Kindo-1. Wasiat Di Puri Elang 2016. 1. 23.آ  WASIAT Dl PURI ELANG Karya : Bastian Tito Cetakan...

download Kindo-1. Wasiat Di Puri Elang 2016. 1. 23.آ  WASIAT Dl PURI ELANG Karya : Bastian Tito Cetakan pertama

of 68

  • date post

    21-Nov-2020
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Kindo-1. Wasiat Di Puri Elang 2016. 1. 23.آ  WASIAT Dl PURI ELANG Karya : Bastian Tito Cetakan...

  • WASIAT Dl PURI ELANG

    Karya : Bastian Tito Cetakan pertama : 1992

    Hak cipta dan Copy right pada pengarang

    di bawah lindungan undang-undang.

    Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel

    Convert : Abu Keisel

    Editor : Fujidenkikagawa Ebook oleh : Dewi KZ

    http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/

    NYANYIAN KINDO

    AKU SATRIA MUDA PERKASA SIAP MENGARUNGI BAHAYA

    TABAH DALAM SEGALA DERITA IMAN DALAM SEGALA SENGSARA

    AKU PENDEKAR MUDA PERKASA TIADA HARI TANPATANTANGAN

    BERKELANA MEMBELA KEBENARAN SIAP TEGAKKAN KEADILAN

    http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/

  • SEBATANG KARA

    ANAK lelaki itu duduk di tangga kayu rumah tua. Dua tangannya ditopangkan ke dagu. Wajahnya murung. Pakaian lusuh dan rambut kusut. Dekat kakinya ada sebuah buntalan. Angin pagi bertiup sejuk membuat sepasang matanya terpej am-pejam. Sebelum kantuk menguasai dirinya anak ini cepat membuka kedua matanya lebar-lebar. Saat itu dia melihat di depannya ada seorang anak perempuan mendatangi sambil bernyanyi- nyanyi.

    Sampai di hadapan anak lelaki yang duduk di tangga kayu, anak perempuan tadi hentikan nyanyiannya. Dia menatap sesaat lalu menyapa.

    "Kindo. Wajahmu kulihat muram...." "Kanti.... Ah, kau rupanya. Aku memang lagi sedih nih. Kau tentu

    sudah mendengar kabar. Pamanku, satu-satunya tempat gantungan hidup tewas dicabik-cabik harimau di hutan..."

    "Aku turut bersedih Kindo," kata Kanti. "Kini aku bingung. Tak punya orangtua, tak punya Paman...." "Aku juga yatim piatu Kindo. Nasib kita sama." Kindo menggeleng. Kedua tangannya masih saja menopang dagu.

    "Aku kini sebatang kara. Kau masih punya Bibi. Kurasa apa gunanya aku tinggal lebih lama di desa ini."

    Kanti memandang pada buntalan dekat kaki Kindo. "Jadi kau mau pergi? Mau meninggalkan desa?" Suara anak

    perempuan ini tersendat. "Kau mau pergi ke mana Kindo?" "Dulu Paman pernah berwasiat. Sepertinya beliau punya firasat.

    Katanya, kalau terjadi apa-apa dengan dirinya aku harus meninggalkan desa. Pergi ke Puri Elang di puncak bukit Mega Biru."

    Kanti duduk di anak tangga paling bawah. Menatap pada Kindo yang duduk satu tangga di atasnya.

    "Puri Elang. Bukit Mega Biru..." ucap Kanti perlahan. "Aku pernah dengar nama itu. Letaknya jauh. Perjalanan ke sana sukar. Itu tempat angker yang tidak pernah didatangi manusia. Dan kau mau ke sana! Jangan pergi Kindo!"

    Kindo tak segera menjawab. Perlahan-lahan diturunkan kedua tangannya. "Sesuai wasiat Paman aku harus ke sana. Di sana aku bakal bertemu dengan seseorang yang akan memberi ilmu kepandaian..."

    "Ilmu kepandaian apa?" tanya Kanti. "Ilmu silat. Kata Paman ilmu yang kumiliki masih sangat rendah.

    Jika aku ingin jadi anak laki-laki, jadi seorang satria, jadi seorang pendekar,

  • aku musti pergi ke sana. Aku mempunyai bakat yang orang lain tidak memiliki."

    "Aku tidak mengerti semua ucapanmu ini Kindo. Tapi siapa sih orang yang bakal kau temui itu?"

    "Aku sendiri tidak tahu siapa orangnya. Paman tidak menyebut nama atau apa.... Ciri-cirinya juga tidak. Apa tinggi, bundar, lonjong, atau empat persegi."

    Kanti tersenyum tetapi jelas wajahnya gundah. "Kau ini yang bukan-bukan saja. Mana ada manusia berbentuk empat persegi." Setelah menarik nafas dal am anak perempuan ini melanjutkan.

    "Kalau kau pergi, aku harus ikut." Kindo terkejut dan berdiri. "Tidak mungkin Kanti. Tidak bisa!" "Mengapa tidak mungkin? Kenapa tidak bisa?! Bukankah kita

    berteman?" "Pokoknya tidak bisa!" kata Kindo pula. Paras anak perempuan itu menjadi redup. Saat itu sebuah pedati

    ditarik dua ekor sapi berhenti di depan rumah, kakek Purwo pemegang tali kendali melambaikan tangannya. "Cah bagus! Apakah kau sudah siap melakukan perjal anan gilamu?!"

    "Saya sudah siap Kek. Saya kira kau tidak bakal datang. Saya sudah lama menunggu!"

    "Tapi aku tidak mau berlaku segilamu. Aku tidak akan mengantarmu sampai ke puncak bukit Mega Biru!"

    "Terserah. Kau mau mengantarkan sampai di mana! Saya tetap akan berterima kasih!" kat a Kindo. Lalu ia berpaling pada anak perempuan itu. "Kanti, aku pergi sekarang. Selamat tinggal..."

    "Selamat jalan Kindo," balas Kanti menahan sesenggukan. Kindo melompat ke atas pedati. "Kindo! Buntalanmu ketinggalan!”seru Kanti. "Astaga! Tolong lemparkan!" Kanti melemparkan buntal an itu ke atas pedati. Kindo

    melambaikan tangannya. Pedati mulai bergerak. Air mata merebak jatuh di pipi Kanti. Dalam hatinya anak perempuan ini merat ap. "Aku kehilangan teman bermain. Aku kehilangan teman berbagi suka dan duka.... Kindo, nasibmu mungkin buruk. Tapi rasanya aku tidak lebih baik...."

  • HAMPIR DISANTAP RAJA HUTAN

    PEDATI berhenti di tepi hutan jati. Kakek yang memegang tali kekang dua sapi penarik pedati berpaling pada Kindo. Anak ini baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Sambil menguap dia memandang berkeliling.

    "Kek, kenapa berhenti?" "Aku hanya sanggup mengantarmu sampai di sini. Sebentar lagi

    matahari akan

    tenggelam. Aku tidak mau kemalaman sampai di tujuan..." Kindo tersenyum. "Bilang saja yang sebetulnya Kek. Kau takut dekat-dekat bukit

    Mega Biru, bukan?"

  • "Ssttt... Jangan sebut itu. Dengar, aku kenal Ayahmu. Dia orang berilmu dan pemberani. Sayang dia mati muda. Aku juga kenal Pamanmu. Sama hebatnya dengan Ayahmu. Ternyata kau mewarisi keberanian mereka. Aku, kakek-kakek rongsokan ini biar jadi manusia penakut saja...."

    Kindo menguap lagi. Lalu mengambil buntalannya. "Kek, arah mana yang harus saya tempuh?" "Bukit itu terletak di balik hutan ini. Berarti untuk mencapainya

    kau harus menembus hutan…" "Wah, malam-malam masik hutan bisa berabe. Mending kalau

    tidak ada binatang buas, ular berbisa. Mungkin juga ada setannya! Uh...!" "Katamu kau mau jadi satria muda. Pendekar muda. Belum apa-

    apa sudah takut sama binatang buas dan setan! Mana keberanian warisan Ayah dan Pamanmu!” Si kakek ganti menyindir.

    "Ah! Siapa yang takut!” kata Kindo jadi bersemangat mendengar ejekan si kakek. Cepat-cepat dia melompat turun. "Kek Purwo!” seru Kindo. Tapi si kakek tidak menyahuti ataupun menoleh. Dia cepat-cepat membedal sapi-sapi penarik pedati.

    Makin jauh masuk ke dalam hutan makin gelap keadaannya. Berbagai suara binatang malam masuk ke telinga Kindo. Sesekali ada suara seperti anjing menyalak. Lalu seolah-olah ada harimau mengaum di kejauhan. Nyamuk mendesing di sekelilingnya. Mengikuti ke mana dia pergi. Di satu tempat Kindo hentikan langkahnya. Dia mendekap buntalannya di depan dada. Lapat-l apat dia mendengar suara ai r mengucur. Anak ini meneruskan langkahnya. Kini dia berjalan ke arah suara air.

    Tak selang berapa lama, Kindo sampai di sebuah telaga kecil. Demikian beningnya air t elaga ini sehingga meskipun gelap Kindo masih bisa melihat dasar tel aga yang dangkal, dipenuhi batu-batu. Di salah satu bagian telaga ada susunan batu membentuk dinding tinggi. Dari dinding ini ada ai r mengalir masuk ke dalam telaga. Kucuran air inilah yang terdengar di kejauhan tadi.

    "Airnya jernih. Pasti sejuk. Aku minum dulu ah! Lalu cuci muka sepuasku!" kata Kindo. Buntalannya diletakkan di atas sebuah batu. Lalu dia membungkuk di tepi telaga. Dengan kedua tangan disenduknya air telaga dan diminumnya. Puas minum anak ini membasahi mukanya dengan air yang sejuk itu. Tiba-tiba telinganya menangkap suara gemerisik di sebelah depan. Kindo mengangkat kepala. Semak belukar di seberang sana

  • bergerak-gerak. Lalu ada dua buah nyala kuning menyeruak di antara semak belukar yang terkuak.

    Jantung Kindo seperti mau copot. "Harimau..." desis anak ini. "Pasti harimau...." Secepat kilat Kindo melompat. Di seberang telaga terdengar suara mengaum. Tanah yang dipijak terasa bergetar. Kindo memandang berkeliling. Mencari tempat untuk lari. Tidak, aku tidak mungkin lari. Binatang ini pasti dapat mengejarku! Aku harus bersembunyi. Tapi di mana..."

    Auman binatang buas di seberang tel aga kembali menggelegar. "Aduh, aku seperti mau kencing!” Kindo memandang berkeliling sekali lagi. Ada sebatang pohon. Tidak terlalu besar, juga tidak terlalu tinggi dan banyak cabang-cabangnya.

    "Mudah-mudahan saja binatang itu tidak bisa memanjat!" kata Kindo dalam hati. Lalu secepat yang bisa dilakukannya dia naik ke atas pohon. Dalam hal panjat memanjat anak ini memang sudah jadi juara sejak kecil. Sebentar saj a dia sudah lenyap di balik kel ebatan cabang-cabang berdaun lebat. Memandang ke bawah jantungnya berdebar keras. Seekor harimau kuning berbelang hitam muncul di kaki pohon. Binatang ini mendongak ke atas. Lalu kedua kakinya menggapai -gapai seperti hendak memanjat. Pohon bergoyang keras. Kulit pohon hancur berkeping-keping.

    Di atas pohon Kindo menjepit kedua pahanya satu sama lain agar tidak terkencing-kencing.

    Dalam keadaan seperti itu suara hatinya berkata. "Takut sih boleh- boleh saja. Mengapa tidak pergunakan kesempatan ini untuk menjajal ilmu melempar yang diaj arkan Paman. Bukan mustahil binatang ini yang menerkam dan menewaskan Paman. Saatnya membalas dendam!”

    Walau hatinya berkata begitu namun Kindo belum berbuat apa- apa. Dia tidak punya benda apa lagi senjata untuk dilempar pada harimau di bawah pohon. Dalam gelap tiba-tiba dia melihat dan untuk pert ama kalinya menyadari. Pohon tempat dia bersembunyi itu memiliki banyak buah berwarna hitam, berkulit tebal keras. Berbentuk lonjong dan runcing ujungnya.

    Cepat Kindo memetik sepuluh buah sekaligus. "Arah bagian yang lemah! Arah kedua matanya!"

    Kindo menggerakkan tangan kanannya. Buah pertama meles