Folio PAI Semester 1 Test2

22
Imam As-Syafie Nama dan Nasab Beliau bernama Muhammad dengan kuniyah (gelaran) Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib. Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (junior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam. Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat- pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja. Adapun ibu beliau, terdapat perbezaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah (gelaran) Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahawa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki

description

PAI test2

Transcript of Folio PAI Semester 1 Test2

Imam As-Syafie

Nama dan Nasab

Beliau bernama Muhammad dengan kuniyah (gelaran) Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi bin as-Saib bin Ubayd bin Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafii)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (junior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.

Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafii berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafii bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala saja.

Adapun ibu beliau, terdapat perbezaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah (gelaran) Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahawa ibu Imam Syafii adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath hukum. (mengeluarkan hukum)

Waktu dan Tempat Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh= 11km ). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu

Di Mekkah, Imam Syafi i dan ibunya tinggal di dekat Syibu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafii bercerita, Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia katakan, dia berkata kepadaku, Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu. Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Setelah rampung (selesai) menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majeis-majlis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin Uyainah ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Said bin Salim, Fudhail bin Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah (berguru) kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, Abdul Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Jafar, Ibrahim bin Sad dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenangannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.

Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafii hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafii secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang tegas dari penguasa. Maka berbeza dengan sikap ahli fqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.

Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu (sikap ahli syiah), padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu model orang-orang syiah. Bahkan Imam Syafii menolak keras sikap tasysyu model mereka itu yang meyakini keimaman Abu Bakar, Umar, serta Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fqih madzhab mereka.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu dihantar ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang Alawiyah. Beliau bersama orang-orang Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafii berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqh Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Rayu (ahli pemikir/ilmuan). Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Ismail bin Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafii memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul (diterima), penjelasan tentang nasikh dan mansukh (ayat yang membatal/menggantikan hukum terdahulu) dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Iraq untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Rayi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra yu Imam As-Syafie

Nama dan Nasab

Beliau bernama Muhammad dengan kuniyah (gelaran) Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi bin as-Saib bin Ubayd bin Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafii)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (junior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.

Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafii berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafii bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala saja.

Adapun ibu beliau, terdapat perbezaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah (gelaran) Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahawa ibu Imam Syafii adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath hukum. (mengeluarkan hukum)

Waktu dan Tempat Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh= 11km ). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu

Di Mekkah, Imam Syafi i dan ibunya tinggal di dekat Syibu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafii bercerita, Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia katakan, dia berkata kepadaku, Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu. Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Setelah rampung (selesai) menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majeis-majlis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin Uyainah ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Said bin Salim, Fudhail bin Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah (berguru) kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, Abdul Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Jafar, Ibrahim bin Sad dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenangannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.

Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafii hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafii secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang tegas dari penguasa. Maka berbeza dengan sikap ahli fqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.

Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu (sikap ahli syiah), padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu model orang-orang syiah. Bahkan Imam Syafii menolak keras sikap tasysyu model mereka itu yang meyakini keimaman Abu Bakar, Umar, serta Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fqih madzhab mereka.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu dihantar ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang Alawiyah. Beliau bersama orang-orang Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafii berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqh Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Rayu (ahli pemikir/ilmuan). Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Ismail bin Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafii memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul (diterima), penjelasan tentang nasikh dan mansukh (ayat yang membatal/menggantikan hukum terdahulu) dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Iraq untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Rayi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra yu (ahli pemikir/ilmuan). Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.

Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Iraq. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafii adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam (ilmu logik berkaitan ketuhanan). Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.

Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafii kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana. (ahli pemikir/ilmuan). Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.

Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Iraq. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafii adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam (ilmu logik berkaitan ketuhanan). Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.

Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafii kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.

IODATA IMAM SYAFIENama sebenar Imam Syafie ialah Muhammad Bin Idris Bin Abbas Bin Uthman bin Syafie Bin Saib Bin Abdu Yazid Bin Hasyim Bin Abdul Mutalib Bin Abdul Manaf.Imam Syafie adalah berasal dari keturunan arab Quraisy. Nasabnya berkait dengan Nabi Muhammad saw.Beliau dilahirkan di Kota Gaza Palestin pada bulan Rejab 150 Hijrah. Ada yang mengatakan pada malam beliau dilahirkan itu Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) meninggal dunia akibat diracun oleh Khalifah Abu Jaafar al-Mansur dari Bani Abbasiyah sewaktu Imam Hanafi berada dalam penjara. Beliau dipenjara , diseksa dan dirotan kerana tidak mahu memberikan kerjasama kepada Khalifah Bani Abbasiyah yang zalim itu dengan menolak tawaran untuk menjadi Hakim kerajaannya.Imam Syafie menghafal Al-Quran sewaktu berumur 9 tahun.Beliau menghafal Kitab al-Muwatta yang ditulis oleh Imam Malik (Mazhab Maliki) selama 10 tahun. Beliau mempunyai kecerdikan dan daya ingatan yang sangat luar biasa.Dibenarkan memberikan fatwa sendiri oleh gurunya sewaktu berusia 15 tahun sewaktu mengajar di Masjidil Haram.Sebelum melahirkan beliau, ibunya bermimpi melihat sebutir bintang keluar dari perutnya lalu naik ke langit.Lalu bintang itu pecah lalu jatuh bertaburan jatuh ke bumi.Cahaya dari bintang pecah yang jatuh itu menerangi seluruh muka bumi.Ibunya terkejut bila mengetahui suaminya juga mengalami mimpi yang sama iaitu dia melihat ada sebutir bintang yang keluar dari perut isterinya.Imam Syafie penentang amalan bidaah. Kata beliau, semua perkara yang diadakan menyalahi Quran dan sunnah atau ijmak ulama adalah bidaah yang keji dan sesat! Manakala mana-mana perkara atau kebaikan yang tidak menyalahi sedikit pun dari kesemua itu adalah bidaah yang terpuji. Imam Syafie berpegang kepada fahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah seperti juga 3 orang Imam Mazhab lain yang terkenal seperti Imam Hanafi,Imam Maliki dan Iman Ahmad Bin Hambal (mazhab Hambali). Fahaman Ahli Sunnah Waljamaah ini dicetuskan oleh ulamak sebelum mereka iaitu Syeikh Abu Hasan Asyaari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi.Imam Syafie juga melarang Taklid, baik taklid kepada dirinya sendiri ataupun kepada sesiapa saja. Beliau selalu berpesan: Janganlah mereka-reka dalam perkara agama mengguna-pakai taklid sahaja kepada perkataan ataupun tindakan yang tidak disertai dengan keterangan ataupun alasan dari Quran dan hadis. Beliau juga berpesan : Tiap-tiap perkara yang saya katakan padahal kata Rasulullah bertentangan dengan perkataan saya, Rasulullah itulah lebih utama perlu dituruti

Nama beliau ialahMuhammad bin Idris bin Al-`Abbas bin `Usman bin Syafi` bin AsSaibdan nasabnya sampaikepada `Abdul Manaf datuk Nabi. Gelaran Asy-Syafi`ie adalah sempena nama datuknyaSyafi` bin As-Saib. Beliau dilahirkan di Ghazzah (Gaza), Palestine, pada tahun 150H/767M pada tahunkematianImam Abu HanifahAn-Nu`man bin Tsabit. Ketika itu pemerintahan Khalifah Abu Jaafar Al-Mansur di kota Baghdad.

Sebelum melahirkan beliau, ibunya bermimpi melihat sebutir bintang keluar dari perutnya lalu naik ke langit. Kemudian bintang itu pecah lalu jatuh bertaburan ke bumi. Cahaya dari bintang pecah itu menerangi seluruh muka bumi. Ibunya terkejut bila mengetahui suaminya juga mengalami mimpi yang sama iaitu dia melihat ada sebutir bintang yang keluar dari perut isterinya.

Ibu bapanya berasal dari Makkah dan mereka menziarahi Palestin ketika Asy-Syafi`ie masih dalam kandungan. Ayahnya meninggal dunia dan kemudian Asy-Syafi`ie pun dilahirkan. Setelah berusia dua tahun, mereka kembali semula ke Makkah dan menetap di Sya`bu l-Hayf.

Beliau seorang yang kuat ingatan, terang hati, rajin serta mempunya peribadi yang sangat tinggi. Ibunya Fatimah binti `Abdi Llah bin Hasan bin `Aliy bin Abi Talib. Beliau meninggal dunia pada 29 Rajab tahun 204H/820M di Mesir.

Imam As-Syafi'e merupakan penentang amalan bid'ah. Katanya, semua perkara yang diadakan menyalahi AlQuran dan As-sunnah atau ijmak ulama adalah bid'ah yang keji dan sesat! Manakala mana-mana perkara atau kebaikan yang tidak menyalahi sedikit pun dari kesemua itu adalah bid'ah yang terpuji. Imam As-Syafie berpegang kepada fahaman Ahlu Sunnah Wal Jamaah seperti juga 3 orang Imam Mazhab lain yang terkenal sepertiImam Abu Hanifah(Mazhab Hanafi),Imam Malik bin Anas(Mazhab Maliki) danImam Ahmad Bin Hanbal(Mazhab Hanbali).

Pendidikan

Imam Asy-Syafi`ie mula-mula belajar Al-Quran ketika berusia lima tahun dan telah menghafaz Al-Quran ketika berusia tujuh tahun. Imam Asy-Syafi`ie mempunya ingatan yang kuat, berkebolehan tinggi, dan dapat menghafaz semua pelajaran yang diajar.

Apabila gurunya tidak dapat mengajar kerana sesuatu urusan, beliau diamanahkan mengambil tempat gurunya untuk mengajar murid-murid.

Imam Asy-Syafi`ie menguasa ilmu Al-Quran, hadits, Bahasa Arab dan lahjahnya, serta mahir dalam penulisan dan sya`ir. Beliau belajar hadits daripada Sufyan bin `Uyaynah, Muslim bin Khalid Az-Zanjiy Al-Makkiy, Sa`id bin Salam Al-Qaddah, Dawud bin `Abdi r-Rahman Al-`Attar, dan `Abdu l-Majid bin `Abdi l-`Aziz. Beliau belajar ilmu Al-Quran daripada Isma`il bin Qistantin.

Di Madinah, Imam Asy-Syafi`ie belajar daripada ImamMalik bin Anas, Ibrahim bin Abi Yahya As-Samiy, Muhammad bin Sa`id bin Abi Fudayl dan `Abdu Llah bin Nafi` AsSani`. Imam Asy-Syafi`ie menghafaz kitab Al-MuwattaImam Malikketika berusia 10 tahun semasa beliau di Makkah dan belum lagi berjumpa denganImam Malik.

Kitab Al-Muwatta adalah kitab yang terkemuka pada ketika itu. Imam As-Syafie kemudiannya berhijrah ke Madinah untuk berguru pula dengan Imam Malik. Ketika itu Imam As-Syafie baru berumur 20 tahun dan beliau terus duduk bersama Imam Malik sehinggalah kematian Imam Malik pada tahun 179H/796M.

Ketokohan Imam As-Syafie sebagai murid terpintar Imam Malik bin Anas mulai diiktiraf ramai. Imam as-Syafie mengambil alih sebentar kedudukan Imam Malik bin Anas sebagai guru di Masjid Nabawi di Madinah sehinggalah beliau ditawarkan satu kedudukan jawatan oleh Gabenor Yaman. Jawatan Imam As-Syafie di Negeri Yaman tidak lama kerana beliau telah difitnah sebagai pengikut mazhab Syiah. Selain itu pelbagai konspirasi lain dijatuhkan ke atasnya sehinggalah beliau dirantai dan dihantar ke penjara di Baghdad, yakni pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyyah ketika itu.

Imam As-Syafie dibawa menghadap kepada Khalifah Harun ar-Rashid dan beliau berjaya membuktikan kebenaran dirinya. Kehandalan serta kecekapan Imam As-Syafie membela dirinya dengan pelbagai hujjah agama menyebabkan Harun ar-Rashid tertarik kepadanya. Imam as-Syafie dibebaskan dan dibiarkan bermastautin di Baghdad. Di sini Imam as-Syafie telah berkenalan dengan anak murid Imam Abu Hanifah dan duduk berguru bersama mereka, terutamanya Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani.

Suasana ini memberikan kelebihan yang penting bagi Imam as-Syafie, iaitu beliau berkesempatan untuk belajar dan membanding antara dua ajaran Islam, yakni ajaran Imam Malik bin Anas dan ajaran Imam Abu Hanifah.

Pada tahun 188H/804M, Imam As-Syafie berhijrah pula ke Mesir. Sebelum itu beliau singgah sebentar di Makkah dan di sana beliau diberi penghormatan dan dipelawa memberi kelas pengajian agama. Imam As-Syafie kini mula diiktiraf sebagai seorang imam dan beliau banyak meluahkan usaha untuk cuba menutup jurang perbezaan diantara ajaran Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah. Usahanya ini tidak disambut baik oleh para penduduk Makkah kerana kebiasaan mereka adalah kepada ajaran Imam Malik bin Anas.

Pada tahun 194H/810M, Imam As-Syafie kembali semula ke Baghdad dan beliau dipelawa untuk memegang jawatan Qadhi bagi Dinasti Abbasiyyah. Beliau menolak dan hanya singgah selama 4 tahun di Baghdad. Imam As-Syafie kemudian kembali ke Mesir dan memusatkan ajarannya di sana pula. Daud bin Ali pernah ditanya akan kelebihan Imam as-Syafie berbanding tokoh-tokoh lain pada ketika itu, maka beliau menjawab:

"As-Syafie mempunyai beberapa keutamaan, berkumpul padanya apa yang tidak terkumpul pada orang lain. Beliau seorang bangsawan, beliau mempunyai agama dan i'tiqad yang sebenar, seorang yang sangat murah hati, mengetahui hadits sahih dan hadits dhaif, nasikh, mansukh, menghafal al-Quran dan hadith, perjalanan hidup para Khulafa' ar-Rashidin dan amat pandai pula mengarang."

Saat-saat akhir

Dalam usahanya untuk cuba menutup jurang perbezaan antara ajaran Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah, Imam As-Syafie menghadapi banyak tentangan daripada para pengikut Mazhab Maliki yang amat taksub kepada guru mereka. Pada satu malam, dalam perjalanan balik ke rumah dari kuliah Maghribnya di Mesir, Imam As-Syafie telah diserang dan dipukul orang sehingga menyebabkan kematiannya. Pada ketika itu Imam As-Syafie juga sedang menghadapi penyakit buasir yang agak serius.

Imam As-Syafie meninggal dunia pada 29 Rejab tahun 204H/820M di Mesir ketika berumur 54 tahun (Hijriah), dan dikebumikan di Al-Qarafah selepas Asar. Beliau meninggalkan kepada dunia Islam sebuah kitab yang paling agung dalam bidang usul fiqh berjudul ar-Risalah. Kitab ini adalah yang terawal dalam menyatakan kaedah-kaedah mengeluarkan hukum daripada sesebuah nas al-Quran dan as-Sunnah. Selain itu Imam as-Syafie juga meninggalkan kitab fiqhnya yang termasyhur berjudul al-Umm. Ajaran Imam as-Syafie diteruskan oleh beberapa anak muridnya yang utama seperti Abu Yaaqub al-Buwayti (231H/846M), Rabi bin Sulaiman al-Marali (270H/884M) dan Abu Ibrahim bin Yahya al-Muzani(274H/888M).

Semoga Allah S.w.t merahmati Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'e dan berada di kalangan orang-orang soleh di sana, amin.

Sumbangan

1- Mengasaskan kaedah-kaedah tertentu dalam mensabitkan hukum seperti menggunakan hadits yang sahih untuk mengistinbatkan hukum tanpa melihat statusnya.

2- Tidak menerima kaedah istihsan.

3- Mempersempitkan penggunaan akal dalam mensabitkan sesuatu hukum.

4- Berijtihad mengikut tempat dan suasana.

5- Berhujah dengan golongan anti-hadits, disebut dalam kitab Ar-Risalah.

6- Sangat teliti dalam mengutarakan pandangan khususnya dalam masalah `ibadah.

7- Antara karangan beliau ialah Ar-Risalah, Al-Umm, Ikhtilaful-Hadis, Al-Musnad dan lain-lain.

8- Mazhabnya diikuti di Malaysia, Indonesia, Brunei dan Thailand.

Rujukan:

1 -Biografi Imam Mazhab Empat -Mohd `Adlan Bin Mohd Shariffuddin

2 - Ringkasan Riwayat Hidup 4 Imam

ifat peribadi Imam Syafie & Keilmuan beliauAssalamualaikum muslimin dan muslimat sekalian.Kali ini coretan saya adalah berkenaan sifat-sifat peribadi dan keilmuan Imam Syafie. Walaupun beliau mempunyai banyak kelebihan, namun tidak pernah sekali pon kelebihan itu dibanggakan. Malah, masih merendah diri kerana berasa dirinya begitu kerdil disisi Allah, tuhan sekalian alam. Wajarlah kita menjadikan beliau sebagai idola dan mencontohi sifat-sifat mahmudah beliau.

SIFAT PERIBADI Berpandangan jauh, berhati mulia dan bercita-cita tinggi Berusaha dengan gigih dalam menuntut ilmu pengetahuan Bijak berbicara Sangat menghormati dan memuliakan para gurunya Cinta pada ilmu pengetahuan Hartawan yang sangat pemurahKEILMUAN BELIAU ILMU AL QURAN DAN HADIS ILMU FEQAH ILMU BAHASA ILMU SASTERA NAHU BALAGHAH MENCIPTA SYAIR BERSAJAK ILMU NUJUM

Kegigihan Imam Syafi'i dalam Menuntut Ilmu

Asy-Syafii Rahimahullah berkata, Aku hafal Al-Quran ketika usiaku tujuh tahun, dan hafal Al-Muwaththa di usia sepuluh tahun. Ketika khatam Al-Quran aku masuk ke dalam masjid. Di situ aku duduk bersama para ulama, ikut menyimak perbincangan dan tanya-jawab sehingga aku menghafalnya. Ibuku tak punya uang untuk membeli kertas. Maka, jika menemukan tulang, kuambil dan aku pun menulis di situ. Setelah dipenuhi tulisan, kumasukkan ke dalam guci yang sudah lama kumiliki.Ia juga berkata, Aku tidak punya harta. Tetapi, aku sudah menuntut ilmu sejak masih beliausianya di bawah tiga belas tahun. Aku pergi ke kantor-kantor mencari kertas yang bisa ditulisi. Di situlah aku menuliskannya. (Uluw al-Himmah hal.147)

1.RIWAYAT :Muhammad Bin Idris Bin Al-Abbas Bin Uthman Bin Syafi' Bin As-SaibSalasilah keturunannya bertemu dengan salasilah Nabi Muhammad pada datuknya Abd. ManafLahir di Ghazah, Palastin pada 150HAyah dan ibunya berasal dari MekahWafat 204HPengasas mazhab as-Ayafie2.SIFAT PERIBADI :Seorang yang kuat ingatan, terang hati dan rajinMempunyai peribadi yang sangat muliaMinat mengarang syair dan sajak yang indah3.PENDIDIKAN :Mula belajar al-Quran ketika berusia 5 tahunHafaz al-Quran semasa 9 tahunHafaz al-MuattakBelajar-ilmu fikah-hadisMenjaga disiplin ilmu (malam dibahagikan 3)Menuntut ilmu di pelbagai tempat dengan mengembara ke negeri-negeri yang jauh dengan tujuan untuk mendalami ilmuMenguasai bidang-fikah-hadis & al-quran-bahasa & sasteraKerap mengambil alih tugas gurunya untuk mengajar jika gurunya ada urusan4.KEGIGIHAN AS-SYAFIE MENUNTUT ILMU :Sanggup mengutip kertas yang dibuang untuk mencatat ilmuBilik tidurnya sempit kerana penuh dengan catatanMenghafaz semua catatannyaSanggup mencari guru di merata tempatSentiasa berpegang pada kata-kata hikmah

5.AKHLAK AS-SYAFIE YANG PATUT DI CONTOHI :Hormat guru ( pernah digelar Tongkat Malik )Pemurah ( sedekahkan baki wang pemberian )Menjaga displin ilmuBerani menjaga kesucian agama ( tolak fahaman Syiah, Muktazilah, Khawarij, Zindik )6.UJIAN AS-SYAFIE :difitnah sebagai pemimpin gerakan Syiah7.PEMIKIRAN :berpandukan al-Quran & as-sunnahmelarang taklidmelarang bidahmengasaskan usul fikah8.SUMBANGAN :Mengasaskan kaedah-kaedah tertentu dalam mensabitkan hukum seperti menggunakan hadis yang sahih untuk mengistinbatkan hukum tanpa melihat statusnyaTidak menerima kaedah istihsanMempersempitkan penggunaan akal dalam mensabitkan sesuatu hukumBerijtihad mengikut tempat dan suasanaBerhujah dengan golongan anti hadisSangat teliti dalam mengutarakan pandangan khususnya dalam masalah ibadah