telah ditemukan teknologi propagasi Shorea spp. dengan menggunakan

    sistem stek (cutting system), namun pada faktanya kegiatan pembangunan hutan masih

    mengandalkan biji dan cabutan anakan (permudaan alam), baik yang berasal dari hutan

    alam primer maupun hutan bekas tebangan (Noorcahyati dan Omon, 2008).

    Menurut Leppe dan Smits (1988), pembangunan kebun pangkas dapat menyediakan

    tunas-tunas orthothrop (tunas tumbuh secara vertikal) dan selalu muda (juvenil) sebagai

  • Informasi Teknis Vol.11 No. 2, September 2013, 91 - 106

    92

    bahan stek yang berkualitas. Pembentukan tunas baru dapat dilakukan dengan cara

    pemangkasan.

    Tulisan ini ditujukan sebagai langkah untuk mendapatkan tunas yang juvenil

    melalui pemangkasan pohon induk yang dipilih.

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    Pemangkasan dilakukan untuk merangsang pembentukan tunas-tunas baru yang

    muda (juvenil) secara fisiologis sebagai bahan stek yang berkualitas. Pemangkasan pada

    bagian atas tanaman akan menstimulasi tumbuhnya tunas-tunas baru pada bagian aksiler

    batang (Dwijoseputro, 1983). Jumlah tunas yang tumbuh dipengaruhi oleh beberapa

    faktor yaitu umur pohon, ukuran pohon, tinggi pangkasan, kondisi lingkungan, jarak

    tanam, waktu dan stimulasi hormon (Zobel dan Talbert, 1984; Kijkar, 1991). Semakin tua

    umur tanaman maka kemampuan untuk menghasilkan tunas semakin berkurang.

    Pemangkasan kuncup apikal dan daun-daun muda sering dilakukan untuk

    meningkatkan percabangan. Teknik ini juga memungkinkan cabang tumbuh lebih tegak,

    terutama cabang teratas. Pada banyak spesies, pemangkasan daun-daun muda secara

    terus-menerus sama efektifnya dengan pemangkasan keseluruhan apeks tajuk. Hal

    tersebut menunjukkan bahwa suatu faktor dominansi, yaitu zat penghambat, terdapat di

    apeks tajuk maupun daun muda. Jika auksin ditambahkan pada sisa batang yang apeks

    tajuknya dipangkas, maka perkembangan kuncup samping dan arah pertumbuhan yang

    tegak akan terhambat lagi. Penggantian kuncup atau daun muda oleh auksin menunjukkan

    bahwa zat penghambat yang dihasilkan adalah auksin. Namun pemberian auksin untuk

    mencegah perkembangan kuncup samping ini diperlukan dalam dosis yang sangat tinggi

    hingga 1.000 kali lipat kandungan auksin kuncup apikal itu sendiri (Salisbury dan Ross,

    1995).

    Auksin merupakan salah satu hormon yang tergolong dalam zat pengatur tumbuh

    pada tumbuhan. Umumnya auksin terdapat dalam jumlah yang banyak pada bagian

    tumbuhan yang sedang aktif tumbuh dan berkembang, antara lain pada ujung tunas, ujung

    akar, kambium, dan daun-daun muda. Auksin ini memacu pertumbuhan dengan

    mengakibatkan pengenduran dinding sel (Suwasono, 1989).

    Selain pengaruh auksin, nisbah auksin-sitokinin juga berperan dalam dominansi

    apikal. Nisbah auksin-sitokinin yang tinggi mendukung dominansi apikal, sedangkan

  • Teknik Pemangkasan Shorea leprosula Miq. Sebagai Bahan Perbanyakan Vegetatif dengan Cara Stek

    Maman Sulaeman

    93

    nisbah auksin-sitokinin yang rendah mendukung pertumbuhan tajuk maupun tunas lateral

    (Salisbury dan Ross, 1995).

    Pemangkasan adalah penghilangan bagian tanaman, sedangkan dalam proses

    pemangkasan dahan tanaman, bagian tanaman yang dihilangkan atau di pangkas ialah

    bagian dahan atau ranting (Anonima, 2013). Ada beberapa latar belakang yang mendasari

    mengapa tanaman harus dipangkas yaitu:

    1. Mengatur arah tumbuh tanaman

    2. Menjaga kesehatan tanaman

    3. Mengurangi bagian tanaman tidak produktif (parasite)

    4. Mengurangi habitat hidup OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)

    Selain itu dalam kegiatan pemangkasan ada beberapa tipe pemangkasan, dimana

    setiap tipe memiliki tujuan dan fungsi yang berbeda (Anonimb, 2013) yaitu:

    1. Pangkas bentuk

    Pangkas bentuk adalah pemangkasan yang bertujuan untuk membentuk tajuk

    tanaman seawal mungkin, pada umur tanaman yang masih muda, untuk mendapatkan

    tajuk dengan pertumbuhan terbaik, seimbang, dan proporsional.

    2. Pangkas produksi

    Pangkas produksi yaitu pemangkasan yang bertujuan untuk merangsang munculnya

    tunas-tunas produktif, khususnya tunas-tunas yang berada di tajuk bagian terluar dari

    tanaman. Semakin banyak tunas produktif di ujung ranting, maka kemungkinan

    munculnya bunga dan buah juga akan semakin banyak, artinya jumlah bunga/buah

    berbanding lurus dengan jumlah ujung ranting produktif.

    3. Pangkas pemeliharaan

    Pangkas pemeliharaan lebih ditujukan untuk memeliharan kesehatan tanaman secara

    keseluruhan dengan melakukan pemangkasan bersamaan dengan pemberian pupuk.

    Umumnya dilakukan pasca tanaman menyelesaikan periode berbuah, saat dimana

    energi tanaman terkuras habis untuk membesarkan buah, dimulai saat pentil buah

    terbentuk hingga buah masak fisiologis. Pemangkasan dilakukan dengan memangkas

    habis semua ujung-ujung ranting tempat keluarnya bunga/buah.

    Pemangkasan ujung-ujung ranting akan merangsang keluarnya tunas-tunas baru

    yang jumlahnya akan lebih banyak dari jumlah tunas sebagai ujung ranting. Selain itu

    akan memudahkan pemeliharaan dengan mempertahankan tinggi tanaman yang tetap

    pendek, tidak tinggi menjulang atau tumbuh terlalu melebar ke arah samping sehingga

  • Informasi Teknis Vol.11 No. 2, September 2013, 91 - 106

    94

    menghabiskan banyak tempat untuk menunjang pertumbuhan tanaman secara

    keseluruhan.

    Pemangkasan jenis Shorea leprosula ini lebih cenderung pada pangkasan

    pemeliharaan dan pangkasan produksi dengan tujuan untuk mendapatkan tunas-tunas

    yang produktif, juvenil dan tetap mempertahankan tanaman tersebut pendek. Sebagai

    usaha memperbanyak pohon dengan cara stek ini tentunya tunas-tunas yang juvenil

    tersebut sangat dibutuhkan.

    III. METODOLOGI

    A. Waktu dan lokasi kegiatan

    Kegiatan pemangkasan dilakukan pada bulan Februari sampai dengan Juni 2012.

    Tempat di persemaian Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman

    Hutan Purwobinangun, Pakem Sleman Yogyakarta. Ketinggian tempat berada pada 287

    m dpl.

    B. Bahan dan alat

    Bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut:

    1. Bahan tanaman

    Bahan yang digunakan adalah bibit Shorea leprosula usia 1,5 tahun dalam polybag

    ukuran 25 x 25 cm yang heterosigot hasil analisis DNA dari 4 populasi (Muara

    Waho, Kenangan, Berau dan Kalbar).

    2. Bahan kegiatan

    Bambu, plastik sungkup ukuran tebal 0.10 mm, label, pupuk NPK (25-7-7) paranet

    65%, dan alat tulis

    3. Alat

    Gunting stek, thermometer, higrometer, kamera, dan galah ukur.

    C. Persiapan pemangkasan

    Loveless (1991) mengatakan bahwa kondisi lingkungan sangat mempengaruhi

    pertumbuhan tunas antara lain kelembaban, status unsur hara/kesuburan media dan

    penyinaran cahaya matahari. Oleh sebab itu sebelum melakukan kegiatan pemangkasan

    ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut:

    1. Pemupukan

    Setiap polybag diberikan pupuk NPK dengan dosis 5 gram. Tujuan utama dari

    pemupukan ini adalah menjamin ketersediaan hara secara optimum untuk

  • Teknik Pemangkasan Shorea leprosula Miq. Sebagai Bahan Perbanyakan Vegetatif dengan Cara Stek

    Maman Sulaeman

    95

    mendukung pertumbuhan mengingat media yang terbatas dalam polybag (gambar 1).

    Kegiatan pemupukan dilakukan seminggu sebelum pemangkasan, agar pupuk

    tersebut larut dalam media dan secara langsung bisa diserap tanaman.

    2. Pengukuran tinggi dan diameter

    Pengukuran yang dimaksud untuk melihat dimensi pertumbuhan dari tanaman

    Shorea yang akan