KARYA TULIS ILMIAH - lib.akpermpd.ac.id

of 97/97
KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny “F” YANG MENGALAMI GASTROENTERITIS AKUT DENGAN MASALAH KEPERAWATAN DIARE DI RUANGAN WALET RUMAH SAKI BHAYANGKARA MAKASSAR TAHUN 2019 Diajukan sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Ahli Madya Keperawatan Pada Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar OLEH : AGUSSALIM NIM : 1610066 AKADEMI KEPERAWATAN MAPPA OUDANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN MAKASSAR 2019
  • date post

    01-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KARYA TULIS ILMIAH - lib.akpermpd.ac.id

GASTROENTERITIS AKUT DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
DIARE DI RUANGAN WALET RUMAH SAKI BHAYANGKARA
MAKASSAR TAHUN 2019
Keperawatan Pada Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar
OLEH :
AGUSSALIM
GASTROENTERITIS AKUT DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
DIARE DI RUANGAN WALET RUMAH SAKIT BHAYANGKARA
MAKASSAR TAHUN 2019
Suku/ Bangsa : Makassar/ Indonesia
B. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Pada Tahun 2004-2009 SD Inpres Bontoala II sungguminasa Gowa
2. Pada Tahun 2009-2013 SMP Aisiyah Sungguminasa Gowa
3. Pada Tahun 2013-2016 SMK Panca Sakti Makassar
4. Pada Tahun 2016-2019 AKPER Mappa Oudang Makassar
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhana Wata Ala atas berkah
dan karunia-nya serta tak lupa salam dan shalawat kepada junjungan kita Nabiullah
Muhammad yang membawa umat manusia dari alam gelap gulita ke alam yang
terang benderang.
Tidak lupa pula penulis mensyukuri segala Rahmat dan Karunia yang telah
dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelasaikan Proposal ini dengan judul
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG MENGALAMI
GASTROENTERITIS AKUT DENGAN MASALAH KEPERAN DIARE DI
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR” Proposal ini disusun dalam
rangka menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan pada Akademi
Keperawatan Mappa Oudang Makassar, tetapi berkat bimbingan dan bantuan dari
berbagai pihak proposal ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Untuk itu
perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1. Bapak KOMBES dr. H. Farid Alamsyah SP. P,D., FINASIM, sebagai Ketua
Yayasan Brata Utama Bhayangkara Makassar sekaligus kepala Rumah sakit
Bhayangkara Makassar dan Staff yang telah banyak membantu
2. Pimpinan/ pengelola program Study Diploma III Keperawatan Akademi
Keperwatan Mappa Oudang Makassar, Kepada:
a. Direktur : Ns. Dardin, S.Kep.,M.Kep
b. Wadir I : Ns. Syaharuddin, SKM., S.Kep.,M.Kes
c. Wakil Direktur II : Ns. Rezeki Nur, S.Kep.,M.MKes
d. Wakil Direktur III : Ns. H. Hataul Madja, S.ST.,S.Kep.,M.Kes
e. Ketua Program Study : Muh. Saleh S, S.Pd.,M.pd.,M.MKes
vii
Direktur Akademi Mappaoudang Makassar yang begitu memberikan banyak
ilmu kepada penulis. Penulis mengucapkan banyak terima kasih karena telah mau
meluangkan begitu banyak waktu untuk penulis serta banyak memberikan
masukan dan motivasi dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini dan dengan sabar
membimbing penulis untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan baik.
4. Kepada Bapak Syaputra Artama, S.Kep.Ns., M.Kep sebagai pembimbing
sekaligus Dosen Akademi Mappaoudang Makassar yang begitu memberikan
banyak ilmu kepada penulis. Penulis mengucapkan banyak terima kasih karena
telah mau meluangkan begitu banyak waktu untuk penulis serta memberikan
masukan dan motivasi dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Kepada Ridwan, S.Kep., Ns., M.Kes. sebagai pembimbing sekaligus Dosen
Akper Mappaoudang Makassar yang begitu memberikan banyak ilmu kepada
penulis. Penulis mengucapkan banyak terima kasih karena telah memberikan
masukan dan motivasi dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini dan dengan sabar
membimbing penulis untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan baik.
6. Kepada seluruh Dosen dan Staf Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar
yang telah banyak memberikan doa dan restu serta dorongan baik moril dan
material selama penulis mengikuti semua pendidikan 3 tahun ini.
7. Terutama kepada kedua orang tua tercinta yang dengan penuh cinta dan kasih
sayangnya selama ini dengan ikhlas mengasuh, mendidik, dan selalu memberikan
dukungan baik moril maupun material dan semangat serta doa yang tulus di
setiap sujudnya agar penulis menjadi orang yang dapat membanggakan untuk
mereka. Terima kasih untuk setiap cinta yang terpancar yang selalu mengiringi
setiap langkah penulis sehingga penulis bisa sampai ke titik ini. Terima kasih
untuk tiap tetesan keringat yang tidak dapat penulis ganti dengan apapun,
terimakasih sudah menjadi orang tua yang baik untuk penulis selama ini.
8. Kepada seluruh Mahasiswa di Akper Mappa Oudang Makassar Angkatan X
(sepuluh) tanpa terkecuali, jasa-jasa kalian akan tetap aku ingat untuk
selamannya.
vii
9. Kepada adinda junior Angkatan XI dan XII yang senantiasa memotivasi serta
memberikan doa selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah
10. Terakhir pada almamaterku tersayang “ Akademi Keperawatan Mappa Oudang
Makassar” yang telah menjadikanku insan yang berarti.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih banyak terdapat
kekurangan. Jadi setiap kritikan maupun saran-saran dari pihak yang bersifat
membangun penulis akan menerima dengan senang hati.
Akhir kata semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan Mahasiswa
Akper Mappa Oudang Makassar khususnya dalam memberikan Asuhan Keperawatan
Pada Klien Yang Mengalami Gastroenteritis Dengan Masalah Keperawatan Diare Di
Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Semoga segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis
mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT.
Makassar, 28 february 2019
ABSTRAK .............................................................................................. xv
1. Konsep Medis................................................................... 10
c. Etiologi ........................................................................ 21
d. Patofisiologi ................................................................. 24
a. Pengkajian ................................................................... 30
E. Instrumen Penelitian ……………………………………… 42
H. Analisis Data Dan Penyajian Data………………………… 43
I. Etika Penelitian ……………………………………………. 44
A. Hasil ........................................................................................ 45
2. Karakteristik Partisipan .................................................... 46
a. Identitas Klien ............................................................. 46
a. Pengkajian .................................................................. 46
b. Diagnosa ..................................................................... 59
B. Pembahasan ............................................................................ 66
1. Pengkajian .......................................................................... 66
2. Diagnosa ............................................................................. 67
3. Intervensi ............................................................................ 69
4. Implementasi ...................................................................... 70
5. Evaluasi .............................................................................. 71
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................. 73
B. Saran ....................................................................................... 74
Tabel 3.1 Jadwal penelitian ............................................................................. 43
Tabel 4.1 Aktivitas sehari - hari ...................................................................... 56
Table 4.2 Pemeriksaan .................................................................................... 56
Table 4.5 Intervensi ......................................................................................... 61
Table 4.6 Implementasi ................................................................................... 63
Table 4.7 Evaluasi ........................................................................................... 65
GASTROENTERITIS AKUT DENGAN MASALAH
BHAYANGKARA MAKASSAR AGUSSALIM
Latar Belakang :Gastroenteritis akut (GEA) merupakan kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa
(lebih dari tiga kali sehari), juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (feses cair). Menurut WHO tahun 2013
memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia dan 2,2 juta di antaranya meninggal. Di Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar pada tahun 2016, tercatat penderita gastroenteritis akut sebanyak 1696 pasien. Sedangkan data yang
diperoleh pada tahun 2017 mengalami penurunan, yaitu 1401 pasien. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui Asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami Gastroenteritis akut dengan malasah keperawatan
diare di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Metode : penelitian ini menggunakan metode studi kasus dimana
dilakukan pengamatan langsung, wawancara terstruktur, pemeriksaan fisik dengan mengumpulkan data dari pasien
secara subjektif dan objektif di Ruang perawatan rawat inap dengan diagnosis Gastroenteritis akut (GEA). Hasil :
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah dilakuakn evaluasi keperawatan yang ditemukan pada kasus Ny. S
dengan gangguan sistem pencernaan: gastroenteritis akut teratasi dan di identifikasi adanya kesenjangan antara
konsep teori dengan studi kasus. Kesimpulan : kesimpulan dari pengkajian terdapat kesenjangan antara konsep teori
dengan studi kasus yang ditemukan, diagnosa yang ditemukan dalam konsep teori tetapi tidak di temukan pada studi
kasus yaitu Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output melalui rute normal(diare berat, muntah), status
hipermetabolik dan pemasukan cairan terbatas, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan absorpsi nutrient, status hipermetabolik, nyeri berhubungan dengan hiperistaltik usus, diare lama, iritasi
kulit/jaringan. Sedangkan diagnosa yang di temukan pada studi kasus tetapi tidak terdapat di dalam konsep teori
yaitu mual berhubungan dengan distensi gaster, risiko gangguan kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
iritan lingkungan sekunder terhadap kelembapan. Diharapkan pada pasien dan keluarga dengan pemberian asuhan
keperawatan dan penyuluhan dapat menambah pengalaman tentang perawatan, pencegahan dan penanganan pada
pasien gastroenteritis akut dengan masalah keperawatan diare.
Kata Kunci: Gastroenteritis Akut, Diare.
xvi
GASTROENTERITIS ACUTE WITH THE PROBLEM
OF NURSING AT HOSPITAL BHAYANGKARA
MAKASSAR AGUSSALIM
ABSTRACT
Background description: Gastroenteritis acute (GEA) it is there are more than three abnormal frequenciens in a
day. There is also a change in quantity (liquid) and a change in consistency. WHO in 2013, 4 bilion incidents in the
world were reported to have occurred in 2013, and 2,2 million people died. The hospital Bhayangkara Makassar,
which served as a military academy in 2016 had 1696 patients. However, the released in 2017 were 1401 patients.
Direction :The study aims to know the nursing in patients who experience gastroenteritis acute with the problem
nursing diarrhea in Hospital Bhayangkara Makassar. Method :This study using the merhos of case studies where
conducted, the structured, a physical examination by collecting data from patients at the subjective and objective in
the care inoatient with a diagnosis of gastroenteritis acute (GEA). Result :the results of this study show that patients
experience a deviation from the theoretical concepts by studying cases and studying cases after resolving the
disability of potentiality patien. Conclusion :The conclusion of results of assessments, there are gaps between the
concept of the theory with case studies that were found, the diagnosis is found in the concept of theory but is not
found in a case study of the lack of volume of fluids associated with output through normal route (severe diarrhea,
vomiting), the status of the hipermetabolik and revenue of limited, nutrition, less that the needs of the body
associated with impaired absorption nutrient, the status of the hipermetabolic, pain associated with hiperistaltic,
diarrhea, skin irritation or network. The diagnosis that were foud in a case study but not under the theory of nausea
as sociated with distention gaster, the risk of damage the integrity of skin touch with irritats the secondary of
moisture. I expect the patients and families with the provision of care nursing and counseling can add to the
experience of care, prevention, and the handling and treatment in patients with the nurses` diarrhea.
The key word: Gastroenteritis, Acute, Diarrhea.
1
Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk menguraikan pasien yang
mengalami perkembangan diare dan atau muntah akut. Istilah ini mengacu pada
terdapat proses inflamasi dalam lambung dan usus, walaupun pada beberapa kasus
tidak selalu demikian. Secara global setiap tahun diperkirakan dua juta kasus
gastroenteritis yang terjadi di kalangan anak berumur kurang dari lima tahun.
Walaupun penyakit ini seharusnya dapat diturunkan dengan pencegahan, namun
penyakit ini tetap menyerang anak terutama yang berumur kurang dari dua tahun.
Penyakit ini terutama disebabkan oleh makanan dan minuman yang
terkontaminasi akibat akses kebersihan yang buruk. Gastroenteritis atau diare
merupakan penyebab kedua kematian anak di dunia dengan 15 juta anak
meninggal setiap tahunnya. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT),
menunjukkan bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di
Indonesia (Utami & Wulandari, 2015).
Organisasi Kesehatan Dunia WHO 2013 memperkirakan 4 milyar kasus
terjadi di dunia dan 2,2 juta diantaranya meninggal, dan sebagian besar anak-anak
di bawah umur 5 tahun. Di Amerika, setiap anak mengalami 715 gastroenteritis
dengan rata-rata usia 5 tahun. Di Negara berkembang rata-rata tiap anak di bawah
usia 5 tahun mengalami gastroenteritis 3 sampai 4 kali pertahun. Saat ini kasus
gastroenteritis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara
berkembang seperti Indonesia karena memiliki insidensi dan mortalitas yang
2
( Karimah dkk, 2016).
Pada tahun 2010, diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu
(kolitis infeksi) masih menjadi penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di
rumah sakit meskipun jumlahnya menurun menjadi 71.889 kasus dengan 1.289
kasus berakhir pada kematian. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare terjadi di 11
provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 4.204 orang, jumlah kematian
sebanyak 73 orang dengan case fatality rate (CFR) sebesar 1,74%,. Jawa Tengah
merupakan salah satu provinsi dengan KLB diare pada tahun 2010 dengan 35
kasus, 1 diantaranya meninggal (Irwan, 2013).
Jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) diare yang ditemukan dan ditangani di
Sulawesi Tengah pada tahun 2012 sebanyak 70.267 (62.6%) dari 112.171 jumlah
perkiraan penderita. Pada tahun 2013 jumlah KLB diare yang ditemukan dan
ditangani sebanyak 59.430 (109,3%) dari 54.349 jumlah penderita diare yang
diperkirakan (Arlinda dkk, 2016).
penyakit gastroenteritis akut pada tahun 2013 sebanyak 375.127 orang (1,3%)
(Kementerian, 2013). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember
dari bulan Januari sampai Oktober 2014 diketahui bahwa terdapat 1146 kasus
gastroenteritis pada balita di wilayah Balung, dimana daerah tersebut merupakan
kasus kejadian tertinggi (Karimah dkk, 2016).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo (2012), jumlah
penderita gastroenteritis pada tahun 2012 adalah 31.716 penduduk atau 3,7%,
sedangkan pada tahun 2013 mengalami kenaikan 1,4% menjadi 4,11% dengan
3
jumlah penderita 35.498 penduduk. Data hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit
Daerah Sukoharjo pada tahun 2013 menunjukkan penderita gastroenteritis
mencapai 845 orang (Utami & Wulandari, 2015)
Data dari Rekam Medik di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar tahun 2017,
tercatat penderita Gastroenteritis Akut sebanyak 1401 pasien. Sedangkan data
yang diperoleh pada tahun 2018 mengalami penurunan, yaitu 1399 pasien. Dengan
ini penulis tertarik melakukan studi kasus penelitian tentang Asuhan Keperawatan
Gastroenteritis Akut dengan Masalah Diare di Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar.
Apakah terdapat kesenjangan teori dan praktek Asuhan Keperawatan pada
klien yang mengalami Gastroenteritis Akut dengan masalah Diare di Rumah Sakit
Bhayangkara Makassar.
masalah Diare.
melaksanakan Pengkajian Keperawatan pada klien yang mengalami
Gastroenteritis Akut dengan Diare di Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar.
4
menegakkan Diagnosa Keperawatan pada klien yang mengalami
Gastroenteritis Akut dengan Diare di Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar.
menetapakan Perencanaan Keperawatan pada klien yang mengalami
Gastroenteritis Akut dengan Diare di Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar.
mengimplementasikan Rencana Asuhan Keperawatan pada klien yang
mengalami Gastroenteritis Akut dengan Diare di Rumah Sakit
Bhayangkara Makassar.
melaksanakan Evaluasi Keperawatan pada klien yang mengalami
Gastroenteritis Akut dengan Diare di Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar.
1. Manfaat Teoritis
Diare
5
oleh perawat untuk melakukan Asuhan Keperawatan pada Klien
Gastroenteritis Akut dengan Diare.
b. Bagi Rumah Sakit
Akut dengan Diare dan meningkatkan mutu serta kualitas Pelayanan
Kesehatan.
perkembangan Ilmu Keperawatan, khususnya mengenai Asuhan
Keperawatan pada Klien Gastroenteritis Akut dengan Diare.
d. Bagi Klien dan Keluarga
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana
informasi dan menambah pengetahuan tentang penyakit Gastroenteritis
Akut di masyarakat sehingga dapat mengurangi/menekan angka
kejadian penderita Gastroenteritis Akut.
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang Asuhan
Keperawatan. Serta menambah wawasan peneliti mengenai penyakit
Gastroenteritis Akut itu sendiri.
1. Definisi
2. Batasan karakteristik
2) Feses lembek atau cair.
3) Frekuensi peristaltik meningkat.
4) Bising usus hiperaktif.
3. Faktor yang berhubungan
a. Kontinensia alur: pengendalian pengeluaran feses dari tubuh.
b. Elimanasi fekal: pembentukan dan pengeluaran feses.
c. Keseimbangan elektrolit dan asam basa: Keseimbangan elektrolit dan non
elektrolit dalam kompartemen intrasel dan ekstrasel tubuh.
d. Perawatan diri : Ostonomi: tindakan individu dalam menawar ostomi
untuk eliminasi.
fungsi fisik, emosi, dan fungsi sosial.
5. Tujuan Kriteria Evaluasi
kontinensia alur, eliminasi fekal, keseimbangan elektrolit dan asam/basa,
keseimbangan cairan, hidrasi, perawatan diri; ostonomi dan keparahan
gejala
b. Menunjukkan eliminasi fekal yang efektif , yang dibuktikan oleh indikator
berikut (sebutkan 1-5: gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak
gangguan) :
c. Menunjukkan elimansi fekal yang efektif, yang dibuktikan oleh indicator
berikut (sebutkan 1-5: sebutkan 1-5: gangguan ekstrem, berat, sedang,
ringan, atau tidak gangguan):
a. Manajemen defekasi: membentuk dan mempertahankan pola eliminasi
defekasi yang teratur.
pencegahan komplikasi akibat kadar elektrolit serum yang tidak normal
atau tidak diharapkan.
komplikasi akibat kadar cairan yang tidak normal atau yang tidak
diharapkan.
penurunan kadar cairan dan elektrolit.
f. Manajemen medikasi: menfasilitasi penggunaan yang aman dan efektif
obat resep dan obat bebas.
g. Manajemen ostomi: mempertahankan eliminasi melalui stoma dan
peralatan jaringan disekitarnya.
7. Aktivitas Keperawatan
3) Pantau nilai laboratorium (elektrolit, hitung darah lengkap), dan
laporkan adanya abnormalitas.
5) Kaji dan dokumentasikan:
b) Turgor kulit dan kondisi mukosa mulut sebagai indikator dehidrasi.
6) Manajemen diare Nursing Intervention Classification (NIC)
a) Ambil specimen feses untuk uji kultur dan sensitivitas, jika diare
berlanjut.
b) Evaluasi profil obat terhadap efek samping di saluran cerna.
c) Evaluasi catatan asupan kandungan nutrisi.
d) Pantau adanya iritasi dan ulserasi kulit di area perianal.
b. Penyuluhan untuk pasien/keluarga
diare.
2) Ajarkan pasien untuk menghindari susu, kopi, makanan pedas, dan
makanan yang mengiritasi saluran cerna.
3) Manajemen diare Nursing Intervention Classification (NIC):
a) Ajarkan pasien tentang penggunaan obat antidiare yang benar.
b) Ajarkan pasien dan anggota keluarga untuk mencatat warna,
volume, frekuensi, dan konsistensi feses.
c) Anjurkan pasien untuk melapor ke petugas kesehatan setiap kali
diare.
c. Aktivitas kolaboratif
1) Konsulkan dengan ahli diet untuk penyesuain diet yang diperlukan.
10
konsultasikan pada dokter jika tanda dan gejala diare menetap.
d. Aktivitas lain
terjadinya diare.
3) Berikan cairan sesuai dengan pilihan pasien (sebutkan).
4) Berikan privasi dan keamanan bagi pasien selama eliminasi fekal.
5) Manajemen diare Nursing Intervention Classification (NIC):
a) Lakukan tindakan untuk mengistirahatkan usus (misalnya, puasa
atau diet cair)
b) Anjurkan pasien untuk makan dalam porsi kecil, tetapi sering dan
tingkatkan kepada tanya secara bertahap
B. Tinjauan Tentang Gastroenteritis
Gastroenteritis adalah kondisi di mana terjadi frekuensi defekasi yang
tidak biasa (lebih dari tiga kali sehari), juga perubahan dalam jumlah dan
konsistensi (feses cair). Penegertian lain adalah defekasi cair/encer lebih dari
tiga kali sehari dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja (Diyono dan
Mulyanti, 2013)
11
1) Mulut
dibantu oleh ptyalin,yaitu enzim yang dikrluarkan oleh kelenjar saliva
untuk membasahi proses metabolisme makanan. Organ kelengkapan
mulut yaitu bibir,pipi,gigi (gigi susu dan gigi tetap),lidah, dan kelenjar
ludah. Mulut terdiri atas dua bagian, yaitu:
a) Bagian luar yang sempit (vestibula), yaitu ruang di antara gusi, gigi
,bibir, dan pipi.
b) Bagian rongga mulut (bagian dalam), yaitu rongga mulut yang sisi-
sisinya dibatasi oleh tulang maklsilaris, serta di sebelah belakang
bersambung dengan faring.
kerongkongan (esofagus) yang panjanhnya 12 cm. Di dalam lengkung
12
banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap
infeksi. Di sini, terletak persimpangan antara jalan napas dan jalan
makanan yang letaknya di belakang rongga mulut dan hidung. Di depan
ruas tulang belakang, makanan melewati epiglotis lateral melalui resus
piriformis, kemudian masuk esophagus tanpa membahayakan jalan
udara. Pada waktu yang sama, jalan udara akan ditutup sementara. Pada
proses permulaan menelan, otot mulut dan lidah berkontraksi secara
bersamaan.
mendorong makanan masuk ke dalam esophagus agar tidak
membahayakan jalannya pernapasan. Dalam hal ini, terjadi persilangan
antara jalan makanan dengan pernapasan. Jalan makanan masuk ke
belakang, sementara jalan pernapasan melewati epiglotis lateral melalui
filiformis sebelum kemudian masuk ke esophagus.
3) Esophagus
lambung dan panjangnya +- 25 cm, dimulai dari faring sampai pintu
masuk kardiak di bawah lambung. Lapisan dinding dari dalam keluar,
lapisan selaput lendir (mukosa), lapisan submukosa, lapisan otot
melingkar sirkuler, dan lapisan otot memanjang longitudional.
Esophagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung
13
menyambung dengan lambung.
pergerakan makanan melalui esophagus. Pada permulaan esophagus
terdapat kelenjar mukosa komposita. Bagian utamanya dibatasi oleh
banyak kelenjar mukosa simpleks yang berfungsi untuk mencegah
sekresi mukosa oleh makanan baru masuk. Kelenjar komposita yang
terletak pada perbatasan esophagus dengan lambung berfungsi untuk
melindungi dinding esophagus dari pencernaan getah lambung.
Pada peralihan esophagus ke lambung, terdapat spinker kardiak yang
dibentuk oleh lapisan otot sirkuler esophagus. Spinkter ini terbuka secara
refleks pada akhir proses menelan. Tunika mukosa esophagus
mempunyai epitel gepeng berlapis yang mengandung kelenjar-kelenjar
(landula esophagus).
terutama di daerah epigaster. Bagian atas fundus uteri berhubungan
dengan esophagus melalui orifisium pilorik. Organ ini terletak di bawah
diafragma, di depan pankreas dan limfa, serta menempel di sebelah kiri
fundus uteri. Pencernaan di dalam lambung dibantu oleh pepsinogen
untuk mencerna protein, lemak, dan asam garam.
Lambung berdistensi untuk menampung makanan yang masuk.
Awalnya, piloris tetap tertutup. Namun, karena efek dari gelombanh
peristaltik, lambung kemudian mencampur makanan sekaligus
14
relaksasi dan membiarkan sejumlah kecil makanan melewatinya setiap
waktu.
menghaluskan makanan melalui mekanisme gerak peristaltik lambung
dan getah lambung.
a) Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino
(albumin dan pepton).
pepsinogen untuk kemudian diubah menjadi pepsin.
c) Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan
membentuk kasein dari karsinogen (karsinogen dan protein susu).
d) Lapisan lambung, ada dalam jumlah sedikit dan fungsinya untuk
memecah lemak menjadi asam lemak yang merangsang sekresi getah
lambung.
Sekresi getah lambung mulai terjadi pada saat orang mulai makan.
Ketika kita melihat dan mencium bau makanan, pada saat itu pula
sekresi lambung akan terpicu. Rasa makanan dapat merangsang sekresi
lambung karena kerja saraf, sehingga menimbulkan rangsangan kimiawi
yang menyebabkan dinding
15
Produksi getah lambung ini dapat dihalangi oleh sistem saraf simpatis,
yang dapat juga muncul saat terjadi gangguan emosi, seperti marah dan
rasa takut.
sebagai pengendali pintu keluar-masuk lambung menjadi terbatas,
karena proses pengosongan berjalan normal walaupun pilorus tetap
terbuka. Kontraksi antrun akan diikuti oleh kontraksi pilorus yang
berlangsung sedikit lebih lama dari kontraksi duodenum. Pengaturan
gerakan dalam proses pengosongan lambung merupakan kontraksi gerak
peristaltik lambung yang dikoordinasikan oleh gelombang depolarisasi
gastrik (slow wave). Ini merupakan gerak sel otot polos yang dimulai
otot sirkulasi fundus menuju ke pilorus setiap 20 detik. Ritme ini disebut
Basic Elektrik Ritme (BER). Peristaltik antrum slow wave mempunyai
peran penting dalam pengendalian pengosongan lambung.
5) Usus halus (Intestinum minor)
Proses pencernaan makanan selanjutnya dilakukan di dalam usus
halus dengan bantuan aksi getah usus. Usus halus adalah bagian dari
sistem pencernaan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada
seikum dengan panjang ±6 m. Usus halus ini merupakan saluran paling
panjang yang digunakan sebagai tempat proses pencernaan dan absorpsi
hasil pencernaan Usus halus terdiri dari beberapa lapisan, yaitu
lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (m. sirkular),
lapisan otot yang memanjang (m. longitudinal), dan lapisan serosa
(sebelah luar).
Usus halus terdiri dari tiga bagian, yaitu duodenum, yeyenum,
dan ileum. Duodenum juga sering disebut usus dua belas jari. Organ
ini panjangnya sekitar 25 cm, berbentuk menyerupai sepatu kuda
yang melengkung ke kiri. Organ pankreas terdapar pada lengkungan
ini. Sedangkan, pada bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir
menyerupai bukit yang disebut papila vateri. Pada papila vateri ini
bermuara saluran empedu (duktus koledokus) dan saluran pankreas
(duktus pankreatikus).
duktus koleduktus, fungsinya adalah mengemulasi lemak dengan
bantuan lipase. Pankreas juga menghasilkan amilase (yang berfungsi
mencerna hidrat arang menjadi disakarida) dan tripsin (yang
berfungsi mencerna protein menjadi asam amino atau albumin dan
polipeptida). Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang
banyak mengandung kelenjar. Kelenjar ini disebut kelenjar-kelenjar
brunner dan berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Sementara itu, yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar
±6 meter. 2/5 bagian atas adalah yeyenum dan 3/5 sisanya adalah
ileum. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding
abdomen posterior dengan perantaraan lipatan teritonium
berbentuk kipas, yang dikenal sebagai mesenterium. Akar
mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang
17
arteri dan vena mesentrika superior, pembuluh limfe, dan saraf ke
ruang antara dua lapisan peritoneum yang membentuk mesenterium.
Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas
yang tegas. Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum melalui
perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium
ini diperkuat oleh spinkter ileoseikalis. Pada bagian ini terdapat
katup valvula seikalis atau valvula bauk ini yang berfungsi untuk
mencegah cairan dalam kolon asendens agar tidak masuk kembali ke
dalam ileum.
melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe.
(2) Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
(3) Menyerap karbohidrat dalam bentuk monosakarida.
c) Kelenjar dalam usus halus
Di dalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah
usus yamg menyempurnakan makanan, yakni:
(1) Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik.
(2) Eripsin, menyempurnakan pencernaan.
(6) protein menjadi asam amino.Kontraksi di usus halus.
Kontraksi di usus halus terbagi enam bagian, yaitu:
18
sesuai dengan slow wave (gerakan lambat).
(2) Peristaltik: kontraksi otot sirkuler secara berurutan dalam jarak
pendek dengan kecepatan 2-3 cm/detik untuk memotong chymus
ke arah usus besar.
mukoda, mencamput isi lumen, dan mendekatkan chymus dengan
permukaan mukosa yang dirangsang oleh saraf simpatis.
(4) Kontarksi vilus: konstraksinya tidak teratur, terutama di bagian
proksimal usus. Kontraksi ini membantu mengosongkan
pembuluh lacreal sentral dan meningkatkan aliran limfe.
(5) Sfingter ileosekalis: Sfinger ileosekalis melemas bila gerak
peristaltik ileum sampai spingter dan sejumlah kecil chymus
masuk ke dalam sekum (usus buntu).
(6) Reflex gatroileal: peningkatan fungsi sekresi dan motorik
lambung saat makanan meninggalkan motilitas ileum terminalis,
chymus masuk ke dalam sekum melalui refleks panjang.
6) Usus besar (intestinum mayor)
Organ pencernaan itu sendiri atas kolon asenden, transversum,
desenden, sigmoid, serta rektum. Peristaltik di bagian ini sangat kuat dan
mendorong feses cair dalam usus asenden dan transversum, kemudian
air diserap ke usus desenden. Bahan kotoran yang terdapat di dalam
19
ujung usus sebagian besar berupa feses dan menggumpal di dalam
rektum akhirnya keluar melalui anus. Struktur usus besar terdiri dari:
a) Sekum (usus buntu), yaitu kantong lebar yang terletak pada fossa
iliaka dekstra. Pada bagian bawah dari organ ini adalah sekum
apendiks vermiformis disebut umbai cacing, panjangnya sekitar 6-10
cm. Muara apendiks ditentukan oleh titik Mc Burney, yaitu daerah
antara 1/3 bagian kanan dan 1/3 bagian tengah garis penhubung
kedua spina iliaka anterior superior (SIAS).
b) Kolon asendens, bagian yang memanjang dari sekum ke fossa iliaka
kanan sampai setelah kanan abdomen. Panjang dari bagian ini ±13
cm, terletak di sebelah kanan dan di bawah hati ke sebelah kiri.
Lengkung ini disebut fleksura hepatica (fleksura koli dekstra) dan
dilanjutkan dengan kolon transversum.
dari kolon asendens sampai kolon desenden. Organ ini berada di
bawah abdomen sebelah kanan, tepat pada lekukan yang disebut
fleksura lienalis (fleksura koli sinistra), dan mempunyai
mesenterium yang melekat pada amentum mayus.
d) Kolon desendens yang mempunyai panjang ±25 cm dan terletak di
bawah abdomen bagian kiri dari atas ke bawah. Dari depan fleksura
lienalis sampai depan ileum kiri, bersambung dengan sigmoideum
dan dinding belakang peritoneum (retroperitoneal).
e) Kolon sigmoid, yang merupakan lanjufan kolon desenden, terletak
miring dalam rongga pelvis. Bagian ini panjangnua ±40 cm, dalam
20
bawahnya berhubungan dengan rektum. Kolon sigmoid ini ditunjang
oleh mesenterium yang disebut mesekolon sigmoideum.
7) Rektum
instestinum mayor dengan anus. Posisinya berada di dalam rongga pelvis
di depan os sacrum dan os koksigis. Rektum terdiri dari dua bagian,
yaitu rektum propia dan rektum analis rekti.
a) Rektum propia; bagian yang melebar disebut ampula rekti, jika terisi
sisa makanan akan timbul hasrat defekasi.
b) Rektum analis rekti; bagian sebelah bawah ditutupi oleh serat-serar
otot polos (muskulus spinkter ani internus dan muskulus spingkter
ani eksternus).
rektum banyak mengandung pembuluh darah, jaringan mukosa, dan
jaringan otot yang membentuk lipatan yang disebut kolumna rektalis. Di
bagian bawah terdapat vena rektalis (hemoroidalis superior dan inferior)
yang sering mengalami pelebaran atau varises, yang disebut wasir
(ambeien).
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan
rektum dengan dunia luar (udara luar) dan terletak di dasar pelvis.
Dinding anus diperkuat oleh tiga spinkter (otot cincin), yakni:
a) Spinkter ani internus (sebelah atas), bekerja tidak menurut kehendak.
21
c. Etiologi
Berikut beberapa di antaranya:
a) Shigella
(2) Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun.
(3) Dap at dihubungkan dengan kejang demam.
(4) Muntah yang tidak menonjol.y
(5) Sel polos dalam feses.
(6) Sel batang dalam darah.
b) Salmonella
(1) Menyerang semua umur, tetapi angka kejadian lebih tinggi pada
bayi dibawah umur 1 tahun.
(2) Menembus dinding usus,feses berdarah,dan mukoid.
(3) Mungkin ada peningkatan temperatur
(4) Muntah tidak menonjol
(7) Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.
22
menghasilkan entenoksin.
d) Compylobacter
(1) Sifatnya invasis ( feses yang berdarah dan bercampur mukus) ada
bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinis
yang lain.Kram abdomen yang hebat
(2) Muntah/dehidrasi jarang terjadi
(4) Diare selama 1-2 minggu
(5) Sering menyerupai usus buntu
2) Infeksi oleh virus
gejalanya sering didahului atau disertai dengan muntah
(2) Timbul sepanjang tahun, tatapi biasanya pada musim dingin
(3) Dapat disertai dengan demam atau muntah
(4) Didapatkan penurunan HCC
23
d) Netwalk
(2) Dapat sembuh sendiri(dalam 24-48 jam)
3) Infeksi Parasit
Strongylodies), protoza (Entamoeba bistolytic, Grandia lamblia,
Tricbomonas bominis), dan jamur (Candida albicans).
4) Penyebab yang lain
a) Diare juga bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan yang tidak
cocok, seperti sulih hormon tiroid, laksatif (obat-obatan untuk
mengatasi sembelit), antibiotik, asetaminofen, kemoterapi, dan obat
golongan antasida
usus
d) Bepergian ke negara endemis dengan sanitasi lingkungan dan
kebersihan air yang buruk
f) HIV positif atau ADIS
g) Perubahan kualisan udara
Penyebab gastroenteritis adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus
enteris, Norwalk), bakteri atau toksin (Campylobacter, Salmonella,
Escberibia Coli, Yersinia, dan lainnya), dan parasit (biardia lambai dan
cryptospodium). Beberapa mikroorganisme pathogen ini dapat menyebabkan
infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoskin atau sitotoskin yang dapat
menrusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis Akut.
Penularan Gastroenteritis Akut bisa melalui feal oral. Dalam beberapa
kasus, terjadinya penyebaran pathogen dikarenakan makanan dan minuman
yang terkontaminasi tinja, ekskresi yang buruk, makanan yang tidak matang,
bahkan makanan yang disajikan tanpa dimasak. Penularannya adalah
transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi, tangan yang terkontaminasi,
atau melalui aktivitas seksual.
Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agen) dan
faktor penjamu (host). Faktor penjamu adalah kemampuan pertahanan tubuh
terhadap mikroorganisme, yaitu faktor daya tahan tubuh, lingkungan, atau
lumen saluran cerna (seperti kesamaan lambung, motilitas lambung,
imunitas juga mencakup lingkungan mikrofrola usus). Faktor penyebab yang
mempengaruhi antara lain daya penetrasi yang merusak sel mukosa,
kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus,
serta daya lekat kuman.
(makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic
25
dalam rongga usus meningkat, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit
kedalam rongga usus, akibatnya isi rongga usus menjadi berlebihan
sehingga timbul diare). Selain itu, gangguan ini juga dapat menimbulkan
gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan
elektrolit meningkat, kemudian menjadi diare.
Gangguan motilitas usus dapat mengakibatkan hiperperistaltik dan
hipoperistaltik. Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya
kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare.
Sebaliknya, jika terjadi hipoperistaltik akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan, sehingga juga terjadi diare. Akibat dari diare itu sendiri adalah
kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan
asam basa (asidosis metabolic dan hypokalemia), gangguan gizi (intake
kurang, output berlebih), hipoglikemia, dan gangguan sirkulasi darah.
e. Manifestasi Klinis
yaitu:
2) Badan lemas
4) Anoreksia, mual, dan muntah
5) Berat badan turun
6) Selaput lendir pucat
8) Peristaltik usus meningkat
12) Peningkatan serum natrium
1) Diare Akut
Diare Akut adalah Diare yang serangannya tiba-tiba dan berlangsung
kurang dari 14 hari. Diare akut ini biasanya diakibatkan oleh infeksi dan
dapat diklasifikasikan secara klinis menjadi dua, yaitu diare
noninformasi dan diare inflamasi.
dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah.
b) Diare Inflamasi
penegluaran sitotoksin di kolon.
Diare kronis yang berlangsung lebih dari 14 hari. Mekanisme terjadinaya
diare akut maupun kronis dapat dibagi menjadi empat, yaitu diare
sekresi, osmotik, eskudat.
a) Diare Sekresi
27
Diare ini terjadi bila terdapat partikel yang tidak dapat diabsorbsi,
sehingga osmolaritas lumen meningkat dan air tertarik dari plasma
ke lumen usus.
c) Diare Eksudat
noninfeksi, seperti gluten sensitive enteropatby, inflamatory bowel
disase (IBD), atau akibat radiasi.
g. Komplikasi
1) Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik atau hipertonik).
2) Renjatan Hipovolemik.
bradikardia, perubahan elektrokardiogram).
5) Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defesiensi
enzim laktosa.
6) Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau
kronik).
yaitu:
28
2) Pemeriksaan tinja makroskopis, PH dan kadar gula jika diduga ada
intoleransi gula, biakan kuman untuk mencari kuman penyebab dan uji
resistensi terhadap berbagai antibiotik.
3) Pemeriksaan darah : darah perifer lengkap, analisis gas darah dan
elektrolit
4) Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal
ginjal
dan kualitatif terutama pada diare kronik.
i. Penatalaksanaan
Rehidrasi oral dilakukan pada semua pasien diare akut yang masih
mampu minum. Rehidrasi oral terdiri dari 3,5 g natrium klorida, 2,5 g
natrium bikarbonat, 1,5 g kalium klorida, dan 20g glukosa/liter. Air
cairan rehidrasi oral dapat dibuat sendiri oleh pasien dengan
menambahkan 1 /2 sendok teh garam,
1 /2 sendok teh baking soda, dan 2-4
sendok makan gula per liter air. Dua buah pisang atau satu cangkir jus
jeruk juga dapat diberikan untuk mengganti kalium. Selain itu, minum
cairan sebanyak mungkin atau berikan oralit.
2) Diatetik (pemberian obat)
pasien dengan tujuan meringankan, menyembuhkan, serta menjaga
kesehatan pasien. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tindakan ini
adalah tetap memberikan ASI dan memberikan bahan makanan yang
29
yang harus bersih.
antisekresi, obat antispasmolitik,dan obat antibiotik.
j. Pengobatan
Biasanya, satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan dari penyakit diare
adalah minum cairan yang cukup. Pada penderita yang muntah pun, harus
minum sedikit demi sedikit untuk mengatasi dehidrasi, yang selanjutnya bisa
membantu menghentikan muntahnya.Jika muntah berlangsung terus dan
terjadi dehidrasi berat, mungkin diperlukan infus cairan dan
elektrolit.Karena anak-anak lebih cepat terkena dehisrasi, mereka harus
diberi larutan garam dan gula.Cairan yang biasa diberikan selama ini (seperti
minuman bersoda, teh, minuman olahraga, dan sari buah) ternyata kurang
tepat bila diberikan kepada anak-anak yang sedang mengalami diare.
Bila muntahnya hebat, bisa diberikan suntikan atau supositoria (obat
yang dimasukkan melalui lubang dubur).Jika gejalanya membaik, penderita
secara bertahap bisa mendapatkan makanan lunak, seperti gandum, pisang,
bubur nasi, selai apel, dan roti panggang.Jika makanan tersebut tidak
menghentikan diare setelah 12-24 jam dan bila tidak terdapat darah pada
tinja, berarti ada infeksi bakteri yang serius, sehingga perlu diberikan obat-
obat seperti difenoksilat, loperamide, atau bismuth subsalisilat. Karena dapat
menyebabkan diare dan merangsang pertumbuhan organisme yang resisten
30
diketahui penyebabnya adalah bakteri.
Campylobacter, Shigella, dan Vibrio cholera.Saat seseorang menderita
Gastroenteritis Akut, yang terjadi di dalam perutnya adalah pengeluaran
cairan elektrolit yang berlebihan dari saluran pencernaan.Toksin dari bakteri
penyebab Gastroenteritis Akut merangsang peningkatan motilitas otot polos
pencernaan, yang akhirnya menyebabkan sekresi cairan semakin hebat.
Cairan elektrolit yang terdiri dari ion Na+, ion K+, dan lainnya diperlukan
dalam penyerapan glukosa oleh sel saluran pencernaan. Cairan ini akan
dibuang dalam bentuk feses cair yang sering disebut sebagai diare. Oleh
karena itu, terapi yang paling sederhana untuk mengobati Gastroenteritis
Akut adalah pemberian cairan elektrolit pengganti.
2. Konsep Dasar Keperawatan
ditemukan pada pasien gastroenteritis akut yaitu:
Pengkajian merupakan dasar utama proses perawatan yang akan
membantu dalam penentuan status kesehatan dan kebutuhan klien serta
merumuskan diagnosa keperawatan.
1) Identitas klien
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, umur, asal suku bangsa dan
pekerjaan orang tua.
2) Keluhan utama
Buang air besar (BAB) lebih 3 kali sehari, BAB < 4 kali dan cair (diare
tanpa dehidrasi), BAB 4-10 kali dan cair (dehidrasi ringan/sedang), atau
BAB > 10 kali (dehidrasi berat). Apabila diare berlangsung < 14 hari maka
diare tersebut adalah diare akut,sementara apabila berlangsung selama 14
hari atau lebih adalah diare peristen.
3) Riwayat penyakit sekarang :
a) Suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan kurang atau tidak ada
dan timbul diare.
c) Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi.
d) Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare,
e) Apabila klien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka
gejala dehidrasi mulai tampak.
f) Diuresis: terjadi oliguria (kurang 400 ml/kg bb/jam) bila terjadi
dehidrasi.
c) Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya.
5) Riwayat nutrisi :
a) Asupan makanan.
32
6) Pola eleminasi
b) Feses cair, mengandung lendir dan darah.
7) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
(3) Lesu, lunglai atau tidak sadar, tidak urine (dehidrasi berat).
b) Berat badan klien diare dengan dehidrasi biasanya mengalami
penurunan berat badan :
c) Kulit
turgor (cubit daerah perut menggunakan kedua ujung jari). Inspeksi
kulit perianal apakah terjadi iritasi.
d) Mulut/lidah
(2) Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan sampai sedang).
(3) Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat).
33
Nyeri Pengeluaran cairan
pada pasien gastroenteritis akut yaitu:
1) Diare berhubungan dengan inflamasi, iritasi dan malabsorpsi usus,
adanya toksin dan penyempitan segmental usus.
2) Kurang volume cairan berhubungan dengan output melalui rute normal
(diare berat, muntah), status hipermetabolik dan pemasukan cairan
terbatas.
gangguan absorpsi nutrient, status hipermetabolik.
4) Nyeri berhubungan dengan hiperperistaltik usus, diare lama, iritasi
kulit/jaringan.
adanya toksin dan penyempitan segmental usus.
N
O
Diagnosa
Keperawatan
2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output melalui rute
normal (diare berat, muntah), status hipermetabolik dan pemasukan
cairan terbatas
N O
Diagnosa Keperawatan
nadi, suhu
tubuh dalam
batas normal
volume cairan.
gangguan absorpsi nutrient, status hipermetabolik.
N
O
Diagnosa
Keperawatan
38
dari kebutuhan
kulit/jaringan.
NIC Pain Management
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi). 2. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamana 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4. Evaluasi pengalan nyeri masa lampau. 5. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan 6. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan. 7. Kurangi faktor presipitasi nyeri 8. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal).
40
e. Implementasi
dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun untuk masing-
masing masalah keperawatan.
perbaikan, perawat menemukan penyebab mengapa suatu proses keperawatn
dapat berhasil atau gagal.
masalah Asuhan Keperawatan pada Pasien yang Mengalami Gastroenteritis Akut
dengan masalah keperawatan Diare di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
B. Subyek Penelitian
masalah keperawatan Diare di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
C. Fokus Studi
sebagai berikut :
c. Pasien melaporkan defekasi lebih dari tiga kali.
d. Pasien melaporkan feses lembek.
e. Peningkatan peristaltik usus lebih dari 10x/menit.
2. Kriteria eksklusi ;
b. Mengalami perubahan diagnosa medis
c. Pasien tidak bersedia menjadi responden.
42
1. Gastroenteritis
usus halus, terjadi secara tiba-tiba dan sering mengakibatkan mual dan
muntah.
Diare adalah terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan
dikarnakan BAB lebih dari tiga kali, BAB dengan bentuk tinja yang encer atau
cair.
digunakan tekhnik:
1. Wawancara
2. Pemeriksaan Fisik
perkusi dan auskultasi.
tindakan pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan perkembangan pasien.
43
pemeriksaan pasien yang ada pada medical record.
G. Lokasi & Waktu Penelitian
Adapun alasan pemilihan lokasi adalah penelitian ini dilakukan di Rumah
Sakit Bhayangkara Makassar karena letaknya strategis dan dekat dengan
kampus Akademi Keperawatan Mappaoudang Makassar, dan lebih mudah
mendapatkan data di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal sampai april 2018 di Rumah Sakit
Bhayangkara Makassar.
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
1. Konsul judul Acc judul proposal


1. Analisa Data
membandingkan dengan teori yang ada dan selanjutnya dituangkan dalam
opini pembahasan. Teknik analisis yang digunakan dengan cara menarasikan
44
yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah. Teknik analisis digunakan
dengan cara observasi oleh peneliti dan studi dokumentasi yang menghasilkan
data untuk selanjutnya diinterpretasikan dan dibandingkan teori yang ada
sebagai bahan untuk memberikan rekomendasi dalam intervensi tersebut.
2. Penyajian Data
I. Etika Penelitian
Imform consent diberikan kepada responden. Setelah calon responden
memahami atas penjelasan peneliti terkait penelitian ini, selanjutnya peneliti
memberikan lembar informed consent untuk ditandatangani oleh responden.
2. Anonimity (tanpa nama)
3. Confidentiality (kerahasiaan informasi)
kerahasiannya oleh peneliti.
Rumah Sakit Bhayangkara Makassar merupakan salah satu rumah
sakit polri yang ada di Indonesia tepatnya di Kota Makassar Provinsi
Sulawesi Selatan. Letak Rumah Sakit ini disebelah Barat berbatasan dengan
Jalan Letjen Pol Mappaoudang No. 63 Makassar, Sebelah Utara Kampus
Akper Mappaoudang Makassar, Sebelah Timur Jalan Kumala dan Sebelah
Selatan Jalan Mallombassang.
umum (BLU) juga menjadi Rumah Sakit Rujukan Kawasan Indonesia
Timur, khususnya bagi anggota Polri dan keluarganya. Rumah Sakit
Bhayangkara memiliki 16 Ruang Perawatan yang salah satunya merupakan
ruang rawat inap yang berlantai 4 yaitu ruangan walet berada di lantai 4 yang
merupakan lokasi penelitian.
Ruangan Walet merupakan ruangan rawat inap yang memiliki 13
kamar yaitu 1 kamar VVIP, 2 kamar VIP, dan 10 kamar kelas 1. Keadaan
ruangan tersebut cukup bagus dimana situasi lingkungannya aman, nyaman
dan bersih serta memiliki pelayanan yang baik, ruangan walet dikenal sebagai
ruangan yang menangani kasus-kasus pasien dengan berbagai penyakit non
infeksius, seperti Gea, Struma, DHF, Post Op Fraktur.
2. Karakteristik Partisipan
a. Biodata Klien
Nama : Nn. “F”
Tanggal Pengkajian : 25 April 2019
b. Penanggung Jawab
3. Data Asuhan Keperawatan
Nyeri perut, BAB encer dan mual-muntah
(2) Faktor pencetus
(4) Timbulnya keluhan
b) Riwayat Keluhan Utama Pasien
Pasien mengatakan buang air besar (BAB) encer 5 kali sehari
dengan konsistensi encer di alami sejak 2 hari yang lalu
sebelum masuk Rumah Sakit, nyeri abdomen dengan skala 5
(sedang) disertai mual-muntah, dan keadaan umum pasien
lemah.
dengan konsistensi encer, pasien mengatakan nyeri abomen
dengan skala nyeri 5 (sedang). Pasien mengatakan mual-
muntah dan saat di palpasi terdapat nyeri tekan pada
abdomen, pasien tampak gelisah dan lemah.
? ?
(a) Pasien pernah masuk rumah sakit dengan kasus yang
sama.
(c) Tidak ada riwayat alergi terhadap obat-obatan dan
makanan.
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Meninggal
karena factor gerontik
d) Riwayat Psikososial
fisiologisnya terganggu pada saat sakit.
(2) Pola Kognitif
terganggu apabila klien merasa nyeri.
(3) Pola Koping
(4) Pola Interaksi
dan Tenaga Kesehatan lainnya.
keadaan sakit
kepada pasien supaya cepat sembuh.
f) Pemeriksaan Fisik :
Eye 4
Motorik 6
Verbal 5
(c) Ekspresi wajah
dengan nada bicara pelan
(2) Tanda-tanda Vital
cuping hidung,Penciuman baik
(c) Dada
kemampuan menelan baik tidak ada gangguan.
(b) Gaster
tidak ada benjolan.
abdomen, dan teraba nyeri tekan pada abdomen
Auskultasi : peristaltic meningkat 21x/menit
lecet pada anus
(6) Sistem Indra
(c) Telinga
pendengaran baik
Kesadaran : Compos mentis GCS=15 (E= 4, M=6,
V=5)
Nervus VIII
Pendengaran,keseimbangan baik
Nervus IX
Vertebra :Normal
Kuku : Pendek dan bersih
Tidak
(12) Sistem Reproduksi
(13) Sistem Imun
obat, dll).
1.
2.
3.
Baik
WC
pembuangan
2. Warna Kuning Kuning 3. Konsitensi Padat Encer 4. Frekuensi 1 x sehari 5-6 x sehari
4. Personal hygiene
a. Mandi
1. Cara Mandi sehari Mandi sendiri 2. Frekuensi 2x sehari 2x sehari b. Gosok gigi
1. Cara sendiri sendiri 2. Frekuensi 2x sehari 2x sehari c. Cuci rambut
1. Cara Sendiri sendiri 2. Frekuensi 1x sehari 1xsehari
5. Istirahat / tidur
6. Olahraga Zumba Tidak pernah
7. Aktivitas/mobilisas Beraktivitas Beraktivitas
Tabel 4.1
Aktivitas sehari-hari
Parameter Result Ref.range
HGB 12,8q/dl 12,0 - 18,0
HCT 38,7% 37,0 - 54,0
i) Terapi Saat Ini
(5) B 6 : 6 jam / 1 bungkus
2) Klasifikasi Data
memegang abdomen
ml/ 30tts/i

n tubuh
Anzim as laktat Stimulus sekresi getah lambung meningkat Kadar asam lambung meningkat
Mual, muntah
Frekuensi BAB meningkat
DS: Pasien mengeluh BAB encer, pasien mengatakan BAB dengan
frekuensi 5x dalam sehari dengan konsistensi encer, pasien
mengeluh nyeri abdomen
mandir dari WC, pasien tampak lemah, Pristaltik usus 21x/i
P : Nyeri
Q : Kram
R : Abdomen
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan distensi gaster , ditandai dengan
DS: Pasien mengatakan mual dan muntah, pasien mengatakan
kurang nafsu makan, pasien mengatakan tidak menghabiskan
makanannya
pasien tampak tidak menghabiskan porsi makanannya,Terpasang
infus RL 500 Ml/30 tts/i
3) Deficit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan iritan
lingkungan sekunder terhadap kelembapan, ditandai dengan
DO:
c. Terpasang infuse ( RL) 22 tpm
d. Turgor kulit menurun
Menurut Diyono & Mulyanti (2013), pengkajian pada pasien Gastroenteritis
Akut, ditemukan sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair, badan lemas,
dehidrasi: turgor kulit kering,kadang lidah pecah-pecah, mual dan muntah, berat
badan turun, perut nyeri dan tegang, peristaltik usus meningkat, anus kadang
lecet,demam.
Sedangkan yang ditemukan selama 2 hari supervisi pengkajian pada pasien
dengan Gastroenteritis Akut adalah klien mengatakan buang air besar 5 kali sehari
dengan konsistensi encer, peristaltik usus meningkat, pasien mengatakan nyeri
kram pada abdomen, pasien mengatakan kurang nafsu makan, pasien tampak
meringis, klien tampak lemas, dan pasien mengatakan mual dan muntah.
Dengan demikian terdapat kesenjangan antara teori dengan penelitian yaitu:
a. Data yang ditemukan dalam studi kasus tetapi tidak terdapat dalam konsep teori
adalah:
1) Kurang nafsu makan, peneliti menilai bahwa data ini ditemukan karena
selama 2 hari supervisi menunjukkan tanda-tanda malas makan, porsi
makan tidak dihabiskan, dan adanya penurunan berat badan sebanyak 2 kg.
2) Pasien tampak meringis, peneliti menilai bahwa data ini ditemukan karena
selama 2 hari supervisi menunjukkan raut wajah tampak meringis, serta
sambil memegang bagian abdomen.
67
3) Terpasang infus, peneliti menilai bahwa data ini ditemukan karena selama 2
hari supervisi tampak pasien terpasang infus RL 500 Ml/ 30 tts/ i.
b. Data yang tidak ditemukan dalam dalam studi kasus tetapi ditemukan dalam
konsep teori adalah:
1) Demam, penulis menilai bahwa data ini tidak ditemukan karena selama 2
hari supervisi tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan suhu tubuh di
atas 39 0 C, dan kulit klien tidak teraba panas.
2) Anus kadang lecet, penulis menilai bahwa data ini tidak ditemukan karena
selama 2 hari supervise tidak menunjukkan tanda-tanda yang menyatakan
secara verbal, tidak ada nyeri dan perih.
3) Diuresis: terjadi oliguria. Penulis menilai bahwa data ini tidak ditemukan
karena selama 2 hari supervise tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan
pada sistem urinase dalam memproduksi urine.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Ardiansyah M (2012), ada 4 diagnosa keperawatan yang muncul
pada psien dengan gangguan system pencernaan: Gastroenteritis Akut yaitu Diare
berhubungan dengan inflamasi, iritasi dan malabsorsi usus, adanya toksin dan
penyempitan segmental usus, Kurang volume cairan berhubungan dengan output
melalui rute normal (diare berat, muntah) status hipermetabolik dan pemasukan
cairan terbatas, mual , status hipermetabolik, Nyeri berhubungan dengan
hiperperistaltik usus, diare lama, iritasi kulit atau jaringan.
68
Sedangkan dari hasil analisa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada Nn
F adapun diagnosa keperawatan yaitu Diare berhubungan dengan hiperistaltik
usus, ketidaksimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
distensi gaster, defisit kekurangan volume cairan berhubungan output melalui rute
normal (diare berat, muntah) .
Dengan demikian terdapat kesenjangan antara konsep teori dan studi kasus yaitu:
a. Diagnosa yang ditemukan dalam studi kasus tetapi tidak terdapat dalam konsep
teori adalah:
diagnosa ini ditegakkan di kasus karena terdapat data-data yang mendukung
mengenai diagnosa ini, dimana pasien merasa mual, pasien tampak lemah,
dan tidak ada nafsu makan.
b. Diagnosa yang tidak ditemukan dalam studi kasus tetapi terdapat dalam konsep
teori adalah :
1) Risiko kerusakan intergritas kulit. penulis menilai diagnosa ini tidak
ditegakkan di kasus karena klien tidak menunjukkan akan adanya terjadi
lesi/lecet pada anus dan daerah sekitarnya karena sering defekasi.
3) Nyeri. Peneliti menilai diagnosa ini tidak ditegakkan di kasus karena nyeri
yang terjadi pada pasien sudah termasuk dalam manifestasi dari diagnosa
69
untuk diare, karna proses tetrjadinya diare itu bisa menyebabkan nyeri pada
daerah abdomen atau daerah perut.
3. Perencanaan
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada Nn F yang mengalami
Gastroenteritis Akut dengan masalah keperawatan Diare di Rumah Sakit
Bhayangkara Makassar yaitu sebagai berikut:
a. Diare berhubungan dengan hiperistaltik usus. Adapun intervensi
keperawatan yang ditetapkan oleh penulis antara lain: Kaji frekuensi,
warna, konsistensi feses, Hindari makanan yang pedas karena dapat
menimbulkan gas dalam perut, Anjurkan pasien cara penggunaan obat anti
diare secara tepat, Ajarkan klien teknik non farmakologi
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhab tubuh berhubungan
dengan distensi gaster. Adapun intervensi keperawatan yang ditemukan
oleh penulis antara lain: Observasi status hidrasi (kelembaban membrane
mukosa, vital sign adekuat), Anjurkan makan sedikit tapi sering,
Instruksikan untuk menghindari bau makanan yang menyengat
c. Defisit kekurangan volume cairan berhubungan output melalui rute normal
(diare berat, muntah). Adapun intervensi keperawatan yang ditemukan oleh
penulis anatara lain: Anjurkan klien untuk sering minum, Monitor tanda
70
selanjutnya
selama 2 hari supervisi oleh penulis antara lain: klien kooperatif,
lengkapnya alat pemeriksaan fisik, serta pengawasan selama penulis
melakukan Asuhan Keperawatan. Sedangkan faktor penghambat dalam
menerapkan intervensi keperawatan oleh penulis adalah terbatasnya waktu
yang diberikan bersama klien .
Tindakan Keperawatan yang ada pada teori. Adapun Implementasi
Keperawatan yang diberikan kepada Nn F adalah:
a. Diare berhubungan dengan hiperistaltik usus. Adapun intervensi
keperawatan yang diimplementasikan pada hari pertama adalah: Mengkaji
frekuensi, warna, konsistensi feses, Menghindari makanan yang pedas
karena dapat menimbulkan gas dalam perut, Menganjurkan pasien cara
penggunaan obat anti diare secara tepat, Mengjarkan klien teknik non
farmakologi. Intervensi keperawatan yang di implementasikan pada hari
kedua adalah: Mengkaji frekuensi, warna, konsistensi feses, Menghindari
makanan yang pedas karena dapat menimbulkan gas dalam perut,
71
Mengjarkan klien teknik non farmakologi.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual,muntah distensi gaster. Adapun intervensi keperawatan yang
diimplentasikan pada hari pertama adalah: Mengobservasi status hidrasi
(kelembaban membrane mukosa, vital sign adekuat), Menganjurkan
makan sedikit tapi sering, Menginstruksikan untuk menghindari bau
makanan yang menyengat. Kemudian intervensi keperawatan yang
diimplementasikan pada hari kedua adalah: Mengobservasi status hidrasi
(kelembaban membrane mukosa, vital sign adekuat), Menganjurkan makan
sedikit tapi sering, Menginstruksikan untuk menghindari bau makanan
yang menyengat
c. Deficit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan output melalui
rute normal (diare berat, muntah). Adapun intervensi keperawatan yang
diimplemntasikan pada hari pertama adalah: Menganjurkan pasien untuk
sering minum, Memonitor tanda dan gejala kekurangan cairan , kolaborasi
dengan dokter untuk terapi selanjutnya.Kemudian intervensi keperawatan
yang diimplementasikan pada hari kedua adalah: Menganjurkan pasien
untuk sering minum, memonitor tanda dan gejala kekurangan cairan.
Adapun faktor pendukung dalam Implementasi Keperawatan selama 2 hari
supervisi oleh penulis antara lain: Pasien kooperatif, dan pengawasan selama
penulis melakukan Asuhan Keperawatan. Sedangkan faktor penghambatan
72
waktu yang diberikan bersama pasien.
5. Evaluasi
Setelah penulis melakukan Implementasi Keperawatan yang disesuaikan
dengan kondisi dan kebutuhan perawatan pada Nn F saat dirawat di Rumah
Sakit Bhayangkar Makassar dengan diagnosa Gastroenteritis akut, maka
diperoleh Evaluasi Keperawatan, masalah keperawatan yang teratasi yaitu:
a. Diare berhubungan dengan hiperistaltik usus. Penulis menilai diagnosa ini
teratasi karna pasien tidak menunjukkan adanya buang air besar dengan
konsistensi encer, nyeri kram pada abdomen, dan hiperistaltik usus.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual,muntah distensi gaster. Penulis menilai diagnosa ini teratasi
karna pasien tidak menunjukkan adanya penurunan kesehatan dan lemah.
c. Deficit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan output melalui
rute normal (diare berat, muntah). Penulis menilai diagnosa ini teratasi
karna klien tidak tampak pucat dan bibir terlihat lembab.
61
1 Diare berhubungan
dengan hiperistaltik usus
dari mual
b. Mengidentifikasi
hal-hal yang
mengurangi mual
menghindari bau
makanan yang
gejala kekurangan
2019)
2019)
warna dan
konsistensi feses
dan konsistensi
status hidrasi
dan gejala
kekuranagan cairan
Tabel 4.6 Implementasi Keperawatan
2018)
2018)
BAB encer
mual muntah
sehari dengan
konsistensi encer
dengan konsistensi
A. Kesimpulan
1. Terdapat kesenjangan antara konsep teori dan praktek yang ditemukan pada data
pasien Gastroenteritis akut. Pada konsep teori data yang tidak ditemukan dalam
studi kasus adalah demam, dan anus kadang lecet,diuresis. Sedangkan data yang
ditemukan dalam studi kasus tidak terdapat dalam teori adalah kurang nafsu
makan, pasien tampak meringis, terpasang infus.
2. Terdapat kesenjangan antara konsep teori dan praktek yang ditemukan pada
diagnosa keperawatan pasien Gastroenteritis akut. Pada Diagnosa Keperawatan
terdapat 4 diagnosa yang ditemukan dalam teori yaitu: Diare, Kurang volume
cairan, iritasi kulit atau jaringan, dan Nyeri. Sedangkan pada studi kasus
ditemukan 3 Diagnosa Keperawatan yaitu: Diare, ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh , dan defisit kekurangan volume cairan .
3. Dalam melaksanakan rencana keperawatan pada Nn.”F” dengan gangguan sistem
pencernaan: Gastroenteritis Akut mengacuh pada teori dan Masalah Keperawatan
yang muncul untuk mengurangi dan mencegah masalah pada klien dengan
memperhatikan kondisi klien.
4. Pelaksanaan Rencana Keperawatan pada Nn “F” dengan gangguan Sistem
Pencernaan. Gastroenteritis Akut mengacu pada perencanaan dengan berpedoman
pada teori dan tetap mempertahankan kondisi klien, fasilitas yang ada dan
kebijakan rumah sakit.
74
5. Setelah dilakukan Evaluasi Keperawatan yang ditemukan pada kasus Nn “F”
dengan gangguan Sistem Pencernaan: Gastroenteritis Akut dapat teratasi dan
didefinisikan adanya kesenjangan antara Teori dan Studi kasus.
B. SARAN
memperhatikan konsep manusia sebagai mahkluk yang unik, yang mempunyai
kebutuhan biologis, psikologis, dan social cultural, untuk itu petugas kesehatan
dalam melaksanakan tugas tidak hanya mementingkan kesembuhan klien tetapi
juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan klien selama di rawat di Rumah Sakit
Bhayangkara Makassar.
2. Diharapkan kepada Rumah Sakit/Staf dalam mendignosa hasil pengkajin harus
betul-betul berpedoman pada data yang didapatkan agar Asuhan Keperawatan
yang diberikan sesuai dengan kondisi klien.
3. Diharapkan kepada pasien dan keluarga dalam Asuhan Keperawatan yang
diberikan kepada pasien harus sesuai dengan Diagnosa dan perencanaan yang
muncul melalui data yang diperoleh dari pengkajian.
4. Diharapkan kepada Institusi /pendidikan dalam melakukan pengkajian
keperawatan, ada baiknya melakukan pendekatan interpersonal terlebih dahulu
dengan pasien sehingga proses keperawatan, pengkajian, dapat berjalan sesuai
tujuan yang diharapkan.
5. Diharapkan kepada peneliti untuk mencapai hasil yang diharapkan, maka dalam
menyusun kriteria tujuan harus dibuat spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, dan
harus memperhitungkan waktu sehinggsa hasil evaluasi dapat dengan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Press.
Tadulako.
Perawat Profesional jilid 2. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Diyono & Mulyanti, 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Sistem
Pencernaan. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Fadila, 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.
Haryono, 2012. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta:
Gosyen Publishing.
2015-2017 Edisi 10. Jakarta : EGC
Hestifariyanti, 2014. Anatomi Fisiologi Usus Halus. Diakses 25 January 2019
https://keluargalatifah.wordpress.com/2014/10/02/anatomi-fisiologi-
usus-halus/.
Acute Berdasarkan Dokumen Rekam Medis di R umah Sakit Balung
Jember. Surabaya: Politeknik Negeri Jember.
Kementerian Kesehatan RI, 2018. Data Dan Informasi Profil Kesehatan
Indonesia 2017.Jakarta:file:///C:/Users/LENOVO/Downloads/Data-dan
Mubarak dkk, 2015. Standar Asuhan Keperawatan dan Prosedur Tetap dalam
Praktik Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nurarif & Kusuma, 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1. Yogyakarta: Mediaction.
Rudi Haryono, 2012. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan.
Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Sari Pediatri, 2018. Prevalensi Gangguan Elektrolit Serum Pada Pasien Diare
Dengan Dehidrasi Usia Kurang Dari Lima Tahun Di RSUP
Dr.Sardjito Tahun2013–2016https://saripediatri.org/index.php/sari
Gastroentestinal. Jakarta: Trans Info Media.
Utami & Wulandari, 2015. Studi Kasus: Asuhan Keperawatan Pada Anak
Gastroenteritis Dehidrasi Sedang. Semarang: Poltekkes Bhakti Mulia
Sukoharjo.
Medika.
Wilkinson & Ahren, 2014. Buku Saku Diagnosis Kepeawatan Edisi 9. Jakarta:
EGC.
MENGALAMI GASTROENTERITIS AKUT DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
DEHIDRASI’’ yang akan dilakukan oleh mahasiswa DIII Keperawatan AkperMappa Oudang
Makassar.
Alamat : Btn aura Blok I 5 No.14
Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak akan berdampak negatif bagi saya dan segala informasi
yang saya berikan dijamin kerahasiannya.
Saya memahami bahwa hasil penelitian ini akan menjadi bahan masukan untuk meningkatkan
Pelayanan Kesehatan secara Intensif dan meningkatkan Intervensi Keperawatan pada klien
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN YANG MENGALAMI GASTROENTERITIS
AKUT DENGAN MASALAH KEPERAWATAN DEHIDRASI”, karena itu jawaban yang saya
berikan adalah yang sebenarrnya.
Berdasarkan semua penjelasan di atas maka dengan ini saya menyatakan secara sukarela
bersedia menjadi Responden dan berpartisipasi aktif dalam penelitian ini.
Makassar,29 Januari 2019