Ph Imunisasi

download Ph Imunisasi

of 49

  • date post

    05-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    40
  • download

    1

Embed Size (px)

description

ph

Transcript of Ph Imunisasi

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangImunisasi merupakan pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.Sejak penetapan program the Expanded Program of Immunisation (EPI) oleh WHO, cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia. Sekurang-kurangnya ada 2,7 juta kematian akibat campak, tetanus neonatorum dan pertusis serta 200.000 kelumpuhan akibat polio yang dapat dicegah setiap tahunnya.Data mutakhir dari Direktorat Surveilans Epidemiologi, Imunisasi, dan Kesehatan Matra, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen kesehatan Indonesia, pada tanggal 27 Mei 2011 menunjukkan angka cakupan imunisasi di tahun 2010 adalah campak 89,5%, DPT-3 90,4%, polio-4 87,4%, dan hepatitis B-3 mencapai 91%. Dari data yang ada, terlihat angka cakupan imunisasi dasar di Indonesia sudah cukup tinggi, namun beberapa pada daerah masih ditemukan angka cakupan di bawah standar nasional (Depkes RI, 2011).Kasus cakupan imunisasi di Puskesmas Nan Balimo Kota Solok juga menunjukkan imunisasi DPTHB-1 102,8%, DPTHB-2 100,4%, polio-2 101,6%, polio-3 101,6%. Namun masih terdapat imunisasi di bawah angka cakupan imunisasi dimana BCG 85,9%, Campak 78%, DPTHB-3 94,3%, polio-1 89,4%, dan polio-3 88,9%.Dengan adanya cakupan di bawah angka cakupan imunisasi tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tidak tercapainya angka cakupan imunisasi di Puskesmas Nan Balimo Kota solok. 1.2 Tujuana. Tujuan Umum Menentukan penyebab utama rendahnya angka cakupan imunisasi di wilayah kerja puskesmas Nan Balimo Menemukan upaya pemecahan masalah dan alternatif pemecahan masalah agar angka cakupan imunisasi di wilayah kerja puskesmas Nan Balimo dapat mencapai target yang sudah ditetapkan oleh puskesmas Nan Balimo Menyusun Plan Of Action dalam upaya peningkatan angka cakupan imunisasi di wilayah kerja puskesmas Nan Balimob. Tujuan Khusus Meningkatkan mutu dan akses pelayanan imunisasi di wilayah Nan Balimo Meningkatkan peran serta masyarakat di Nan Balimo1.3 Manfaat1. Meningkatkan kemampuan manajemen program imunisasi dalam mengelola kegiatannya dalam upaya peningkatan angka cakupan imunisasi2. Dapat menyusun rencana usulan kegiatan ke depannya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Definisi ImunisasiBerdasarkan keputusan Menteri Kesehatan No. 1611/Menkes/SK/XI/2005 imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan (Depkes, 2005: 10)Imunisasi adalah proses menginduksi secara buatan baik dengan vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian antibody dan respon imun seluler yang melawan agen penginfeksi, sedangkan imunisasi pasif menyediakan proteksi sementara maupun transmisi transplasenta dari ibu ke janin.Program imunisasi merupakan suatu program pelayanan kesehatan yang memberikan pencegahan terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Saat ini pelayanan dasar yang dicakup meliputi penyakit : difteri, pertusis, tetanus, poliomyelitis, tuberculosis, campak dan hepatitis B (Depkes, 2006a).Pada dasarnya ada 2 jenis imunisasi, yaitu :1. Imunisasi Pasif (Pasive Immunization), imunisasi pasif ini adalah immunoglobulin. Jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles pada anak-anak).2. Imunisasi Aktif (Active Immunization), imunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin adalah imunisasi tetanus toksoid. Imunisasi ini untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang dilahirkan. Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).

2.2 Tujuan Imunisasia. Tujuan UmumTurunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian bayi akibat PD3I.b. Tujuan Khusus1. Program Imunisasi Tercapainya target Universal Child Immunization yaitu cakupan imunisasi lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa/ kelurahan pada tahun 2010 Tercapainya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (insiden di bawah 1 per 1.000 kelahiran hidup dalam satu tahun) pada tahun 2005. Eradikasi polio pada tahun 2008. Tercapainya reduksi campak (RECAM) pada tahun 2005.2. Program Imunisasi Meningitis MeningokusMemberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit Meningitis Meningokokus tertentu, sesuai dengan vaksin yang diberikan pada calon jemaah haji.3. Program Imunisasi Demam KuningMemberikan kekebalan efektif bagi semua orang yang melakukan perjalanan berasal dari atau ke negara endemis demam kuning sehingga dapat mencegah masuknya penyakit demam kuning di Indonesia.4. Program Imunisasi RabiesMenurunkan angka kematian pada kasus gigitan hewan penular rabies.

2.3 SASARAN IMUNISASI1. Program imunisasiImunisasi dilakukan di seluruh kelurahan di wilayah Indonesia. Imunisasi rutin diberikan kepada bayi di bawah umur satu tahun, wanita usia subur, yaitu wanita berusia 15 hingga 39 tahun termasuk ibu hamil dan calon pengantin. Imunisasi pada bayi disebut dengan imunisasi dasar, sedangkan imunisasi pada anak usia sekolah dasar dan wanita usia subur disebut dengan imunisasi lanjutan. Vaksin yang diberikan pada imunisasi rutin meliputi, pada bayi: hepatitis B, BCG, Polio, DPT, dan campak. Pada usia anak sekolah: DT (Difteri Tetanus), campak dan Tetanus Toksoid. Pada imunisasi terhadap wanita usia subur diberikan Tetanus Toksoid.Pada kejadian wabah penyakit tertentu di suatu wilayah dan waktu tertentu maka Imunisasi tambahan akan diberikan bila diperlukan. Imunisasi tambahan diberikan kepada bayi dan anak. Imunisasi tambahan sering dilakukan misalnya ketika terjadi suatu wabah penyakit tertentu dalam wilayah dan waktu tertentu misalnya, pemberian polio pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan pemberian imunisasi campak pada anak sekolah.2. Program imunisasi Meningitis MeningokusSeluruh calon/jemaah haji dan umroh, petugas Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi, Tim Kesehatan Haji Indonesia yang bertugas menyertai jemaah (kloter) dan petugas kesehatan di embarkasi/ debarkasi.3. Program imunisasi Demam KuningSemua orang yang melakukan perjalanan kecuali bayi dibawah 9 bulan dan ibu hamil trimester pertama, berasal dari negara atau ke negara yang dinyatakan endemis demam kuning (data negara endemis dikeluarkan oleh WHO yang selalu di update).4. Program imunisasi RabiesSasaran vaksinasi ditujukan pada 100% kasus gigitan yang berindikasi rabies, terutama pada lokasi tertular (selama 2 tahun terakhir pernah ada kasus klinis, epidemiologis, dan laboratoris dan desa-desa sekitarnya dalam radius 10 km).

2.4 JENIS PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASIa. DifteriDifetri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphtheriae. Penyebarannya melalui kontak dengan penderita pada masa inkubasi atau kontak dengan karier. Caranya melalui pernapasan, droplet infection atau melalui barang-barang/ makanan yang terkontaminasi atau susu mentah dapat menjadi perantara.Gejala awal penyakit adalah radang tenggorokan, hilang nafsu makan dan demam ringan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Difteri dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pernafasan yang berakhir kematian.b. PertusiDisebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari. Pertusi merupakan penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Penyebaran melalui percikan ludah (droplet infection) yang keluar pada waktu batuk atau bersin. Komplikasi pertusis adalah pneumonia bacterialis yang menyebabkan kematian.c. TetanusTetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh Clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin. Penyakit ini tidak menyebar dari orang ke orang, tetapi melalui kotoran yang masuk kedalam luka yang dalam.Gejala awal penyakit tetanus adalah kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam. Pada bayi juga ada gejala berhenti menetek (sucking) antara 3-28 hari setelah lahir. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasi tetanus adalah patah tulang akibat kejang, pneumonia dan infeksi lain yang menimbulkan kematian.d. TuberkulosisTuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosa. Penyakit ini menyebar melalui pernapasan lewat bersin atau batuk.Gejala awal adalah lemah badan, penurunan berat badan, demam dan keluar keringat pada malam hari. Gejala selanjutnya adalah batuk terus menerus, nyeri dada, batuk darah. Gejala lain tergantung pada organ yang diserang. Tuberkulosis dapat menyebabkan kelemahan dan kematian.e. CampakCampak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus mycovirus viridae measles. Campak disebarkan melalui udara sewaktu droplet bersin atau batuk dari penderita.Gejala awal penyakit adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek, conjungtivitis (mata merah). Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki. Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga dan