Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Membuang Sampah

of 36 /36
faktor faktor yang mempengaruhi masyarakat membuang sampah Minggu, 22 September 2013 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sampah selalu timbul menjadi persoalan rumit dalam masyarakat yang kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Ketidakdisiplinan mengenai kebersihan dapat menciptakan suasana semrawut akibat timbunan sampah. Begitu banyak kondisi tidak menyenangkan akan muncul. Bau tidak sedap, lalat berterbangan, dan gangguan berbagai penyakit siap menghadang di depan mata. Tidak cuma itu, peluang pencemaran lingkungan disertai penurunan kualitas estetika pun akan menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat ( Sugito, 2008). 1

Embed Size (px)

description

faktor yang mempengaruhi

Transcript of Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Membuang Sampah

faktor faktor yang mempengaruhi masyarakat membuang sampah Minggu, 22 September 2013

BAB 1PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sampah selalu timbul menjadi persoalan rumit dalam masyarakat yang kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Ketidakdisiplinan mengenai kebersihan dapat menciptakan suasana semrawut akibat timbunan sampah. Begitu banyak kondisi tidak menyenangkan akan muncul. Bau tidak sedap, lalat berterbangan, dan gangguan berbagai penyakit siap menghadang di depan mata. Tidak cuma itu, peluang pencemaran lingkungan disertai penurunan kualitas estetika pun akan menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat ( Sugito, 2008). 1

Tidak bisa dipungkiri jika saat ini masih banyak masyarakat yang berperilaku buruk tentang sampah. Mereka membuang sampah sembarangan. Perilaku ini tidak mengenal tingkat pendidikan maupun status sosial. Keberadaan sampah di kehidupan sehari-hari tak lepas dari tangan manusia yang membuang sampah sembarangan, mereka menganggap barang yang telah dipakai tidak memiliki kegunaan lagi dan membuang dengan seenaknya sendiri. Kurang kesadaran akan pentingnya kebersihan menjadi faktor yang paling dominan, di samping itu kepekaan masyarakat terhadap lingkungan harus dipertanyakan. Mereka tidak mengetahui bahaya apa yang akan terjadi apabila tidak dapat menjaga lingkungan sekitar (Nurdin,2004). Bank Dunia dalam laporan yang berjudul What a Waste: A Global Review of Solid Waste Management, mengungkapkan jumlah sampah padat di kota-kota dunia akan terus naik sebesar 70% mulai tahun ini hingga tahun 2025, dari 1,3 miliar ton per tahun menjadi 2,2 miliar ton per tahun. Mayoritas kenaikan terjadi di kota-kota di negara berkembang. Di Indonesia, jumlah sampah padat yang diproduksi secara nasional mencapai 151.921 ton per hari. Hal itu berarti, setiap penduduk Indonesia rata-ratamembuang sampah padat sebesar 0,85 kg setiap hari. Data Bank Dunia juga menyebutkan, dari total sampah yang dihasilkan secara nasional, hanya 80%yang berhasil dikumpulkan. Sisa terbuang mencemari lingkungan. Volume sampah di Indonesia sekitar 1 juta meter kubik setiap hari, namun baru 42% di antaranya yang terangkut dan diolah dengan baik. Jadi, sampah yang tidak diangkut setiap harinya sekitar 348.000 meter titik atau sekitar 300.000 ton. Sebagian besar masyarakat di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri. Ini mempunyai kebiasaan membuang sampah di sebuah selokan yang ada di Kelurahan tersebut . dari kebiasaan inilah menimbulkan dampak dari sampah sampah yang belum terbawa arus air selokan tersebut. sehingga menimbulkan berbagai masalah. Lingkungan di sekitar tepi sungai terlihat sangat kotor akibat tumpukan sampah, lalat beterbangan, banyak tikus dan nyamuk, bahkan menyebarkan aroma yang tidak sedap.

Masalah sampah khususnya di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem masih sangat membutuhkan perhatian khusus oleh pemerintahan kota Kediri. Dengan adanya partisipasi di lingkungan. Mulai dari setiap rumah tangga membiasakan diri dengan menyediakan 2 bak penampung sampah yang berbeda. Satu untuk sampah basah dan satu lagi untuk sampah kering, selain itu sampah sampah juga bisa di olah menjadi aneka hasil olahan sampah seperti: kompos, dan pupuk cair. Sehingga bisa menghasilkan keuntungan, dapat mengurangi tumpukan sampah, mencegah sampah yang menggunung serta dampak dari polusi sampah yang berakibat buruk pada lingkungan dan kesehatan.Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melaksanakan peneliti dengan judul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.Penanganan sampah permukiman memerlukan partisipasi aktif individu dan kelompok masyarakat selain peran pemerintah sebagai fasilitator. Ketidak pedulian masyarakat terhadap sampah akan berakibat terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau tinggal masyarakat di sebuah wilayah. Degradasi kualitas lingkungan dipicu oleh perilaku masyarakat yang tidak ramah dengan lingkungan, seperti membuang sampah di badan air. Permasalahan sampah dapat diatasi jika masyarakat maupun Pemerintah mampu dan memiliki kemauan dalam menjalankan tugas dan kewajiban pengelolaan sampah dengan penuh tanggung jawab. Bentuk keterlibatan masyarakat sebagai pihak yang menghasilkan sampah dengan proporsi terbesar, dapat dilaksanakan dengan membudayakan perilaku pengelolaan sampah semenjak dini dari rumah tangga, sebagai struktur terendah dalam pengelolaan sampah perkotaan. Sampah domestik yang tidak tertangani dengan baik akan berdampak kepada kesehatan manusia, kondisi ekonomi dan tingginya biaya pengelolaan atau perbaikan lingkungan dan infrastruktur atau menimbulkan biaya eksternalitas (Nurdin,2004).Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.

B. Rumusan MasalahBerdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada Pengaruh Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri?.

C. Tujuan Penelitian1. Tujuan UmumMengetahui faktor faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam membuang sampah di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri?2. Tujuan Khususa. Mengidentifikasi kebiasaan masyarakat membuang sampah di sembarangan tempat di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.b. Mengidentifikasi ketersediaan fasilitas fasilitas tempat sampah yang di sediakan dari kantor DTRKP di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.c. Mengidentifikasi sikap dan prilaku petugas kesehatan di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.d. Menganalisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah di RT 01/RW 02 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi penelitiDapat memperluas pengetahuan dan menyebarluaskan informasi tentang faktor faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam membuang sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri?.2. Bagi MahasiswaSebagai bahan pengetahuan bagi mahasiswa tentang faktor faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam membuang sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri?.3. Bagi Institusi Di harapkan dapat memberikan informasi kepada mahasiswa STIKes Surya Mitra Husada Kediri tentang bahaya dan efek sampah agi kesehatan. 4. Bagi peneliti lainSebagai bahan acuan untuk membantu dalam penelitian selanjutnya.

E. Keaslian PenelitianSebelumnya telah dilakukan penelitian Saudara Lasma Rohani dengan judul Perilaku masyarakat dalam pengolahan sampah di desa Medan Senembah Kabupaten Deliserdang dan Kelurahan Asam Kumbang Kota Medan Tahun 2007.

Perbedaan penelitian adalah pada variabel penelitian, permasalahan tempat penelitian, dan tahun penelitian yaitu Variabel dan permasalahan yang diteliti adalah Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori1. Konsep Perilakua. PengertianSarwono (2001) mendefinisikan perilaku sebagai sesuatu yang dilakukan oleh individu satu dengan individu lain dan sesuatu itu bersifat nyata. Menurut Morgan (2002) tidak seperti pikiran atau perasaan, perilaku merupakan sesuatu yang konkrit yang dapat diobservasi, direkam maupun dipelajari. Walgito (2002) mendefinisikan perilaku atau aktivitas ke dalam pengertian yang luas yaitu perilaku yang tampak (overt behavior) dan perilaku yang tidak tampak (innert behavior), demikian pula aktivitas-aktivitas tersebut disamping aktivitas motoris juga termasuk aktivitas emosional dan kognitif. Robet Kwick menyatakan perilaku adalah tindakaan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari (Notoatmodjo, 2007).7

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, bicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003). Menurut Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2003) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme dan kemudian organisme tersebut merespons. Skiner membedakan adanya dua respons yaitu:a. Respondent respons atau reflexive, yaitu respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu.b. Operant respons atau instrumental respons, yaitu respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu (Notoatmodjo, 2003).Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus, perilaku dibedakan menjadi dua yaitu :a. Perilaku tertutup (covert behavior)Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup. Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/ kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.b. Perilaku terbuka (overt behavior)Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain (Notoatmodjo, 2005).b. Bentuk PerilakuSecara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subyek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam yakni:a. Bentuk pasif adalah respon internal yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang yang menganjurkan orang lain untuk melakukan perawatan payudara meskipun ia sendiri tidak melakukannya.b. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku ini jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya orang yang sudah pernah melakukan perawatan payudara. Oleh karena perilaku ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut overt behaviour (Notoatmodjo, 2003).c. Teori Perilaku 1. Teori Naluri (instinct theory)7

Ada beberapa teori yang dapat di kemukakan oleh MC dougaal sebagai pelopor psikologi sosial. Menurut beliau prilaku itu disebabkan naluri naluri merupakan prilaku yang innate, prilaku bawaan dan naluri akan mengalami perubahan karena pengelaman. 2. Teori dorongan (drive theory) Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan ini berkaitan dengan kebutuhan organism yang mendorong organism berprilaku. Bila organisme mempunyai kebutuhan, dan organisme inngin memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi ketegangan dalam diri organisme itu. Bila organisme berprilaku dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan dorongan tersebut. 3. Teori insentif (insentive theory)Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa prilaku organisme itu disebabkan karena adanya insentif. Dengan insentif akan mendorong organisme berbuat atau berprilaku.4. Teori AtribusiTeori ini menjelaskan tentang sebab sebab perilaku orang. Apakah prilaku itu disebabkan oleh disposisi internal ataukah oleh keadaan eksternal. Teori ini dikemukakan oleh fritz heider dan teori ini menyangkut lapangan psikologi sosial. Pada dasarnya prilaku manusia itu dapat atribusi internal, tetapi juga dapat eksternal (machfoedz, suryani, 2006.

d. Faktor Faktor yang Mempengaruhi PerilakuGreen (1980), dalam Notoatmojo, 2003 mengembangkan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi perilaku adalah sebagai berikut:a. Faktor prediposisi (Predisposing factor) Seperti kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarang tempat, pengetahuan masyarakat tentang sampah dan pengaruhnya terhadap lingkungan.b. Faktor yang memudahkan (Enebling factor)Seperti ketersediaan fasilitas dan lain sebagainya.c. Faktor yang memperkuat (Reinforcing factor)Seperti sikap dan prilaku petugas kesehatan (Notoatmojo, 2003)e. Cara pembentukan perilaku1. Pembentukan perilaku dengan kebiasaan yaituh dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang di harapkan, akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut.2. Pembentukan perilaku dengan pengertian yaituh pembentukan perilaku yang ditempuh dengan pengertian atau insight. Cara ini berdasarkan atas teori belajar kognitif, yaituh belajar dengan disertai adanya pengertian.3. Pembentukan perilaku dengan menggunakan model yaituh pemimpin dijadikan model atau contoh oleh yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory) (suryani, 2003).

f. Proses Perubahan Perilaku 1. Perubahan Alamiah Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan, maka kita sering mengikuti perubahan itu tanpa banyak pikiran inilah yang disebut dengan perubahan alamiah.2. Perubahan tercerna Perubahan ini terjadi karena memang direncanakan sendiri.3. Kesediaan berubah Sebagian orang sangat cepat untuk menerima suatu perubahan, tetapi sebagian orang lain sangat lambat untuk menerima perubahan (Notoatmojo, 2003).g. Perilaku KesehatanBerdasarkan batasan perilaku dari skinner maka prilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. System pelayanan, makanan dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini. Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance)Usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.2. Perilaku pencarian dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatanPerilaku ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau kecelakaan.3. Perilaku kesehatan lingkunganYaitu bagaimana seseorang merespon lingkungan baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan sebagainya (Notoatmojo, 2003).

B. Konsep Sampaha. PengertianMenurut Slamet (2002), sampah adalah segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat. Sementara didalam Naskah Akademis Rancangan Undang-undang Persampahan disebutkan sampah adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang berujud padat atau semi padat berupa zat organik atau an organik bersifat dapat terurai maupun tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan. Berdasarkan definisi-definisi tersebut sampah dapat dibedakan atas dasar sifat-sifat biologis dan kimianya sehingga mempermudah pengelolaannya sebagai berikut : 1. Sampah yang dapat membusuk (garbage), menghendaki pengelolaan yang cepat. Gas-gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah berupa gas metan dan H2S yang bersifat racun bagi tubuh. 2. Sampah yang tidak dapat membusuk (refuse), terdiri dari sampah plastik, logam, gelas, karet dan lain-lain. 3. Sampah yang berupa debu/abu sisa hasil pembakaran bahan bakar atau sampah. 4. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, yakni sampah B3 adalah sampah yang karena sifatnya , jumlahnya, konsentrasinya atau karenasifat kimia, fisika dan mikrobologinya dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas secara bermakna atau menyebabkan penyakit yang irreversibell ataupun sakit berat yang pulih (tidak berbalik) atau reversibell (berbalik) atau berpotensi menimbulkan bahaya sekarang maupun dimasa yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak diolah, disimpan atau dibuang dengan baik.b. Sumber Sumber Sampah1. Pemukiman/rumah tanggaBiasanya sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah/kebun/halaman, dan lain-lain.2. Pertanian dan PerkebunanSampah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk. Untuk sampah bahan kimia seperti pestisida dan pupuk buatan perlu perlakuan khusus agar tidak mencemari lungkungan. Sampah pertanian lainnya adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuh-tumbuhan yang berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan gulma, namun plastik ini bisa didaur ulang.3. Sisa Bangunan dan Konstruksi GedungSampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung ini bisa berupa bahan organik maupun anorganik. Sampah organik, misalnya : kayu, bambu, triplek. Sampah Anorganik, misalnya : semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi dan baja, kaca, dan kaleng.4. Perdagangan dan PerkantoranSampah yang berasal dari daerah perdagangan seperti : toko, pasar tradisional, warung, pasar swalayan ini terdiri dari kardus, pembungkus, kertas, dan bahan organik termasuk sampah makanan dari restoran. Sampah yang berasal dari lembaga pendidikan, kantor pemerintah dan swasta, biasanya terdiri dari kertas, alat tulis-menulis (bolpoint, pensil, spidol, dll), toner foto copy, pita printer, kotak tinta printer, baterai, bahan kimia dari laboratorium, pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan lain-lain. Baterai bekas dan limbah bahan kimia harus dikumpulkan secara terpisah dan harus memperoleh perlakuan khusus karena berbahaya dan beracun.5. IndustriSampah ini berasal dari seluruh rangkaian proses produksi (bahan bahan kimia serpihan atau potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas,kayu,plastik,kain atau lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan). Sampah industri berupa bahan kimia yang sering kali beracun memerlukan perlakuan khusus sebelum di buang.c. Faktor-Faktor Penyebab Penumpukan Sampah1. Volume sampah sangat besar dan tidak diimbangi oleh daya tampung TPA sehingga melebihi kapasitasnya.2. Lahan TPA semakin menyempit akibat tergusur untuk penggunaan lain3. Jarak TPA dan pusat sampah relatif jauh hingga waktu untuk mengangkut sampah kurang efektif.4. Fasilitas pengangkutan sampah terbatas dan tidak mampu mengangkut seluruh sampah. Sisa sampah di TPS berpotensi menjadi tumpukan sampah.5. Teknologi pengolahan sampah tidak optimal sehingga lambat membusuk.6. Sampah yang telah matang dan berubah menjadi kompos tidak segera di keluarkan dari tempat penampungan sehingga semakin menggunung.7. Tidak semua lingkungan memiliki lokasi penampungan sampah. Masyarakat sering membuang sampah di sembarangan tempat sebagai jalan pintas.8. Kurangnya sosialisasi dan dukungan pemerintah mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah serta produknya.9. Minimnya edukasi dan manajemen diri yang baik mengenai pengolahan sampah secara tepat.10. Manajemen sampah tidak efektif. hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama bagi masyarakat sekitar.d. Penyebab Orang Membuang Sampah SembaranganPenyebab utama bagaimana perilaku membuang sampah sembarangan ini bisa terbentuk dan bertahan kuat di dalam perilaku kita (http://vininazihah.blogspot.com) adalah: 1. Kurangnya fasilitas atau tempat pembuangan sampahKurang banyak tempat sampah. Ini membuat orang jadi kesulitan membuang sampahnya. Mungkin ada tempat sampah. Tapi sangat jauh.2. TPA yang jauh dari lingkunganTempat Penampungan Akhir atau pembuangan sampah jauh yag dari tempat tinggal.3. Kurangnya pengetahuan masyarakat Kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak dari membuang sampah di sembarang tempat menjadi salah satu faktor utama mengapa masyarakat lebih memilih membuang sampah di selokan daripada di TPSe. Dampak dari Membuang Sampah Sembarangan terhadap Masyarakat Sekitar1. Dampak terhadap kesehatan pembuangan sampah yang tidak terkontrol dengan baik merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit2. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur dengan air minum. Penyakit DBD dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.3. Penyakit jamur dapat juga menyebar ( misalnya jamur kulit ).4. Dampak Terhadap Sosial Ekonomi Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana mana.

C. Kerangka KonsepKerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingindi amati atau di ukur melalui penelitian-penelitian yang di lakukan (Notoadmojo,2005).

Diteliti

Ket: Tidak diteliti

: :

Gambar 2.1: Kerangka Kerja Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prilaku Masyarakat Dalam Membuangan Sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.

D. HipotesisHipotesis adalah suatu asumsi pernyataan tentang hubungan antara dua variabel yang di harapkan bisa menjawab suatu pertanyaan dalam penelitian. Setiap hipotesis terdiri dari suatu unit atau bagian dari permasalahan (Nursalam,2003).Hipotesis dalam penelitian ini adalah Diduga ada Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri.

BAB IIIMETODE PENELITIAN

A. Desain PenelitianDesain penelitian merupakan suatu strategi dalam mengidentifikasi permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data dan untuk mendefinisikan struktur penelitian yang akan dilaksanakan. Desain penelitian juga merupakan hasil akhir suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan. Berdasarkan tujuan penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan rancangan korelasional. Penelitian korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel. Hubungan korelatif mengacu pada kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh variasi variabel yang lain (Nursalam, 2007).Penelitian ini adalah merupakan penelitian dengan metode deskriptif analitik korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional, menganalisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuangan Sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri..

B. Kerangka KerjaKerangka Kerja adalah pentahapan atau langkah-langkah dalam aktivitas ilmiah yang dilakukan dalam melakukan penelitian (kegiatan sejak awal-akhir) (Nursalam, 2003).

PopulasiSeluruhmasyarakatdi RT01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem KotaKediri

SampelSebagianMasyarakatdi RT01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediriyang memenuhi kriteria inklusi

Perilaku Masyarakat( Kuesioner) (Kuesioner)

Sampah (Kuesioner)

Gambar 3.1 Kerangka Kerja Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuangan Sampah di RT 01/RW 04 Kelurahan kampung dalem Kota Kediri

C. Populasi, Sampel dan Sampling1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi adalah seluruh subyek atau obyek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti (Alimul, 2007). Pada penelitian ini populasinya adalah Seluruh masyarakat di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri sebanyak 63 KK.2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah sebagian dari masyarakat atau sebagian dari populasi di RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri sebanyak 54 KK. Besar sampel pada penelitian ini adalah :

Keterangan : n = SampelN = Populasid = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,05)

3. Sampling Sampling adalah suatu proses seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili keseluruhan populasi yang ada (Hidayat, 2008).Purposive sampling adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti, sehingga sampel dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008).Adapun kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:a. Kriteria InklusiKriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:1. Masyarakat RT 01/RW 04 Kelurahan KampungDalem Kota Kediri2. Masyarakat RT 01/RW 04 Kelurahan KampungDalem Kota Kediriyang ada pada saat penelitian responden.b. Kriteria EksklusiKriteria Eksklusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:1. Masyarakat RT 01/RW 04 Kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri yang tidak bersedia menjadi responden

D. Variabel Penelitian Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota satu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain (Notoatmodjo, 2005). 1. Variabel Independent Variabel independent adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini variabel independent adalah Perilaku masyarakat. 2. Variabel Dependent Variabel dependent adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini variabel dependent Sampah

E. Definisi OperasionalTabel 3.1 Definisi Operasional faktor faktor yang mempengaruhi perilaku pembuangan sampah masyarakat di RT 01/RW 04 Kelurahan kampung dalem Kota KediriVariabelDefenisi OperasionalParameterAlat UkurSkalaSkor

Dependen :Perilaku MasyarakatAktivitas yang dilakukan masyrakat dalam membuang sampah1. Perilaku pemeliharaan kesehatan2. Perilaku pencarian dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan3. Perilaku kesehatan lingkungan

KUESIONER

ORDINAL

a. Baik(76-100%)b. Cukup(56-75%)c. Kurang (