Bahan Ajar DRT3 - Permintaan Atas Jasa Transportasi

download Bahan Ajar DRT3 - Permintaan Atas Jasa Transportasi

of 14

  • date post

    16-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    77
  • download

    0

Embed Size (px)

description

dasar dasar rekayasa transportasi

Transcript of Bahan Ajar DRT3 - Permintaan Atas Jasa Transportasi

  • 1

    DASAR-DASAR REKAYASA TRANSPORTASI POKOK BAHASAN 3: PERMINTAAN ATAS JASA TRANSPORTASI

    1. PENDAHULUAN

    Teori permintaan jasa transportasi pada awalnya diturunkan dari teori ekonomi mengenai pilihan konsumen. Pada perkembangannya, teori permintaan jasa transportasi ini diperkaya oleh teori-teori dalam bidang-bidang lain, seperti psikologi, sosiologi dan pemasaran, sehingga diperoleh cara-cara yang andal dan praktis dalam memperkirakan permintaan jasa transportasi dalam konteks perencanaan dan desain yang actual.

    Permintaan transportasi merupakan permintaan turunan (derived demand). Hal ini disebabkan adanya permintaan akan transportasi barang dan manusia biasanya digunakan untuk memenuhi tujuan lain. Pada dasarnya permintaan akan transportasi diturunkan dari 2 hal, yaitu: a. kebutuhan manusia dalam memenuhi kegiatannya, dan b. permintaan akan barang tertentu agar tersedia di tempat tertentu

    Dalam hal angkutan penumpang, faktor penting yang mempengaruhi jumlah perjalanan ke suatu tempat di antaranya adalah: a. jenis-jenis kegiatan yang dapat dilakukan di tempat tersebut b. biaya untuk mencapai tempat tujuan c. karakteristik alat transportasi yang tersedia ke tempat tujuan d. jumlah orang yang bergerak menuju ke tempat tujuan

    Sedangkan faktor-faktor penting yang mempengaruhi jumlah perjalanan untuk pengangkutan barang adalah sebagai berikut: a. karakteristik sistem transportasi yang menghubungkan tempat asal dan tempat

    tujuan b. permintaan akan barang tersebut di tempat tujuan c. tersedianya barang tersebut di tempat asal

    Dikarenakan banyaknya faktor penentu dan tingginya tingkat ketidakpastian yang terlibat, maka penentuan jumlah perjalanan penumpang umumnya lebih rumit dan lebih sulit diprediksi daripada penentuan jumlah pengangkutan barang.

    1.1 Fungsi Permintaan

    Dalam teori ekonomi, permintaan akan suatu komoditi biasanya digambarkan dengan kurva permintaan (Gambar 1) dimana kurva ini menghubungkan antara jumlah komoditi dan harga tertentu. Kecenderungan yang terjadi adalah apabila harga menurun, jumlah komoditi yang dibeli akan bertambah.

  • 2

    Gambar 1 Kurva Permintaan

    Salah satu ekspresi penting dari kurva tersebut adalah apa yang disebut dengan elastisitas harga, yaitu ukuran tingkat perubahan kuantitas permintaan dalam perbandingan dengan tingkat perubahan harga. Pada umumnya, nilai elastisitas harga ini berbeda di sepanjang kurva. Fungsi dari jumlah permintaan terhadap harga dan elastisitas harga dapat dinyatakan sebagai berikut:

    Q = D(P) (1)

    QP

    dPdQ

    p = (2)

    Dimana: Q = kuantitas permintaan P = harga p = elastisitas permintaan pada titik tertentu

    Persamaan elastisitas harga dapat diartikan pula bahwa perubahan satu persen dari kuantitas permintaan analog dengan perubahan harga yang sangat kecil. Salah satu ilustrasi dari persamaan elastisitas di atas adalah elastisitas harga yang merupakan suatu konstanta sebagai berikut.

    Q = P (3)

    Dimana dan adalah konstanta dari fungsi permintaan.

    1=

    PdPdQ

  • 3

    Dari persamaan (2):

    QP

    dPdQ

    p =

    Sehingga diperoleh:

    == PPPp

    1

    Ilustrasi dengan angka dari persamaan-persamaan tersebut adalah sebagai berikut.

    Contoh 1

    Suatu angkutan penumpang dapat mengangkut 2000 orang per hari dengan ongkos 2000 rupiah per perjalanan. Apabila ongkos angkutan itu akan dinaikkan menjadi 2500 rupiah per perjalanan, berapakah penurunan penumpang yang akan terjadi? (diasumsikan p = = 3)

    Penyelesaian:

    2000 = (2000)-3

    Maka = 1.6 x 1013

    Dan Q = 1.6 x 1013 (P)-3

    Apabila P = 2500 rupiah per perjalanan, maka Q = 1.6 x 1013 (2500)-3 = 1024 penumpang. Artinya, dengan kenaikan harga 25%, maka akan terjadi penurunan jumlah penumpang sebesar 48.8%.

    Selain kurva permintaan dengan elastisistas konstan (seperti terlihat pada Gambar 1), terdapat juga beberapa jenis kurva permintaan seperti terlihat pada Gambar 2.

  • 4

    Gambar 2 Jenis-jenis kurva permintaan

    Penjelasan mengenai kurva permintaan pada Gambar 2 adalah sebagai berikut: a. Gambar 2(a) merupakan kurva permintaan dengan elastisitas konstan. Gambar 1

    merupakan salah satu jenis dari tipe ini. b. Gambar 2(b) merupakan kurva permintaan dengan elastisitas yang terus berubah.

    Dua titik ekstrim dari kurva ini adalah p = - pada saat kurva berpotongan dengan sumber harga (disebut dengan elastik sempurna) dan p = 0 pada saat kurva berpotongan dengan sumber kuantitas permintaan (sama sekali tidak elastik)

    c. Gambar 2(c) merupakan kurva permintaan dengan elastisitas yang terus berubah. Hanya saja perbedaan elastisits antar titik tidak sebesar Gambar 2(b).

    d. Gambar 2(d) merupakan kurva permintaan yang sama sekali tidak elastis, atau p = 0, dimana jumlah yang dibutuhkan tetap sama, walaupun terdapat perbedaan harga.

    e. Rentang -1 < p < 0 disebut dengan relatively inelastic dan - < p < -1 disebut dengan relatively elastic. Permintaan yang tidak elastik dapat diartikan bahwa konsumer mau membeli komoditi dengan harga berapapun, sedangkan permintaan elastik berarti konsumer hanya mau membeli komoditi pada harga tertentu.

  • 5

    1.2 Model Permintaan

    Persamaan (3) merupakan salah satu bentuk dari model permintaan, dimana nilai tertentu untuk konstanta dan pada Contoh 1 akan menghasilkan model permintaan yang spesifik. Secara umum, permintaan jasa transportasi dimodelkan dalam bentuk sebagai berikut: ( ),...,,,...;,,, nikmikknijmijjipmpmij ccSccSSDd = (4)

    dimana: pm

    ijd = kuantitas permintaan untuk perjalanan dari kota i ke j dengan maksud perjalanan p dan menggunakan alat angkut atau moda m

    iS = karakteristik sosioekonomi di kota i mijc = karakteristik harga dan tingkat pelayanan dari moda m dari kota i ke kota j

    k = kota tujuan alternatif dimana maksud perjalanan p mungkin juga dapat dipenuhi

    n = alternatif terhadap moda m

    Alasan untuk mengikutsertakan karakteristik transportasi suatu moda adalah karena karakteristik harga dan tingkat pelayanan dari semua moda akan mempengaruhi pengguna moda dalam memilih moda yang dikehendaki untuk melaksanakan perjalanan dari kota i ke kota j. Sedangkan alasan untuk mengikutsertakan karakteristik sosioekonomi di kota asal dan tujuan adalah untuk mengevaluasi sampai sejauh mana kegiatan yang akan dilakukan pada kota tujuan dapat memenuhi maksud perjalanan.

    2. MODEL PERAMALAN PERMINTAAN PERJALANAN

    Model yang umum digunakan untuk peramalan permintaan perjalanan adalah model empat tahap (four stage model) yaitu: bangkitan perjalanan, distribusi perjalanan, pemilihan moda dan penentuan lalu lintas. Namun demikian, biasanya di awal model empat tahap ini, sering dilakukan peramalan tata guna lahan, sehingga diperoleh model lima tahap seperti terlihat pada Gambar 3 berikut ini.

  • 6

    Gambar 3 Model peramalan permintaan lima tahap

    2.1 Peramalan Tata Guna Lahan (Land-use Forecasting)

    Peramalan tata guna lahan ini dimaksudkan untuk menentukan pola kegiatan manusia di wilayah tertentu, yang biasanya dibagi-bagi dalam satuan zona, untuk masa mendatang, terutama pada tahun tertentu yang ingin diramalkan. Data ini bisa diperoleh dari institusi perencana daerah atau kota, walau demikian seringkali dihadapi kenyataan bahwa proyeksi masa mendatang mengenai tata guna lahan tidak bisa dilakukan karena tidak cukup tersedia atau kurang mempunyai rencana yang terinci. Salah satu metode yang digunakan untuk mengurangi kendala di atas adalah metode yang digunakan oleh Chicago Area Transportation Study (CATS), dimana di dalam metode ini peramalan bersifat non-matematis dan dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan (stake-holder) dalam perkembangan tata guna lahan.

    Metode ini menggunakan aturan sebagai berikut: a. intensitas pengembangan lahan akan berkurang apabila makin jauh dari pusat kota; b. kerapatan (kegiatan per satuan lahan) pada lahan yang sudah terpakai akan

    berkurang apabila makin jauh dari pusat kota; c. proporsi lahan yang disediakan untuk berbagai penggunaan lahan akan selalu stabil.

    Metode ini biasanya menggunakan data-data seperti data populasi, tempat tinggal maupun data lain dari seluruh zona yang ada. Hasil dari metode ini adalah suatu proyeksi jumlah kegiatan pada berbagai jenis tata guna lahan di masa mendatang di setiap zona.

  • 7

    2.2 Bangkitan Perjalanan (Trip Generation)

    Model bangkitan perjalanan digunakan untuk memperkirakan jumlah perjalanan yang berasal dari tiap zona dan jumlah perjalanan yang akan berakhir di setiap zona, untuk setiap maksud perjalanan. Model bangkitan perjalanan pada umumnya memperkirakan jumlah perjalanan untuk setiap maksud perjalanan berdasarkan karakteristik tata guna lahan dan karakteristik sosioekonomi pada setiap zona. Disini, variabel-variable sistem transportasi tidak disertakan dalam model bangkitan perjalanan, hal ini dikarenakan biaya perjalanan relatif kecil jika dibandingkan dengan penghasilan total dan kemampuan yang cukup tinggi, sehingga variasi harga dan tingkat pelayanan sistem transportasi tidak cukup berpengaruh dalam menentukan jumlah perjalanan yang diadakan.

    Bentuk matematis dari model bangkitan perjalanan dapat dinyatakan dalam 2 (dua) bentuk, yaitu bentuk yang akan menghasilkan jumlah perjalanan total per zona dan bentuk yang menghasilkan jumlah perjalanan per rumah tangga. ( ),...,...,, 21 ijiippi SSSOo = (5a)

    ( ),...,...,, 21' ijiippi SSSOo H = (5b)

    Hoo pipi

    H= (5c)

    dimana: pio = jumlah perjalanan untuk maksud pyang berasal dari zona i

    H = jumlah rumah tangga ijS = ukuran sosioekonomi untuk kegiatan j di zona i

    Terdapat dua kategori maksud perjalana