BAB I PENDAHULUAN A. Latar...

of 36/36
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paparan sinar matahari secara berlebih merupakan mediator eksogen utama terjadinya kerusakan pada kulit yang dapat mempercepat terjadinya penuaan dan resiko terjadinya kanker pada kulit. Sinar UV pada dasarnya memiliki manfaat dalam pembentukan vitamin D3 (Cholecalciferol) yang digunakan untuk metabolisme pembentukan tulang dan sistem imun. Selain itu, radiasi sinar UV juga dapat digunakan untuk terapi penyakit tbc, psoriasis, dan vitiligo (Cefali dkk., 2016). Akan tetapi, paparan sinar UV secara terus-menerus justru dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan (Kockler dkk., 2012). Sinar UV dibagi menjadi 3 daerah, yaitu: UV C(100-290 nm), UV B (290- 320 nm), dan UV A (320-400 nm) dimana sinar UV C dapat tersaring oleh lapisan atmosfer dan tidak dapat sampai ke permukaan bumi, UV B dapat menetrasi lapisan permukaan kulit yang paling atas, dapat menyebabkan terjadinya kerusakan DNA dan terbakar surya, dan sinar UV A yang dapat menetrasi lapisan kulit lebih dalam sampai lapisan dermis, dapat menyebabkan terjadinya penuaan, pigmentasi, eritema, tanning, dan kerusakan DNA akibat adanya senyawa oksigen reaktif atau ROS (Reactive Oxcygen Species). Efek buruk jika terpapar sinar UV terlalu lama dapat menyebabkan terjadinya kanker kulit, terbakar surya, kerusakan mata seperti katarak dan melanoma, penuaan kulit secara prematur, pigmentasi, eritema, dan kerusakan sistem imun (Cefali dkk., 2016; Kockler dkk., 2012, Kulkarni dkk., 2014).
  • date post

    29-May-2018
  • Category

    Documents

  • view

    226
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of BAB I PENDAHULUAN A. Latar...

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Paparan sinar matahari secara berlebih merupakan mediator eksogen utama

    terjadinya kerusakan pada kulit yang dapat mempercepat terjadinya penuaan dan

    resiko terjadinya kanker pada kulit. Sinar UV pada dasarnya memiliki manfaat

    dalam pembentukan vitamin D3 (Cholecalciferol) yang digunakan untuk

    metabolisme pembentukan tulang dan sistem imun. Selain itu, radiasi sinar UV

    juga dapat digunakan untuk terapi penyakit tbc, psoriasis, dan vitiligo (Cefali

    dkk., 2016). Akan tetapi, paparan sinar UV secara terus-menerus justru dapat

    memberikan efek buruk bagi kesehatan (Kockler dkk., 2012).

    Sinar UV dibagi menjadi 3 daerah, yaitu: UV C(100-290 nm), UV B (290-

    320 nm), dan UV A (320-400 nm) dimana sinar UV C dapat tersaring oleh lapisan

    atmosfer dan tidak dapat sampai ke permukaan bumi, UV B dapat menetrasi

    lapisan permukaan kulit yang paling atas, dapat menyebabkan terjadinya

    kerusakan DNA dan terbakar surya, dan sinar UV A yang dapat menetrasi lapisan

    kulit lebih dalam sampai lapisan dermis, dapat menyebabkan terjadinya penuaan,

    pigmentasi, eritema, tanning, dan kerusakan DNA akibat adanya senyawa oksigen

    reaktif atau ROS (Reactive Oxcygen Species). Efek buruk jika terpapar sinar UV

    terlalu lama dapat menyebabkan terjadinya kanker kulit, terbakar surya, kerusakan

    mata seperti katarak dan melanoma, penuaan kulit secara prematur, pigmentasi,

    eritema, dan kerusakan sistem imun (Cefali dkk., 2016; Kockler dkk., 2012,

    Kulkarni dkk., 2014).

  • 2

    Kulit manusia pada dasarnya memiliki mekanisme tersendiri untuk

    melindungi dari bahaya sinar UV, yaitu dengan melakukan pembentukan butir-

    butir pigmen (melanin) yang akan memantulkan kembali sinar UV. Jika kulit

    terpapar sinar matahari, maka akan timbul dua tipe reaksi melanin, seperti

    penambahan melanin secara cepat ke permukaan kulit dan pembentukan

    tambahan melanin baru. Akan tetapi, apabila kulit terpapar sinar UV secara terus-

    menerus dapat mengakibatkan hiperpigmentasi yang dapat memicu timbulnya

    noda hitam pada kulit dan kerusakan kulit lainnya, seperti penuaan dini dan

    kanker kulit (Trenggono dkk., 2007). Oleh karena itu, untuk menjaga kulit dari

    efek buruk radiasi sinar UV, maka diperlukan perlindungan menggunakan tabir

    surya (Balakhrishnan dan Narayanasmamy, 2011).

    Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang digunakan dengan maksud

    memantulkan atau menyerap secara aktif cahaya matahari terutama pada daerah

    dengan emisi gelombang ultraviolet dan inframerah, sehingga dapat mencegah

    terjadinya gangguan kulit karena sinar UV (Draelos dan Thaman, 2006).

    Berdasarkan kandungan zat aktifnya, sediaan tabir surya dibedakan menjadi 2

    yaitu sunblock dan sunscreen. Sunblock merupakan sediaan tabir surya yang

    mekanisme kerjanya secara fisik memantulkan sinar UV, sedangkan sunscreen

    secara kimia menyerap sinar UV agar tidak menyerang sel kulit (Trenggono dkk.,

    2007).

    Senyawa yang memiliki aktivitas sebagai pelindung terhadap sinar

    matahari sangat berguna dalam mengurangi efek buruk radiasi sinar UV pada

    kulit. Namun, banyak zat aktif pengabsorpsi sinar UV yang dapat menyebabkan

  • 3

    terjadinya alergi dan iritasi pada kulit. Oleh karena itu, pengembangan formulasi

    yang mengandung ekstrak tanaman sedang dikembangkan. Kosmetik dari

    tumbuhan yang biasa digunakan untuk menghindari penuaan yaitu senyawa

    antioksidan. Senyawa antioksidan dapat digunakan untuk meminimalisir aktivitas

    radikal bebas dan melindungi kulit dari radiasi sinar UV karena adanya

    kandungan polifenol dalam senyawa. Senyawa yang mengandung cincin aromatik

    dapat mengabsorpsi sinar UV khususnya UV A dan UV B pada panjang

    gelombang 200-400 nm (Cefali dkk., 2016; Kockler dkk., 2012; Mishra dkk.,

    2011). Beberapa senyawa aktif antioksidan seperti flavonoid, tannin, antraquinon,

    sinamat, kurkumin, dan lain-lain telah dilaporkan memiliki kemampuan sebagai

    pelindung terhadap sinar UV (Singh dkk., 2009; Hogade, 2010; Rasheed dkk.,

    2012).

    Tabir surya masih sedikit yang menggunakan zat aktif dari senyawa aktif

    bahan alam. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk membuat sediaan tabir

    surya menggunakan senyawa aktif bahan alam yang diambil dari temu mangga

    (Curcuma mangga Val.). Berdasarkan literatur, temu mangga mengandung

    senyawa antioksidan, diantaranya kalkon, flavanon, flavon, dan kurkumin yang

    memiliki gugus kromofor dan cincin aromatik (Lajis, 2007; Suryani, 2009;

    Hartati, 2010). Gugus kromofor tersebut merupakan sistem aromatik terkonjugasi

    yang memiliki kemampuan untuk menyerap sinar pada kisaran panjang

    gelombang sinar UV baik pada UV A maupun UV B (Ismiyana dkk, 2015).

    Menurut Sri Hartati dalam Majalah Farmasi Indonesia (2010) menyebutkan juga

    bahwa senyawa aktif yang terdapat pada rimpang temu mangga dapat digunakan

  • 4

    sebagai senyawa aktif dalam sediaan tabir surya, sehingga dapat digunakan

    sebagai pertimbangan dasar dilakukannya penelitian untuk menguji optimasi

    formula ekstrak etanol temu mangga sebagai tabir surya. Dari pertimbangan dasar

    tersebut, peneliti akan melakukan penelitian uji aktivitas ekstrak etanol temu

    mangga dalam bentuk lotion w/o yang dapat diaplikasikan pada kulit manusia.

    Formula sediaan lotion dipilih karena sediaan tersebut lebih sering dipakai

    untuk sediaan topikal tabir surya. Lotion dapat berupa suspensi, emulsi, atau

    larutan dengan atau tanpa obat yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal yang

    kecairannya memungkinkan pemakaian yang merata dan cepat pada permukaan

    kulit yang luas sehingga cepat kering, mudah dioleskan, mudah menyebar, dan

    meninggalkan lapisan tipis dari komponen pada permukaan kulit (Ansel, 1989;

    Jone, 2008). Lotion tipe w/o memiliki beberapa keuntungan yaitu tidak mudah

    dicuci dengan air dan memiliki daya lekat yang lama sehingga substantivitas dan

    efektivitasnya jika digunakan menjadi lebih baik (P.Agin, 2006; Rai dan Srinivas,

    2007).

    Sediaan lotion agar dapat memenuhi kriteria perlindungan kulit dengan

    baik, maka perlu dilakukan optimasi formula lotion w/o tabir surya dengan basis

    cera alba, setil alkohol, dan gliserin. Cera alba berfungsi untuk meningkatkan

    konsistensi lotion, setil alkohol berfungsi sebagai emulgator dan emollient yang

    dapat meningkatkan stabilitas lotion, dan gliserin berfungsi sebagai humektan dan

    emollient yang dapat mempengaruhi stabilitas dari lotion (Rowe dkk., 2006).

    Optimasi variasi ketiga bahan tersebut pada jumlah tertentu diharapkan akan

    menghasilkan lotion dengan sifat fisik yang baik dan nyaman digunakan. Salah

  • 5

    satu metode optimasi untuk mendapatkan formula lotion w/o tabir surya yaitu

    dengan menggunakan metode Simplex Lattice Design. Dengan metode ini dapat

    dilihat efek konsentrasi tiap-tiap komponen terhadap respon dan bagaimana

    interaksi dari masing-masing komponen tersebut terhadap respon yang diamati

    (Bolton, 1997).

    B. Rumusan Masalah

    Rumusan masalah yang akan diselesaikan pada penelitian ini antara lain :

    1. Apakah ekstrak etanol temu mangga mampu menghasilkan nilai SPF sedang

    menurut FDA?

    2. Apakah lotion w/o ekstrak etanol temu mangga yang optimum memiliki sifat

    fisik dan stabilitas fisik yang baik selama penyimpanan dalam kurun waktu

    satu bulan?

    3. Apakah formula optimum lotion w/o ekstrak etanol temu mangga memiliki

    aktivitas sebagai tabir surya?

    C. Tujuan

    Tujuan dari penelitian ini adalah :

    1. Mengetahui konsentrasi ekstrak etanol temu mangga yang mampu

    menghasilkan nilai SPF sedang menurut Food and Drug Administration

    (FDA).

    2. Mengetahui sifat fisik dan stabilitas fisik formula optimum lotion w/o pada

    penyimpanan dalam kurun waktu satu bulan.

    3. Mengetahui aktivitas tabir surya lotion w/o pada formula optimum secara in

    vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis

  • 6

    D. Pentingnya penelitian diusulkan

    Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan bahan alam

    sebagai zat aktif utama dalam sediaan tabir surya yang lebih aman sebagai

    pengganti senyawa sintetis, sebab bahan alam memiliki toleransi yang baik pada

    kulit sehingga tidak menimbulkan alergi dan iritasi pada kulit.

    E. Keaslian Penelitian

    Sri Hartati (2010) dalam Majalah Farmasi Indonesia melaporkan bahwa

    senyawa yang terkandung dalam temu mangga (Curcuma mangga) pada kadar

    tertentu menunjukkan nilai SPF yang sesuai persyaratan dalam FDA. Sampai saat

    ini, belum ada laporan penelitian tentang pembuatan kosmetik tabir surya sediaan

    lotion w/o menggunakan ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) dan

    diuji nilai SPF, persen eritema (%Te), dan persen pigmentasi (%Tp) pada formula

    optimum secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Visible.

    F. Tinjauan Pustaka

    1. Taksonomi dan morfologi temu mangga (Curcuma manga Val.)

    Gambar 1. Rimpang temu mangga (wikipedia.org)

  • 7

    Temu mangga merupakan tanaman herbal yang termasuk ke dalam

    sistematika tumbuhan dan diklasifikasikan sebagai berikut :

    Kingdom : Plantae

    Divisi : Spermatophyta

    Sub divisi : Angiospermae

    Kelas : Monocotyledonae

    Ordo : Zingiberaceae

    Famili : Zingiberaceae

    Genus : Curcuma

    Spesies : Curcuma mangga Val.

    (Gusmaini dkk., 2004)

    Temu mangga biasa ditemukan di Pulau Jawa, Malaysia, dan Thailand.

    Temu mangga termasuk dalam tanaman tahunan yang berbentuk rimpang

    berbatang semu dan memiliki sejumlah anakan. Rimpang temu mangga

    bercabang, dibagian luar berwarna kekuningan, dan memiliki warna daging

    berwarna kuning lebih gelap dengan dilingkari warna putih. Daun temu mangga

    berbentuk elips-obling yang meruncing dibagian ujung daun, dengan panjang

    15-95 cm dan lebar 5-23 cm, berwarna hijau, dan terdapat warna ungu di bagian

    tangkai daun. Sistem perakaran tanaman termasuk akar serabut. Akar melekat

    dan keluar dari rimpang induk. Panjang akar sekitar 25 cm dan letaknya tidak

    beraturan (Gusmaini dkk., 2004).

    Rimpang dan daun Curcuma mangga Val. mengandung saponin serta

    flavonoid, daunnya mengandung polifenol (Hutapea dkk., 1993). Kandungan

  • 8

    kimia lain yang ada pada rimpang meliputi kalkon; flavon; flavanon; (E)-labda-

    8(17),12-dien-15,16-dial; (E)-15,16-bisnorlabda8(17),11-dien-13-one; zerumin

    A; -sitosterol; kurkumin; demetoksikurkumin; dan bisdemetoksikurkumin

    (Abas dkk., 2005; Lajis, 2007; Malek dkk., 2011). Hasil analisis HPLC terhadap

    kandungan senyawa fenolik dalam temu mangga terdiri dari asam galat, katekin,

    epikatekin, epigalokatekin, epigalokatekin galat, dan galokaterkin galat

    (Pujimulyani dkk., 2013). Hasil analisis kandungan kurkuminoid dalam temu

    mangga menggunakan metode HPLC didapatkan kandungan kurkuminoid

    sebanyak 0,18-0,47 % (Bos dkk., 2007).

    Temu mangga berkhasiat sebagai penurun panas (antipiretik), penangkal

    racun (antitoksik), pencahar (laksatif), antioksidan, antiinflamasi, dan

    antimikroba (Hong dkk., 2015). Khasiat lainnya digunakan untuk mengatasi

    kanker, sakit perut, mengecilkan rahim setelah melahirkan, mengurangi lemak

    perut, menambah nafsu makan, menguatkan syahwat, gatal-gatal pada vagina

    (pruritis), sesak nafas (asma), radang saluran nafas (bronchitis), demam,

    kembung, dan masuk angin (Hariana, 2006).

    2. Flavonoid

    Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder

    yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan pada tanaman. Flavonoid

    termasuk dalam golongan senyawa fenolik dengan struktur dasar C6 -C3 C6

    pada tumbuhan yang memegang peran sebagai fotoprotektan dan memiliki

    kontribusi pada warna tumbuhan (Madhavi dkk., 1985 dan Maslarova, 2001).

    Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A, satu cincin aromatik B,

  • 9

    dan cincin tengah berupa heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk

    teroksidasi cincin dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub

    kelompoknya. Flavonoid telah dikenal sebagai antioksidan poten dengan

    aktivitasnya sebagai penangkap elektron, donasi atom hidrogen, atau melalui

    kemampuannya mengkelat dengan logam berada dalam bentuk glukosida

    (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut

    aglikon (Markham, 1988).

    Gambar 2. Struktur dasar flavonoid (Kar, 2007)

    Flavonoid dalam tanaman biasanya terdapat pada permukaan atau dalam

    sel epidermis daun hijau. Kemungkinan senyawa ini berfungsi melindungi daun

    dari efek radiasi cahaya UV dan dapat menekan fotoperoksidasi lipid oleh

    penangkapan anion superoksid yang dihasilkan selama proses peroksidasi dalam

    kloroplas. Dengan demikian senyawa tersebut diharapkan dapat berfungsi

    sebagai pelindung kulit manusia dari radiasi sinar UV atau sebagai antioksidan

    alamiah (Kometani dkk., 1994).

    Flavonoid memiliki potensi sebagai tabir surya karena adanya gugus

    kromofor yang umumnya memberikan warna kuning pada tanaman. Gugus

    kromofor tersebut merupakan sistem aromatik terkonjugasi yang menyebabkan

    kemampuan untuk menyerap kuat pada kisaran panjang gelombang sinar UV

    baik pada UVA maupun UVB (Ismizana dkk., 2015).

  • 10

    Flavonoid adalah komponen senyawa alami yang paling banyak diteliti

    dengan fungsinya sebagai pelindung sinar matahari. Flavonoid banyak

    ditemukan pada tanaman buah-buahan maupun sayuran. Adanya cincin

    aromatik pada struktur flavonoid dapat memberikan kemampuan untuk

    mengabsorpsi radiasi sinar UV pada panjang gelompang 200-400 nm, bersifat

    antioksidan, agen imunomodulator, dan dapat digunakan sebagai senyawa aktif

    dalam tabir surya. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa senyawa rutin

    dan quersetin pada tumbuhan memiliki efek perlindungan terhadap radiasi sinar

    matahari dan dapat digunakan sebagai tabir surya (Cefali dkk., 2016; Choquenet

    dkk.,2009; Saewan dan Jimtaisong, 2013).

    3. Kurkumin

    Kurkumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder dari

    tanaman Zingiberaceae, khususnya kunyit dan temulawak. Kurkumin termasuk

    dalam kelompok senyawa fenolik yang terdapat dalam tanaman family

    Zingiberaceae. Kurkumin merupakan kandungan utama dari kurkuminoid.

    Selain kurkumin, terdapat senyawa lain yang termasuk dalam anggota

    kurkuminoid, yaitu demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin. Kurkumin

    tidak larut dalam air tetapi larut dalam etanol atau dimetilsulfoksida (DMSO).

    Degradasi kurkumin tergantung pada pH dan berlangsung lebih cepat pada

    kondisi netral-basa (Sastry,1970).

  • 11

    Gambar 3. Struktur kimia kurkumin (Dewick, 2009)

    Kurkumin mempunyai kelarutan yang rendah, tidak stabil dalam larutan,

    tidak stabil terhadap asam, dan cahaya. Kurkumin sukar larut dalam air,

    heksana, dan light petroleum, agak larut dalam benzene, kloroform, dan eter,

    tetapi kurkumin larut dalam alkohol, aseton, dan asam asetat glasial. Kurkumin

    stabil pada pH di bawah 6,5 dan akan terdegradasi pada pH di atas 6,5. Hal ini

    disebabkan oleh adanya gugus metilen aktif. Produk degradasi kurkumin dalam

    lingkungan alkali (pH 7-10) akan menghasilkan asam ferulat dan ferruloil

    metan. Degradasi kurkumin mengakibatkan terjadinya perubahan pada larutan,

    yaitu pada pH 1-7 berwarna kuning sedangkan pada pH 7,5 9,1 larutan

    berwarna merah jingga (Tonnesen dan Karlsen, 1997).

    Kurkumin yang terdapat pada Curcuma longa akhir-akhir ini banyak

    diteliti untuk mengetahui semua nutrisi dan efek yang baik pada kurkumin.

    Kurkuminoid dari Curcuma longa family Zingiberaceae telah dilaporkan

    memiliki fungsi klinik penting diantaranya sebagai antiinflamasi, antifungi,

  • 12

    antimikroba, antioksidan, antiproliferasi, dan dapat melindungi kulit dari bahaya

    radikal bebas (Mishra dkk., 2011). Telah banyak penelitian yang menyebutkan

    penggunaan kurkumin pada sediaan topikal yang memiliki keuntungan pada

    kulit. Warna kuning pada senyawa kurkumin dapat menghambat terjadinya

    pigmentasi pada kulit. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa

    penggunaan tetrahidrokurkumin pada sediaan topikal sangat aman dan efektif

    untuk mencerahkan kulit. Pencerahan kulit dapat membantu menghambat

    terjadinya hiperpigmentasi atau penggelapan kulit (Singh dkk., 2009).

    4. Ekstraksi

    Ekstraksi merupakan suatu metode penyarian zat-zat aktif dari bagian

    tanaman obat, hewan, dan beberapa jenis ikan, termasuk biota laut. Ekstraksi

    dalam penelitian bertujuan untuk menarik komponen kimia yang terdapat pada

    bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa komponen

    zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka

    kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Depkes RI, 2000).

    Menurut Depkes RI (2000), ekstraksi terdiri dari beberapa jenis salah

    satunya yaitu ekstraksi secara maserasi. Ekstraksi secara maserasi merupakan

    proses pengekstrakan simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali

    pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. Maserasi bertujuan untuk

    menarik zat-zat berkhasiat yang tahan pemanasan maupun yang tidak tahan

    pemanasan (Depkes RI, 2000).

  • 13

    5. Senyawa fenolik sebagai fotoprotektor

    Fotoprotektor berfungsi menyerap atau menyebarkan sinar matahari

    sehingga intensitas sinar yang mampu mencapai kulit jauh lebih sedikit dari

    yang seharusnya (Wasitaatmadja, 1997). Mekanisme fotoprotektan dalam

    melindungi kulit dari pengaruh sinar UV yaitu secara kompetitif bersaing

    dengan senyawa yang dapat dirusak oleh sinar matahari. Sebagai contoh cahaya

    UV dapat memacu pembentukan sejumlah senyawa reaktif atau radikal bebas

    pada kulit. Senyawa dengan kemampuan antioksidan atau penangkap radikal

    bebas dapat berkompetisi dengan molekul target dan mengurangi atau

    mengacaukan efek merugikan (Shaath, 1990).

    Senyawa fenolik merupakan salah satu fotoprotektor alami. Fenolik adalah

    senyawa yang memiliki ciri berupa cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus

    hidroksil (Harborne, 1987). Fenolik mempunyai aktivitas fotoprotektor karena

    adanya ikatan rangkap terkonjugasi yang bertanggung jawab dalam penyerapan

    sinar UV A dan UV B (Bartley dan Scolnik, 1995). Menurut Javanmardi dkk.,

    (2002) senyawa fenolik dapat mengadsorpsi dan menetralkan radikal bebas,

    meredamkan oksigen singlet dan triplet, dan mendekomposisi peroksida.

    Senyawa polifenol merupakan senyawa paling baik untuk mencegah efek

    radiasi sinar UV pada kulit, khususnya flavonoid yang memiliki potensi sebagai

    fotoprotektan yang dapat mengabsoprsi sinar UV (Saewan dan Jimtaisong,

    2013). Untuk itu senyawa fenolik khususnya flavonoid dapat digunakan untuk

    perlindungan terhadap sinar UV. Flavonoid mengandung polifenol hasil sintesis

  • 14

    dari jalur metabolisme fenilpropanol dan memiliki manfaat dalam pengobatan

    (Cefali dkk., 2016).

    6. Ekstrak

    Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

    aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang

    sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

    serbuk yang terisi diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang

    telah ditetapkan (Anonim, 1995).

    Ekstrak dikelompokan atas dasar sifatnya, yaitu (Voight, 1995):

    a. Ekstrak encer adalah sediaan yang memiliki konsistensi semacam madu

    dan dapat dituang.

    b. Ekstrak kental adalah sediaan yang dilihat dalam keadaan dingin dan

    tidak dapat dituang. Kandungan airnya berjumlah sampai 30%.

    Tingginya kandungan air menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat

    karena cemaran bakteri.

    c. Ekstrak kering adalah sediaan yang memiliki konsistensi kering dan

    mudah dituang, sebaiknya memiliki kandungan lembab tidak lebih dari

    5%.

    d. Ekstrak cair, ekstrak yang dibuat sedemikian rupa sehingga 1 bagian

    simplisia sesuai dengan 2 bagian ekstrak cair.

    Proses ekstraksi didapat melalui tahap dari pembuatan serbuk,

    pembasahan, penyarian, dan pemekatan. Sistem pelarut yang digunakan dalam

    ekstraksi harus dipilih berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan jumlah

  • 15

    yang maksimum dari zat aktif dan seminimal mungkin bagi unsur yang tidak

    diinginkan (Depkes RI, 2000).

    7.Kromatografi lapis tipis

    Kromatografi merupakan cara pemisahan zat berkhasiat dan zat lain yang

    ada dalam sediaan, dengan jalan penyarian berfraksi, atau penyerapan, atau

    penukaran ion pada zat padat berpori, menggunakan cairan atau gas yang

    mengalir. Zat yang diperoleh dapat digunakan untuk percobaan identifikasi atau

    penetapan kadar (Anonim, 1989).

    Teknik kromatografi umumnya membutuhkan zat terlarut yang

    terdistribusi diantara dua fase, satu diantaranya diam (fase diam) dan yang

    lainnya bergerak (fase gerak). Kromatografi sendiri terbagi dalam berbagai

    macam metode, salah satunya yaitu kromatografi lapis tipis. Kromatografi lapis

    tipis merupakan teknik pemisahan zat secara cepat dengan menggunakan zat

    penyerap berupa serbuk halus yang dilapisi dianggap sebagai kolom

    kromatografi kolom terbuka, sedangkan pemisahannya didasarkan pada

    penyerapan, pembagian, atau penggabungan, tergantung dari jenis zat penyerap

    dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. Nilai Rf yang

    didapat diidentifikasi menggunakan 2 bercak yang memiliki nilai Rf kurang

    lebih sama. Ukuran dan intensitas bercak dapat digunakan untuk memperkirakan

    kadar senyawa yang terkandung dalam sediaan (Anonim, 1989).

    Parameter kualitatif dari kromatografi lapis tipis yaitu nilai Rf. Nilai Rf

    merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan

    pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel. Nilai Rf

  • 16

    didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan

    jarak tepi muka pelarut dari titik awal. Dari definisi tersebut, suatu senyawa

    yang bermigrasi dengan tepi muka pelarut mempunyai nilai Rf = 1, sebaliknya

    senyawa yang tetap tertinggal pada titik awal mempunyai nilai Rf = 0 (J.Roth

    dan G.Blascke, 1981).

    8. Kulit

    Gambar 4. Penampang melintang kulit (Burns dkk., 2013)

    Kulit adalah organ tubuh paling luar yang membatasi dari lingkungan

    hidup manusia. Luas kulit orang dewasa kira-kira sekitar 15% dari berat badan.

    Kulit juga sangat kompleks, elastis, dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim,

    umur, seks, ras, dan juga tergantung pada lokasi tubuh (Djuanda dkk., 1999).

    Kulit merupakan pelindung atau barrier awal sistem imun tubuh terhadap

    benda asing dari luar, seperti radiasi sinar UV, bahan kimia, panas, serangan

    mikroba pathogen dan trauma mekanis. Selain pelindung, kulit juga merupakan

    organ pengontrol suhu tubuh, yaitu dengan adanya proses berkeringat maupun

  • 17

    peningkatan dan penurunan aliran darah menuju area pembuluh darah dekat kulit

    (Standring, 2008). Keberadaan melanin pada sel kulit memberikan perlindungan

    pada kulit terhadap sinar UV dan juga radikal bebas.

    Kulit memiliki 3 lapisan seperti pada gambar 4, yaitu :

    1. Epidermis

    Lapisan epidermis merupakan lapisan luar kulit yang tipis dan

    avaskuler. Lapisan penyusun epidermis mengalami regenerasi setiap 4-6

    minggu. Lapisan ini terdiri dari stratum korneum, stratum lusidum, stratum

    granulosum, stratum spinosum, dan stratum basal.

    a. Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit terluar yang terdiri

    dari sel keratinosit, mudah terkelupas, dan terus berganti.

    b. Stratum lusidum berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit

    tebal telapak kaki dan telapak tangan serta tidak tampak pada kulit tipis.

    c. Stratum granulosum terdiri dari 3-5 lapis sel poligonal gepeng dengan

    inti ditengah dan sitoplasma terdiri oleh granula basofilik kasar yang

    dinamakan granula keratohialin. Granula ini mengandung protein kaya

    histidin.

    d. Stratum spinosum atau lapisan malphigi terdiri dari berkas-berkas

    filament yang dinamakan tonofibril. Pada lapisan ini terdapat sel

    langerhans.

    e. Stratum basal merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit dan

    diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan. Pada lapisan ini

  • 18

    terjadi aktivitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam

    pembaharuan sel epidermis secara konstan (Djuanda dkk., 1999).

    Adanya sinar UV dapat membuat melanosit yang berisi melanin yang

    akan teraktivasi, sehingga menjadi melanosom. Melanosom akan bermigrasi

    ke keratinosit, sehingga menimbulkan tanning kulit yang berfungsi sebagai

    fotoprotektif (Standring, 2008).

    2. Dermis

    Lapisan dermis merupakan lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih

    tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa

    padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar

    dibagi menjadi dua bagian yakni:

    a. Pars papilare yaitu bagian tipis mengandung jaringan ikat jarang, yang

    berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.

    b. Pars retikulare adalah bagian tebal terdiri dari jaringan ikat padat, berisi

    kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan folikel rambut (Djuanda

    dkk.,1999).

    Sebagian besar dermis terdiri dari kolagen yang memberikan 70-80%

    dari total berat kering dermis. Fungsi kolagen tersebut adalah menambah

    elastisitas kulit, sehingga tidak mudah robek. Kolagen juga berperan sebagai

    pelumas dalam pergantian kulit (Burns dkk., 2013).

    3. Subkutan/ Hipodermis

    Lapisan subkutis merupakan lapisan di bawah dermis, terdiri atas

    jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak

  • 19

    merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak

    yang bertambah. Lapisan sel-sel lemak disebut penikulus adipose, berfungsi

    sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi,

    pembuluh darah, dan getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama

    bergantung pada lokasinya. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3cm,

    berbeda dengan daerah di kelopak mata yang sangat sedikit jaringan

    lemaknya (Djuanda dkk., 1999).

    9. Sinar ultraviolet

    Paparan sinar matahari secara terus menerus dapat membahayakan dan

    mengakibatkan efek yang buruk pada kesehatan. Sinar UV merupakan sinar

    matahari yang memiliki komponen kecil dari spektrum elektromagnetik dan

    memiliki rentan radiasi yang sempit, yaitu pada panjang gelombang 200-400

    nm. Spektrum sinar UV dibagi menjadi 3, yaitu UV C (200-290 nm), UV B

    (290-320 nm), dan UV A (320-400 nm). Sinar UV A merupakan 90-95% dari

    sinar ultraviolet yang mampu mencapai permukaan bumi. Sinar UV A memiliki

    panjang gelombang yang relatif panjang yaitu pada panjang gelombang 320-400

    nm dan tidak terserap oleh lapisan ozon. Sinar UV A dapat menetrasi kulit lebih

    dalam dan terlibat dalam kerusakan kolagen terlibat dalam terjadinya tanning

    pada kulit. UV A cenderung menekan fungsi kekebalan tubuh, mengakibatkan

    terjadinya penuaan dini pada kulit, dan menyebabkan terjadinya eritema,

    pigmentasi, dan elastisitas kulit karena sinar UV A dapat menetrasi komponen

    pada lapisan dermis yang terdapat dibawah epidermis. Sinar UV A tidak

    diabsorpsi oleh molekul DNA, tetapi UV A dapat menyebabkan kerusakan kulit

  • 20

    akibat adanya senyawa oksigen reaktif (Reactive Oxygen Species). Sinar UV B

    sebagian dapat terabsorpsi oleh lapisan ozon sekitar 90% dan memiliki panjang

    gelombang menengah yaitu 290-320 nm. Sinar UV B tidak menembus kulit

    sejauh sinar UV A. Sinar UV B menetrasi pada permukaan kulit sampai bagian

    epidermis dan merupakan penyebab utama terjadinya terbakar surya dan

    tanning yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit. Sinar UV B

    juga bertanggung jawab terhadap foto karsinogenik, dan terlibat dalam

    pembentukan katarak. Sinar UV C memiliki panjang gelombang terpendek di

    bawah 290 nm dan hampir semuanya diserap oleh lapisan ozon. Sinar UV C

    walaupun tidak sampai ke permukaan bumi tetapi dapat menyebabkan

    kerusakan kulit yang lebih parah karena memiliki aktivitas sebagai mutagenik

    dan karsinogenik. Sekarang ini, lapisan ozon mulai menipis dan mungkin sinar

    UV C dapat berkontribusi dalam terbakar surya dan penuaan kulit secara

    prematur (Matts, 2006; Kockler dkk., 2012; Kulkarni dkk., 2014).

    10. Tabir surya

    Menurut Barel dalam buku yang berjudul Handbook of Cosmetic Science

    and Technology (2009), radiasi sinar matahari pada kulit dikenal sebagai salah

    satu penyebab utama penyakit kulit. Radiasi sinar matahari jika terpapar

    langsung oleh kulit dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan terbakar

    surya, eritema, pigmentasi, kanker kulit, dan kerusakan sistem imun.

    Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang digunakan dengan maksud

    memantulkan atau menyerap sinar UV sehingga dapat mengurangi jumlah

    radiasi UV yang berbahaya pada kulit (Draelos dan Thaman, 2006). Tabir surya

  • 21

    dapat digunakan untuk melindungi kulit dari efek sinar matahari yang dapat

    menyebabkan eritema pada durasi pendek dan dapat menyebabkan penuaan dan

    kanker kulit pada durasi yang lama. Mekanisme kerja tabir surya dibagi menjadi

    2, yaitu mengabsorpsi atau menyerap secara kimia dan menghambat atau

    menghalangi secara fisik. Umumya senyawa yang dapat digunakan sebagai tabir

    surya memiliki gugus aromatik yang terkonjugasi dengan gugus karbonil, sebab

    struktur tersebut memungkinkan molekul untuk menyerap sinar UV pada energi

    yang tinggi dan melepaskannya pada energi rendah sehingga dapat mencegah

    radiasi sinar UV yang dapat merusak kulit (Lowe, 2006).

    Idealnya tabir surya harus memiliki nilai SPF yang tinggi, toleran terhadap

    kulit, menyenangkan ketika digunakan, tidak toksik, efektif melindungi sinar

    UV A dan UV B, stabil terhadap cahaya, tahan terhadap air, dan ekonomis.

    Namun tidak ada tabir surya yang benar-benar memiliki persyaratan lengkap.

    Tabir surya harus digunakan 20-30 menit sebelum terpapar sinar matahari

    sehingga produk memiliki kesempatan untuk kontak dan bereaksi dengan kulit.

    Berlawanan dengan saran umum sediaan tabir surya yang harus diterapkan

    kembali setiap 2-3 jam, penelitian telah menunjukkan bahwa perlindungan

    terbaik tercapai dengan aplikasi 15-30 menit sebelum terpapar sinar matahari

    dan dilakukan penggunaan kembali jika diperlukan setelah melakukan kegiatan

    seperti berenang, berkeringat, dan membersihkan muka (Diffey, 2001).

    Tabir surya awalnya dirancang untuk menyaring atau melindungi kulit

    dari sinar UV B. Namun karena sekarang ini penetrasi sinar UV A ketika

    terkena kulit dapat menembus lebih dalam sampai lapisan dermis dan dapat

  • 22

    menyebabkan terjadinya penuaan dan kerusakan DNA, maka sekarang ini

    terjadi pergeseran ke arah tabir surya yang memiliki spektrum luas. Tabir surya

    dengan spektrum luas dapat menghalangi penetrasi sinar UV A dan UV B.

    Beberapa zat yang memiliki spektrum luas tersebut yaitu zat yang memiliki

    aktivitas sebagai antioksidan. Karena kemampuannya untuk menyerap sinar UV

    menjadi luas dan kompleks maka perlu diperhitungkan bahwa zat aktif yang

    digunakan harus stabil oleh sinar UV ( Kockler dkk., 2012).

    Kosmetik tabir surya agar mampu melindungi kulit terhadap radiasi sinar

    UV dengan baik, maka FDA merekomendasikan penetapan nilai SPF pada tabir

    surya minimal 15, dimana SPF 15 tergolong pada perlindungan sedang. Tabir

    surya dengan nilai SPF 15 mampu menyaring sinar UV B sekitar 93,3% dan

    untuk SPF dengan nilai 30 mampu menyaring sinar UV B sekitar 96,7%

    (Draelos dan Thaman, 2006). Nilai SPF hanya berlaku untuk perlindungan

    terhadap sinar UV B saja. Perlindungan yang diberikan terhadap sinar UV A

    dalam sediaan tabir surya kimia hanya sekitar 10% dari nilai sinar UV B

    (Kaidbey dan Gange, 1987).

    11. Tabir surya alami

    Tabir surya dengan bahan aktif menggunakan senyawa sintesis

    dikhawatirkan dapat menimbulkan toksisitas pada kulit manusia sehingga orang

    dengan kulit sensitif harus lebih berhati-hati dalam memilih tabir surya, sebab

    kulit yang hipersensitif tidak dapat menggunakan tabir surya dari zat kimia.

    Beberapa tahun terakhir ini telah banyak peneliti yang mengklaim bahwa

    kosmetik yang mengandung komponen dari senyawa herbal lebih cocok untuk

  • 23

    kulit hiperalergi, karena bahan alam memiliki potensi kecil dalam menimbulkan

    iritasi dan lebih mudah cocok pada kulit. Tabir surya alami lebih toleran

    terhadap kulit manusia dan tidak menimbulkan efek samping. Akhir-akhir ini

    banyak publikasi penelitian tentang manfaat tanaman yang memiliki kandungan

    senyawa antioksidan, khususnya karotenoid dan flavonoid untuk sediaan tabir

    surya, karena senyawa tersebut dapat melindungi kerusakan kulit akibat sinar

    matahari. Senyawa yang mengandung cincin aromatik dapat mengabsorpsi sinar

    UV khususnya UV A dan UV B pada panjang gelombang 200-400 nm.

    Beberapa contoh bahan alam yang dapat digunakan sebagai tabir surya antara

    lain, kunyit, lengkuas, lidah buaya, mahkota dewa, curcuma longa, dan cabai

    jawa (Mishra dkk., 2011; Rasheed dkk.,2012; Cefali dkk., 2016).

    12. Sun Protecting Factor (SPF)

    Sediaan tabir surya dapat ditentukan efektivitasnya dengan menggunakan

    nilai SPF (Sun Protecting Factor) dari sediaan. Nilai SPF menggambarkan

    kemampuan produk tabir surya dalam melindungi kulit dari eritema (Stanfield,

    2003). Nilai SPF hanya khusus digunakan untuk melindungi radiasi sinar UV B

    dan tidak dapat digunakan untuk melindungi sinar UV A (Serpone dkk., 2007).

    Semakin tinggi nilai SPF maka semakin besar pula penghambatan terjadinya

    eritema akibat induksi sinar UV.

    Sun Protecting Factor merupakan perbandingan antara dosis minimal

    yang diperlukan untuk menimbulkan eritema pada kulit yang diolesi oleh

    sediaan tabir surya dengan kulit yang tidak diolesi sediaan tabir surya. Secara

    khusus, minimum erytheme dose (MED) ditentukan pada masing-masing panelis

  • 24

    yang melakukan uji SPF. Nilai MED dapat diperoleh dari dosis atau waktu yang

    diperlukan untuk menghasilkan kemerahan pada kulit yang telah disinari

    menggunakan simulasi sinar UV. Nilai MED akan bervariasi tergantung jenis

    kulit panelis. Setelah kulit diolesi tabir surya dengan beberapa dosis, kemudian

    kulit disinari menggunakan simulasi sinar UV. Setelah 16-24 jam kulit disinari

    menggunakan simulasi sinar UV, kemudian dilakukan evaluasi dan dicatat pada

    dosis terendah mulai nampak kemerahan pada kulit (Draelos dan Thaman,

    2006).

    Angka SPF menyatakan berapa kali daya tahan alami kulit seseorang

    dilipat gandakan sehingga dapat terlindung dari radiasi sinar matahari tanpa

    terkena luka bakar. Pengujian nilai SPF dapat dilakukan secara in vivo maupun

    in vitro. Minimum Erythemal Dose (MED) didapat dari uji in vivo, namun uji in

    vivo membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lebih lama karena uji in

    vivo menggunakan subjek manusia atau hewan seperti kelinci atau tikus. Uji in

    vitro lebih mudah dan lebih hemat biaya. Namun uji in vitro memiliki

    kekurangan, yaitu uji in vitro tidak dapat memberikan informasi secara

    kuantitatif terkait perlindungan tabir surya ketika diaplikasikan pada kulit.

    Meskipun uji in vitro memiliki kekurangan, uji in vitro yang dilakukan dengan

    menggunakan spektrofotometri memiliki beberapa keuntungan, yaitu lebih

    murah, reproducible, dan tidak melukai subjek manusia sehat. Selain itu, hasil

    dari uji in vitro juga dapat memberikan informasi pengganti nilai SPF secara in

    vivo (Draelos dan Thaman, 2006).

  • 25

    Food and Drug Administration membagi produk tabir surya berdasarkan

    nilai SPFnya menjadi 3. Pembagian nilai SPF tersaji pada tabel I.

    Tabel I. Nilai SPF beserta keterangannya

    Nilai SPF Keterangan

    2-12 perlindungan minimal

    12-30 perlindungan sedang

    >30 perlindungan tinggi

    (United States Department of Health and Human Servis, 1999)

    Food and Drug Administration menyarankan senyawa yang digunakan

    untuk sediaan tabir surya memiliki nilai SPF lebih dari 2. Bagaimanapun untuk

    menjamin perlindungan yg cukup dan meminimalisir resiko kerusakan kulit,

    FDA merekomendasikan penetapan nilai SPF pada sunscreen minimal 15

    (Cefali dkk., 2016).

    13. Substantivitas tabir surya

    Substantivitas berhubungan dengan kontak sediaan semipadat dengan

    kulit. Substantivitas melibatkan mekanisme seperti adsorpsi, pertukaran ion, dan

    interaksi kimia. Substantivitas tidak hanya diliat dari produknya saja tetapi juga

    kulit dan sekresi keringat. Kulit sering dianggap sebagai faktor penting karena

    adanya emulsi sebum, keringat, dan kondisi epidermal permukaan kulit yang

    akan berpengaruh pada sediaan dan akan memberikan substantivitas yang

    bervariasi, misalnya jika kosmetik yang telah diaplikasikan pada kulit dicuci

    dengan sabun dan air atau jika digunakan segera setelah kulit dibersihkan (Abbe,

    1974).

    Substantivitas sediaan dapat masuk ke dalam kulit dengan difusi melalui

    matriks polimer. Substantivitas merupakan istilah yang berhubungan dengan

  • 26

    kualitas tabir surya dan kemampuannya untuk bertahan setelah kulit terkena air

    dan keringat. Keefektifan sediaan topikal ditentukan oleh tingkat ikatan sifat

    fisik dan kimia sediaan pada permukaan kulit, resistensi terhadap penghapusan

    atau inaktivasi oleh keringat, berenang, mandi, dan gesekan (Herrmann dkk.,

    2016).

    Efektivitas tabir surya tergantung pada nilai SPF dan substantivitas

    sediaan ketika diaplikasikan pada permukaan kulit. Efektivitas produk tabir

    surya dapat berkurang akibat adanya keringat, gesekan, air, atau faktor lain yang

    memiliki potensi untuk menghapus produk dari permukaan kulit. Substantivitas

    atau ketahanan sediaan terhadap penghapusan oleh air atau keringat bersama

    dengan daya tahan (daya lekat) atau resistensi terhadap penghapusan oleh

    pakaian selama beraktivitas merupakan aspek penting dari kinerja tabir surya

    untuk memberikan perlindungan pada kulit terhadap terbakar surya dan

    kerusakan kulit akibat efek ultraviolet. Variasi antara individu, substantivitas,

    daya lekat, dan paparan dari luar dapat berpengaruh terhadap kinerja atau

    efektivitas dari tabir surya. Semakin tinggi substantivitas suatu sediaan, maka

    daya lekat sediaan pada kulit akan semakin baik, sehingga sediaan tabir surya

    akan berkhasiat lebih lama untuk melindungi kulit dari sinar UV (P.Agin, 2006;

    Rai dan Srinivas, 2007).

    14. Lotion

    Lotion merupakan emulsi yang terbentuk dari dua cairan yang tidak saling

    campur. Kebanyakan lotion mengandung bahan serbuk halus yang tidak larut

    dalam media disperse dan disuspensikan dengan menggunakan zat pensuspensi

  • 27

    dan zat pendispersi. Lotion rentan terhadap ketidakstabilan seperti mudah terjadi

    creaming, sedimentasi, flokulasi, peleburan, dan inverse atau berubah tipe dari

    yang semula bertipe o/w menjadi w/o. Untuk mencegah ketidakstabilan dari

    emulsi tersebut, maka dalam pembuatannya ditambahkan emulsifier dan

    pengental dalam jumlah tertentu. Zat pengemulsi atau emulsifier memiliki dua

    sifat yang menguntungkan, yaitu dapat menurunkan tegangan muka antara

    kedua cairan yang tidak saling campur dan stabilitas fase dispers terhadap

    medium dispers. Zat pengental disisi lain dapat menghambat reaksi secara

    sebagian antara zat yang terkandung dalam emulsi (Moravkova dan Filip,

    2014).

    Lotion digunakan pada kulit sebagai pelindung atau untuk obat karena

    sifat bahan-bahannya. Lotion dimaksudkan untuk pemakaian yang merata,

    cepat, segera kering setelah digunakan, mudah dioleskan, mudah menyebar, dan

    meninggalkan lapisan tipis dari komponen obat pada permukaan kulit (Ansel,

    1989; Jone, 2008). Selain itu, bentuk sediaan lotion lebih disukai untuk

    pengobatan pada kondisi lokal karena bentuk larutannya lebih berair dan tidak

    memerlukan penambahan pengawet (Jone, 2008).

    15. Krim

    Krim merupakan sediaan semipadat yang terdiri dari zat terlarut atau

    tersuspensi dalam basis air yang mudah tercuci atau emollient. Krim

    diklasifikasikan dalam 2 tipe yaitu tipe w/o dan o/w yang menggabungkan fase

    air dan fase minyak secara mekanik atau panas. Baru-baru ini istilah untuk krim

    dibatasi pada tipe emulsi o/w karena produk tersebut mudah tercuci oleh air,

  • 28

    lebih nyaman, dan mudah diterima oleh konsumen. Krim lebih banyak dipilih

    oleh konsumen karena krim cocok atau sesuai untuk pasien yang memiliki kulit

    sensitif atau kulit kering yang mudah mengalami iritasi. Pasien yang memiliki

    kulit kering lebih nyaman menggunakan krim dibandingkan dengan gel, sebab

    krim dapat memberikan efek berminyak ketika diaplikasikan pada kulit (Kumar

    dkk., 2011).

    Lotion dan krim sekilas nampak sangat mirip. Lotion dan krim memilliki

    fungsi yang sama yaitu untuk melembabkan dan menghaluskan kulit serta dapat

    memberikan rasa nyaman dan mudah dioleskan ketika digunakan (Jone, 2008).

    Krim dan lotion memiliki sifat rheologi yang berbeda, dimana krim adalah

    sistem pseudoplastik dengan konsistensi yang lebih besar dibandingkan dengan

    lotion (Jone, 2008). Perbedaan utama dari lotion dan krim yaitu terletak pada

    rasio penggunaan minyak dan cairan. Krim merupakan perpaduan antara

    minyak dan cairan dengan presentase minyak lebih banyak. Biasanya krim

    terlihat lebih kental dan kandungan pelembab yang terdapat pada krim dapat

    bertahan lama daripada lotion, sedangkan lotion merupakan perpaduan minyak

    dan cairan namun lotion sangat ringan dan lebih encer karena mengandung

    cairan lebih banyak. Dibandingkan dengan krim, lotion memiliki daya serap

    yang lebih cepat.

    16. Emulsi

    Emulsi merupakan sediaan cair terdispersi yang biasanya terdiri dari dua

    cairan yang tak bercampur satu sama lain dan salah satunya adalah air. Emulsi

  • 29

    yang dimaksudkan untuk penggunaan pada kulit dapat disebut linimen

    (liniment) (Voigt, 1994).

    Terdapat 2 macam tipe emulsi yaitu :

    a. Emulsi o/w yaitu emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar

    air.

    b.Emulsi w/o yaitu emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak

    (Ansel, 1989).

    Emulsi w/o atau o/w dapat dipakai keduanya untuk pemakaian pada kulit

    dan membran mukosa manusia. Proses emulsi memungkinkan bentuk lotion

    yang memiliki konsistensi mudah diaplikasikan pada kulit, mudah dicuci, tidak

    membekas pada pakaian, rupa, bau, warna, dan rasa yang baik (Anief, 1999).

    17. Simplex Lattice Design

    Simplex Lattice Design (SLD) merupakan suatu metode yang digunakan

    untuk menentukan optimasi formula pada berbagai perbedaan jumlah komposisi

    bahan (yang dinyatakan dalam beberapa bagian) dimana jumlah totalnya yaitu

    sama dengan satu bagian. Profil respon dapat ditentukan melalui persamaan

    berdasarkan Simplex Lattice Design. Profil tersebut digunakan untuk

    memprediksi perbandingan komposisi campuran bahan yang memberikan repon

    optimum (Bolton, 1997).

    Cara menentukan optimasi formula menggunakan metode Simplex Lattice

    Design dilakuan dengan menyiapkan beberapa formula yang mengandung

    kombinasi bahan yang divariasi secara berbeda. Hasil eksperimen yang

  • 30

    dihasilkan digunakan untuk membuat persamaan polynomial (simplex) dimana

    persamaan ini dapat digunakan untuk memprediksi profil respon (Bolton, 1997).

    Metode SLD memiliki beberapa keuntungan, yaitu mudah digunakan dan

    efisien karena merupakan model yang mempermudah seseorang untuk

    memprediksi respon dengan variasi minimal. Validitas dari model SLD dapat

    diuji dengan menambahkan test point. Namun terdapat beberapa kekurangan

    dari metode SLD, yaitu metode ini membutuhkan test point yang banyak jika

    banyak komponen yang divariasikan. Oleh karena itu studi polynomial dengan

    4 komponen jarang dilakukan (Bolton, 1997).

    18. Software Design Expert

    Software Design Expert adalah perangkat lunak yang digunakan untuk

    mendesain suatu percobaan, mengoptimasi proses maupun produk,

    menganalisis data, dan menampilkan hasil analisis dalam bentuk grafik secara

    cepat. Software ini menyediakan berbagai pilihan desain dan fleksibilitas untuk

    menangani faktor kategori dan menggabungkannya dengan campuran atau

    variabel proses. Plot dua dimensi yang diberikan dapat dieksplor untuk

    identifikasi koordinat campuran tersebut. Software ini memberi plot tiga

    dimensi yang dapat diputar sehingga mudah menampilkan profil respon dari

    berbagai profil. Fungsi numerical optimization dalam software memungkinkan

    sifat-sifat terbaik dari berbagai respon untuk ditentukan secara bersama

    (Anonim, 2010).

  • 31

    19. Morfologi bahan

    a. Setil alkohol

    Formula dari setil alkohol adalah CH3(CH3)14CH2OH. Diperoleh dari

    spermaceti; ethal; ethol; palmityl alcohol; dan hexadecyl alcohol. Berupa

    kristal putih dengan titik lebur 49 C, tidak larut dalam air, larut dalam

    alkohol, kloroform, dan eter. Dalam sediaan kosmetik, setil alkohol berfungsi

    sebagai emollient. Campuran sebagian setil alkohol dan stearil alkohol

    digunakan dalam sediaan farmasetik dan salep kulit, juga sediaan kosmetik

    berupa krim. Aksi dermatologisnya adalah mudah diabsorbsi oleh kulit,

    memberikan efek perlindungan lapisan seperti kain beludru pada kulit, tidak

    merupakan iritan primer dan bukan pemicu sensitif pada kulit (Rowe dkk.,

    2006).

    b. Mineral oil

    Minyak mineral merupakan campuran dari cairan hidrokarbon dari

    petroleum. Sinonim dari minyak mineral yaitu petrolatum cair; parafin cair;

    minyak parafin; alboline; paroleine; saxol; minyak adepsine; dan glymol.

    Minyak tidak berwarna,tidak berbau dan tidak berasa. Tidak larut di dalam

    air atau alkohol. Larut dalam eter dan benzene. Digunakan sebagai lubrikan

    (Rowe dkk., 2006).

    c. Gliserin

    Gliserin memiliki nama lain croderol; E422;glycerine, glycon G-100;

    kemstrene,;optim; pricerine; 1,2,3-propanetriol; dan trihydroxypropane

    glycerol. Dalam dunia farmasi, gliserin digunakan sebagai antimikroba,

    emolien, humektan, pelarut, pemanis, agen tonisitas, dan plasticizer. Fungsi

  • 32

    gliserin sebagai humektan adalah untuk mempertahankan tingkat kandungan

    air dalam produk, dengan mengurangi penguapan air selama pemakaian

    sehingga lotion lebih mudah digunakan dan pembentukan kerak dalam

    wadah pengemas dapat dihindari (Sweetman, 2002).

    Tabel II. Fungsi dan konsentrasi gliserin

    Kegunaan Konsentrasi

    Pengawet antimikroba

  • 33

    sedikit larut pada etanol 95%, dan praktis tidak larut dalam air (Rowe dkk.,

    2006).

    e. Propil paraben

    Propil paraben memiliki nama lain E216; 4-hydroxybenzoic acyd propyl

    ester, nipasol, propagin, propyl p-hydroxybenzoate, propyl parasep, solbrol

    P, dan Uniphen P-23. Propil paraben biasanya digunakan sebagai bahan

    pengawet antimikroba pada kosmetik, makanan, dan formulasi sediaan lain.

    Propil paraben dapat digunakan secara sendiri atau dikombinasi

    menggunakan paraben yang lainya atau agen antimikroba lainya. Propil

    paraben (0,02% w/v) digunakan secara bersamaan dengan metil paraben

    (0,18% w/v) sebagai preservative. Propil paraben larut dalam etanol 50%,

    70%, dan 95%, eter, gliserin, mineral oil, propilengilkol, dan air (Rowe dkk.,

    2006).

    f. Metil paraben

    Metil paraben memiliki nama lain E218, 4-hydroxybenzoic acid metyl

    ester, methyl p-hydroxybenzoate, nipagin M, dan Uniphen P-23. Metil

    paraben biasanya digunakan sebagai bahan pengawet antimikroba pada

    kosmetik, makanan, dan formulasi sediaan lain. Metil paraben dapat

    digunakan secara sendiri atau dikombinasi menggunakan paraben yang

    lainnya atau agen antimikroba lainnya. Paraben efektif bekerja pada rentan

    pH yang luas dan memiliki aktivitas antimikroba spektrum luas, walaupun

    lebih efektif untuk membunuh jamur dan kapang. Aktivitas antimikroba

    meningkat jika terikat pada alkil tetapi dapat menurun jika dalam larutan air,

  • 34

    sehingga penggunaan paraben biasanya dikombinasi untuk meningkatkan

    efektivitasnya. Metil paraben biasanya digunakan bersamaan dengan

    propylparaben (0,02%) jika digunakan untuk pengawet pada formulasi

    sediaan parenteral. Metil paraben memiliki aktivitas paling rendah dibanding

    paraben yang lain, sehingga untuk meningkatkan efektivitas antimikrobanya

    dikombinasi menggunakan paraben lain yang memiliki aktivitas secara

    sinergis. Metil paraben larut dalam etanol 95%, 50%,70%, eter, gliserin,

    mineral oil, propilen glikol, dan air (Rowe dkk., 2006).

    g. Akuades

    Akuades berupa cairan jernih tidak berwarna dan tidak berbau (Anonim,

    1995). Akuades adalah pelarut yang digunakan pada sebagian besar preparat

    farmasi. Keuntungan akuades sebagai pelarut antara lain ketersediaannya

    yang melimpah, nilainya relatif lebih murah, tidak toksik untuk penggunaan

    oral, dan tidak mengiritasi untuk penggunaan eksternal (Winfield dan

    Richards, 2004).

    G. Landasan Teori

    Berdasarkan penelitian terdahulu dalam jurnal Sri Hartati (2010)

    menyebutkan bahwa ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga)

    mengandung senyawa flavonoid dan kurkumin yang diduga memiliki aktivitas

    sebagai tabir surya. Ekstrak etanol temu mangga pada rentan kadar 10 % sampai

    17,5 % memiliki nilai SPF pada rentan 9,94 sampai 27,98. Selain itu juga telah

    dilakukan penelitian dalam jurnal Arun Rasheed dkk., yang berjudul

    Formulation, characterization, and in vitro evaluation of herbal sunscreen

  • 35

    lotion bahwa 5% ekstrak etanol 95% Curcuma longa memiliki nilai SPF 18.

    Dari hal tersebut peneliti memperkirakan bahwa sediaan lotion w/o ekstrak etanol

    temu mangga (Curcuma mangga) mengandung senyawa yang dapat digunakan

    sebagai zat aktif sediaan tabir surya pada konsentrasi tertentu yang memenuhi

    syarat nilai SPF sedang sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh

    FDA.

    Ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) dijadikan bahan aktif

    dalam lotion bertipe w/o. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi lotion tipe w/o

    dengan memvariasikan komposisi setil alkohol, gliserin, dan cera alba

    menggunakan metode Simplex Lattice Design dengan software Design Expert

    versi 9.0.4.1 program mixture design. Dari metode Simplex Lattice Design

    peneliti dapat mengetahui komposisi setil alkohol, gliserin, dan cera alba yang

    dapat menghasilkan formula optimum dengan sifat fisik yang baik (Bolton, 1997).

    Parameter pada optimasi formula lotion w/o ini menggunakan sifat fisik

    lotion w/o yaitu viskositas, daya lekat, dan daya sebar. Kombinasi yang dilakukan

    yaitu dengan memvariasikan proporsi setil alkohol, gliserin, dan cera alba. Setil

    alkohol berfungsi sebagai emulgator lemah emulsi tipe w/o yang juga dapat

    berfungsi sebagai emollient pada rentan konsentrasi 2-5% (Rowe dkk., 2006).

    Penambahan setil alkohol dapat meningkatkan stabilitas, tekstur, dan konsistensi

    sediaan lotion. Gliserin pada sediaan topikal digunakan sebagai humektan dan

    emollient dengan konsentrasi

  • 36

    memvariasikan ketiga bahan tersebut agar didapat formula lotion tabir surya yang

    acceptable ketika diaplikasikan pada kulit.

    H. Hipotesis

    1. Ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) memiliki aktivitas sebagai

    tabir surya pada konsentrasi tertentu sesuai dengan persyaratan nilai SPF

    dalam FDA.

    2. Komposisi setil alkohol, gliserin, dan cera alba pada formula optimum

    menghasilkan sediaan tabir surya dengan sifat fisik dan stabilitas fisik yang

    baik selama penyimpanan dalam kurun waktu satu bulan.

    3. Formula optimum lotion w/o ekstrak etanol temu mangga (Curcuma

    mangga) memiliki aktvitas sebagai tabir surya yang dapat diaplikasikan pada

    kulit manusia untuk melindungi bahaya dari sinar UV.