Bab v. Vitamin

Click here to load reader

  • date post

    29-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    50
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Bab v. Vitamin

BAB VVITAMIN

A. PENDAHULUANVitamin adalah senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah sangat sedikit dan harus disuplai dari makanan karena tubuh tidak dapat mensintesisnya. Suatu vitamin minimal menunjukkan satu fungsi metabolik khusus. Istilah Vitamine digunakan oleh Casimir Funk pada tahun 1912 yang meneliti tentang penyakit beri-beri. Vita menunjukkan senyawa yang diperlukan oleh tubuh sedangkan amine berarti mengandung nitrogen. Ternyata bahwa tidak semua vitamin mengandung nitrogen. Maka kemudian istilah amine diganti dengan amin, sehingga sekarang dikenal istilah Vitamin. Vitamin dibagi menjadi dua golongan besar berdasarkan kelarutannya, yaitu: (1) vitamin larut air (grup vitamin B dan vitamin C), dan (2) vitamin larut lemak yaitu vitamin A, D, E dan K. Prekursor (pembentuk) vitamin dikenal dengan sebutan provitamin, yaitu senyawa yang secara kimia mirip dengan bentuk aktif biologoisnya (yaitu vitamin), tetapi tidak dapat berfungsi sebelum tubuh mengubahnya menjadi bentuk aktifnya. Konversi (perubahan) pro-vitamin manjadi vitamin terjadi pada bagian tubuh yang berbeda akan mempunyai efisiensi yang berbeda pula, tergantung pada jenis vitamin masing-masing. Sebagai contoh, beta-karoten diubah menjadi vitamin A dalam dinding usus (dengan cara memecah molekulnya menjadi dua bagian). Precursor vitamin D yang aktif pertama-tama karena aksi sinar ultra-violet dari matahari, kemudian diubah dalam tubuh (pertama-tama dalam hati kemudian dalam ginjal). Asam amino triptofan (precursor niasin), diubah menjadi niasin dalam hati atas bantuan vitamin B6.Beberapa macam vitamin berfungsi sebagai ko-enzim, yaitu senyawa yang membantu fungsi enzim. Tabel 5.1. menguraikan beberapa vitamin yang berfungsi sebagi ko-ensim pada enzim-enzim yang diperlukan untuk memperolah energi baik dari karbohidrat, lemak maupun protein, atau sintesis lemak dan preotein.

Tabel 5.1. Perbedaan Sifat Vitamin Larut Air dan Larut LemakVitamin larut lemak (A, D, E, K)Vitamin larut air (B, C)

Larut dalam lemak dan pelarut lemak (turunannya ada yang dapat larut dalam air)Larut dalam air

Dapat disimpan dalam tubuh (bila konsumsi berlebih)Disimpan dalam jumlah sedikit (praktisnya tidak dapat disimpan)

Diekskresikan dalam jumlah sedikit ke dalam asam empeduDiekskresikan ke dalam urine

Gejala defisiensi lambat munculnyaGejala diefisiensi cepat telihat

Tidak harus disuplai tiap hari dalam makananHarus disuplai tiap hari dalam makanan

Mempunyai prekursor atau provitaminUmumnya tidak mempunyai prekursor

Hanya mengandung elemen C, H, dan OMengandung elemen C, H, O dan N (serta Co dan S)

Diserap oleh usus dan diteruskan ke dalam system limfatikDiserap oleh usus dan diteruskan ke dalam system aliran darah

Beracun dalam dosis reatif rendah (6-10 kali konsumsi per hari yang dianjurkan)Beracun dalam dosis relatif tinggi (> 10 kali konsumsi per hari yang dianjurkan)

Defisiensi vitamin dapat terjadi sebagai akibat berbagai macam faktor penyebab, misalnya :(1) Kurangnya kandungan vitamin dalam bahan pangan. Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa kebutuhan akan vitamin untuk tiap individu tidak sama, demikian juga harus diingat bahwa faktor pra-panen dan pasca-panen dapat mempengaruhi kadar vitamin dalam bahan makanan.(2) Penyerapan vitamin dalam tubuh kurang baik. Sebagi contoh, seseorang yang kekurangan asam empedu akan menyerap sedikit vitamin larut lemak; sekresi asam dari mukosa lambung akan mempengaruhi penyerapan vitamin N12, demikian juga waktu transit makanan yang pendek (dalam saluran pencernaan) akan mempengaruhi jumlah vitamin yang dapat diserap oleh usus(3) Kebutuhan akan vitamin yang meningkat. Misalnya peminum alkohol banyak memerlukan tiamin, penderita TBC atau perokok banyak memerlukan vitamin C.Selain yang terdapat secara alami dalam bahan makanan, seseorang dapat pula memperoleh vitamin dalam bentuk pil/tablet atau kapsul berupa vitamin sintetik. Perlu diketahui bahwa baik vitamin alami maupun sintetik diserap dan digunakan oleh sel-sel tubuh secara tidak berbeda.Keracunan oleh vitamin dapat terjadi akibat konsumsi yang berlebihan. Konsumsi vitamin larut air secara berlebihan tidak akan menimbul keracunan, karena kelebihan vitamin tersebut akan dibuang oleh tubuh melalui urine. Akan tetapi konsumsi vitamin larut air dalam jumlah sangat banyak (mega dosis, lebih dari 10 kali jumlah yang diaunjurkan per hari) dapat menimbulkan kesulitan, misalnya pembentukan metabolit yang abnormal atau berinteraksi dengan zat gizi lain. Konsumsi vitamin larut lemak secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya keracunan, karena dapat terakumulasi di dalam tubuh (tubuh tidak dapat membuangnnya melalui urine, hanya sedikit yang dapat dibuang melalui asam empedu.B. Vitamin AVitamin A dikenal pula dengan nama lain, yaitu : akseroftol (axerophthol), asam retinoat (retinoic acid), retinal, retinol dan dehidroretinol. Sampai tahun 1987, aktivitas vitamain A pada jaringan tanaman/hewan dinyatakan dalam unit internasional (international unit, IU) atau USP (United States Pharmacopela), yang nilainya sebanding (1 IU= 1USP unit, yang nilainya sama dengan 0,3 g retinol). Pada tahun 1967 FAO/WHO merekomendasikan penggunaan satuan Retinol Equivalents (RE) untuk mengukur aktivitas vitamin A (RE=1 g retinol).Untuk konversi satuan vitamin A perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:(a) Pada basis berat, keaktifan beta-karoten adalah setengah dari retinol (satuan molekul beta-karoten dapat dihidrolisis menjadi dua molekul retinol (vitamin A), sedangkan karetenoid lain seperempatnya dari retinol(b) Retinol diserap secara sempurna oleh usus, sedangkan karotenoid hanya sepertiganya. Oleh karena itu, aktivitas beta karoten = retinol, sedangkan karotenoid lain = retinol.1IU = 0,3 g retinol (0,0003 mg retinol)=0,6 g beta-karoten (0,0006 mg beta-karoten)1 RE= 1g retinol =6 g beta karoten = 12 g karetonoid lain=3,33 IU beta-karoten

Retinol dapat diubah menjadi retinal atau sebaliknya, tetapi asam retinoat tidak dapat dibentuk kembali menjadi retinal atau retinol. Simpanan vitamin A dalam hati berkisar antara 100-1000 IU per gram jaringan. Orang yang sehat bahkan dapat menyimpan sampai sekitar 500.000 IU vitamin A dalam hatinya.Fungsi vitamin A yang paling dikenal adalah dalam proses penglihatan. Secara singkat proses tersebut adalah sebagai berikut:(1) Retinal di dalam mata adalah bentuk vitamin A aldehid hasil oksidasi dari retinol yang disuplai oleh darah.(2) Retinal berkombinasi dengan protein opsin untuk membentuk pigmen penglihatan (yaitu Rhodopsin). Rhodopsin berlokasi dalam sel-sel khusus yang disebut rods di dalam retina mata(3) Bila cahaya mengenai retina, pigmen penglihatan (berwarna ungu) akan memudar menjadi kuning dan retina terpisah dari opsin. Stimulasi ditransfer dari retina melalui sel syaraf optik ke otak. Selama proses ini, retina diubah kembali menjadi retinol(4) Sebagian kecil retinol ini akan diekskresikan keluar tubuh menjadi retinal yang kemudian bergabung lagi dengan opsin untuk membentuk kembali rhodopsin. Sejumlah kecil retinol yang diekskresikan tersebut harus diganti oleh suplai dari darah, jumlah retinol yamg tersedia dalam darah menentukan kecepatan pembentukan kembali rhodopsin.Vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan yang normal. Pertumbuhan hewan percobaan terhenti bila tidak disuplai vitamin A dan persediaan vitamin A dalam tubuhnya telah habis. Pertumbuhan sel-sel epitel, baik yang terdapat pada permukaan kulit, saluran kemih dan saluran pernafasan, menjadi abnormal bila terjadi defisiensi vitamin A. Sel-sel epitel tersebut tidak memerlukan mucus (lendir) yang antara lain terdiri dari protein yang diperlukan untuk mencegah infeksi bakteri. Sel-sel epitel tersebut juga tidak membentuk cilia yang dapat mencegah akumulasi bahan asing pada permukaan sel.Defisiensi vitamin A dapat mencegah pemanjangan tulang karena vitamin A tersangkut dalam konversi sel-sel muda menjadi osteoblast yang diperlukan untuk pembelahan sel-sel tulang. Asam retinoat dapat melakukan fungsi vitamin A dalam pembentukan sel-sel tulang dan jaringan epitel. Retinol atau retinal diperlukan untuk proses reproduksi yang normal. Defisiensi vitamin A menyebabkan hewan percobaan jantan tidak memproduksi sel-sel sperma dan hewan betina tidak dapat mempertahankan janin (dapat mengalami keguguran). Selain fungsi-fungsi tersebut di atas, defisiensi vitamin A dapat menyebabkan nafsu makan menurun serta penyembuhan luka menjadi lambat.Sumber vitamin A adalah bahan makanan hewani, misalnya: hati (sapi) yang mengndung sekitar 15.000 IU vitamin A per 100 g, kuning telur yang mengadung sekitar 1000 RE per 100 g (250 RE per butir telur); pigmen kuning telur yaitu xantofil tidak mempunyai nilai vitamin A (vitamin A tidak berwarna); mentega (yang dibuat dari krim susu sapi) mengandung sekitar 1900-33000 IU vitamin A per kg; vitamin A di dalam susu terdapat dalam bagian lemaknya, sehingga susu skim praktis tidak mengndung vitamin A.Bahan pangan nabati, yaitu sayuran dan buah-buahan merupakan sumber pro-vitamin A (beta-karoten). Makin tua warnanya (oranye, kuning atau hijau), makin tinggi kandungan beta karotennya. Pigmen likopen (misalnya yang terdapat pada tomat dan semangka) serta xantofil (pada jagung kuning), tidak mempunyai nilai vitamin A, sedangkan kriptoxantin (pada jagung) potensinya sangat kecil (sekitar 1 RE per gram).Gejala defisiensi vitamin A akan nampak bila cadangan vitamin A dalam hati telah sangat berkurang. Defisiensi protein dan Zn akan menghambat pelepasan vitamin A dari hati, sehingga dapat menimbulkan gejala-gejala seperti defisensi vitamin A. Defesiensi vitamin A dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya:

(a) Konsumsi vitamin A (pro-vitamin A) rendah(b) Gangguan dalam proses penyerapan dalam usus halus(c) Gangguan dalam proses penyimpanan di hati(d) Gangguan dalam proses konversi vitamin A menjadi vitamin A.Gejala defisiensi y