Masa Idaah Wanita Hamil yang Ditinggal Wafat Suaminya menurut

download Masa Idaah Wanita Hamil yang Ditinggal Wafat Suaminya menurut

of 36

  • date post

    17-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    220
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Masa Idaah Wanita Hamil yang Ditinggal Wafat Suaminya menurut

  • MASA IDDAH WANITA HAMIL YANG DITINGGAL WAFAT SUAMINYA MENURUT FATWA ALI BIN ABI THOLIB

    DAN ABDULLAH BIN MASUD (KAJIAN KOMPARATIF)

    Oleh

    M. Toha Ali, S. Ag.

    (Penghulu pada KUA Way Kenanga Kab Tulang Bawang)

    C. Latar Belakang

    Perkawinan dalam agama Islam dipandang sebagai sesuatu yang suci dan

    mulia. Manusia seharusnya menjalankan perintah perkawinan yang suci dan mulia itu

    dengan baik dan benar. Suatu perkawinan dalam Islam dipandang sempurna apabila

    suami istri mampu membentuk kehidupan rumah tangga yang harmonis, bahagia dan

    sejahtera baik lahir maupun batin atau dengan kata lain dapat mewujudkan rumah

    tangga yang sakinah, mawaddah warahmah sebagaimana tersirat dalam al Quran

    dalam surat ar Ruum ayat 21, yaitu :

    Artinya : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan

    untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan

    merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih

  • dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat

    tanda-tanda bagi kaum yang berpikir".1

    Ayat tersebut di atas sangat relevan dengan tujuan perkawinan yang

    menyebutkan bahwa tujuan sebuah perkawinan adalah untuk mewujudkan keluarga

    sakinah, mawaddah warahmah.2 Selain itu perkawinan merupakan suatu cara untuk

    memperoleh suatu keturunan, karena orang tua memandang anak sebagai penerus

    generasi dan sebagai perlindungan dirinya pada saat usia mulai tua.

    Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, menjadikan manusia

    laki-laki dan perempuan, menjadikan hewan jantan dan betina, begitu pula tumbuhan-

    tumbuhan. Hal ini dimaksudkan agar semua makhluk hidup berpasang-pasangan,

    rukun dan damai, sehingga akan tercipta suatu kehidupan yang tenteram, teratur dan

    sejahtera. Agar makhluk hidup dan kehidupan di dunia ini tetap lestari, maka harus

    ada keturunan yang akan menjadi generasi penerus yang akan melangsungkan dan

    melanjutkan jalannya roda kehidupan di bumi ini. Untuk itu harus ada

    pengembangbiakan yaitu dengan mengawinkan pasangan dari makhluk yang

    berlainan jenis yaitu laki-laki dan perempuan.3

    1Departemen Agama RL, Al Quran dan Terjemahnya, Toha Putra, Semarang, 1989,

    hlm. 644. 2Departemen Agama RI., Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Gunung Pesagi,

    Bandar Lampung, 1996, hlm. 3. 3Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah, Penerjemah, Syaiful Islam, Jilid 6, Al Maarif, Bandung,

    1996, hlm. 53.

  • Allah tidak mau menjadikan manusia itu seperti makhluk lainnya yang hidup

    bebas mengikuti naluri dan berhubungan antara laki-laki dan perempuan secara

    anarkhis dan tidak ada satu aturan. Tetapi demi menjaga kehormatan dan

    martabatnya, sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara

    terhormat dan berdasarkan saling ridho meridhoi, dengan upacara ijab qabul sebagai

    lambang dari adanya sebuah pernikahan dan dengan dihadiri oleh para saksi kedua

    belah pihak.4

    Perkawinan merupakan salah satu sunnatullah yang berlaku pada semua

    makhluk Tuhan, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan dan

    merupakan cara yang dipilih oleh Allah sebagai jalan bagi manusia untuk

    berkembang biak dan melestarikan hidupnya setelah masing-masing pasangan siap

    melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan yaitu suatu

    keluarga yang penuh dengan ketenangan, ketenteraman dan kedamaian sebagaimana

    dimaksud dengan kata mawadah warahmat.5

    Dalam perkawinan apabila sangat terpaksa boleh melakukan talak atau cerai

    dengan berbagai latar belakang alasan, walaupun Allah SWT sangat membenci

    perbuatan talak tetapi tetap memberikan peluang bagi keluarga yang tidak dapat

    mempertahankan keutuhannya. Sedangkan bagi wanita yang sudah dijatuhi talak

    oleh suaminya tersebut memiliki masa iddah.

    4Ibid., hlm. 10.

    5Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Jilid 17, Penerjemah Bahrun Abu Bakar, Karya Toha Putra, Semarang, Cet Kedua, 1993, hlm. 45.

  • Iddah secara harfiah berasal dari kata "adda" yang berarti menghitung atau

    sejumlah.6 Adapun secara syara' adalah masa tunggu bagi wanita yang ditinggal mati

    atau bercerai dari suaminya. Hal ini dimaksudkan untuk membuktikan kekosongan

    rahim dari janin, sehingga tidak tercampur nasab keturunan serta untuk memberi

    kesempatan rujuk kepada suami yang mentalak istrinya dengan talak raji (bukan

    talak bain/tiga) setelah tenang jiwanya dan hilang rasa marahnya demi menjaga

    keutuhan tali perkawinan.7

    Adapun hukum iddah bagi wanita yang ditalak atau ditinggal mati oleh

    suaminya adalah wajib. Adapun macam-macam iddah bagi wanita adalah sebagai

    berikut :

    1. Iddah tiga bulan bagi wanita yang ditalak oleh suaminya dalam keadaan hidup

    dan istri sudah berhenti dari haid (memasuki masa menapouse). Hal ini sesuai

    dengan firman Allah dalam surat at Talak ayat 4, yaitu :

    Artinya : "Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara

    perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa

    6A. Zainudin dan Muhamad Jamhari, Al Islam 2 : Muamalah dan Akhlaq, Pustaka

    Setia, Bandung, 1999, hlm. 47. 7Ahmad Azhar Basyir, Op. Cit., hlm. 94.

  • iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan dan begitu

    (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.... ".

    2. Iddah sampai melahirkan bagi wanita yang ditalak oleh suaminya atau ditinggal

    mati oleh suami tetapi ia dalam keadaan hamil, hal ini sesuai dengan firman Allah

    dalam surat at Talak ayat 4 :

    ...

    Artinya : "Waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya

    dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah

    menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya ".

    3. Iddah 4 bulan 10 hari bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dalam

    keadaan tidak hamil, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al Baqarah

    ayat 234 :

    Artinya : "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan

    meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan

    dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari".

    4. Bagi istri yang belum pernah dicampuri oleh suaminya, maka baginya tidak ada

    iddah jika ditalak, tetapi jika belum dicampuri dan suaminya meninggal, maka

  • tetap berlaku iddah, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al Ahzab ayat

    49 yaitu :

    Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-

    perempuan yang beriman, Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum

    kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib alas mereka

    'iddah bagimu yang kamu minta menyempumakannya.

    5. Iddah tiga kali suci (quru') bagi wanita yang ditalak oleh suami yang masih

    hidup dan istri dalam keadaan masih haid, hal ini sesuai dengan firman Allah

    dalam surat al Baqarah ayat 228 yaitu :

    Artinya : "Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan din (menunggu) tiga

    kali quru... ".

    Dari kelima jenis macam iddah tersebut di atas, semuanya menimbulkan

    perbedaan pendapat dikalangan ulama, salah satunya adalah mengenai masa iddah

    bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya .

    Penetapan masa iddah bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya

    bertujuan untuk memberi kesempatan berkabung padanya terhadap suami yang

  • meninggalkannya untuk selama-lamanya, lagi pula tidak pantas bagi seorang istri

    yang baru ditinggal wafat oleh suaminya untuk menikah dengan pria lain

    Diantara tokoh yang memiliki pandangan yang berbeda tentang masa iddah

    bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah Ali bin Abi Tholib dan

    Abdullah bin Masud. Ali bin Abi Tholib berfatwa bahwa masa iddah bagi wanita

    hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah menunggu sampai kandungannya

    melahirkan (at Talak ayat 4) juga menunggu selama empat bulan sepuluh hari (al

    Baqarah ayat 234).8 Ali bin Abi Thalib melanjutkan pendapatnya jika seorang istri

    hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya dan melahirkan kandungannya sebelum

    jatuh tempo yaitu empat bulan sepuluh hari, maka diharuskan baginya untuk

    menangguhkan lagi dirinya untuk menikah dengan pria lain sampai habis masa

    iddahnya, tetapi jika telah melewatinya sebelum melahirkan kandungannya maka

    diwajibkan baginya untuk menangguhkan diri sampai saat kelahiran.9

    Sedangkan Abdullah bin Masud berfatwa bahwa masa iddah bagi wanita

    hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah sampai ia melahirkan

    kandungannya walaupun kelahiran itu terjadi sebelum jatuh tempo empat bulan

    sepuluh hari. Abdullah bin Masud menandaskan pendapatnya dengan firman Allah

    dalam surat at Talak ayat 4 di atas.10

    8Abdur Rahim Muhammad, Pengantar ke Fiqih Imam Ali RA., Penerjemah Suaidi,

    Arista, Jakarta, 1988, hlm. 46. 9Ibid. 10Ibid., hlm. 45.

  • Apabila dicermati secara mendalam, pendapat Ali bin Abi Thalib dengan

    Abdullah bin Masud tersebut di atas di satu sisi memiliki persamaan di sisi yang lain

    juga memiliki perbedaan. Kondisi inilah yang memotivasi penulis untuk mengungkap

    berbagai latar belakang pemikiran keduanya dan menuangkannya dalam sebuah

    penelitian ilmia