KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN YANG …

of 145 /145
i KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN YANG MENGALAMI DEMAM THYPOID DENGAN MASALAH KEPERAWATAN KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR OLEH : HERLINA NIM:1408063 AKADEMI KEPERAWATAN MAPPAOUDAN MAKASSAR PROGRAM STUDI KEPERAWATAN MAKASSAR 2017 KARYA TULIS ILMIAH

Embed Size (px)

Transcript of KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN YANG …

THYPOID DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
SAKIT BHAYANGKARA
THYPOID DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
SAKIT BHAYANGKARA
Diajukan sebaga salah satu syarat mendapatkan gelar Ahli Madya Keperawatan
Pada Akademi Keperawatan MappaOudang Makassar
OLEH :
HERLINA
NIM:1408063
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan yang Maha Esa atas yang
telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya. Dengan penulis dapat
menyelesaikanKarya Tulis Ilmiah ini sebagai persyaratan dalam menempuh Ujian
Akhir program Diploma III Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar.
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dimaksudkan untuk menguraikan
secara singkat Asuhan Keperawatan Klien Yang Mengalami “Demam Thypoid”
Dengan Masalah Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari
Kebutuhan Tubuh di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Proses Penyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini merupakan suatu perjuangan
panjang bagi penulis. Selama proses penelitian berlangsung tidak sedikit kendala
yang ditemukan. Namun, berkat kesungguhan dan keseriusan pembimbing
mengarahan dan menbimbing penulis sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat
diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, patutlah kiranya penulis
menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya, kepada:
1. Kombes dr. Aris Budiyanto, Sp., THT, selaku Ketua Yayasan Utama
Bhayangkara Mappa Oudang sekaligus kepala rumah sakit bhyangkara
Makassar yang telah banyak memberi motivasi serta bantuan dan kesempatan
bagi penulis.
2. Dr.Hj. A. Nurhayati, DFM, M.kes selaku Direktur Akper Mappa Oudang
Makassar.
vii
3. Lala, S.Kep,Ns,M.Kes selaku pembimbing I sekaligus Ketua Program Studi
Akper Mappa Oudang Makassar.
4. Rezeki Nur, S.Kep,Ns,M.Kes selaku pembimbing II yang selalu memberikan
arahan dan pentunjuk untuk kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Fardi, S.Kep,M.Kep dan H. Hataul Madja, S.Kep,Ns,M.Kes selaku Penguji I
dan 2.
6. Teristimewa untuk Ayah dan Ibu penulis tercinta Simon dan Halija, Serta
Saudara penulis yang terkasih yang senantiasa memberikan doa restu dalam
setiap aktivitas serta memberikan dukungan, kasih sayang dan motivasi dalam
menyelesaikan dan meyusun Karya Tulis Ilmiah l ini.
7. Kepada para dosen dan seluruh staf Akper Mappa Oudang Makassar, yang
telah memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan kepada penulis yang dengan
penuh kesabaran, keikhlasan dan menyalurkan ilmu pengetahuan yang begitu
bermanfaat bagi mahasiswa-mahasiswi Akper Mappa Oudang Makassar
khususnya bagi penulis.
8. Terkhusus bagi para sahabat penulis tersayang yangs elalu memberi dukungan
dan motivasi untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini (Wahyuni Umar,
Rahma dan Sri Ayu, Amd.Keb). penulis hanya dapat menuliskan separuh dari
sahabat penulis karena Alhamdulillah penulis memiliki banyak sahabat yang
setia.
9. Teman-teman angkatan VIII Akper Mappa Oudang Makassar khususnya
tingkat III-B yang selama 3 tahun ini telah menjadi pembelajaran yang
menyenangkan maupun membosankan dalam ruang yang sama, yang
terkadang bertengkar namun kompak selalu.
viii
10. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikanKarya Tulis
Ilmiah ini, yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu.
Dengan dukungan dan doa yang telah kalian berikan kepada penulis,
akhirnyaKarya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan. Semoga jasa-jasa yang telah
mereka berikan semua mendapat pahala dari Tuhan.
Akhir kata penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua, khususnya kepada pembaca
Wassalamualaikum Wr, Wb.
Makassar, Maret 2017
I. EtikaPenelitian ................................................................................................42
x
a. Kesimpulan .............................................................................................71
b. Saran ........................................................................................................73
DAFTAR PUSTAKA
xii
Suku/ Bangsa : Makassar/ Indonesia
2. Pada Tahun 2008-20011 SMP Negeri 2 Parigi
3. Pada Tahun 20011-2014 SMK Yapip Sungguminasa
4. Pada Tahun 20014-2017 Akademi Keperawatan Mappaoudang Makassar
xiv
ABSTRAK
DENGAN MASALAH KEPERAWATAN KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI
KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH DIRUANG
PERAWATANKETILANG DI RS BHAYANGKARA MAKASSAR
Thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan
dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan
dan gangguan kesadaran.Menurut WHO tahun 2013 menyatakan bahwa penyakit
deman thypoid diderita oleh sekitar 17 juta orang di dunia. Di Sulawesi Selatan
prevelensi kejadian demam thypoid adalah 537.60 kasus. Di Rumah Sakit
Bhayangkara Makassar pada tahun 2016 didapatkan kasus hdemam thypoid
sebanyak 1040 orang. Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien yang
mengalami demam thypoid dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.Metode yang
digunakan yaitu observasi non partisipan, studi dokumentasi, dan wawancara
terstruktur dengan subjek penelitian diarahkan kepada masalah keperawatan
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada pasien demam
thypoid. Asuhan keperawatan pada An. S dengan demam thypoid di Ruang
Ketilang Rumah Sakit Bhayangkara Makassar selama 3 hari didapatkan masalah
utama yaitu ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan masalah
lain yaitu peningkatan suhu pada saat pagi dan malam hari dan malasnya makan
dan minum. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam didapatkan
hasil ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi
ditandai dengan asupan makanan terpenuhi.
Kata kunci : Demam Thypoid, Asuhan Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi
Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
xv
ABSTRACT
HERLINA. Nursing care on thypoid fever clients with nursing problem of
nutritional imbalance is less than body needs in the hospital parish care room
Bhayangkara Makassar
Thypoid is an acute infection that usually affects the gastrointestinal tract with
symptoms of fever that is more than a week, disorders of digestion and impaired
consciousness. According to the WHO in 2013 states that thypoid deman disease
suffered by about 17 million people in the world. In South Sulawesi the
prevalence of thypoid fever occurrence was 537.60 cases. At Bhayangkara
Hospital Makassar in 2016, there were 1040 cases of thypoid hdemam. Implement
nursing care on clients who have thypoid fever with nutritional imbalance less
than the needs of the body at Bhayangkara Hospital Makassar. The method used is
non participant observation, documentation studies, and structured interviews with
research subjects directed to the problem of nursing nutrition imbalance is less
than the needs of the body In patients with thypoid fever. Nursing care at An. S
with thypoid fever in the Space Resistance Hospital Bhayangkara Makassar for 3
days found the main problem is the imbalance of nutrition is less than the needs of
the body and other problems such as rising temperatures in the morning and
evening and lazy to eat and drink. After the action of nursing for 3x24 hours
obtained the results of nutritional imbalance is less than the needs of the body can
be resolved marked with food intake is met.
Keywords: Thypoid Fever, Nursing Care Nutrition Imbalance Less than Body
Needs
xvi
1
berkembang yang terutamaterletak di
buruksertastandar hygiene industry pengolahanmakanan yang
masihrendah.Dalammasyarakatpenyakitini di
typhoid paver.
masyarakat (endemik) Indonesia. Penderitajugaberagam, mulaidariusiabalita,
anak-anakdandewasa (M. Ardiansyah, 2012).
memperkirakanterapatsekitar 17 jutakasuskematiantiaptahun.Demam
diperkirakansekitar 150 kasus (jutapopulasi) 1 tahun di Amerika Latin 1.000
kasusperjutapopulasipertahundibeberapanegara Asia. Di Indonesia di
perkirakan antara 800-100.000 orang yang
terkenapenyakittifusataudemamtipoid sepanjang tahun. Demam
yang 2 tersebar di seluruhkabupatendenganprevalensi yang berbedabeda di
setiaptempat. Demamtyphoidmenurutkarakteristikrespon
paling rendahpadabayisebesar 0,8%.
2012 adalah 537.60 kasus.Berdasarkanlaporantahunanbidang P2PL.Padatahun
2012 penyakit typhoidtercatat 17.287 penderita, dengan 2
penderitameninggalkasustertinggiadalah Kota Makassar (2,379 kasus)
danterendah di KabupatenSelayar (25 kasus) insiden rate 2,08%.
Dalampenanggulangandemam typhoid, di
sampingpenyuluhankesehatandanvaksinasi, pencariankasus yang
diikutiolehpengobatan yang dinidana
praktisdantidakmahal.
Peranperawatterhadapmasalahiniadalahpemberiasuhankeperawatankepa
agar
pelayanankesehatanmudahdijangkaudanperawatdenganmudahdapatmenampun
4
Harapanpenulis, denganperawatdankolaborasimedis yang
n klien yang mengalami Demam Typhoid dengan masalah kekurangan volume
cairan di RumahSakitBhayangkara.
makadiperolehjumlahpenderitaDemam thypoidyaitu1046kasus
B. RumusanMasalah
kurang dari kebutuhan tubuh di RumahSakitBhayangkara?
5
Typhoid dengan masalah kekurangan volume cairan di
RumahSakitBhayangkara.
Typhoid dengan masalah kekurangan volume cairan di
RumahSakitBhayangkara.
Typhoid dengan masalah kekurangan volume cairan di
RumahSakitBhayangkara.
RumahSakitBhayangkara.
RumahSakitBhayangkara.
6
keperluan dan diharapkan memperkaya ilmu pengetahuan dibidang
kesehatan khususnya tentang demam thypoid.
2. Praktis
menyerap dan menerapkan ilmu yang telah diberikan khususnya dalam
melaksanakan proses keperawatan.
Typhoid bagi para tenaga kesehatan.
c. BagiPasien
program pengobatan dan mau melakukan perubahan pola hidup untuk
mencegah komplikasi dan berulangnya penyakit.
d. Perawat
serta melakukan pendokumentasian dan penyusunan karya tulis ilmiah.
8
9
1. Konsep Dasar Nutrisi
berhubungan dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan
proses dalam tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan-
bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan
tersebut untuk aktifitas penting dalam tubuh serta mengeluarkan
sisanya. Nutrisi juga dapat dikatakan sebagai ilmu tentang makanan,
zat-zat gizi dan zat-zat lain yang terkandung aksi, reaksi, dan
keseimbangan yang berhubungan dengan kesehatan dan
penyakit (Tarwoto dan Wartonah, 2006)
2. Definisi Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
Keadaan individu dimana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan metabolik (Aplikasi Nanda jilid 1, 2015)
3. Batasan Karakteristik
1) Kram abdomen
2) Nyeri abdomen
3) Menghindari makanan
4) Berat badan 20% atau lebih dibawah berat badan ideal
5) Kerapuhan kapiler
12) Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat
13) Kesalahan konsepsi
14) Kesalahan informasi
21) Sariawan rongga mulut
22) Kelemahan otot pengunyah
4. Faktor Yang Berhubungan
5) Ketidakmampuan untuk menelan makanan (Aplikasi Nanda jilid 1,
2015).
11
1. Anatomi Fisiologi
a. Oris (mulut)
bagian yaitu:
1) Bagian yang sempit atau vestibula ruang di antara gusi, gigi, bibir,
dan pipi.
sebelah belakang bersambung dengan faring.
Rongga mulut meliputi beberapa bagian antara lain:
1) Geligi
Fungsi geligi terdiri dari: gigi seri untuk memotong makanan, gigi
taring untuk merobek makanan yang keras, dan gigi geraham untuk
mengunyah makanan.
2) Lidah
alat pengecap, dan menelan, serta merasakan makanan.
3) Saliva
zat-zat makanan yang terlarut dalam air. Saliva ini terdiri dari
enzim Ptyalin (amylase), yang merubah karbohidrat menjadi
glukosa.
antara jalan nafas dan makanan.
13
1) Bagian Superior yang disebut nasofaring: bagian yang sama tinggi
dengan hidung. Pada nasofaring, bermuara tuba yang
menghubungkan tekak dengan ruang telinga tengah.
2) Bagian Media disebut orofaring, bagian sama tinggi dengan mulut,
bagian ini berbatasan ke depan sampai akhir lidah.
3) Bagian interior disebut laringofaring, yang menghubungkan
orofaring dengan laring.
c. Esofagus (kerongkongan)
Merupakan saluran yang terletak antara tekak dan lambung, panjang
kurang lebih 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk cardiac di
bawah lambung. Lapisan dinding dari dalam keluar : lapisan selaput
lendir (mukosa), sub mukosa dan lapisan otot melingkar, sirkuler dan
lapisan otot memanjang longitudinal. Fungsi esofagus yaitu: sebagai
penghubung tekak dengan lambung.
banyak terutama di daerah epigaster. Lambung terdiri dari bagian atas
fundus, uteri berhubungan dengan esofagus melalui ofifisium pilorik,
terletak di bawah diafragma di depan pankreas dan limpa, menempel di
sebelah kiri fundus uteri.
Bagian lambung terdiri dari:
Bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri osteum kardium
dan biasanya penuh berisi gas.
2) Korpus Ventrikel
kurvatura minor.
membentuk Spinter Pylorus.
4) Kurfatura Minor
sampai Pylorus.
mayor sampai limpah.
peristaltik lambung, dan getah lambung.
b) Sekresi yaitu : kelenjar dalam mukosa lambung menghasilkan
1500 – 3000 ml gastric juice (cairan lambung) perhari.
Komponen utamanya adalah mucus HCL (hidro clorida acid).
Pepsinogen dan air. Hormon gastrik disekresi lambung masuk
ke dalam aliran darah.
proton diubah menjadi polipeptida.
absorbsi alkohol glukosa dan beberapa obat.
e) Pencegahan yaitu banyak mikroorganisme dapat dihancurkan
dalam lambung oleh HCl.
lambung) ke dalam duodenum akan terjadi peristaltik yang
lambat yang berjalan dari fundus ke pilorik.
e. Intestinum Minor (Usus Halus)
Usus halus adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang
berpangkal pada pylorus dan berakhir pada sekum. Panjangnya ± 6 m
dan diameter 2,5 cm. Merupakan saluran paling panjang tempat proses
pencernaan, dan absorbsi hasil pencernaan.
Lapisan-lapisan usus halus terdiri dari :
1) Lapisan mukosa (sebelah dalam)
2) Lapisan otot melingkar (muskulus sirkuler)
3) Lapisan memanjang (muskulus longitudinal)
4) Lapisan serosa (sebelah luar)
Usus halus terdiri dari dalam 3 segmen yaitu:
1) Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, dimulai dari katub pilorik, lambung
dengan panjang 35 cm, sampai ke yeyenum. Empedu dibuat di hati
untuk dikeluarkan di duodenum melalui duktus koledoktis, yang
fungsinya, mengemulsi lemak, dengan bantuan lipase pankreas
juga menghasilkan amylase yang fungsinya mencerna hidrat arang
16
mukosa dari dinding duodenum.
sampai ke ileum.
bergabung dengan kolon pada katub ileusekal. Katub ini
mengontrol aliran ke kolom dan mencegah refleks ke usus halus,
gerakan yeyenum dan ileum meneakan gerakan peristaltic dan
sekmental ujung terminal ileum bermuara ke dalam seikun.
4) Mukosa usus halus
mikrovili memudahkan perencanaan dan absorbsi, lipatan ini
dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar
usus.
usus halus melalui dua saluran yaitu: pembuluh darah dan saluran
limfe, di sebelah dalam permukaan vili usus. Vili usus berisi
lacteal, pembuluh darah epithelium dan jaringan otot yang diikat
bersama jaringan limfoid. Vili keluar dari dinding usus maka
17
bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang diabsorbsi ke
dalam lacteal, melalui pembuluh limfe masuk ke dalam pembuluh
kapiler darah di vili dan oleh vena aorta dibawa ke hati untuk
mengalami beberapa perubahan.
melalui kapiler darah dan saluran limfe.
2) Mencerna protein dalam bentuk asam amino.
3) Menghasilkan getah usus, yaitu entero kenase, mengaktifkan
enzim proteolitik dan eripsin dan mennyempurkan percernaan
protein menjadi asam amino.
serangkaian gerakan peristaltik yang cepat setiap gerakan lamanya,
satu sekon antara dua gerakan ada istirahat beberapa sekon. Ada 2
jenis gerakan lain seperti gerakan sebagai berikut:
1) Gerakan segmental adalah gerakan konstruksi serabut sirkuler,
hal ini memungkinkan isi yang cair sementara bersentuhan
dengan dinding usus untuk disastive dan absorbsi. Kemungkinan
segmen yang berisi hilang untuk timbul lebih jauh lagi dalam
usus halus.
bercampur dua cairan pencerna masuk duodenum melalui
saluran-saluran mereka yaitu: empedu melalui hati dan salauran
pankreas dari pankreas.
f. Intestinum Mayor (usus besar)
Panjangnya ± 1,5 m, dan lebarnya 5 – 6 cm. Lapisan-lapisan usus besar
dari dalam keluar yaitu:
1) Sekum
hingga disebut umbai cacing, panjang 6 cm,
2) Kolon
Terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas
dan ileum ke bawah hati dengan panjang 13 cm. Di bawah hati
melengkung ke kiri, kemungkinan ini disebut fleksura hepatica
dilanjutkan sebagai kolon transversum yang fungsinya sebagai
pelindung imunulogis.
lienalis yang fungsinya sebagai penyerap kembali.
c) Kolon Desendens
membujur dari atas ke bawah dari fleksura lienalis sampai ke
depan ileum kiri bersambung dengan kolon sigmoid. Fungsinya
sebagai penyerapan kembali dan sebagai pembentukan tinja
(feces).
mayor dengan usus, terletak di rongga pelvisi di depan osteum
secrum dan osteum koksigis. Fungsi usus besar terdiri dari
menyerap air dari makanan, tempat tinggal dari bacteri coli, tempat
feces.
dunia luar. Terletak didalam pelvisi, dindingnya diperkuat 3 spinktor,
yaitu:
3) Spinkter ani eksternus bekerja menurut kehendak.
2. Konsep dasar Medis
biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang
lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan
kesadaran (Rekawati dkk, 2013).
bakteri ditandai dengan deman insidious yang berlangsung lama, sakit
kepala yang berat, badan lemah, anoreksia, bradikardi relative,
splenomegali, pada penderita kulit putih 25% di antaranya
menunjukkan adanya “rose spot” pada tubuhnya, baduk tidak
produktif pada awal penyakit (Masriadi, 2014).
Demam Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang
disebabkan oleh infeksi salmonella thypi. Organisme ini masuk melalui
makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses dan urine
dari orang yang terinfeksi kuman salmonella (Padila, 2013)
Demam Thyphoid adalah penyakit infeksi pada usus halus,
typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, thypus dan typhus
abdominalis (Soeparman, 1996).
Parathypoid A, B dan C (Arif Mansjoer,2003). Sedangkan menurut
rampengan (1999), penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman
Salmonella Typhosa/ Eberthella Typhosa yang merupakan kuman
negative, motif dan tidak menghasilkan spora. Kuman ini dapat hidup
baik skali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah
sedikit serta mati pada suhu 70 C maupun oleh antiseptic. Sampai saat
ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.
SalmonellaTyphosa mempunyai 3 macam anti gen yaitu:
a. Antigen O : Ohne Hauch = somatik antigen (tidak menyerap).
21
bersifat termolabic.
2013 )
cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari
tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feces.
Feces dan muntah pada penderita thypoid dapat menularkan
kuman Salmonella Thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat
ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap di
makanan yang akan dikonsumsi oleh orang-orang sehat. Apabila orang
tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci
tangan dan makan yang tercemar kuman Salmonella Thypi masuk ke
dalam tubuh melalui mulut. Kuman Salmonella masuk bersama
makanan dan minuman yang tercemar oleh bakteri soalmonella thypi ke
dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam
lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus halus bagian distal dan
mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman
berkembang biak, lalu masuk ke dalam aliran darah dan mencapai sel-
sel Retikuloendoteliat. Retikuloendoteliat sel-sel ini kemudian
melepaskan kuman kedalam sirkulasi darah dan menimbulkan
22
empedu.
Tetapi berdasarkan penelitian eksperiemental disimpulkan bahwa
endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid.
Endotoksemia nerperan pada patogenesiss typhoid, karena membantu
proses inflamasi local pada usus halus. Demam disebabkan karena
salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan
zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang (Padila, 2013).
d. Manifestasi Klinik
minggu, gejala timbul tiba- tiba atau berangsur-angsur. Penderita cepat
lelah, malaise, anoraksia, sakir kepala, rasa tidak enak di perut dan
nyeri seluruh badan. Demam umumnya berangsur- angsur naik selama
minggu pertama, demam terutama pada sore dan malam hari (bersifat
febris remitont). Pada minggu kedua dan ketiga demam terus menerus
tinggi (febris kontinuo), kemudian turun secara lisis, demam ini tidak
hilang dengan pemberian Antipiretik, tidak ada menggigil dan tidak
berkeringat kadang-kadang disertai epistaksi, gangguan
gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor, berselaput
putih dan pinggirannya hiperemesis, perut agak kembung dan mungkin
nyeri tekan, limpa membesar lunak dan nyeri pada peranakan ,pada
penularan penyakit umumnya terjadi diare, kemudian menjadi
23
umumnya apatis (seolah-olah berkabut, typhos=kabut).
Masa inkubasi/masa tunas 7-14 hari, selama masa inkubasi
mungkin ditemukan gejala prodroma berupa rasa tidak enak badan.
Pada kasus khas terdapat demam remiten pada minggu pertama, biasa
menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari.
Dalam minggu kedua, pasien terus berada dalam keadaan demam, yang
turun secara berangsur-angsur pada minggu ketiga (arif Mansjoer,
2003).
2013) adalah, yang terdiri dari :
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan Leukosit
Thypoid. Jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada
batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukositosis
walaupun tidak ada pemeriksaan komplikasi atau infeksi
sekunder, oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak
berguna untuk diagnosa demam typhoid.
2) Pemeriksaan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase)
dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transminase).
24
tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
3) Biakan darah
Bila biakan darah positif, bila antigen O yang bernilai 1/200
atau lebih dan antigen H bernilai 1/320, hal itu menandakan
Demam Thypoid, tetapi bila biakan darah negatif, tidak menutup
kemungkinan akan terjadi Demam Thypoid. Hal ini dikarena hasil
biakan darah tergantung dari beberapa faktor:
a) Teknik pemeriksaan laboratorium
laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan
tehknik dan media biakan yang digunakan, karena jumlah
kuman yang berada dalam darah hanya sedikit yaitu kurang
dari 10 kuman/ml darah. Maka untuk keperluan pembiakan
pasien dewasa di ambil 5 – 10 ml darah dan pada anak-anak 2-
5 ml darah, bila darah yang dibiakkan terlalu sedikit hasil
biakan bisa negatif terutama pada orang yang mendapatkan
perawatan spesisik, selain itu darah harus langsung ditanam
pada media biakan sewaktu berada di sisi pasien dan langsung
dikirim ke laboratorium. Waktu pengambilan darah yang lain
adalah pada saat demam tinggi yaitu pada bakteremia
berlangsung.
25
minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu
berikutnya dan pada waktu kambuh darah dapat positif
kembali.
Vaksinasi terhadap Demam Thypoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah pasien. Antibodi ini dapat
menekan bakteremia sehingga biakan darah dapat positif
kembali.
Bila pasien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat
anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan
terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
4) Uji Widal
Antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella
terdapat dalam serum pasien dengan Typhoid juga terdapat pada
orang yang pernah divaksinasikan. Antigen digunakan pada uji
Widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan, dan
diolah di laboratorium, tujuan dari uji Widal ini adalah untuk
menentukan adanya aglutinin dalam serum pasien yang disangka
menderita thypoid. Akibat infeksi oleh Salmonella Thypi, pasien
membuat antibodi atau aglutinin yaitu:
26
(berasal dari tubuh kuman).
(berasal dari flagella kuman).
(berasal dari simpai kuman).
yang ditentukan titernya, untuk didiagnosa, makin tinggi titernya
makin besar kemungkinan pasien menderita Demam Thypoid.
Pada infeksi yang aktif titer widal akan meningkat pada
pemeriksaan ulang yang dilakukan selang sedikit 5 hari.
b. Foto abdomen bila ada komplikasi.
f. Penatalaksanaan Medik /Pengobatan.
a. Perawatan
1) Pasien harus baring absolute sampai minimal 7 hari bebas
demam atau ± selama 14 hari, bertujuan untuk mencegah
terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.
2) Mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap sesuai dengan
pulihnya kekuatan pasien.
diubah-ubah pada waktu-waktu tertentu untuk menghindari
komplikasi pneumonia, hipostatik dan dekubitus.
27
obstipasi dan retensi urine.
kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkatan
kesembuhan pasien. Pemberian bubur saring tersebut dimaksudkan
untuk menghindari komplikasi pendarahan usus atau perforasi usus.
Karena ada pendapat bahwa usus perlu diistirahatkan. Banyak pasien
tidak menyukai bubur saring karena tidak sesuai dengan selera
mereka, karena mereka hanya makan sedikit, keadaan umum dan
gizi pasien semakin menurun dan masa penyembuhan menjadi lama.
Beberapa peneliti menunjukkan bahwa pemberian makanan
padat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang
sayuran dengan serat kasar), dapat diberikan dengan aman pada
pasien Demam Thypoid yang takut makan nasi/bentuk makanan
yang diinginkan, terserah pasien sendiri apakah makan bubur saring
atau bubur kasar atau nasi, dengan lauk pauk rendah selulosa.
c. Obat-obatan
1) Kloramefenikol
Dosis untuk orang dewasa 4 x 500 mg/ hari. Peroral atau
intravena sampai tujuh hari bebas demam. Pada Demam Thypoid
turun rata-rata setelah lima hari.
28
kloramefenikol. Pada demam thypoid turun setelah rata-rata
setelah 5 – 6 hari.
Efektifitas kotrimoksasol kurang lebih sama dengan
kloramfenikol dosis untuk dewasa 2 x 2 tablet/hari digerakkan
sampai 7 hari bebas demam (1 tablet) mengandung 80 mg
trimosopnm dan 400 mg sumber metakzoroi). Dengan
Kotrimoksasol demam, pada demam thypoid turun rata-rata
setelah 5 – 6 hari.
Indikasi penggunaanya adalah pasien demam thypoid dengan
leucopenia dosis yang dianjurkan berkisar antara 75 – 150 mg/
kg/ BB sehari. Digunakan sampai 7 hari bebas demam dengan
ampisilin dan amoksilin pada demam thypoid. Turun rata-rata 7 –
9 hari
5) Fivorokonium
(Soegeng Soegijanto,2002)
a. Komplikasi intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perforasi usus
3) Illeus paralitik
masuk ke pembeluh darah akan menyebar/ bermitsfaseke semua
organ, seperti jantung yang dapat terjadi perubahan miokardium,
kegagalan sirkulasi.
menyebabkan kondisi dalam darah dapat menurun, trombosit
menurun yang menyebabkan pembekuan darah yang tidak
sempurna.
suplai darah dan jantung yang sudah terkontaminasi oleh
Salmonella Thypi,
mengkapsulkan dari kandung empedu/ hepar akan berkembang
biak saat sistem umum menurun.
5) Komplikasi ginjal, Glomerulonefritis, Pielonefritis dan
Perinefritis
30
Arthritis
Polyneuritis Perifer, Sindrom Gullain Barre, Psikosis, dan
Sindrom Katatonia (Ns. Yessie dkk,2003).
3. Konsep Dasar Keperawatan
1) Data Biografi: nama,alamat, umur, status perkawinan, tanggal
MRS, diagnose medis, catatan kedatangan, keluarga yang dapat
dihubungi.
Mengapa pasien masuk rumah sakit dan apa keluhan utama pasien,
sehingga dapat ditegakkan prioitas masalah kesehatan yang dapat
muncul.
sama.
pasien.
31
Interpersonal: Hubungan dengan orang lain.
6) Pola Fungsi kesehatan
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan
pada usus halus.
Selama sakit pasien merasa tidak dapat istrahat karena pasien
merasakan sakit pada perutnya, mual, muntah, kadang diare.
7) Pemeiksaan Fisik
Kesadaan pasien perlu dikaji dari sadar-tidak sadar
(composmentis – coma) untuk mengetahui berat ringannya
prognosis penyakit pasien.
TTD, nadi, respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur
dari keadaan umum pasien/kondisi pasien dan termasuk
pemeriksaan dari kepala sampa kaki dengan menggunakan
prinsip inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi, disamping itu juga
penimbangan BB untuk mengetahui adanya penurunan BB
karena peningkatan gangguan nutrisi yang terjadi, sehingga
dapat dihitung kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan (Wijaya dkk,
2013).
32
1) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan
dengan asupan nutrisi tidak mencukupi
2) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
3) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
c. Perencanaan Keperawatan
terdiri dari
Tabel 2.1
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Masalah Keperawatan Tujuan dan Kriteria
Hasil
Intervensi
lebih dibawah berat
Tabel 2.2
berhubungan dengan proses penyakit.
Hasil
Intervensi
Tabel 2.3
berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Masalah Keperawatan Tujuan dan Kriteria
Hasil
Intervensi
implementasi mencakup empat aspek yaitu observasi, tindakan mandiri,
health education (HE), dan kolaborasi. Implementasi yang dilaksanakan
sesuai dengan intervensi yang telah ditetapkan dan disesuaikan dengan
situasi dan kondisi klien.
kebutuhan tubuh dengan kriteria :
2) BB ideal sesuai dengan tinggi badan
3) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutisi
4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
5) Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
6) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
37
jaringan yang meradang
Kurang pengetahuan
Stimulasi terhadap
B. SubyekPenelitian
Kriteriainklusi:
Kriteriaeksklusi:
E. InstrumenPenelitian
Pengumpulan data
dilakukansecaralangsungdengancaramelakukanpengamatan di
lokasipenelitiandenganmenggunakanlembarobservasilangsungyang diambildari
metode:
Mengadakan tanya jawab langsung dengan , keluarga, perawat, dan pihak lain
yang dapat memberikan data dan informasi yang akurat.
2. Observasi
Asuhan Keperawatan.
auskultasi.
Informasi atau data melalui dokumen-dokumen atau catatan yang ada kaitannya
dengan kasus tersebut, misalnya status pasien dan catatan lain di Ruang Medical
Record.
41
Analisa data dilakukandengancaramengemukakanfakta,
I. EtikaPenelitian
Makassar yang berada di Jalan Andi Letjen Mappaoudang makassar. Rumah
Sakit Bhayangkkara Makassaradalah rumah sakit swasta kelas B. Rumah sakit
ini mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis
terbatas. Rumah sakit ini juga termasuk besar karena tersedia 270 tempat tidur
rawat inap. Dari 270 tempat tidur rawat inap rumah sakit ini, 124 termasuk
kamar kelas II. Jumlah dokter yang tersedia yaitu 79 dokter, 41 adalah dokter
spesialis dan tersedia perawat pelaksana berjumlah sekitar 328 orang.
Lokasi studi kasus dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar
di perawatan parkit yang terdiri 9 kamar, 2 VIP, 3 kamar kelas 3, kelas 2 itu
terdiri dari 3 kamar. kondisi kamar ini juga bersih dan terawat sehingga pasien
nyaman dan dapat beristirahat dengan tenang.
45
Jenis kelmain : Perempuan
Diagnosa Medik : Demam Thypoid
b. Identitas Orang Tua
1) Keluhan utama : Demam
2) Riwayat keluhan utama : Ibu klien mengatakan anak demam 4 hari yang
selalu, demam timbul pada saat menangis dan pada saat diberi obat
penurun panas. Keluhan yang menyertai malas bangun
a) Faktor pencetus : Meningkat suhu pada pagi dan makan malam hari
b) Timbulnya keluhan : Pada saat klien habis mandi sore.
c) Lamanya : Mulai dirasakan 4 hari sebelum masuk rumah sakit
sampai saat pengkajian
e) Keluhan yang menyertai : tidak ada
b. Riwayat kesehatan sekarang
Disaat dikaji klien tampak menagis, klien tampak lemas, demam selam 4
hari dan malas makan/minum
c. Riwayat Kesehatan Lalu
1) Kondisi bayi : BB lahir 3350 gram, TB 49 cm
47
3) Penyakit yang tidak pernah dialami : Demam
4) Keracunan : Tidak ada
d. Riwayat kesehatan keluarga (Genogram dan keterangan tiga generasi)
Penyakit anggota keluarga : Tidak ada
Genogram
GI
G I : kakek dan nenek klien masih hidup
G II : Ayah klien anak kelima dari lima bersaudara dan Ibu klien anak
kedua dari 3 bersaudara
e. Riwayat imunisasi
Tabel 4.1 Imunisasi
1 BCG 2 Bulan Tidak
2 DPT 2, 4, 6 Bulan Demam
3 POLIO I,II,III Saat lahir dan 2 tahun Tidak
4 Campak 9 bulan Demam
5 Hepatitis 2 Bulan Tidak
f. Riwayat tumbuh kembang
c) Waktu Tumbuh gigi : 10 Bulan
2) Perkembangan Tiap tahap
a) Berguling : 4 Bulan
b) Duduk : 5 Bulan
c) Merangkak : 4 Bulan
d) Berdiri : 9 Bulan
e) Berjalan : 12 Bulan
g) Senyum pertama kali : 5 Bulan
h) Berpakaian tanpa bantuan : Dibantu
g. Riwayat Nutrisi
1) Pemberian ASI
c) Lama pemberian tahun : 1 Tahun 6 Bulan
2) Pemberian Susu Formula
a) Alasan pemberian : Pembantu ASI
b) Jumlah Pemberian : 200 cc
c) Cara pemberian : Dengan Dot
3) Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrsis saat ini
Tabel 4.2
4-12 Bulan ASI + bubur Sampai sekarang
Saat ini - -
Klien tinggal di rumah sendiri bersama orang tuanya, lingkungan
tempat tinggal di daerah kota, hubungan klien dengan orang tuanya sangat
dekat.
2) Kegiatan keagamaan : Mengaji
3. Frekuensi makanan 3x sehari 1x tidak dihabiskan
4. Makanan pantangan - -
7. Ritual saat makan Tidak ada -
2) Cairan
Tabel 4.4
2. Frekuensi makanan 3x sehari 2x sehari
3. Kebutuhan cairan 750 -
3) Eliminasi
Tabel 4.5
BAK
2. Frekuensi 3x sehari 1x sehari
3. Kesulitan Tidak Tidak ada
4. Warna Kuning Kuning
2. Warna Kuning Kuning
5. Kesulitan BAB Tidak -
1. Jam tidur 13.00-14.30 13.40 - 16.45
2. Siang 22.00-06.00 13.30 - 14.45
3. Malam - 23.00 - 05.00
6. Kebiasaan tidur - -
1. Program olahraga - -
1. Mandi -
2. Cuci rambut
Cara Dibantu Dibantu
3. Gunting Kuku
Cara Dibantu Dibantu
tidur
3. Penggunaan alat bantu
53
3) Sistem percernaan
b) Abdomen
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada epigastrium.
Auskultasi : Tidak teraba adanya pembesaran hepar, peristaltik
usus 10 kali per menit.
Perkusi : Tidak kembung
m. Tes Diagnostik
Rujukan
Keterangan
2 27-03-2017 Ara Thypi A0 1/90 - Non reaktif
3 27-03-2017 Ara Thypi B0 Non reaktif - Non reaktif
4 28-03-2017 Ara Thypi C0 Non reaktif - Non reaktif
5 28-03-2017 Ara Thypi AH Non reaktif - Non reaktif
6 29-03-2017 Ara Thypi BH 1/80 - Non reaktif
7 29-03-2017 Ara Thypi CH Non rekatif - Non reaktif
54
2) Ibu klien mengatakan hanya dapat menghabiskan ¼ porsi makanan
3) Ibu klien mengatakan anaknya lemas
4) Ibu klien mengatakan anaknya demam
5) Ibu klien mengatakan anaknya lemas
6) Ibu klien mengatakan anaknya malas minum
7) Ibu klien mengatakan suhu anaknya meningkat pada saat sore atau
malam hari hari
11) Klien tampak lemas
13) TTV
55
menghabiskan ¼ porsi makanan
minum
meningkat pada saat sore atau malam hari
hari
3. Klien tampak lemas
makanannya ¼ porsi makanan
8. Bibir tampak kering
menghabiskan ¼ porsi makan makanan
3. Ibu klien mengatakan anaknya lemas
DO :
3. Klien tampak lemas
makanannya ¼ porsi makanan
minum
hari hari
2. Bibir tampak kering
1 Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhanberhubungan dengan asupan
nutrisi tidak mencukupi
2 Hipertermi berhubungan dengan proses
penyakit.
3 Ansietas berhubungan dengan
59
Hasil
Intervensi
makan
dapat menghabiskan ¼ porsi
3. Klien tampak lemas
4. Klien tampak tidak
anaknya meningkat pada
hari
NOC
Hipertermi
NIC
melakukan kompres air
2. Bibir tampak kering
B. Pembahasan
6. Pengkajian
Ada kasus klien An S dengan demam thypoid di dapatkan data demam
selam 3 hari, demam timbul pada saat menangis, dan peningkatan suhu tubuh
pada pagi dan malam hari
Sedangkan menurut teori, pada pengkajian klien dengan demam thypoid
didapatkan datamalas makan, peningkatan suhu tubuh pada pagi dan malam
hari, cemas dan intoleransi aktivitas.
Berdasarkan pengkajian diatas ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus yaitu data intoleransi aktivitas tidak ditemukan dalam kasus. Hal
61
penyuluhan mengenai perawatan dan pencegahan demam thypoid.
7. Diagnosis
klien dengan demam thypoid meliputi
a) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan dengan
asupan nutrisi tidak mencukupi
c) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Sedangkan dalam kasus klien An S di temukan beberapa diagnosa
keperawatan yaitu :
asupan nutrisi tidak mencukupi
c) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
8. Perencanaan
dengan asupan nutrisi tidak mencukupi
a. tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi
kebutuhan gizi
d. instruksikan pasien mengenal kebutuhan nutrisi
e. bantu pasien dalam menentukan pedoman atau piramida makanan
yang paling cocok
f. tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan gizi
yang lebih sehat
protein, menyarankan menggunakan bumbu dan rempa-rempa)
i. ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan
j. lakukan atau bantu pasien yang terkait dengan perawatan mulut
sebelum makan
k. pastikan pasien menggunakan gigi palsu yang pas, dengan cara
yang tepat
m. anjurkan pasien agar duduk dalam posisi tegak dikursi jika
memungkinkan
o. anjurkan keluarga untuk membawa makanan favorite
63
jika diperlukan
berdasarkan perkembangan atau usia
t. pastikan diet mencakup makanan tinggi kandungan serat untuk
mencegah konstipasi
v. monitor kecenderungan terjadi penurunan dan kenaikan berat
badan
x. dorong untuk melakukan bagian cara menyiapkan makanan
y. bantu pasien untuk mengakses program gizi komunitas
z. berikan arahan bila diperlukan
2) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
a) Monitor TTV
d) Atur sirkulasi udara
64
3) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
a) Gunakan pendekatan yang menenangkan
b) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
ketakutan.
d) Dengarkan dengan penuh perhatian.
e) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
ketakutan.
g. Sedangkan intervensi yang diberikan pada kasus yaitu :
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan
dengan penurunan intake makanan.
memenuhi kebutuhan gizi
d) instruksikan pasien mengenal kebutuhan nutrisi
e) bantu pasien dalam menentukan pedoman atau piramida makanan
yang paling cocok
f) tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan gizi
yang lebih sehat
protein, menyarankan menggunakan bumbu dan rempa-rempa)
i) ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan
j) lakukan atau bantu pasien yang terkait dengan perawatan mulut
sebelum makan
k) pastikan pasien menggunakan gigi palsu yang pas, dengan cara
yang tepat
m) anjurkan pasien agar duduk dalam posisi tegak dikursi jika
memungkinkan
o) anjurkan keluarga untuk membawa makanan favorite
p) bantu pasien membuka kemasan makanan, memotong, dan makan
jika diperlukan
berdasarkan perkembangan atau usia
66
mencegah konstipasi
v) monitor kecenderungan terjadi penurunan dan kenaikan berat
badan
x) dorong untuk melakukan bagian cara menyiapkan makanan
y) bantu pasien untuk mengakses program gizi komunitas
z) berikan arahan bila diperlukan
2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
a) Monitor TTV
d) Atur sirkulasi udara
3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan
67
ketakutan.
4) Dengarkan dengan penuh perhatian.
5) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
ketakutan.
1) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan
dengan penurunan intake makanan.
a) tentukan apa yang menjadi prefelensi makanan bagi pasien, karena
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
yang paling cocok, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
c) berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap
yang lebih sehat, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
d) atur diet yang diperlukan (yaitu menyediakan makanan tinggi
protein, menyarankan menggunakan bumbu dan rempa-rempa), ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
e) ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan, ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
68
f) lakukan atau bantu pasien yang terkait dengan perawatan mulut
sebelum makan, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
g) pastikan pasien menggunakan gigi palsu yang pas, dengan cara
yang tepat, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
h) berikan obat-obatan sebelum makan, , karena disesuaikan dengan
kebutuhan pasien
i) anjurkan pasien agar duduk dalam posisi tegak dikursi jika
memungkinkan, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
j) pastikan makanan disajikan dengan menarik, , karena disesuaikan
dengan kebutuhan pasien
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
jika diperlukan, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
m) anjurkan pasien mengenai modifikasi diet yang diperlukan, , karena
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
berdasarkan perkembangan atau usia, , karena disesuaikan dengan
kebutuhan pasien
dengan kebutuhan pasien
mencegah konstipasi, , karena disesuaikan dengan kebutuhan
pasien
kebutuhan pasien
badan, karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
s) anjurkan pasien untuk memantau kalori dan intake makanan, ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
t) dorong untuk melakukan bagian cara menyiapkan makanan, ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
u) bantu pasien untuk mengakses program gizi komunitas, , karena
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
kebutuhan pasien
3) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
70
ketakutan.
4) Pelaksanaan
Dari ketiga diagnosa yang ada, semua intervensi yang terdapat pada
kasus telah dilaksanakan dan rencana pelaksanaan yang dibuat dapat
diaplikasikan. Dalam tahap pelaksanaan tindakan keperawatan yang di berikan
kepada klien merupakan rangkaian dari seluruh tindakan yang di buat
sebelumnya. Dalam melaksanakan tindakan tersebut meliputi tindakan mandiri,
pendidikan keperawatan dan kolaborasi sehingga tidak adanya hambatan yang
dirasakan, walupun kelengkapan alat terbatas yang tersedia di rumah sakit atau
diruangan perawatan tetap melaksanakan prinsip tehnik antiseptic yang baik
dan benar.
5) Evaluasi
evaluasi. Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan yang mana
meliputi pencapaian tujuan keperawatan.
asupan nutrisi tidak mencukupi, sudah teratasi dimana ditemukan data
sebagai berikut : ibu klien mengatakan anaknya sudah bisa menghabiskan
makanannya.
71
ditemukan data sebagai berikut : ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak
demam (suhu normal).
dimana ditemukan data sebagai berikut : keluarga klien tidak cemas lagi
terhadap penyakit anaknya..
Makassar yang berada di Jalan Andi Letjen Mappaoudang makassar. Rumah
Sakit Bhayangkkara Makassaradalah rumah sakit swasta kelas B. Rumah sakit
ini mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis
terbatas. Rumah sakit ini juga termasuk besar karena tersedia 270 tempat tidur
rawat inap. Dari 270 tempat tidur rawat inap rumah sakit ini, 124 termasuk
kamar kelas II. Jumlah dokter yang tersedia yaitu 79 dokter, 41 adalah dokter
spesialis dan tersedia perawat pelaksana berjumlah sekitar 328 orang.
Lokasi studi kasus dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar
di perawatan parkit yang terdiri 9 kamar, 2 VIP, 3 kamar kelas 3, kelas 2 itu
terdiri dari 3 kamar. kondisi kamar ini juga bersih dan terawat sehingga pasien
nyaman dan dapat beristirahat dengan tenang.
74
Jenis kelmain : Perempuan
Diagnosa Medik : Demam Thypoid
b. Identitas Orang Tua
1) Keluhan utama : Demam
2) Riwayat keluhan utama : Ibu klien mengatakan anak demam 4 hari yang
selalu, demam timbul pada saat menangis dan pada saat diberi obat
penurun panas. Keluhan yang menyertai malas bangun
a) Faktor pencetus : Meningkat suhu pada pagi dan makan malam hari
b) Timbulnya keluhan : Pada saat klien habis mandi sore.
c) Lamanya : Mulai dirasakan 4 hari sebelum masuk rumah sakit
sampai saat pengkajian
e) Keluhan yang menyertai : tidak ada
b. Riwayat kesehatan sekarang
Disaat dikaji klien tampak menagis, klien tampak lemas, demam selam 4
hari dan malas makan/minum
c. Riwayat Kesehatan Lalu
1) Kondisi bayi : BB lahir 3350 gram, TB 49 cm
76
3) Penyakit yang tidak pernah dialami : Demam
4) Keracunan : Tidak ada
d. Riwayat kesehatan keluarga (Genogram dan keterangan tiga generasi)
Penyakit anggota keluarga : Tidak ada
Genogram
GI
G I : kakek dan nenek klien masih hidup
G II : Ayah klien anak kelima dari lima bersaudara dan Ibu klien anak
kedua dari 3 bersaudara
e. Riwayat imunisasi
Tabel 4.1 Imunisasi
1 BCG 2 Bulan Tidak
2 DPT 2, 4, 6 Bulan Demam
3 POLIO I,II,III Saat lahir dan 2 tahun Tidak
4 Campak 9 bulan Demam
5 Hepatitis 2 Bulan Tidak
f. Riwayat tumbuh kembang
c) Waktu Tumbuh gigi : 10 Bulan
2) Perkembangan Tiap tahap
a) Berguling : 4 Bulan
b) Duduk : 5 Bulan
c) Merangkak : 4 Bulan
d) Berdiri : 9 Bulan
e) Berjalan : 12 Bulan
g) Senyum pertama kali : 5 Bulan
h) Berpakaian tanpa bantuan : Dibantu
g. Riwayat Nutrisi
1) Pemberian ASI
c) Lama pemberian tahun : 1 Tahun 6 Bulan
2) Pemberian Susu Formula
a) Alasan pemberian : Pembantu ASI
b) Jumlah Pemberian : 200 cc
c) Cara pemberian : Dengan Dot
3) Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrsis saat ini
Tabel 4.2
4-12 Bulan ASI + bubur Sampai sekarang
Saat ini - -
Klien tinggal di rumah sendiri bersama orang tuanya, lingkungan
tempat tinggal di daerah kota, hubungan klien dengan orang tuanya sangat
dekat.
2) Kegiatan keagamaan : Mengaji
3. Frekuensi makanan 3x sehari 1x tidak dihabiskan
4. Makanan pantangan - -
7. Ritual saat makan Tidak ada -
2) Cairan
Tabel 4.4
2. Frekuensi makanan 3x sehari 2x sehari
3. Kebutuhan cairan 750 -
3) Eliminasi
Tabel 4.5
BAK
2. Frekuensi 3x sehari 1x sehari
3. Kesulitan Tidak Tidak ada
4. Warna Kuning Kuning
2. Warna Kuning Kuning
5. Kesulitan BAB Tidak -
1. Jam tidur 13.00-14.30 13.40 - 16.45
2. Siang 22.00-06.00 13.30 - 14.45
3. Malam - 23.00 - 05.00
6. Kebiasaan tidur - -
1. Program olahraga - -
1. Mandi -
2. Cuci rambut
Cara Dibantu Dibantu
3. Gunting Kuku
Cara Dibantu Dibantu
tidur
3. Penggunaan alat bantu
82
3) Sistem percernaan
b) Abdomen
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada epigastrium.
Auskultasi : Tidak teraba adanya pembesaran hepar, peristaltik
usus 10 kali per menit.
Perkusi : Tidak kembung
m. Tes Diagnostik
Rujukan
Keterangan
2 27-03-2017 Ara Thypi A0 1/90 - Non reaktif
3 27-03-2017 Ara Thypi B0 Non reaktif - Non reaktif
4 28-03-2017 Ara Thypi C0 Non reaktif - Non reaktif
5 28-03-2017 Ara Thypi AH Non reaktif - Non reaktif
6 29-03-2017 Ara Thypi BH 1/80 - Non reaktif
7 29-03-2017 Ara Thypi CH Non rekatif - Non reaktif
83
2) Ibu klien mengatakan hanya dapat menghabiskan ¼ porsi makanan
3) Ibu klien mengatakan anaknya lemas
4) Ibu klien mengatakan anaknya demam
5) Ibu klien mengatakan anaknya lemas
6) Ibu klien mengatakan anaknya malas minum
7) Ibu klien mengatakan suhu anaknya meningkat pada saat sore atau
malam hari hari
11) Klien tampak lemas
13) TTV
84
menghabiskan ¼ porsi makanan
minum
meningkat pada saat sore atau malam hari
hari
3. Klien tampak lemas
makanannya ¼ porsi makanan
8. Bibir tampak kering
menghabiskan ¼ porsi makan makanan
3. Ibu klien mengatakan anaknya lemas
DO :
3. Klien tampak lemas
makanannya ¼ porsi makanan
minum
hari hari
2. Bibir tampak kering
1 Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhanberhubungan dengan asupan
nutrisi tidak mencukupi
2 Hipertermi berhubungan dengan proses
penyakit.
3 Ansietas berhubungan dengan
c. Rencana Keperawatan
Hasil
Intervensi
makan
dapat menghabiskan ¼ porsi
3. Klien tampak lemas
4. Klien tampak tidak
anaknya meningkat pada
hari
DO :
2. Bibir tampak kering
melakukan kompres air
B. Pembahasan
1. Pengkajian
Ada kasus klien An S dengan demam thypoid di dapatkan data demam
selam 3 hari, demam timbul pada saat menangis, dan peningkatan suhu tubuh
pada pagi dan malam hari
Sedangkan menurut teori, pada pengkajian klien dengan demam thypoid
didapatkan datamalas makan, peningkatan suhu tubuh pada pagi dan malam
hari, cemas dan intoleransi aktivitas.
Berdasarkan pengkajian diatas ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus yaitu data intoleransi aktivitas tidak ditemukan dalam kasus. Hal
disebabkan, Ibu klien memahami penyakitnya karena telah dilakukan
penyuluhan mengenai perawatan dan pencegahan demam thypoid.
2. Diagnosis
klien dengan demam thypoid meliputi
a) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan dengan
asupan nutrisi tidak mencukupi
c) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Sedangkan dalam kasus klien An S di temukan beberapa diagnosa
keperawatan yaitu :
asupan nutrisi tidak mencukupi
c) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
3. Perencanaan
dengan asupan nutrisi tidak mencukupi
a. tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi
kebutuhan gizi
d. instruksikan pasien mengenal kebutuhan nutrisi
91
yang paling cocok
f. tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan gizi
yang lebih sehat
protein, menyarankan menggunakan bumbu dan rempa-rempa)
i. ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan
j. lakukan atau bantu pasien yang terkait dengan perawatan mulut
sebelum makan
k. pastikan pasien menggunakan gigi palsu yang pas, dengan cara
yang tepat
m. anjurkan pasien agar duduk dalam posisi tegak dikursi jika
memungkinkan
o. anjurkan keluarga untuk membawa makanan favorite
p. bantu pasien membuka kemasan makanan, memotong, dan makan
jika diperlukan
92
berdasarkan perkembangan atau usia
t. pastikan diet mencakup makanan tinggi kandungan serat untuk
mencegah konstipasi
v. monitor kecenderungan terjadi penurunan dan kenaikan berat
badan
x. dorong untuk melakukan bagian cara menyiapkan makanan
y. bantu pasien untuk mengakses program gizi komunitas
z. berikan arahan bila diperlukan
2) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
a) Monitor TTV
d) Atur sirkulasi udara
3) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
93
b) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
ketakutan.
d) Dengarkan dengan penuh perhatian.
e) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
ketakutan.
b. Sedangkan intervensi yang diberikan pada kasus yaitu :
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan
dengan penurunan intake makanan.
memenuhi kebutuhan gizi
d) instruksikan pasien mengenal kebutuhan nutrisi
e) bantu pasien dalam menentukan pedoman atau piramida makanan
yang paling cocok
f) tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan gizi
yang lebih sehat
protein, menyarankan menggunakan bumbu dan rempa-rempa)
i) ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan
j) lakukan atau bantu pasien yang terkait dengan perawatan mulut
sebelum makan
k) pastikan pasien menggunakan gigi palsu yang pas, dengan cara
yang tepat
m) anjurkan pasien agar duduk dalam posisi tegak dikursi jika
memungkinkan
o) anjurkan keluarga untuk membawa makanan favorite
p) bantu pasien membuka kemasan makanan, memotong, dan makan
jika diperlukan
berdasarkan perkembangan atau usia
t) pastikan diet mencakup makanan tinggi kandungan serat untuk
mencegah konstipasi
95
badan
x) dorong untuk melakukan bagian cara menyiapkan makanan
y) bantu pasien untuk mengakses program gizi komunitas
z) berikan arahan bila diperlukan
2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
a) Monitor TTV
d) Atur sirkulasi udara
3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan
2) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
ketakutan.
4) Dengarkan dengan penuh perhatian.
96
ketakutan.
1) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan
dengan penurunan intake makanan.
a) tentukan apa yang menjadi prefelensi makanan bagi pasien, karena
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
yang paling cocok, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
c) berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap
yang lebih sehat, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
d) atur diet yang diperlukan (yaitu menyediakan makanan tinggi
protein, menyarankan menggunakan bumbu dan rempa-rempa), ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
e) ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan, ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
f) lakukan atau bantu pasien yang terkait dengan perawatan mulut
sebelum makan, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
g) pastikan pasien menggunakan gigi palsu yang pas, dengan cara
yang tepat, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
97
kebutuhan pasien
i) anjurkan pasien agar duduk dalam posisi tegak dikursi jika
memungkinkan, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
j) pastikan makanan disajikan dengan menarik, , karena disesuaikan
dengan kebutuhan pasien
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
jika diperlukan, , karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
m) anjurkan pasien mengenai modifikasi diet yang diperlukan, , karena
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
berdasarkan perkembangan atau usia, , karena disesuaikan dengan
kebutuhan pasien
dengan kebutuhan pasien
mencegah konstipasi, , karena disesuaikan dengan kebutuhan
pasien
kebutuhan pasien
badan, karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
s) anjurkan pasien untuk memantau kalori dan intake makanan, ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
t) dorong untuk melakukan bagian cara menyiapkan makanan, ,
karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien
u) bantu pasien untuk mengakses program gizi komunitas, , karena
disesuaikan dengan kebutuhan pasien
kebutuhan pasien
7) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
a) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
ketakutan.
8) Pelaksanaan
Dari ketiga diagnosa yang ada, semua intervensi yang terdapat pada
kasus telah dilaksanakan dan rencana pelaksanaan yang dibuat dapat
99
kepada klien merupakan rangkaian dari seluruh tindakan yang di buat
sebelumnya. Dalam melaksanakan tindakan tersebut meliputi tindakan mandiri,
pendidikan keperawatan dan kolaborasi sehingga tidak adanya hambatan yang
dirasakan, walupun kelengkapan alat terbatas yang tersedia di rumah sakit atau
diruangan perawatan tetap melaksanakan prinsip tehnik antiseptic yang baik
dan benar.
9) Evaluasi
evaluasi. Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan yang mana
meliputi pencapaian tujuan keperawatan.
asupan nutrisi tidak mencukupi, sudah teratasi dimana ditemukan data
sebagai berikut : ibu klien mengatakan anaknya sudah bisa menghabiskan
makanannya.
ditemukan data sebagai berikut : ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak
demam (suhu normal).
dimana ditemukan data sebagai berikut : keluarga klien tidak cemas lagi
terhadap penyakit anaknya..
makapenulisdapatmenyimpulkandanmenyarankanbeberapahalyaitusebagaiberikut:
biasanyamengenaisaluranpencernaandengangejalademam yang
lebihdarisatuminggu, gangguanpadapencernaandangangguankesadaran
data yang paling menonjolditemukanadalah anak demam selam 3 hari,
menyertai malas makan dan minum dan peningkatan suhu tubuh pada pagi
dan malam sore
3. Diagnosa yang
Kurang dari Kebutuhanberhubungandenganasupannutrisitidakmencukupi,
Kebutuhantubuh di RuangPerawatanKetilang di Rumah SakitBhayangkara
Makassar Tanggal27 s/d 28Maret 2017makapenulismengajukanbeberapa saran
yang kiranyadapatditerimaatau paling
dalamrangkameningkatkanmutupelayanankeperawatandansebagaipengama
tanlangsungdalamhalpenerapanasuhankeperawatanpadaklien,
tidakterjadikekakuanpadaototataupunsendi,
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Hidayat AA. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi 1. Jakarta:
Salemba Medika.
Dari Tubuh Pada An.S Dengan Febris Thypoid Rumah Sakit Panti
Waluyo Surakarta. KTI. Stikes Kusuma Husada Surakarta
Gloria M. Bulechek dkk. 2017. Nursing Interventions Classification (NIC).
Yogjakarta. Moco media.
Muscari, Mary E. 2005. Keperawatan Pediatrik Edisi 3.Alih bahasa Alfrina.
Jakarta : EGC
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Nugraha, Dwi Sabta Widya. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Tn. R Dengan
Gangguan Sistem Pencernaan: Typhus Abdominalis Di Ruang
Bougenville RSUD Pandanarang Boyolali. Diss. Universitas
Muhammadiyah Surakrta
& NANDA (NIC-NOC). Jogjakarta: Mediaction
Nursalam dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba
Medika.
Saputri AL. 2014. Kajian Asuhan Keperawatan Anak Gangguan Nutrisi Pada
An. R Usia 11 Tahun Dengan Demam Thypoid RSUI YKSSI
Gemolong. KTI. STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta
Sue Moorhead dkk. 2017. Nursing Outcomes Classification (NOC). Yogjakarta.
Moco media
Salemba Medika
T. Heather Herdman & Shigemi Kamitsuri. 2017. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Definisi & Klasifikasi. Jakarta. EGC
Zulkoni A. 2011. Parasitologi. Yogyakarta: Nuha Medika
106
107
Topik : Demam Thypoid
Waktu : Pukul 10.00-selesai
Demam Thypoid diharapkan pasien dan keluarga memahamiu tentang
Ketidakseimbangan Nutrisi Demam Thypoid
1. Pembukaan
diberikan
Demam Thypoid
Memperhatikan dan
menjawab pertanyaan
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di ruang
c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
sebelumnya
b. tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
c. peserta mengajulan pertanyaan menjawab pertanyaan secara
benar
110
Thypoid
Doenges M.E (1989) Nursing Care Plan, Guildlines for Planning Patient
Care (2 nd ed ). Philladelpia, F.A. Davis Company.
Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A
Nursing Proces Approach St. Lois Cv. Mosby Company
112
113
A. DEFINISI
Demam Thypoid (enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang
biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu
minggu, gamgguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Rekawati dkk,
2013)
Demam Thypoid adalah penyakit sistematk yang diberikan oleh bakteri
ditandai dengan demam insidious yang berlangsung lama, sakutb kepala yang berat,
badan lemah, anoreksi, bradikardi relative, splenomegali, pada penderita kulit putih
5% diantaranya menunjkkan adanya rose spot pada tubuhnya baduk tidak
produktif pada awal penyakit (Masriadi, 2014)
Demam Thypoid adalah penyakit infeksi sistematik akut yang disebabkan
oleh infeksi salmonella thypi. Organism ini masuk melalui makanan dan minimum
yang sudah terkontaminasi oleh feses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman
salmonella ( padila, 2013)
B, C m( Arif Mansjoer, 2003). Sedangkan menurut rampengan ( 1999 )
penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella Thyphosa/
Eberthella.
114
Thyphosa yang merupakan kuman negative E, motif dan tidak
menghasilkan spora. Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu manusia
maupuan suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 70 maupun
oleh antiseptic. Salmonella Thyphosa mempunyai 3 macam anti gen yaitu :
a. Antigen O : Ohne Hauch = somatic antigen (tidak menyerap )
b. Antigen H : Hauch ( menyebar ), terdapat pada flagella yang
bersifat termolabic.
fagositosi. ( Andra, 2013)
Penularan Salmonella Thyphi dapat ditularkan melalui berbagai
cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food( makanan), fingers ( jari tangan
/ kuku), fomitus ( muntah ), Fly (lalat), dan melalui faces
Feces dan muntah pada penderita thypoid dapat menularkan
kuman salmonellab thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat di
tularkan melalui perantara lalat, diamna lalat akan hinggap dimakanan
yang akan dikomsusi oleh orang –orang sehat. Apabila orang tersebut
kurang memperhatikan kebersihan drinya seperti mencuci tangan dan
makan yang tercemar kuman Salmonella Thyphi masuk kedalam tubuh
melalui mulut. Kuman Salmonella Thyphi masuk bersama makanan dan
minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella Thyphi kedalam
115
lambung, sebagiannkuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan
sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan
limpoid. Didalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu
masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloenditeliat.
Retikuloenditeliat sel-sel ini kemudian melepaskan kuman kedalam
sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk
limfa, usus halus dan kantong empedu.
Semula disangka demam dan gejala teksomia pada endoteksomia.
Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa
endoteksomia bukan merupakan penyebab utama demam pada thypoid.
Endoteksomia berperan pada fatogenesis thypoid, karena
membatu proses imflamasi local pad usus halus. Demam disebabkan
karena Salmonella Thyphi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan
pelepasan zat pirogen. Oleh leokosit pada jarinbgan yang meradang (
Padila, 2013)
Menurut Arif Mash Joer , (2013), masa inkubasi rata-rata 2 minggu
gejala tibul tiba—tiba atau berangsur-angsur. Malaise, anaroksia, sakit
kepala, rasa tidak enak diperut dan nyeri seluruh badan. Demam umunya
berangsur-angsur naik selama minggu pertama, demam terutama pada
sore dan malam hari ( bersifat febrisrimitont). Pada minggu ke 2 dan ke 3
116
turun secara lisis, demam ini tidak hilang dengan pemberian antiiretik,
tidak ada menggigil dan tidak berkeringat kadang-kadang disertai
epikstaksi, gangguan gastroinstektinal, bibir kering dan pecah-pecah,
lidah kotor, berselaput putihn dan pinggirannya hiperemesis, perut agak
kembung dan mungkin nyerih tekanan, limfa mebesar lunak dan nyeri
pada peranakan, pada penularan penyakit umumnya terjadi diare,
kemudian menjadi obstipasi.
berat,numumnya apatis ( seolah olah berkabut, Thyphos = kabut)
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan loboratorium
F. KOMPLIKASI
1. Perawatan
a) Pasien harus baring absolute sampai minimal 7 hari bebas
demam selama 14 hari, bertujuan untuk mencegah
terjadinya komplikasi pendarahan usus atau perforai usus.
b) Mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap sesuai dengan
pulihnya kekuatan pasien,
diubah-ubah poada waktu-waktu tertentu untuk menghindari
komplikasi pneumonia, hipostatik dan dekubitus.
d) BAB dan BAK perlun diperhatikan, karena kadang-kadang
terjadi obstipasi dan retensi urine.
2. Diet
bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai tinghkatan kesembuhan pasien.
pemberian bubur saring sering tersebut di maksudkan untuk menghindari
komploikasi pendarahan usus perlu diidtirahatkan. Banyak pasien tidak
menyukai bubur saring karena tidak sesuai dengan selera mereka, karena
mereka hanya makan sedikit, keadaaan umum dana gizi pasien semakin
mernurun dan masa penyembuhan menjadi lama.
Bebarapa peneliti menunjukkan bahwa pemberian makanan
pasdat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa ( pantang
sayuran dengan serat kassar ) dapat diberikan dengan amam pada pasien
118
diinginkan , terserah pasien sendiri apakah makan bubur sar4ingf atau
bubur kasar atau nasi, dengan lauk pauk. Rendah selulosa
3. Obat-obatan
a. kloramefenikol
Dosis untuk orang dewasa 4 x 500 mg/ hari. Peroral atau intravena
sampai tujuh hari bebas demam. Pada demam thypoid turun rata-rata
setelah lima hari
Pada demem thypoid turun setelah rata-rata setelah 5 – 6 hari.
c. kontrimoksasol ( kombinasi trimetro phine dan kontrimoksasol)
efektivitas kotrimoksasol kurang lebih sama dengan kloramefeniukol.
Dosis untuk dewasa 2x2 tablet / hati digerakkan sampai 7 hari bebas
deman (satu tablet ) mengandung 80mg trimosopon dan 400mg sumber
metazoroi,).dengan kontrimaksasol demam, pada demam thypoid tururn
rata-rata 5 samapai 6 hari.
d. Ampisilin dan amoksilin ( 3 + 0,5 mg / hari)
Indikasi penggunaany adalah pasien demam thypoid dengan leucopenia
dosis yang dianjurkan nerkisar antara 75-150 mg/ kg/BB sehari. Di
gunakan sampai 7 hari bebas demam dengan ampisilin dan amoksilin
pada demam thyipoid. Turun rata-rata 7-9 hari
119
pemberian yang optimal belum di ketahui dengan pasti.
F .setrakson 2 x 1 hari selama 3-5 hari
Dalam keadaan toksin dapat di berikan kortikostevina dosis
tinggi.(soegeng soegijanto, 2002 )
2. Bagaimana riwayat keluahan utama klien
C. Riwayat kesehatan
2) Bagaimana riwayat kesehatan klien yang lalu?
3) Apakah ada riwayat kesehatan keluarga yang pernah menderita penyakit yang
sama?
122
E. Riwayat Nutrisi
F. Riwayat Psikosossial
G. Riwayat Spritual
H. Reaksi Hospitalisasi
1. Bagaimana pemahaman keluarga dank lien tentang sakit dan nutrisinya ?
123
5. Bagaimana pola personal Hygine klien ?
6. Bagaimana pola mobilisasi klien ?
7. Bagaimana pola rekreasi klien ?
124
2. Antropometri
F. Tes diagnostic
125
126
127
128
129