HANIF, Transportasi Ketek Sekoja

download HANIF, Transportasi Ketek Sekoja

of 22

  • date post

    26-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    23
  • download

    11

Embed Size (px)

description

Memapaparkan tentang Eksistensi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi. Fungsi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi. Persepsi Masyarakat tentang Eksistensi Transpsortasi Sungai Ketek di Kota Jambi.

Transcript of HANIF, Transportasi Ketek Sekoja

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK)

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK)SEBAGAI SARANA ALTERNATIF DI KOTA JAMBIM. A. Hanif

E-mail: hanif.man7@gmail.com

ABSTRAKArtikel ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan alat transportasi modern dan canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berupa pembangunan jembatan, dengan sendirinya akan mengancam keberadaan ketek sebagai transportasi sungai yang memiliki nilai dan muatan lokal. Hal ini dikhawatirkan akan mematikan jalur transportasi sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi. Tujuan artikel ini adalah mendeskripsikan eksistensi transportasi sungai ketek secara umum, fungsi transportasi sungai ketek dan persepsi masyarakat tentang eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di Kota Jambi. Artikel ini merupakan hasil penelitian budaya jenis etnografi ala James P. Spradley dengan pendekatan emik dan perspekstif kualitatif-fenomenologi. Data diperoleh dari hasil pengamatan berperanserta (observation participant) dan wawancara mendalam (indept interview) dengan batasan wilayah di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Hasilnya adalah eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi saat ini berada pada tingkat keprihatinan, terjadinya penurunan jumlah transportasi sungai ketek dan sistem pelaksanaan (penempatan parkir berlabuhnya ketek) yang tidak proporsional. Secara fungsi, ketek berfungsi sebagai sarana mata pencaharian hidup, sarana penyeberangan sungai Batang Hari dan sarana lomba serta rekreasi. Secara persepsi, ketek merupakan urat nadi masyarakat lokal, sebagai roda perekonomian dan sebuah tradisi yang sudah mendarah daging. Rekomendasi hasil penelitian, agar Pemerintah Kota dan Provinsi Jambi memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan transportasi sungai ketek kedepannya dengan menjadikan ketek sebagai icon Kota Jambi atau transportasi wisata di DAS Batang Hari. Kata Kunci: Transportasi sungai ketek, eksistensi, fungsi dan persepsiPENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beribu pulau sepanjang garis khatulistiwa yang menempati peringkat keempat dari 10 negara berpopulasi terbesar di dunia. Tanpa sarana transportasi yang memadai maka akan sulit untuk menghubungkan seluruh daerah di kepulauan ini. Transportasi merupakan salah satu sektor kegiatan yang sangat penting karena berkaitan dengan kebutuhan setiap orang. Kebutuhan ini misalnya kebutuhan untuk mencapai lokasi kerja, lokasi sekolah, mengunjungi tempat hiburan atau pelayanan, dan bahkan untuk bepergian ke luar kota. Transportasi tidak hanya mengangkut orang, tetapi juga untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.

Perkembangan transportasi memungkinkan berbagai kegiatan dapat diangkut melalui darat, udara ataupun laut dengan jenis angkut yang beragam. Namun yang perlu diingat, bahwa sebagai fasilitas pendukung kegiatan kehidupan, maka perkembangan transportasi harus diperhitungkan dengan tepat dan secermat mungkin agar dapat mendukung tujuan pembangunan secara umum dari satu dearah.

Transportasi sungai di Indonesia pada umumnya digunakan untuk melayani mobilitas barang dan penumpang, baik di sepanjang aliran sungai maupun penyeberangan sungai. Angkutan sungai sangat menonjol di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Di Kalimantan, angkutan sungai banyak digunakan untuk kebutuhan angkutan lokal dan perkotaan, terutama di wilayah yang belum tersedia prasarana transportasi jalan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Jambi adalah salah satu daerah yang memiliki sungai terpanjang di pulau Sumatera yaitu Sungai Batang Hari. Keberadaan Sungai Batang Hari di Provinsi Jambi memberikan ruang lingkup yang luas terhadap perkembangan transportasi sungai di Kota Jambi. Salah satu jenis transportasi sungai yang berkembang di Kota Jambi dan sesuai dengan adat serta tradisi daerahnya adalah transportasi sungai ketek. Saat ini, keberadaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi sedang mengalami diagresif sebagai akibat dari arus modernisasi yang berkepanjangan tanpa kendali. Hal ini dapat dilihat dari berbagai ancaman yang datang silih berganti terhadap perkembangan transportasi sungai ketek tersebut, diantaranya yaitu: Pertama, berdasarkan hasil survey awal peneliti dari informasi di lapangan setelah dibangunnya Jembatan Batang Hari I (Aurduri) oleh pemerintah Provinsi Jambi pada tahun 1986 bahwa pendapatan tukang ketek mengalami penurunan. Ini membuktikan bahwa jasa transportasi sungai mulai ditinggalkan. Dengan kata lain, terdapat penurunan dari jumlah penumpang ketek. Hal ini menggambarkan bahwa terjadi peralihan dalam menggunakan jenis transportasi di kalangan masyarakat, dimana yang mulanya menggunakan transportasi sungai beralih menggunakan transportasi darat. Kedua, setelah dibangunnya Jembatan Batang Hari II oleh Pemerintah pada tahun 2010 di ujung Timur Kota Jambi bahwa alih penggunaan transportasi sungai ke transportasi darat mengalami peningkatan hingga mencapai 30-50%. Pembangunan jembatan ini juga mengakibatkan berkurangnya jumlah ketek yang ada di Kelurahan Tanjung Johor, dari jumlah awal sebanyak 30 buah ketek hanya menyisakan 8 buah ketek dan tidak menyisakan satu pun ketek di Kelurahan Tahtul Yaman Seberang Kota Jambi. Ketiga, dengan semakin tingginya animo masyarakat seberang dewasa ini yang cenderung lebih tertarik menggunakan jenis transportasi darat yang lebih canggih dan modern daripada menggunakan jenis transportasi sungai yang masih tergolong tradisional. Hal ini membuat peran dan fungsi transportasi darat lebih banyak diminati oleh masyarakat Seberang Kota Jambi, sehingga transportasi sungai ketek mulai ditinggalkan dan berada pada level bawah.Hingga pada tahun 2013 lalu, Pemerintah Provinsi Jambi kembali berhasil membangun Jembatan yang ketiga, yaitu Jembatan Gantung (Gentala Arasy), yang dibangun khusus untuk para pejalan kaki sebagai peningkatan mutu pariwisata Provinsi Jambi. Bangunan jembatan ini dikhawatirkan akan memarginalkan tingkat penggunaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi karena letaknya yang tepat berada di tengah-tengah kawasan sungai penyeberangan ketek. Sementara itu, kehadiran transportasi sungai ketek di Kota Jambi sangat penting. Karena ketek merupakan satu-satunya transportasi penyeberangan sungai di DAS Batang Hari, yang hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat kota khususnya di Seberang Kota Jambi. Disamping memiliki nilai dan muatan lokal, perlu diketahui bahwa ketek juga merupakan sarana transportasi sungai utama pada masa lalu yang sudah ada sejak tahun 1970-an.

Dengan demikian, perkembangan alat transportasi yang modern dan canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berupa pembangunan jembatan, dengan sendirinya akan mengancam eksistensi transportasi sungai ketek. Bahkan, akan mematikan jalur transportasi sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi.Secara teoritis, konsep modernisasi pada umumnya membawa kepada perubahan sosial dan pembangunan yang berlangsung menuju ke arah kemajuan dan pembaruan yang bermakna dan bernilai positif. Namun dalam perakteknya, mengapa modernisasi di Kota Jambi sendiri memberikan dampak negatif bagi perkembangan transportasi sungai ketek di Kota Jambi? dan mengapa transportasi sungai ketek sebagai transportasi utama masa lalu justru tidak mengalami kemajuan di masa kini? Berangkat dari latar belakang tersebut, artikel ini akan memaparkan tentang bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi secara umumnya, fungsi transportasi sungai ketek dan persepsi masyarakat tentang eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi. Adapun manfaat dari hadirnya artikel ini diharapkan agar transportasi sungai ketek di Kota Jambi mendapatkan perhatian dan kebijakan dari pemerintah Kota Jambi maupun Provinsi Jambi terkait dengan kelangsungan masa depan ketek sebagai ikon transportasi sungai di DAS Batang Hari, sehingga kelangsungan transportasi sungai ketek lebih menjanjikan ke depannya. METODE PENELITIANArtikel ini adalah hasil dari penelitian budaya jenis etnografi ala James P. Spradley dengan pendekatan emik dan perspekstif kualitatif-fenomenologi. Data diperoleh dari hasil pengamatan berperanserta (observation participant) dan wawancara mendalam (indept interview) dengan batasan wilayah di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.Informan yang dijadikan sebagai sasaran dalam penelitian ini adalah tukang ketek dan penumpang ketek. Tukang ketek yang akan dijadikan sebagai informan adalah tukang ketek yang berpengalaman, yang sudah lama berkecimpung di dalam dunia ketek, karena dianggap memiliki pengetahuan yang banyak tentang perkembangan transportasi sungai ketek. Penumpang ketek yang akan dijadikan sebagai informan dalam penelitian ini terdiri dari para pedagang, pemuda/pemudi, tuo tengganai, anak-anak sekolahan yang mayoritas adalah masyarakat di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.Untuk mencapai tingkat kredibilatas yang absah, maka ada beberapa teknik yang digunakan dalam penelitian ini, baik secara analisis, maupun keabsahan data. Secara analisis, penelitian ini menggunakan teknik analisis: (a) Domain, (b)Taksonomi, (c) Komponen, dan (d) Tema. Sedangkan secara keabsahan, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dengan pemanfaatan penggunaan sumber.TRANSPORTASI DAN KEBUDAYAANC. Kluckhohn dalam karangannya berjudul Universal Categories Of Culture (1953) dengan mengambil intisari dari berbagai kerangka yang ada mengenai unsur-unsur kebudayaan universal. Unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia berjumlah tujuh buah, yang dapat disebut sebagai isi pokok dari setiap kebudayaan diantaranya yaitu: (a) Bahasa, (b) Sistem Pengetahuan, (c) Organisasi Sosial, (d) Sistem Mata Pencaharian Hidup, (e) Sistem Religi, dan (f) Kesenian. Berdasarkan pandangan ini, peneliti mengkategorikan transportasi sebagai salah satu bentuk unsur universal kebudayaan Sistem Mata Pencaharian Hidup.Secara fungsional, ketujuh unsur kebudayaan itu