Lap Daphnia

download Lap Daphnia

of 26

  • date post

    10-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    807
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Lap Daphnia

LAPORAN PRAKTIKUM FISWANPENGARUH SUHU TERHADAP DENYUT JANTUNG Daphnia

Disusun Oleh : 1. Astrini Widyanita (083204011) 2. Dessy Ratna D.K (083204034) 3. Nungki Lukitasari (083204203) 4. Charisma Endrawati (083204206) 5. Nararia Wildani W (083204218) Pendidikan Biologi 2008

JURUSAN BIOLOGIFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Crustacea mempunyai anggota seperti udang, teritip, lobster dan lainlain. Habitat Crustacea meliputi air tawar, air laut, dan air payau. Beberapa larva dan beberapa spesies anggota kelas ini bersifat meliang (tinggal di dalam liang), sedangkan yang lain bersifat pelagik, bahkan ada yang menghuni laut dalam. Sebagian besar hidup bebas dan ada yang hidup dalam kelompok-kelompok besar. Adapun contoh dari anggota Crustacea adalah Daphnia. Daphnia adalah salah satu spesies dari Crustacea berupa plankton. Hewan ini hidup di air tawar dan mudah ditemukan di kolam. Tubuhnya transparan dan tidak berwarna., apabila air sebagai tempat hidupnya teraerasi dengan baik. Alat gerak utamanya adalah antenna yang mengatur gerakan gerakan ke atas dank e bawah. Daphnia selalu ditemukan di tempat hidupnya dengan posisi kepala di atas. Jantung Daphnia merupakan struktur globular kecil di bagian anterodorsal badan. Kecepatan denyut jantungnya dipengaruhi beberapa factor, antara lain suhu lingkungan. Suhu mempengaruhi proses fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Penaikan maupun penurunan tersebut dapat mencapai 2 kali aktivitas normal. Perubahan aktivitas akibat pengaruh suhu dirumuskan sebagai berikut :

Aktivitas akan naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada titik di mana terjadi kerusakan jaringan, kemudian diikuti aktifitas yang menurun dan akhirnya terjadi kematian. Pada suhu sekitar 100C di bawah atau di atas suhu normal suatu jasad hidup dapat mengakibatkan penurunan atau kenaikan aktivitas jasad hidup tersebut menjadi kurang lebih dua kali pada suhu normalnya. Sedangkan perubahan suhu yang tiba-tiba akan mengakibatkan terjadinya kejutan atau shock yang biasanya dikaitkan dengan koefisien aktivitas (Q), perbandingan suatu aktivitas yang disebabkan oleh kenaikan suhu 100C atau dinyatakan dengan rumus: A(t + 10)C A(t ) Q10 =

B. Rumusan masalah a.Berapa frekuensi denyut jantung dan pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia sp? C. Tujuan percobaan a.Mengetahui cara mengukur frekuensi denyut jantung Daphnia sp. b.Mengidentifikasi frekuensi denyut jantung dan pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia sp.

BAB II DASAR TEORI 1. Suhu Tubuh Hewan Suhu merupakan salah satu faktor pembatas penyebaran hewan dan selanjutnya menentukan aktivitas hewan. Rentangan suhu lingkungan di bumi jauh lebih besar dibandingkan dengan rentangan penyebaran aktivitas hidupnya. Secara umum aktivitas kehidupan terjadi antara rentangan sekitar 00C-400C. kebanyakan hewan hidup dalam rentangan suhu yang lebih sempit. Banyak hewan yang suhu tubuhnya disesuaikan dengan suhu lingkungan, dan kelompok hewan ini disebut hewan berdarah dingin atau poikilotermik. Menghadapi fluktuasi suhu, hewan ini melakukan konformitas suhu, suhu tubuhnya berfluktuasi sesuai dengan suhu lingkungan. Laju kehilangan panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi daripada laju produksi panas, sehingga tubuhnya lebih ditentukan oleh suhu lingkungan eksternalnya daripada suhu metabolisme internalnya. harfiahnya suhu luar). Lebih sedikit hewan mempertahankan suhu tubuhnya, kelompok hewan ini disebut hewan berdarah panas atau homeotermik. Menghadapi suhu lingkungan, hewan ini melakukan regulasi suhu , suhu tubuhnya konstan walaupun suhu lingkungan berfluktuasi. Kehilangan panas lebih sedikit dibandingkan dengan laju produksi panas internalnya, sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh produksi internalnya. Dalam keadaan demikian, hewan homeotermik disebut Dilihat dari ketergantungannya terhadap suhu lingkungan, hewan poikilotermik disebut juga sebagai hewan ektotermik (arti

hewan endotermik (suhu dalam). Grafik suhu tubuh dan suhu lingkungan pada hewan poikilotermik dapat ditunjukkan dengan grafik dibawah ini:

Gambar anatomi Daphnia sp.dhgt251685888fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fHidde n0fLayoutInCell1

Gambar Daphnia sp.

dhgt251686912fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fHidde n0fLayoutInCell1

Suhu Lingkungan (0C)

Suhu Tubuh

Suhu tubuh, endoterm atau eksoterm, tergantung pada jumlah panas (kalori) per unit massa jaringan. Jaringan terdiri terutama atas, sehingga kapasitas panas jaringan antara 00 C-400 C kira-kira 1,0 kalori per 0C per gram. Ini berarti bahwa makin luas hewan, makin besar panas tubuh menentukan suhu hewan. Kecepatan perubahan panas tubuh tergantung pada (1) kecepatan produksi panas melalui aktivitas metabolik, (2) kecepatan penambahan panas atau (3) kecepatan kehilangan panas ke lingkungan. Sehingga dapat dikatakan bahwa: Panas tubuh = Produksi Panas + Penambahan Panas- Kehilangan panas = Panas yang diproduksi + Perpindahan Panas Jadi panas tubuh, dan selanjutnya suhu tubuh seekor hewan, dapat diregulasi dengan mengubah kecepatan produksi panas dan perpindahan panas. a. Produksi Panas Mekanisme yang mempengaruhi kecepatan produksi panas tubuh dapat diklasifikasikan menjadi: (1) mekanisme tingkah laku, seperti latihan ringan (pemanasan); (2) mekanisme otonomik seperti mempercepat metabolisme simpanan energi, (3) mekanisme adaptif atau aklimatisasi, yang lebih lamban daripada dua proses yang lain yaitu memproduksi penambahan panas pada metabolisme basal. a. Transfer Panas Kecepatan transfer panas (kalori per jam) ke dalam atau keluar tubuh tergantung pada tiga faktor: 1. Luas Permukaan. Makin kecil hewan maka makin tinggi aliran panas per unit berat tubuh. 2. Perbedaan suhu. Makin dekat seekor hewan memelihara suhu tubuhnya ke suhu lingkungan, makin sedikit panas akan mengalir ke dalam atau keluar tubuhnya. 3. Konduktansi panas spesifik permukaan tubuh hewan. Permukaan jaringan poikilotermik memiliki kondutansi panas yang tinggi,

sehingga hewan ini memiliki suhu tubuh mendekati suhu lingkungan (kecuali apabila hewan berjemur di panas matahari). 2. Pengaruh Perubahan Suhu Perubahan suhu memiliki pengaruh besar terhadap berbagai proses fisiologis. Dalam batas tertentu, peningkatan suhu akan mempercepat banyak proses fisiologis. Misalnya pengaruh suhu terhadap kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen. Dalam batas-batas toleransi hewan, kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen akan meningkatknya suhu lingkungan. Suatu metode untuk menghitung pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi adalah perkiraan Q10 yaitu peningkatan kecepatan proses yang disebabkan oleh peningkatan suhu 100 C. Secara umum peningkatan suhu tubuh hewan 100 C, menyebabkan kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen antara harga 1 dan 2, dan sebaliknya bila suhu tubuh diturunkan 100 C, maka kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen akan turun menjadi setengahnya. Bila kecepatan 2 kali, maka Q10= 2, bila kecepatannya 3 kali, maka Q10=3 dan seterusnya. Istilah ini bukan hanya konsumsi oksigen saja, tetapi untuk semua proses yang dipengaruhi oleh suhu. 3. Mekanisme pengaturan suhu Kulit > Reseptor ferifer > hipotalamus (posterior dan anterior) > Preoptika hypotalamus > Nervus eferent > kehilangan/pembentukan panas Dalam pengaturan suhu tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang ke lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. 1. Penguapan (evaporasi) Evaporasi proses kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam bentuk gas. Penguapan dari tubuh merupakan salah satu jalan melepaskan panas. Walau tidak berkeringat, melalui kulit selalu ada air berdifusi sehingga penguapan dari permukaan tubuh kita selalu terjadi disebut inspiration perspiration (berkeringat tidak terasa) atau biasa disebut IWL (insensible water loss). Inspiration perspiration melepaskan panas + 10 kcal/jam dari permukaan panas dari metabolism kulit. Dari jalan pernafasan +

7 kcal/jam dikeluarkan dengan cara evaporasi 20 - 25%. 2. Radiasi

Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak langsung. Bila suhu disekitar lebih panas dari badan permukaan tubuh akan menerima panas, bila disekitar dingin akan melepaskan panas. Proses ini terjadi dalam bentuk gelombang radiasi.elektromagnetik dengan kecepatan seperti cahaya. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari 3. Konduksi Perpindahan panas dari atom ke atom/ molekul ke molekul dengan jalan pemindahan berturut turut dari energi kinetic dalam keadaan ini yaitu perubahan panas tubuh hewan karena kontak dengan suatu benda.Pertukaran panas dari jalan ini dari tubuh terjadi sedikit sekali (kecuali menyiram dengan air). 4. Konveksi Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan. Misalnya pada waktu dingin udara yang diikat/dilekat pada tubuh akan menjadi kurang dipanaskan (dengan melalui konduksi dan radiasi) padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin. Biasanya ini kurang berperan dalam pertukaran panas. PENGATURAN SUHU TUBUH PADA KEADAAN DINGIN Ada dua mekanisme tubuh untuk keadaan dingin yaitu : 1. Secara fisik (prinsif-prinsif ilmu alam) Yaitu pengaturan atau reaksi yang terdiri dari perubahan sirkulasi dan tegaknya bulu-bulu badan (piloerektion) > erector villi 2. Secara kimia yaitu terdiri dari penambahan panas metabolisme. Pengaturan secara fisik Dilakukan dengan dua cara : 1. Vasokontriksi pembuluh darah (cutaneus vasokontriksi)

Pada reaksi dingin aliran darah pada jari-jari ini bias berkurang + 1% dari pada dalam keadaan panas. Sehingga dengan mekanisme vasokontriksi maka panas yang keluar dikurangi atau penambahan isolator yang sama dengan memakai 1 rangkap pakaian la