Karya Tulis Ilmiah Ismael, Amd. Kep

of 58/58
KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KARAKTERISTIK PERAWAT TERHADAP PENATALAKSANAAN KLIEN PRILAKU BUNUH DIRI DI RSJ.Prof. Dr. HB. SA’ANIN PADANG TAHUN 2009 Diajukan Untuk Memenuhi salah satu Dalam menyelesaikan Pendidikan Diploma DIII Keperawatan Stikes Perintis Bukittinggi OLEH : ISMAEL 2061480 1
  • date post

    13-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    3.492
  • download

    0

Embed Size (px)

description

KTI

Transcript of Karya Tulis Ilmiah Ismael, Amd. Kep

KARYA TULIS ILMIAHHUBUNGAN KARAKTERISTIK PERAWAT TERHADAP PENATALAKSANAAN KLIEN PRILAKU BUNUH DIRI DI RSJ.Prof. Dr. HB. SAANIN PADANG TAHUN 2009Diajukan Untuk Memenuhi salah satu Dalam menyelesaikan Pendidikan Diploma DIII Keperawatan Stikes Perintis Bukittinggi

OLEH :

ISMAEL2061480

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN STIKES PERINTIS BUKITTINGGI

1

TAHUN 2009BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar belakang Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan prilaku yang

mengkontribusi fungsi integrasi( stuard and sundeen, 1998). Pasien atau klien dapat berupaya individu, keluarga kelompok organisasi atau komonitas. Salah satu masalah yang dihadapi klien dalam keperawatan adalah prilaku bunuh diri, dan bentuk penyelesaian dari masalah prilaku bunuh diri adalah memberikan penatalaksanaan yang sesuai dengan kebutuhan klien Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakiri kehiduapan. Di amerika serikat dilaporkan 25.000 tindakan bunuh diri setiap tahun dan merupakan penyebat kematian yang kesebelas . Rasio kejadian bunuh diri antara pria dan wanita adalah tiga berbanding satu ( Keliat budi Ana 1994 ) Sedangkan Indonesia lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu resiko untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif,

penyalahguaan zat, dan skizofrenia ( Stuard and Sundent, 1998 )

2

Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena klien berada dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping yang Maladaptif. Selain itu bunuh diri merupakan tindakan integritas merusak diri atau mengakiri kehidupan. Situasi gawat pada bunuh diri adalah saat ide bunuh diri timbul secara berulang tanpa rencana yang spesifik untuk bunuh diri. Dan ciri-ciri klien bunuh diri adalah pasien pernah mencoba bunuh diri, keinginan bunuh diri dinyatakan keterangan-keteragan, klien cemas, klien baru mengalami kehilangan. Oleh karena itu, perawat harus memerlukan ciri karakteristis yang baik dan bagus dalam penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri. Karena Sebagai mana diketahui karakteristik adalah salah satu aspek kepribadian yang menggambarkan suatu susunan batin manusia yang nampak pada kelakuan dan perbuatan ( Purwato heri, 2000 ) Untuk itu upaya yang dilakukan oleh pemberi pelayanan kesehatan adalah perawat harus ditingkatkan sumber daya

manusianya. Dengan melakukakan-melakukan penataran serta meningkatkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi agar sesuai dengan tangung jawab dan wewenang serta etika profesional yang sesui dengan perkembangan zaman yang selalu menuntut

pelayanan kesehatan yang prima dalam mewujutkan hal tersebut diperlukan teknik, sikap dalam penatalaksaan terhadap klien dengan prilaku bunuh diri.

3

Dari pengamatan saat dinas di RSJ HB sa`anin Padang, Pada khususnya perawat yang dinas dibagian rawat inap cenderung hanya memantau pasien sekilas saja, tanpa memperhatikan pasien semaksimal mungkin, seperti tidak mengidentifikasi benda-benda asing yang dapat membahayakan pasien contoh nya sepray, tempat tidur yang dapat dimanfaatkan untuk objek bunuh diri, begitu juga halnya kepada keluarga pasien, perawat jarang sekali menjelaskan kepada keluarga tentang pentingnya penatalaksanaan atau pengobatan yang diberikan kepada klien sehubungan dengan pencegahan bunuh diri. Sedangkan klien yang berprilaku bunuh diri ada peneliti temui, tetapi sebagian rumah sakit tidak mencatat angka klien yang berprilaku bunuh diri . peneliti juga melihat buku laporan diruangan-diruangan yang ada di RS Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang, tetapi peneli tidak menemui angka klien yang berprilaku bunuh diri di rumah sakit. peneliti hanya ingin menemukan apakah ada hubungan karakteristik terhadap penatalaksaan klien dengan prilaku tsb. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa dalam membantu proses kesembuhan klien atau mencegah terjadinya resiko prilaku bunuh diri diperlukan sekali penatalaksanaan yang tepat dari dari perawat. Mengingat sangat pentingnya peran parawat terhadap

penatalaksaaan klien dengan prilaku bunuh diri, maka penulis

4

tertarik menggali bagaimana hubungan karakteristik perawat dalam penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri. 1.2 Rumusan masalah

Dalam melakukan penelitian ini, penulis ingin melihat apakah ada hubangan karakteristik perawat terhadap penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri di RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang Tahun 2009 1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan umum Untuk mengetahui apakah ada hubungan karakteristik

perawat meliputi tingkat pendidikan, usia dan lama kerja terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri di Ruang rawat anap RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang Tahun 2009 1.3.2 Tujuan Khusus 1.3.2.1 Mengedentifikasi karakteristik parawat meliputi usia,

tingkat pendidikan dan lama kerja Perawat di Ruang rawat anap RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang Tahun 2009 1.3.2.2 Mengidentifikasi hubungan tingkat usia pearawat

terhadap penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri di Ruang rawat anap RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang Tahun 2009. 1.3.2.3 Mengidentifikasi hubungan tingkat pendidikan perawat terhadap penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri di

5

Ruang rawat anap RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang Tahun 2009 1.3.2.4 Mengidentifikasi hubungan lama kerja perawat terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri di Ruang rawat anap RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang Tahun 2009. 1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Bagi peneliti Menambah wawasan dan pengetahuan tentang peranan karakerisik perawat terhadap penatalaksanaaan klien dengan prilaku bunuh diri. 1.4.2 Bagi institusi Pendidikan Sebagai bahan dan ajuan dalam mengembangkan ilmu

pengetauan bagi peserta didik khususnya pada pendidikan DIII keperawatan dan juga sebagai bahan penelitian

selanjutnya. 1.4.3 Bagi lahan Sebagai mengenai masukan bagi RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin perawat Padang terhadap

hubungan

karakreristik

penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri.

6

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN2.1.Tinjauan teoritis 2.1.1 Pengertian karakteristik Karakteristik adalah kemampuan untuk memadukan nalainilai yang menjadi filosopi atau pandangan dunia yang utuh, memperhatikan konsisten komitmen yang teguh itu dan responden yang

terhadap

nilai-nilai

dengan

mengenerasikan Notoatmodjo,

pengalaman tertentu 2003 : 207 )

menjadi satu sistem nilai (

Karakteristik adalah merupakan salah satu aspek kepribadian yang menggambarkan suatu susunan batin manusia yang nampak pada kelakuan dan perbuatan ( Purwato Heri 2000 ) Manusia diciptakan dengan unik, berbeda satu sama lain dan tidak satupun yang memiliki ciri-ciri persis sama meskpun mereka persis kembar idetik. Oleh karena itu individu pasti memiliki karakter yang berbeda dengan individu yang lainnya. Perbedaan individu ini dinamakan kodrat manusia yang bersifat alami. 2.1.2 Perawat

7

Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan dalam bidang keperawatan dan memberikan wewenang untuk melaksanakan pelayanan atau asuhan asuhan keperawatan di ruang rawat ( Dep Kes 1999 ) 2.1.3 Faktor yang mempengaruhi karakteristik perawat 2.1.3.1. Umur Umur berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan atau maturitas parawat. Kedewasaan adalah tingkat kemampuan teknis dalam melakukan tugas maupun kedewasaan psikologis, semakin bertambah kedewasaan lanjut usia seseorang demikian semakin juga meningkat pula akan

seseorang

psikologisnya

menunjukan kematangan jiwa. Meningkatnya kebijaksaan dan umur seseorang, akan meningkat pula

kemampuan

seseorang

dalam

mengambil

keputusan berfikir rasional. Kinerja akan meningkat dan kepuasan kerja tercapai.

Karayawan yang masih muda tuntutan kepuasan kerja dapat tercipta karena adanya persepsi yang positif terhadap suatu berkaitan dengan pekerjaannya( Hasibun 2009 ) Selanjutnya bertolak belakang dengan pendapat Brow dalam amerika serikat ad ( 2000 ) mengatakan bahwa usia 25 hingga 30 tahun dan antar 45 hingga 54 sering timbul ketidak puasan dalam bekerja . 2.1.3.2 Tingkat Pendidikan yang

8

Menurut siagian merupakan

( 2000 ) Mengatakan bahwa pendidikan

yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan

kualitas kepribadian seseorang dimana semakin tinggi pendidikan semakin besar keinginan untuk memanfaatkan pengetahuan dan kerampilan. Pendapat Gipson ( 2000 ) mengatakan bah pendidikan yang tinggi pada umumnya menyebabkan seseorang lebih mampu dan bersedia posisi dan bertanggung jawab. Selain itu Marquis ( 2000 ) mengatakan bahwa untuk mengembangkan antara lain program sertifikasi dan pendidikan

keperawatan berlanjut. Latar belakang pendidikan mempengaruhi kinerja. 2.1.3.3 Lama kerja. Siagian ( 2000 ) menyimpulkan bahwa makin lama kinerja kerja seseorang maka akan semakin terampil dan pengalaman menghadapi masalah dalam pekerjaannya. Lama kerja seseorang perawat pada instalasi yaitu dari mulai perawat resmi sebagai karyawan rumah sakit tersebut. Gipson ( 1996 ) mengatakan lama kerja dapat mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerja. Maryoto ( 1990 ) berpendapat apabila seseorang bekerja belum cukup lama sedikit banyaknya akan mengakibatkan halhal yang kurang baik antara lain belum menghawati pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Masa kerja seseorang yang terlalu

9

lama dalam suatu organisasi juga merupakan gejala yang tidak sehat. Akibat yang mingkin timbul antara lain adalah rasa bosan karena pekerjaan sama dalam waktu yang lama, sifat pasif dan mundurnya motifasi dan inisitif dalam bekerja serta mempengaruhi kreatifitas seseorang karena tidak ada tantangan yang berarti. Kepuasan kerja relatif tinggi pada waktu permulaan bekerja menurun secara berangsur-angsur selama 5-6 tahun dan

selanjutnya kepusan meningkat mencapai puncak setelah 20 tahun. 2.1.3. 4.Lingkungan Faktor lingkungan juga memegang peranan penting dalam kepuasan kerja antara lain. a. Penghargaan terhahdap usaha yang telah dilaksanakan b. Pengetahuan tentang kegiatan dan tindakan c. Rasa percaya diri. d. Kesempatan dan dukungan yang terdukung e. Keamanan pekerjaan f. Adil dan konsisten terhadap keputusan dalam melaksanakan tindakan g. Kondisi kerja yang kundusif ( Nursalam 2002 ) 2.1.4.Bunuh diri Bunuh diri merupakan kematian yang di perbuat oleh sangaja pelaku sendiri secara sengaja ( Harold Kaplan, 1998, jiwa darurat )

10

Pikiran bunuh diri dan usaha percobaan bunuh diri merupakan kasus yang sering menampilkan diri di IGD, tema umum yang menyebabkan bunuh diri termasuk kasus yang membuat penderita yang amat sangat dan rasa putus asa dan tak berdaya, konflik

antara hidup dan stres yang tak tertahankan, penyempitan dari jalan keluar yang dilihat pasien serta serta keinginan untuk melarikan diri dari hal itu. Pikiran bunuh diri terjadi pada seseorang yang rentan dalam reaksi terhadap beraneka stres pada tiap umur dan terus merupakan gagasan untuk jangka waktu lama tanpa suatu usaha percoban bunuh diri. 2.1.5.1 Faktor-faktor resiko bunuh diri Faktor resiko bunuh diri dibagi 3 2.1.5.1.1Faktor resiko populasi a. Pria b. Usia lanjut / usia lebih tua c. Individu yang mengisolasi d. Kulit putih e. Indian amerika 2.1.5.1..2. Faktor resiko individual a. Rasa putus asa ( terutama pada pasien yang depresi mayor ) keridak berdayaan, kesepian, letih, nyeri psikologis yang dirasakan tidak tertanggungkan b. Gangguan psikiatrik

11

c. Gangguan mood mayor ( baik primer atau pun sekunder, 50 % dari seluruh kasus bunuh diri ) khususnya dengan tanda tanda negatif atau proses pikir menyempit , 15% masa hidup beresiko bunuh diri d. Alkohollisme ( angka bunuh diri sebesar 50 kali dibanding normal 25% dari seluruh kasus bunuh diri ), sebagian besar pasien kronis, sebagian besar pria, sering setelah hubungan pribadi dengan orang lain 13 9 % resiko masa hidup, lebih tinggi lagi, apabila terdapat depresi dan dukungan sosial yang kurang ( umum dialami oleh banyak pasien ).

Kecanduan obat obatan ( 10 % mati karena bunuh diri ) e. Skizofrenia, khususnya ketika mengalami kesepian, depresi, skizofrenia kronis, atau diseratai waham kejar atau dengan halusinasi perintah yang merusak diri sendiri 10 % atau lebih resiko untuk hidup. f. Lain-lain : Psikosis akibat kondisi organik : gangguan

kepribadian lambang, anti sosial ) gangguan panik dengan komorboditas depresi 2.1.5.1.3. Faktor resiko lain a. Masa liburan, musim semi, masa perayaan perayaan b. Pengukuran biokimia yangmemunkinkan potensi bunuh diri penurunan cairan serebro spinal 5 H/AA ( 5

Hydroxyindolecetic ) 2.1.5.2. Tiga kategori prilaku bunuh diri

12

2.1.5.2. 1. Ancamam bunuhdiri Peringatan verbal atau non verbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang tersebut mungkin menunjukkan secara verbal bahwa ia tidak ada

akan berada disekitar kita lebih lama lagi atau mungkn juga mengkomunikasikan secara nonverbal melalui pemberian hadiah, merevisi wasiat dan sebagainya, pesanpesan ini harus dipertimbangkan dalam kontek peristiwa kehidupan terakhir ancaman menunjukan ambivaensi seseorang

tentang kematian, kurang respon positif dapat ditafsirkan sebagai dukungan untuk untuk melakukan tindakan bunuh diri.

2.1.5.2. 2. Upaya bunuh diri. Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan individu yang dapat mengarahkan kepada kematian apabila tidak dicegah. 2.1.5.2. 3. Bunuh diri Mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan

yang tidak benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui cepat pada waktunya ( stuart and Sundeen, 1998 )

13

2.1.5.3.

Ciri-ciri pasien yang berpotensi bunuh diri

Seperti dari percobaan bunuh diri tidak dapat diantisipasi, sekalipun dengan kemajuan pengetahuan saat ini predikasi yang akurat masih sulit diperoleh, kemungkinan bunuh diri dapat terjadi apabila. 2.1.5.3.1. Pasien pernah mencoba bunuh diri terlihat diruangan gawat darurat, sebagainya. 2.1.5.3.2. Keinginan bunuh diri dinyatakan terang-terangan bangsal, perawatan dan

maupun tidak,atau berupa ancaman kamu tidak akan saya ganggu lebih lama lagi ( Sering dikatakan kepada keluarga ) 2.1.5.3.3. Secara objektif terlihat adanya mood yang depresi atau cemas 2.1.5.3.4. Baru mengalami kehilangan yang bermakna ( misalnya pasangan pekerjaan, haraga diri ) 2.1.5.3.5. Perubahan prilaku yang tidak terduga, menyampaikan pesan-pesan, pembicaraan serius dan mendalam dengan kerabat miliknya. 2.1.5.3.6. Perubahan sikap yang mendadak, tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri. ( David A. Tomb, 2004 ) 2.1.6. Penatalaksaan pada klien prilaku bunuh diri , membagi-bagikan harta/barang barang

14

2.1.6.1. Kembangkan ikatan terapeutik dengan pasien. Lakuakn dengan penuh perhatian dan rasa penerimaan. Usahakan mengerti alasan pasien ingin mati. Biarkan pasien

mengekpresikan kemarahannya, pikiran-pikiran yang tidak dapat diterima Perasaan ditolak dan keputus asaan. Pasienpasien seperti ini sering merasa tidak dimengerti dan terperangkap dan tetapi tidak mampu meminta pertolongan . kurangi nyeri psikologis sedapat mungkin. 2.1.6.2. Pasien sering bingung dan memiliki fokus pikir yang sempit, hadapkan dengan hal-hal yang realita. Jangan mengecilkan keseriusan pasien dalam usaha bunuh diri. Jangan pernah setuju untuk merahasikan rencana bunuh diri. 2.1.6.3. Bantulah pasien dengan melewati. Masa berduka karena kehilangan. Jangan memberi alasan untuk membenarkan gejala-gejala yang dialami pasien ( misal. Saya juga pernah merasakan hal yang sama ). Dan juga juga potensi untuk bunuh diri juga dapat berubah dengan cepat. Nilailah kembali kondisi pikiran pasien dengan sering. 2.1.6.4. menggunakan sumber daya dari komunitas. Lihatlah keluarga dan prang-orang yang bermakna dalampengobatan pasien. Gunakan terapi keluarga bila sesuai dengan

kebutuhan. Kurangi solusi sosial dan penarikan diri secara aktif. Membantu membuat perubahan-perubahan dalam lingkungan yang patologis dari pasien. Jangan kehilangan

15

kontak dengan pasien. Pantau dengan teliti selama musim liburan. Bersikap aktif tetapi tetap menuntut pasien untuk berrtangung jawab terhadap hidupnya. 2.1.6.5. Semua ancaman bunuh diri secara verbal dan non verbal harus ditanggapi secara serius. Laporkan segera mungkindan lakukan tindak pengaman. Dan jauhkan semua benda yang berbahaya dari lingkungan dekt pasien. Dan jika pasien beresiko tinggi untuk bunuh diri, obserfasi secara ketat, bahkan ketika dia berada ditempat tidur atau menggunakan kamarmandi 2.1.6.6. Observasi dengan cermat ketika pasien minum

obat.periksa mulut pasien memastikan bahwa obat telah ditelan.berikan memungkinkan 2.1.7. Penelitian terkait Sejauh ini peneliti belum menemukan penelitian yang terkait dengan peneliti lakukan yaitu hubungan karakteristik perawat terhadap penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri. 2.1.8. Kerangka penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan kerangka dengan konsep sendiri agar mempermudah menentukan variabel yang akan diteliti. Kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan pada bagan berikut obat dalam bentuk cair apabila

16

Variabel independen

Variabel dependen

Karakteristik Perawat diri a. Usia b. Pendidikan c. Lama kerja

Penatalaksanaan Klien

Bunuh

a. Dilakukan b. Tidak dilakukan

Keterangan : Diteliti Dari keterangan diatas dapat dijelaskan karakeristik perawat dalam penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri meliputi umur, tingkat pendidikan dan lama kerja dalam penelitian ini penulis ingin melihat penataksanaan oleh perawat apakah sudah dilakukan atau tidak dilakukan menurut standar. 2.1.9. Defenisi Operasional Variabel Variabel Indepen den Umur Lama yang sejak lahir usia hidup Kuesi dihitung oner mulai sampai saat Lang sung dijaw ab Ordin al Defenisi Operasional Alat ukur Cara ukur Skala Hasil ukur ukur 1. Dewasa awal 39 th 2. Tengah baya 40 50 3. Tua > 50 21-

17

penelitian. Tingkat Pendidika n Latar belakang Wawa Lang pendidikan kesehatan formal terakhir saat diakukan Lama kerja penelitian Masa yang Wawa Lang telah oleh dilewati ncara perawat sung dijaw ab Ordin al ncara sung dijaw ab Ordin al

th 1. Rendah SPK 2. Tinggi DIII dan S1.

1. Baru bekerja 0 10 tahun 2. Sudah lama bekerja 10 th >

dalam bekerja

Variabel Depende n Penerapa n penatalak sanaan Suatu Kuesi Lang sung dijaw ab dan meng amati Ordin al

1. Dilakukan sesuai standar 80 % 2. Tidak dilakukan sesuai standar 80 % 50 Th dan untuk tingkat pendidikan SPK = ( Rendah ) D III dan S 1 =( Tinggi ) dan untuk lama kerja 0-10 Th =( Baru ) dan untuk >10= ( Lama ) 3.5.1.4. Membuat stuktur data Struktur data dikembangkan sesuai dengan analisis yang akan dilakukan. 3.5.1.5. Memasukkan data Dalam kegiatan ini diperhatikan atau analisis yang akan dilakukan. 3.5.1.6. Cleaning

23

Pembersihan data perlu dilakukan dan ternyata terdapat kesalahan dalam melakukan data, lakukan pembentukan dan pengecekan ulang kuesioner. 3.5.2 Analisa data 3.5.2.1 Analisa Univariat Setelah data dikumpulkan dan data diolah dengan menggunakan analisa distribusi frekwensi dan statistik deskriptif untuk melihat katagori variabel independen dan depeden untuk katagori

dependen yaitu persiapan dan pelaksaan penerapan penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri ditetapkan : 1. Dilakukan sesuai standar 80 % 2. Tidak dilakukan sesuai standar < 80 % Data diolah dengan menggunakan rumus : F P= N 100 %

Ket : P = persentase F = Fekwensi

N = Jumlah e Responden ( Arikunto. 1993 )

3.5.2.2 Analisa bivariat

24

Analisis dilakukan untuk mengetahui hubungan karakteristik perawat terhadap penatalaksaan dengan klien prilaku bunuh diri. Penguji hipotesis untuk mengambil keputusan tentang apakah hipotesis yang diajukan cukup meyakinkan untuk ditolak atau

diterima dengan menggunakan uji statistik chi square, untuk melihat kemaknaan perhitunngan statistik digunakan batasan kemaknaan 0,05 sehingga P 0,05 maka secara statistik disebut bermakna dan jika P > 0,05 maka hasil hubungan tersebut tidak bermakna Analisa data dilakukan dengan uji statistik dengan

menggunakan rumus chi square ( 0 E )2 . X2 = E Ketarangan : X2 = Chi square

= Jumlah baris dan kolom E = Nilai yang diharapkan 3.6. Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini akan dilakukan di RSJ.Prof.Dr.HB.Sa`anin

Padang dengan perbandingan bahwa dirumah sakit ini merupakan salah satu instalasi pendidikan sehingga memudahkan untuk mencari responden yang sesuai. Lokasi penelitian ini adalah di ruang rawat inap

RSJ.Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang yaitu di seluruh ruang rawat inap yang terdiri dari Ruang Geges, Flamboyan, Cendrawasih, Melati,

25

Merpati,Villa Anggrek ( VIP ) dan IGD. Penelitian ini Akan dilakukan pada bulan Agustus 2009. 3.7. Etika penelitian Setelah mendapat surat dari pendidikan, peneliti melapor kepada direktur RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang Tentang tujuan

penelitian dilakukan. Setelah mendapat izin dari Direktur, peneliti melaporkan ke DIKLAT dan meminta surat pengantar penelitian untuk kesemua ruangan rawat inap RSJ Prof.Dr.HB.Sa`anin Padang, peneliti memberikan surat tentang rencana dan tujuan peneliti kepada responden, setiap responden berhak untuk menolak atau menyetujui menjadi responden, bagi mereka yang setuju diminta untuk menandatangani lembaran persetujuan yang telah

disediakan.

26

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN4.1. Hasil penelitian Penelitian hubungan karakteristik perawat terhadap

penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri yang dilakukan di ruangan inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang mulai tanggal 30 juli 2009 10 Agustus 2009 dengan jumlah responden 30 orang yang sesuai dengan kriteria sample yang telah ditentukan. Penelitian ini berisikan tentang karakteristik perawat dan penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri. Setelah data dikumpul dan kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk diagram dan tabel dibawah ini. 4.1.1. Karakteristik Perawat

27

4.1.1.1. Menurut Usia Diagram 4.1 Distribusi Frekuensi Usia Responden Perawat di ruangan rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang Juli - Agustus 2009100 80 60 40 20 0Dewasa awal (21-39 Th)

90%

Frekuensi 27 3 10% Persetase

Tengah baya(40-50 Th)

Diagram diatas dapat dilihat bahwa usia perawat yang paling banyak saat jadi responden adalah usia ( 21 39 Th ) yaitu dewasa awal sebanyak 90 %

4.1.1.2. Tingkat pendidikan Diagram 4.2 Distribusi frekuensi Responden menurut Tingkat pendidikan di Ruang Rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang Juli - Agustus 200970 60 50 40 30 20 10 0 SPK D III/S1 9 30% 21 Frekuensi Persentase 70%

28

Diagram

diatas

dapat

dilihat

bahwa

sebagian

besar

responden tingkat pendidikan nya adalah DIII dan S1 yaitu 21 orang atau 70%. 4.1.1.3. Menurut Lama Kerja Diagram 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Lama Kerja di Ruang rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang Juli - Agustus 200960 50 40 30 20 10 0Baru(0-10 Th) Lama(>10 Th)

60%

40% Frekuensi 18 12 Persentasi

Dari data diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar Lama kerja Responden adalah > 10 tahun yaitu 18 orang atau 60 %

4.1.2. Penatalaksanaan prilaku bunuh diri. Diagram 4.3 Distribusi frekuensi Penatalaksanaan Perawat terhadap prilaku bunuh diri di Ruang rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang Juli - Agustus 2009

29

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

83%

25 16% 5D ilakukan Tidak dilakukan

Frekuensi Persentasi

Dari diagram diatas dapat disimpulkan bahwa Penatalaksanaan Perawat terhadap Penatalaksaan klien bunuh diri terbanyak adalah 83% atau 25 orang melakukan dan 16% atau 5 orang tidak melakukan penatalaksanaan. 4.1.2.1. Hubungan Karakteristik Perawat Terhadap

Penatalaksanaan klien prilaku bunuh diri menurut usia Perawat. Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien prilaku bunuh diri menurut usia, maka dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square dengan derajat kemaknaan = 0.05

4.1.2.1.1. Menurut usia

30

Tabel. 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hubungan Karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri Menurut Usia di Ruang rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang Juli - Agustus 2009 Penatalaksanaan Tidak Dilakuka % n (f) n (f) Dewasa 22 awal Tengah 3 baya Total 25 10 83,33 = = = = 0,05 ( Kolom - 1 ) ( Baris 1 ) 0 5 0 16,66 3 30 10 100 73,33 5 16,66 27 90 Dilakuka % Total %

Karakteri stik

Batas kemaknaan Df ( nilai Kritis )

(21)(21) 1 1 X2 = 3,841 X2 =(0 E) E

Total kolom X Total baris n Total25 27 = 22,5 30

E sel A = E sel B =

5 27 = 4,5 30

31

E sel C = E sel D =

25 3 = 2,5 30

5 3 = 0,5 30

SEL A B C D

0 22 5 3 0

E 22,5 4,5 2,5 0,5 X2 h

0-E -0,5 0,5 0,5 -0,5

(0 - E)2 0,25 0,25 0,25 0,25

(0 E ) 2 E

0,01 0,05 0,1 0,25 0,41

Dari pengolahan data diatas didapat nilai kritis X2 t = 3,841 dan X2 h = 0,41. setelah itu untuk menentukan hubungan antara karakreteristik perawat terhadap umur dapat dilihat dari : X2 > nilai kritis = X2 < nilai kritis = Ho ditolak Ho diterima. X2 h < X2 t yaitu 0,41

Dari data diatas telah didapatkan bahwa < 3,841

Ho diterima dan Ha ditolak. Jadi kesimpulannya

tidak ada hubungan antara karakteristik tingkat usia terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri.

4.1.2.1.2. Menurut Tingkat Pendidikan

32

Tabel. 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hubungan Karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri Menurut tingkat Pendidikan di Ruang rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang Juli - Agustus 2009 Penatalaksanaan Karakteris tik Tidak Dilakuka % n (f) n (f) Tinggil Rendah Total 16 9 25 53,33 30 83,33 5 0 5 16,66 0 0,66 0 Batas kemaknaan Df ( nilai Kritis ) = = = = 0,05 ( Kolom - 1 ) ( Baris 1 ) 1 9 3 Dilakuka % T o % t al 2 70 30 100

(21)(21) 1 1 X2 = 3,841 X2 =(0 E) E

Total kolom X Total baris n Total25 21 = 17,5 30

E sel A = E sel B =

5 21 = 3,5 30

33

E sel C = E sel D =

25 9 = 7,5 30

5 9 = 1,5 30

SEL A B C D

0 16 5 9 0

E 17,50 3,50 7,50 1,50 X2 h

0-E -1,5 1,5 1,5 1,5

(0 - E)2 2,25 2,25 2,25 2,25

(0 E ) 2 E

0,12 0,64 0,3 1,5 2,56

Dari pengolahan data diatas didapat nilai kritis X2 t = 3,841 dan X2 h = 2,56. setelah itu untuk menentukan hubungan antara karakreteristik perawat terhadap umur dapat dilihat dari : X2 > nilai kritis = X2 < nilai kritis = Ho ditolak Ho diterima. X2 h < X2 t yaitu 2,56

Dari data diatas telah didapatkan bahwa < 3,841

Ho diterima dan Ha ditolak. Jadi kesimpulannya

tidak ada hubungan antara karakteristik Perawat menurut tingkat tingkat pendidikan terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri.

34

4.1.2.1.3. Menurut Lama kerja Tabel. 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hubungan Karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri Menurut Pengalaman Lama kerja di Ruang rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang Juli - Agustus 2009 Penatalaksanaan Tidak % 30 53,33 30,53 = = = = 0,05 ( Kolom - 1 ) ( Baris 1 ) Dilakuka n (f) 3 2 5 % 10 6,66 16,66

Karakteri stik Baru Sudah Lama Total

Dilakuka n (f) 9 16 25

Tot % al 12 18 30 40 60 100

Batas kemaknaan Df ( nilai Kritis )

(21)(21) 1 1 X2 = 3,841 X2 =(0 E) E

Total kolom X Total baris n Total25 12 = 10 30

E sel A = E sel B =

5 12 =2 30

35

E sel C = E sel D =

25 18 = 6,66 30

5 18 =3 30

SEL A B C D

0 9 3 16 3

E 10 2 6,66 3 X2 h

0-E -1 1 9,34 0

(0 - E)2 1 1 87,23 o

(0 E ) 2 E

0,1 0,5 13,09 0 13,69

Dari pengolahan data diatas didapat nilai kritis X2 t = 3,841 dan X2 h = 13,69 setelah itu untuk menentukan hubungan antara karakreteristik perawat terhadap umur dapat dilihat dari : X2 > nilai kritis = X2 < nilai kritis = Ho ditolak Ho diterima.

Dari data diatas telah didapatkan bahwa X2 h > X2 t yaitu 13,69 > 3,841 Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi kesimpulannya

adalah ada hubungan antara Karakteristik pengalaman kerja terhadap penatalaksanaan klien bunuh diri.

4.2. Pembahasan.

36

4.2.1.Karakteristik4.2.1.1 Diagram diatas dapat dilihat bahwa usia perawat yang paling banyak saat jadi responden adalah usia ( 21 39 Th ) yaitu dewasa awal sebanyak 90 % dan selebihnya tengah baya sebanyak 10 % yang berusia ( 40 50 Th ). 4.2.1.2. Diagram diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden tingkat pendidikan nya adalah DIII dan S1 yaitu 21 orang atau 70%. 4.2.1.1.3. Dari data diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar Lama kerja Responden adalah > 10 tahun yaitu 18 orang atau 60 % 4.2.3. Hubungan karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri. 4.2.3.1.Dari penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang di ruang rawat inap RSJ Prof.Dr.HB. Saanin didapat pada diagram 4.1 dan tabel 4.1. bahwa sebagian responden adalah dewasa awal sebanyak 90 % yang berusia ( 21 39 Th ) dan

selebihnya tengah baya sebanyak 10 % yang berusia ( 40 50 Th ). Dan pada tabel 4.1 dilihat bahwa tidak ada hubungan keraktristik usia terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri.. Menurut ( Hasibun 2000 ) Umur berkaitan erat dengan tingkat kedewasa meningkatnya kebijaksanaan umur dan seseorang kemampuan atau maturitas perawat, akan berfikir meningkat rasional. pula Disini

peneliti berasumsi bahwa

seseorang yang tingkat usianya

37

lebih tinggi atau tua dia lebih mewakilkan melakukan tindakan ke yang lebih muda dan dari segi pemikiran usia tua lebih memikirkan waktunya untuk menghadapi pensium dan sebaliknya usia muda adalah usia yang sangat produktif dalam melakukan tndakan atau kegiatan jadi kesimpulannya adalah usia muda yang berumur 21 -39 tahun lebih baik untuk melakukan tindakan penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri tetapi peneliti memukan tidak ada

hubungan karakteristik menurut usia terhadap penatalaksaan klien dengan prilaku bunuh diri. 4.2.3.2. Pada diagram 4.2 terlihat bahwa sebagian besar latar pendidikan perawat inap adalah tinggi yaitu tamatan DIII dan S1 yaitu sebanyak 21 orang atau 70%, disini terlihat bahwa perawat yang dinas diruang rawat inap adalah berkategori tinggi. Dan dilihat pada tabel 4.2 tidak ada hubungan karakteristik perawat menurut tingkat pendidikan terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri di ruang rawat inap. Menurut Siagian 2000 mengatakan bahwa pendidikan merupakan kemampuan seorang seseorang dan yang yang berfungsi mengembangkan kualitas kepribadian tingkat seseorang pendidikan

dimana

semakin

tinggii

semakin besar keinginan untuk memanfaatkan

pengetahuan dan keterampilan. Peneliti menemukan dari hasil yang didapat tidak ada hubungan karakteristik tingkat

38

pendidikan dengan penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri. Peneliti berasumsi bahwa tingkat pendidikan pada DIII atau S1 adalah sangat baik atau dikatagorikan tinggi, Karena pada tingkat pendidikan tersebut meraka sudah mengenal atau sudah diajarkan terhadap teori teori dan

konsep yang baik untuk melakukan tindakan kepasien terhadap penatalaksanaan bunuh diri di Rumah Sakit dan sebaliknya pada pada pendidikan tingkat SPK adalah

pendidikan yang dikategorikan rendah, disini dilihat bahwa Perawat yang tamatan SPK umumnya tidak diajarkan teori dan konsep terhadap penatalaksaaan klien dengan prilaku bunuh diri dan disi perawat menemukan tidak ada hubungan tingkat pendidikan terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri. 4.2.3.3. Pada diagram.4.3 terlihat bahwa sebagian besar

karakteristik perawat menurut lama kerja sebanyak 60% atau 18 orang. Dan pada tabel 4.3 terlihat bahwa ada hubungan karakteristik perawat menurut lama kerja, jadi disini dapat dihubungkan mempengaruhi bahwa lama kerja seseorang klien perawat dengan

terhadap

penatalaksanaan

prilaku bunuh diri, Disini peneliti berasumsi bahwa lama kerja berkaitan dengan keahlian, karena semakin tinggi frekuensi tingkat lama kerja seseorang maka tindakan yang akan dilakukan semakin mudah untuk dilakukan seperti

39

penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri. Sesuai menurut teory Siagin ( 2000 ) menyimpulkan bahwa semakin lama kinerja seseorang maka akan semakin terampil dan pengalaman menghadapi masalah dalam pekerjaannya. 4.3. Keterbatasan Peneliti 4.3.1. Dari segi alat kuesioner Kuesioner peneliti ini baru pertama kali di rancang sendiri oleh peneliti, oleh karena itu mungkin jauh dari kesempurnaan. Kuesioner yang peneliti gunakan perlu di uji validitas dan

reabilitasnya. 4.3.2. Dari segi waktu Peneliti mempunyai dalam membagi waktu antara wak PMPKL dan Praktek Klinik di RS dengan waktu penelitian karena tempat penelitian jauh dari tempat perkuliahan atau kampus

40

BAB V PENUTUP5.1. Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian tanggal 30 juli 2009 10 Agustus 2009 bahwa hubungan karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien dengan prilaku bunuh diri di ruang rawat inap RSJ.Prof.Dr.HB. Saanin Padang dengan 30 responden, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 5.1.1. Sebagian besar responden adalah usia ( 21 39 Th ) yaitu dewasa awal sebanyak 90 %, sebagian besar tingkat

pendidikan adalah DIII dan S1 yaitu 21 orang atau 70% dan sebagian besar pengalaman kerja adalah ( > 10) tahun yaitu 18 orang atau 60 %.. 5.1.2. Penatalaksanaan perawat pada klien prilaku bunuh diri dilakukan adalah 83% 5.1.3.Tidak ada hubungan karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien prilaku bunuh terhadap tingkat usia perawat dengan hasil nilai chi squarenya adalah X2 = X2 h < X2 t yaitu 0,41 < 3,841 5.1.4.Tidak ada hubungan karakteristik perawat terhadap penatalaksanaan klien prilaku bunuh dengan Tingkat Pendidikan dengan hasil

41

nilai chi squarenya adalah. X2 h < X2 t yaitu 2,56 < 3,841 5.1.5. Ada hubungan karakteristik perawat terhadap penatalaksanan klien prilaku bunuh dengan dengan hasil nilai chi squarenya adalah. X2 h > X2 t yaitu 13,69 > 3,841 5.2. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang

dikemukakan diatas ada beberapa saran yang ingin peneliti sampaikan antara lain : 5.2.1. Kepada institusi pelayanan kesehatan khususnya RS Diharapkan khususnya agar terus meningkatkan dan upaya promotif cara

terhadap

keluarga

klen

dengan

melibatkan keluarga dan klien dalam acara seminar atau diskusi yang yang menyangkut dengan penatalaksanaan klien prilaku bunuh diri. 5.2.2. Diharapkan pada peneliti yang lain untuk dapat melanjutkan penelitian ini dengan meneliti penatalaksanaan pada klien prilak bunuh diri 5.2.3. Dan diharapkan juga kepada kampus supaya untuk

kedepannya jadwal penelitian tidak bersamaan dengan jadwal kegiatan dikampus.

42

DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi, 1993. Prosedur penelitian, Pendekatan Praktek. Jakarta : Rhineka Cipta. David. Tomb,2000. Buku saku Psikistri, Jakarta : EGC Depkes RI, 1990. Visi dan Misi Indonesia Sehat 2010, Jakarta : EGC Gipson, James, 2000. Organisasi Prilaku Struktur, Proses, Edisi 5, Jakarta : Erlangga Harold, Kaplan, 1998. jiwa darurat, jakarta : Media Medika Hasibun, Malayu SP, 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara Keliat budi ana, 1994. Asuhan Keperawatan Pada klien Bunuh diri, Jakarta Suatu

43

Marquis, 2000. Pendidikan Keperawatan, Jakarta Maryanto, 1990. Pengumpulan Sumber Daya Manusia, Surabaya Notoadmojo, Soekitjo, 2000. Metode Penelian dan Kesehatan, Jakarta:Rineka Cipta Nursalam, 2002. Metodelogi Riset Keperawatan, Jakarta.:Cv Informatika Purwarto, Heri, 1999. Penelitian Keperawatan, Jakarta, Rhineka Cipta. Siagian, Sondang, 2000. Organisasi Kepemimpinan dan Prilaku Administrasi, Cetakan kedua, Jakarta : PT agung. Stikes Perintis, 2008, Pedoman Penulisan KTI, Bukittinggi Stuart dan sudeen, 1998 Keperawatan Jiwa : EGC

44

45

46