L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan...

202
KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CEREBROVASCULAR ACCIDENT DENGAN MASALAH DEFISIT PERAWATAN DIRI DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Madya Keperawatan (A.Md.Kep.) Pada STIKes Panti Waluya Malang L DEPAN Oleh : IVENTIANUS GANTORO SETIANTO HADI NIM: 17.1447 i

Transcript of L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan...

Page 1: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CEREBROVASCULAR ACCIDENT DENGAN MASALAH DEFISIT PERAWATAN DIRI

DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG

Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Madya Keperawatan

(A.Md.Kep.) Pada STIKes Panti Waluya Malang

L DEPAN

Oleh :

IVENTIANUS GANTORO SETIANTO HADI

NIM: 17.1447

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI WALUYA MALANG

2020

i

Page 2: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CEREBROVASCULAR ACCIDENT DENGAN MASALAH DEFISIT PERAWATAN DIRI

DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG

SAMPUL DALAM

Oleh :

IVENTIANUS GANTORO SETIANTO HADI

NIM: 17.1447

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI WALUYA MALANG

2020

ii

Page 3: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

iii

Page 4: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan
Page 5: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

v

Page 6: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

.

vi

Page 7: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih-Nya penulis

dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Asuhan Keperawatan

Pada Cerebrovascular accident (CVA) dengan masalah Defisit Perawatan Diri di

Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang”. Penulis membuat ini untuk

memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Ahli Madya

Keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang.

Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, peneliti telah banyak mendapat bantuan dan

bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima

kasih kepada:

1. Ibu Ns. Ellia Ariesti, M.Kep selaku Pjs Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Panti Waluya Malang yang telah memberikan kesempatan untuk

menggunakan fasilitas Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang

2. Ibu Wisoedhanie Widi Anugrahanti., S.KM., M.Kes selaku pembimbing 1

yang telah memberikan bimbingan, saran, ide untuk Penyusunan Karya Tulis

Ilmiah ini.

3. Bapak Wibowo., S.Kep.Ns., M.Biomed selaku pembimbing 2 yang telah

memberikan bimbingan dan saran untuk Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Bapak Joko Santoso., S.Kep., Ners selaku pembimbing 3, yang telah

memberikan bimbingan, saran, ide untuk Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

5. Ibu Ns. Oda Debora, M.Kep selaku asisten pembimbing 1, yang telah

memberikan bimbingan, saran, ide untuk Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

vii

Page 8: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

6. Bapak. Ns. Yafet Pradikatama Prihanto, M.Kep selaku asisten pembimbing 2,

yang telah memberikan bimbingan, saran, ide untuk Penyusunan Karya Tulis

Ilmiah ini.

7. Kedua orang tua saya ibu Sri Surtini dan bapak Heru Setiyanto yang

senantiasa memberikan semangat dan dorongan selama Penulisan Karya Tulis

Ilmiah ini.

8. Semua teman-teman Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang

yang telah memberikan banyak bantuan, semangat, dan dorongan untuk

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun demi sempurnanya penelitian ini.

Malang, 13-07-2020

Penulis,

Iventianus Gantoro.S.H

viii

Page 9: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

Hadi, Iventianus Gantoro Setianto. 2020. Asuhan Keperawatan pada klien Cerebrovascular accident (CVA) dengan masalah Defisit Perawatan Diri di Rumah Sakit Panti Waluya Malang. Karya Tulis Ilmiah, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang. Pembimbing : (1) Wisoedhanie Widi Anugrahanti., S.KM., M.Kes (2) Wibowo, S. Kep., Ners., M. Biomed.

ABSTRAK

Cerebrovasculer Accident merupakan gangguan suplai darah pada otak terjadi karena pecahnya pembuluh darah atau sumbatan oleh gumpalan darah, kedua kondisi ini dapat menimbulkan keterbatasan fisik penurunan fungsi ekstremitas dan penurunan fungsi mobilitas dapat menghambat pemenuhan aktivitas sehari-hari, sehingga pada klien dengan cerebrovascular accident dapat terjadi defisit perawatan diri. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2020, dengan lama waktu perawatan selama tiga hari untuk kedua klien hasil penelitian menunjukan masalah belum teratasi, masalah defisit perawatan diri dapat teratasi melalui implementasi dalam pemenuhan ADL, bagi peneliti selanjutnya lebih memperhatikan keadaan pasien khususnya CVA dengan masalah defisit perawatan diri, baik segi usia pola asuahan dan pemberian tindak lanjut yang lebih maksimal untuk membantu dalam proses penyembuhan dapat mengikut sertakan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri kepada klien yang sakit dengan masalah defisit perawatan diri secara lebih baik.

Kata kunci : Cerebrovascular Accident, Defisit Perawatan Diri.

ix

Page 10: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

Hadi, Iventianus Gantoro Setianto. 2020. Nursing care for Cerebrovascular accident (CVA) clients with deficit self-care problems at Panti Waluya Hospital, Malang. Scientific Writing, Panti Waluya Malang College of Health Sciences. Advisors: (1) Wisoedhanie Widi Anugrahanti., S.KM., M.Kes (2) Wibowo, S. Kep., Ners., M. Biomed.

ABSTRACT

Cerebrovascular Accident is a disruption in the blood supply to the brain due to a rupture of a blood vessel or a blockage by a blood clot, these two conditions can cause physical limitations, decreased limb function and decreased mobility function can hinder the fulfillment of daily activities, so that a client with a cerebrovascular accident may experience deficits. self care. The study was conducted in May 2020, with a length of treatment for three days for both clients, the results of the study showed that the problem had not been resolved, the problem of self-care deficits could be resolved through the implementation of ADL compliance, for further researchers to pay more attention to the patient's condition, especially CVA with self-care deficits. , both in terms of age, pattern of care and provision of maximum follow-up to help in the healing process can involve families to improve self-care for sick clients with self-care deficit problems better.

Keywords: Cerebrovascular Accident, Self-Care Deficits.

x

Page 11: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

DAFTAR ISI

SAMPU DEPAN.......................................................................................................i

SAMPUL DALAM..................................................................................................ii

HALAMAN PERNYATAAN................................................................................iii

HALAMAN PERSETUJUAN...............................................................................iError! Bookmark not defined.

HALAMAN PENGESHAN....................................................................................v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP................................................................................vi

KATA PENGANTAR...........................................................................................vii

ABSTRAK..............................................................................................................ix

DAFTAR ISI...........................................................................................................xi

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1 Latar Belakang......................................................................................1

1.2 Batasan Masalah....................................................................................4

1.3 Rumusan masalah..................................................................................4

1.4 Tujuan...................................................................................................4

1.4.1 Tujuan umum........................................................................................4

1.4.2 Tujuan Khusus......................................................................................4

1.5.1 Manfaat Penelitian.................................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................7

2.1 Konsep Cerebrovasculer Accident (CVA)............................................7

2.1.1 Definisi Cerebrovasculer Accident (CVA)...........................................7

2.1.2 Klasifikasi Cerebrovasculer Accident (CVA)......................................7

2.1.3 Faktor Resiko Cerebrovasculer Accident (CVA).................................9

2.1.4 Manifestasi klinis Cerebrovasculer Accident (CVA).........................11

2.1.5 Komplikasi Cerebrovasculer Accident (CVA)...................................12

2.1.6 Pemeriksaan penunjang.......................................................................12

2.1.7 Kepatuhan Rehabilitasi.......................................................................14

xi

Page 12: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

2.1.8 Penatalaksanaan Medis.......................................................................16

2.2 Tujuan intervensi ................................................................................16

2.1.8 Diagnosa Keperawatan........................................................................17

2.1.9 Patofisiologi........................................................................................17

2.2 Konsep Defisit Perawatan Diri............................................................19

2.2.1 Definisi Defisit Perawatan Diri...........................................................19

2.2.2 Klasifikasi Defisit Perawatan Diri......................................................19

2.2.3 Etiologi Defisit Perawatan Diri...........................................................20

2.2.4 Manifestasi klinis Defisit Perawatan Diri...........................................22

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan pada Cerebrovasculer Accident (CVA) dengan Masalah Defisit Perawatan Diri..............................................23

2.3.1 Pengkajian...........................................................................................23

2.2 Rencana keperawatan Defisit Perawatan Diri pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA).......................................................35

Tabel 2.2 Rencana Keperawatan..................................................................35

2.3.4 Implementasi Keperawatan.................................................................37

2.3.4 Evaluasi...............................................................................................37

BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................38

3.1 Desain Penelitian.................................................................................38

3.2 Batasan Istilah.........................................................................................38

3.3 Partisipan................................................................................................38

3. Lokasi dan Waktu Penelitian..............................................................39

4. Pengumpulan Data..............................................................................39

5. Uji Keabsahan Data.............................................................................39

6. Analisa Data........................................................................................40

7. Etik Penelitian.....................................................................................40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................42

4.2 Hasil....................................................................................................42

4.1.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data..................................................42

4.1.2 Karakteristik Partisipan.......................................................................43

4.1.3 Data Asuhan Keperawatan..................................................................43

4.2 Pembahasan.........................................................................................67

4.2.1 Pengkajian...........................................................................................67

xii

Page 13: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

4.2.2 Diagnosa Keperawatan Klien 1 dan 2.................................................69

4.2.3 Intervensi Keperawatan.......................................................................70

4.2.4 Implementasi.......................................................................................73

4.2.5 Evaluasi...............................................................................................74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................76

5.1 Kesimpulan.............................................................................................76

5.2 Diagnosa keperawatan...........................................................................76

5.3 Rencana Keperawatan............................................................................77

5.4 Implementasi Keperawatan....................................................................77

5.5 Evaluasi Keperawatan............................................................................77

5.6 Saran....................................................................................................78

5.6.1 Bagi Lahan Penelitian..........................................................................78

5.6.2 Bagi Institusi Pendidikan.....................................................................78

5.6.3 Bagi Peneliti Selanjutnya.....................................................................78

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................79

LAMPIRAN...........................................................................................................81

xiii

Page 14: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

DAFTAR TABEL

2.1 Tabel intervensi keperawatan......................................................................32

4. 1 Tabel Identitas Klien ...................................................................................43

4. 2 Tabel Identitas Penanggung Jawab ..............................................................43

4. 3 Tabel Riwayat Penyakit................................................................................43

4. 4 Tabel Persepsi Diri .......................................................................................46

4. 5 Tabel Pola Kesehatan ...................................................................................47

4. 6 Tabel Pemeriksaan Fisik ..............................................................................48

4. 7 Tabel Pemeriksaan Penunjang Klien 1 ........................................................54

4. 8 Tabel Pemeriksaa Penunjang Klien 2 ..........................................................54

4. 9 Tabel Terapi Obat Klien 1 ............................................................................55

4. 10 Tabel Terapi Obat Klien 2 ............................................................................55

4. 11 Tabel Analisa Data .......................................................................................56

4. 12 Tabel Diagnosa Keperawatan ......................................................................58

4. 13 Tabel Intervensi Keperawatan Klien 1 ........................................................58

4. 14 Tabel Intervensi Keperawatan Klien 2 ........................................................60

4. 15 Tabel Intervensi Keperawatan Klien 2 ........................................................61

4. 16 Tabel Intervensi Keperawatan Klien 2 .........................................................61

4. 17 Tabel Evaluasi Keperawatan ........................................................................64

4. 18 Tabel Pembahasan Pengkajian .....................................................................67

4.19 Tabel Pembahasan Diagnosa ........................................................................69

4.20 Tabel Pembahasan Tujuan Intervensi Keperawatan ....................................70

4.21 Tabel Pembahasan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan ...........................71

4.22 Tabel Pembahasan Intervensi Keperawatan ...............................72

4.23 Tabel Pembahasan Implementasi Keperawatan ...........................................73

4.24 Tabel Pembahasan Evaluasi ......................................................74

Page 15: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

DAFTAR BAGAN

2.1 Patway Cerebrovascular Acident ( CVA )..................................................................17

Page 16: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat studi pendahuluan.................................................................................81

Lampiran 2 Jawaban studi pendahuluan............................................................................82

Lampiran 3 Lembar konsul pembimbing 1........................................................................83

Lampiran 3 Lembar konsul pembimbing 1........................................................................83

Lampiran 4 Lembar konsul pembimbing 2........................................................................85

Lampiran 5 Lembar konsul pembimbing 3........................................................................86

Lampiran 5 Lembar konsul pembimbing 3........................................................................86

Lampiran 6 Surat Persetujuan Penelitian ..........................................................................88

Lampiran 7 Lembar konsul pembimbing 1........................................................................89

Lampiran 8 Lembar konsul pembimbing 2........................................................................90

Lampiran 9 Lembar konsul pembimbing 3........................................................................91

Lampiran 10 Lembar konsul pembimbing 2......................................................................92

Lampiran 11 Lembar konsul pembimbing 3......................................................................99

Page 17: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

xvii

Page 18: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

World Health Organization (2016), menjelaskan Cerebrovascular accident

(CVA) adalah gejala defisit fungsi susunan saraf oleh penyakit pembuluh darah di

otak. Cerebrovascular accident (CVA) pada dasarnya merupakan permasalahan

pada otak yang mengakibatkan gangguan fungsional, fokal maupun global,

sebagai akibat gangguan aliran darah ke otak atau karena perdarahan, penyakit

tersebut berdampak pada bagian fungsi tubuh, dan tanda yang sering muncul

adalah kelumpuhan, berbicara pelo, serta gangguan menelan (Rudiyanto, 2010).

Sumbatan yang disebabkan oleh Cerebrovascular accident (CVA) dapat

menyebabkan penurunan aliran darah suplai darah kejaringan otak. Pecahnya

pembuluh darah dapat menyebabkan perubahan komponen tekanan intrakranial

yang juga menyebabkan gangguan aliran darah ke otak. Kedua kondisi ini

menyebabkan gangguan neurologis fokal yang menimbulkan keterbatasan fisik

akibat adanya hemiparase dan hemiplegia. Hemiparese dan hemiplegia akan

menyebabkan terjadinya penurunan kekuatan otot. Penurunan fungsi ekstremitas

dan penurunan fungsi mobilitas dapat menghambat pemenuhan aktivitas sehari-

hari, sehingga pada klien dengan cerebrovascular accident (CVA) dapat terjadi

defisit perawatan diri (Harahap dan Siringoringo, 2016).

1

Page 19: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

2

Menurut WHO (2015), kasus CVA diseluruh dunia di perkirakan mencapai 50

juta jiwa, dan 9 juta diantaranya menderita kecacatan berat yang lebih

memprihatinkan lagi 10% diantaranya yang terserang CVA mengalami kematian.

Di kawasan Asia Tenggara terdapat 4,4 juta orang mengalami CVA (World

Health Organization, 2014). Berdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan yang paling

utama, dengan menunjukkan bahwa prevalensi CVA di Indonesia sebesar 6% atau

per 8,3% per 1000 penduduk. Berdasarkan diagnosis nakes maupun

diagnosis/gejala, di Provinsi Jawa Timur Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi

Penyakit Tidak Menular mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan

Riskesdas 2013, salah satunya prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9%.

Angka kejadian penyakit cerebrovascular accident (CVA) di RS Panti Waluya

Sawahan Malang dari bulan Januari sampai Desember 2018 sebanyak 38 klien

dan yang mengalami defisit perawatan diri sekitar 30% atau sebanyak 15 klien

(Rekam Medis RS Panti Waluya Malang, 2018).

Menurut Fitria (2012), defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang

yang mengalami penurunan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi

aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian atau

berhias, makan, BAB dan BAK (toileting), kebersihan diri. Pemenuhan personal

hygiene sangat perlu dilakukan, mengingat banyak manfaat yang ada untuk

pencegahan, misalnya mencegah gangguan integritas kulit / jaringan dan resiko

infeksi.

2

Page 20: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

3

Fenomena yang penulis temukan pada bulan Februari 2019 diruang Unit Stroke

RS Panti Waluya Malang yaitu terdapat 2 klien cerebrovascular accident (CVA).

Keluarga klien pertama mengatakan bahwa awalnya klien mengeluhkan badan

terasa lemas separuh badan bagian kanan, sulit di ajak berkomunikasi dan

mengalami penurunan kesadaran. Pada saat praktek klinik didapatkan klien tidak

mampu melakukan aktivitas seperti mandi, makan, menggosok gigi, berdandan,

dan klien dibantu saat BAB/BAK. Klien kedua, mengeluhkan pusing, badannya

terasa lemas separuh bagian badan, cara berkomunikasi tidak jelas, riwayat klien

pernah di rawat dengan penyakit yang sama 1 tahun yang lalu, perawat sudah

melakukan edukasi tentang perawatan diri pada klien tetapi keluarga klien tidak

kooperatif. Pada saat praktek klinik didapatkan klien mampu melakukan aktivitas

sebagian seperti makan dengan mandiri tapi selebihnya dibantu oleh perawat

seperti mandi, berpakaian, BAB/BAK.

Defisit perawatan diri akan berdampak pada keadaan fisik dan psikis dengan

penderita CVA. Dampak fisik dari defisit perawatan diri terhadap penderita CVA

gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata

dan telinga. Dampak psikologis yang sering terjadi adalah ganguan rasa nyaman,

gangguan kebutuhan dicintai dan mencintai, gangguan harga diri, gangguan

aktualisasi diri dan interaksi sosial (PPNI, 2016 ).

Peran perawat dalam merawat klien dengan diagnosa cerebrovascular accident

(CVA) adalah membantu memenuhi kebutuhan klien selama perawatan, baik itu

dari segi pemenuhan kebutuhan perawatan diri seperti mandi, berpakaian/berhias,

3

Page 21: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

4

makan, toileting di Rumah Sakit dan selama klien menderita penyakit tersebut.

Perawat dapat melibatkan keluarga klien dalam membantu pemenuhan perawatan

diri, seperti mandi, berpakaian/berhias, makan, toileting agar membantu proses

penyembuhan klien dengan cepat. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk

memberikan tindakan asuhan keperawatan klien cerebrovascular accident (CVA)

dengan masalah defisit perawatan diri.

1.2 Batasan Masalah

Masalah dalam kasus ini dibatasi dengan asuhan keperawatan dengan klien

cerebrovascular accident (CVA) dengan masalah defisit perawatan diri

.

1.3 Rumusan masalah

Perumusan masalah pada klien adalah “Gambaran analisa pelaksanaan asuhan

keperawatan pada klien cerebrovascular accident (CVA) dengan defisit

perawatan diri terhadap peningkatan kebutuhan pemenuhan kebutuhan diri di

Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan asuhan Keperawatan pada klien

penyakit cerebrovascular accident (CVA) dengan masalah defisit perawatan diri .

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian pada klien cerebrovascular accident (CVA) dengan

masalah defisit perawatan diri di RS Panti Waluya Sawahan Malang.

4

Page 22: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

5

2. Menetapkan diagnosa keperawatan pada klien cerebrovascular accident

(CVA) dengan masalah defisit perawatan diri di RS Panti Waluya Sawahan

Malang.

3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien cerebrovascular accident

(CVA) dengan masalah defisit perawatan diri di Rumah Sakit Panti Waluya

Sawahan Malang.

4. Melakukan implementasi keperawatan pada klien cerebrovascular accident

(CVA) dengan masalah defisit perawatan diri Rumah Sakit Panti Waluya

Sawahan Malang.

5. Melakukan evaluasi pada klien cerebrovascular accident (CVA) dengan

masalah defisit perawatan diri di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan

Malang.

1.5 Manfaat

1.5.1 Manfaat Penelitian

1. Klien / keluarga

Karya tulis ini dapat memberikan informasi yang tepat kepada klien dan

keluarga dalam melakukan perawatan diri kepada klien dengan penyakit

cerebrovascular accident (CVA).

2. Perawat

Karya tulis ini diharapkan bisa menjadi acuan dan masukan pada perawat

dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit

cerebrovascular accident (CVA).

5

Page 23: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

6

3. Rumah Sakit

Dapat dijadikan sebagai masukan dalam mengatasi masalah defisit perawatan

diri pada klien cerebrovascular accident (CVA) di Rumah Sakit Panti

Waluya Sawahan Malang.

4. Institusi Pendidikan

Sebagai tambahan referensi institusi yang digunakan untuk penelitian

selanjutnya dengan masalah Defisit perawatan diri

5. Peneliti

Menambah ilmu atau wawasan pengetahuan dan menambah pengalaman

dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan dengan masalah defisit

perawatan diri khususnya pada klien cerebrovascular accident (CVA).

6

Page 24: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, penulisan akan menjelaskan tentang teori “ Defisit Perawatan Diri

pada Cerebrovasculer Accident (CVA)ˮ. Pada bab ini penulis juga akan

menyajikan materi sebagai berikut; konsep Cerebrovasculer Accident (CVA),

konsep defisit perawatan diri pada Cerebrovasculer Accident (CVA), dan asuhan

keperawatan Cerebrovasculer Accident (CVA) dengan masalah defisit perawatan

diri.

2.1 Konsep Cerebrovasculer Accident (CVA)

2.1.1 Definisi Cerebrovasculer Accident (CVA)

Cerebrovasculer Accident (CVA) merupakan gangguan suplai darah pada otak

yang biasanya terjadi karena pecahnya pembuluh darah atau sumbatan oleh

gumpalan darah. Hal ini menyebabkan gangguan pasokan oksigen dan nutrisi di

otak hingga terjadinya kerusakan pada jaringan otak. Cerebrovasculer Accident

(CVA) sebagai perkembangan tanda-tanda klinis fokal atau global yang pesat

disebabkan oleh gangguan pada fungsi otak dengan gejala-gejala yang terjadi

dalam waktu 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian (World Health

Organization, 2016).

2.1.2 Klasifikasi Cerebrovasculer Accident (CVA)

Menurut Widyanto, Triwibowo, Muttaqin dan Pudiastuti (2011, 2013), klasifikasi

Cerebrovasculer Accident (CVA) dibagi menjadi dua non hemoragi dan

hemoragi. Cerebrovasculer Accident (CVA) iskemik terjadinya karena

sumbatannya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian

atau keseluruhan terhenti. Hal ini disebabkan oleh aterosklerosis yaitu

7

Page 25: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

8

penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah atau bekuan darah yang

telah tersumbat suatu pembuluh darah ke otak. Cerebrovasculer Accident (CVA)

iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

a. Trombotik (proses terbentuknya thrombus hingga menjadi gumpalan).

b. Embolik (tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah ).

c. Hipoperfusion Siskemik (aliran darah keseluruh bagian tubuh berkurang

karena adanya gangguan denyut jantung).

Cerebrovasculer Accident (CVA) hemoragik yaitu dikarenakan pecahnya

pembuluh darah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan merembes

ke dalam bagian otak dan merusaknya hampir 70% banyak di derita oleh

penderita hipertensi. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah

tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun

bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran klien umumnya menurun.

a. Perdarahan intraserebral pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma)

terutama karena hiprtensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak,

membentuk massa yang menekan jaringan otak dan mengakibatkan edema

otak.

b. Perdarahan subarachnoid

Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM. Aneurisma

yang pecah ini berasal dari pembuluh dari sirkulasi Willisi dan cabang-

cabangnya yang terdapat diluar parenkim otak.

Menurut (Smeltzer & Bare, 2010) untuk penatalaksanaan penderita stroke fase

akut jika penderita stroke datang dengan keadaan koma saat masuk rumah sakit

dapat dipertimbangkan mempunyai prognosis yang buruk. Penderita sadar penuh

Page 26: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

9

saat masuk rumah sakit menghadapi hasil yang dapat diharapkan. Fase akut

berakhir 48 sampai 72 jam dengan mempertahankan jalan napas dan ventilasi

adekuat adalah prioritas pada fase akut ini.

2.1.3 Faktor Resiko Cerebrovasculer Accident (CVA)

Cerebrovasculer Accident (CVA) merupakan masalah kesehatan global dan

penyebab utamanya kecacatan. Cerebrovasculer Accident (CVA) juga merupakan

penyebab utama kesakitan dan kematian di seluruh dunia. (Kemenkes RI, 2013).

Terdapat faktor resiko Cerebrovasculer Accident (CVA) dibagi menjadi menjadi

dua yaitu:

1. Faktor tidak dapat diubah

a. Umur

Kemunduran sistem pembuluh darah meningkat seiring dengan

bertambahnya usia, sehingga makin bertambahnya usia makin tinggi

kemungkinan terjadinya Cerebrovasculer Accident (CVA). (Siregar, 2013)

b. Jenis Kelamin

Cerebrovasculer Accident (CVA) diketahui lebih banyak diderita laki-laki

dibandingkan perempuan. Hal ini diperkirakan karena pemakian obat

kontrasepsi oral dan usia harapan hidup perempuan yang lebih tinggi

dibandingkan laki-laki. (Sumartono, 2013).

c. Faktor keturunan

Adanya riwayat Cerebrovasculer Accident (CVA) pada orang tua,

meningkatkan faktor terjadinya Cerebrovasculer Accident (CVA). Hal ini

diperkirakan melalui beberapa mekanisme antara lain faktor grnrtik, faktor

Page 27: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

10

kultur/lingkungan dan life style, serta interaksi antara faktor genetik dan

lingkungan.

2. Faktor yang dapat diubah

a. Hipertensi

Makin tinggi tekanan darah, makin tinggi kemungkinan terjadinya

Cerebrovasculer Accident (CVA), baik perdarahan maupun iskemik

(Misbach, 2012).

b. Merokok

Merokok merupakan masalah kesehatan yang utama di banyak negara

berkembang (termasuk Indonesia). Rokok mengandung bahan kimia

berbahaya seperti nikotin diantaranya bersifat karsinogen atau

mempengaruhi sistem vaskuler ( AHA/ASA, 2012).

c. Diabetes Militus (DM)

DM merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia

yang terjadi karena kelainan sekeresi insulin, penderita DM cenderung

menderita arterosklerosis dan meningkatkan terjadinya hipertensi,

kegemukan dan kenaikan kadar kolesterol. Kombinasi hipertensi dan

diabetes sangat menaikan komplikasi diabetes termasuk Cerebrovasculer

Accident (CVA) (Linksa, 2011).

Page 28: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

11

2.1.4 Manifestasi klinis Cerebrovasculer Accident (CVA)

Menurut Andra Saferi manifestasi klinis dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Perdarahan intraserebral (PIS)

Cerebrovasculer Accident (CVA) mempunyai gejala prodomal yang tidak

jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi. Serangan sering kali setiap hari,

saat aktivitas, atau emosi. Sifat nyeri kepalanya hebat sekali. Mual dan

muntah seringkali terjadi sejak permulaan serangan. Kesadaran biasanya

menurun cepat masuk koma ( 65% terjadi kurang dari setengah jam, 23%

antara 12 sampai dengan 2 jam dari 12% terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari

(Andra Saferi, 2013).

2. Perdarahan subaraknoid (PSA)

Pada klien dengan PSA didapatkan gejala prodnormal berupa nyeri kepala

hebat dan akut. Kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi. Ada gejala

atau tanda rangsangan meningel. Edema papil dapat arteri komunikasi

anterior atau arteri karotis interna. Gejala neurologis yang timbul tergantung

pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan likasinya. Manifestasi

klinis Cerebrovasculer Accident (CVA) dapat dirubah :

a. Kelumpuhan wajar dan anggota badan yang timbul mendadak.

b. Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan.

c. Perubahan mendadak status mental

d. Afasia ( bicara tidak lancar, kurang ucapan atau kesulitan memahami

ucapan).

e. Ataksia anggota badan (gangguan gerak tubuh).

f. Vertigo, mual, muntah atau nyeri kepala (Andra Saferi, 2013)

Page 29: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

12

2.1.5 Komplikasi Cerebrovasculer Accident (CVA)

Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit Cerebrovasculer Accident (CVA)

menurut Smeltzer & Bare, (2013), adalah:

1. Hipoksia serebral, diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat

ke otak. fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirim ke

jaringan. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan oksigenasi

jaringan (Smeltzer & Bare, 2010).

2. Penurunan aliran darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah

jantung, dan integritas pemuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan

intravena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki

aliran darah serebral. Hipertensi dan hipotensi ekstrim perlu dihindari untuk

mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area

cedera (Smeltzer & Bare, 2010).

3. Embolisme serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrikasi atrium

atau dapat berasal dari katub jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan

aliran darah ke otak dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah serebral.

Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan

penghentian trombus fokal. Selain itu, disritmia dapat menyebabkan embolus

serebral dan harus diperbaiki. Smeltzer & Bare, (2010).

2.1.6 Pemeriksaan penunjang

Berikut ini adalah pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk membantu

penegakan diagnosis CVA:

Page 30: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

13

1. Pemeriksaan radiologi sistem saraf

a. Angiografi serebral membantu menentukan penyebab Cerebrovasculer

Accident (CVA) secara spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri,

oklusi atau ruftur.

b. CT-scan memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya

infark.

c. Elektro encepaligraphy mengidentifikasikan masalah didasarkan pasa

gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

d. Magnetic imaging resnance (MRI) menunjukan adanya tekanan abnormal

dan biasanya ada trombosisi, emboli dan TIA, tekanan meningkat dan

cairan mengandung darah menunjukan hemoragik subarachnoid atau

perdarahan intra kranial.

e. Ultrasonography Doppler mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah

sistem arteri karotis atau aliran darah/ arterosklerosis).

f. Sinar X tengkorak menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal

daerah yang berlawanan dari masa yang luas, klasifikasi karotis interna

terdapat.

g. pada trobus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada

perdarahan subarachnoid ( Andra & yessi, 2013).

2. Pemeriksaan laboratorium

a. Fungsi lumbal Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli dan TIA.

Sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandung darah

menunjukan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranial. Kadar

Page 31: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

14

protein total meningkatkan pada kasus trombosis sehubungan dengan

proses inflamasi.

b. Pemeriksaan kimia darah Pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia.

Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian

berangsur-angsur turun kembali.

c. Pemeriksaan darah rutin

d. Urinalisis (Andra & yessi, 2013).

2.1.7 Kepatuhan Rehabilitasi

Tombokan, dkk. (2015) menjelaskan bahwa kepatuhan seseorang dalam menjalani

pengobatan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor petugas, faktor obat, dan

faktor penderita. Faktor petugas merupakan karakteristik dari seorang petugas

seperti tingkat pengetahuan, lamanya bekerja, jenis petugas, dan frekuensi

penyuluhan yang dilakukan. Faktor obat meliputi adanya efek samping obat,

waktu yang lama, serta pengobatan yang dilakukan tidak menunjukkan kearah

penyembuhan. Sedangkan faktor penderita yaitu jenis kelamin, usia, pekerjaan,

dan dukungan anggota keluarga. Ketiga faktor yang sudah dijelaskan tersebut

berarti dapat mempengaruhi apakah seseorang patuh atau tidak dalam menjalani

pengobatan. Kepatuhan penderita stroke itu sendiri dapat dilihat dari tindakan

rehabilitasi yang diikuti. Tindakan rehabilitasi stroke dapat dibedakan menjadi

beberapa fase, yaitu:

1. Fase akut Kondisi hemodinamik pasien belum stabil, umumnya dilakukan

saat perawatan di rumah sakit yaitu di ruang gawat biasa ataupun di unit

stroke. Rehabilitasi fase akut dilakukan pada 2 minggu pertama pasca

serangan stroke (Wirawan, 2009). Program pada fase ini dijalankan oleh

Page 32: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

15

tim, biasanya dimulai aktif sesudah prosesnya stabil yaitu sesudah 24-72

jam sesudah serangan, kecuali terjadi perdarahan (Purwanti & Arina,

2008). Tujuan rehabilitasi fase akut ini yaitu untuk mempertahankan

integritas kulit, mencegah pola postur, mencegah pemendekan otot dan

kekakuan sendi, mengatasi gangguan fungsi menelan dan gangguan

komunikasi, mencegah gangguan kardiorespirasi, mengatasi gangguan

fungsi miksi dan defikasi, dan stimulasi multisensoris. Rehabilitasi fase

akut yaitu meliputi manajemen disfagia, manajemen afasia, pencegahan

pressure ulcer, pencegahan jatuh, pencegahan nyeri dan deprivasi sensori,

dan pencegahan nyeri serta Deep Vein Thrombosis (DVT) (Fuath, 2015).

2. Fase subakut Kondisi hemodinamik pasien pada fase subakut umumnya

sudah stabil dan diperbolehkan untuk kembali ke rumah, kecuali pasien

yang memerlukan penangan rehabilitatif yang intensif. Pada fase ini

rehabilitasi dilakukan antara 2 minggu sampai dengan 6 bulan pada pasca

stroke (Wirawan, 2009). Tim rehabilitasi disini berusaha mencegah

timbulnya hemiplegic posture dengan cara pengaturan posisi dan stimulasi

sesuai kondisi klien (Purwanti & Arina, 2008). Tujuan rehabilitasi pada

fase subakut yaitu untuk mengoptimalkan pemulihan neurologis dan

reorganisasi saraf, melanjutkan terapi fase akut, terapi latihan dan terapi

kelompok untuk meningkatkan kualitas hidup dan konsep diri, konseling

manajemen diri dan emosi, serta konseling terapi seksual sebagai dampak

disabilitas (Fuath, 2015). Latihan pada fase subakut ini yaitu meliputi

latihan berdiri dan berjalan, latihan ketahanan (berlatih melempar bola

Page 33: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

16

masuk kekeranjang, main catur, bowling kecil, dan mengayuh sepeda

statik), terapi kognitif, latihan mengeja dan berbicara, dan terapi latihan

dengan modalitas seperti electrical stimulation (Wirawan, 2009).

3. Fase kronis Program latihan atau rehabilitasi untuk fase kronis

berlangsung diatas 6 bulan pasca stroke. Latihan yang dilakukan yaitu

latihan endurans dan penguatan otot yang dilakukan bertahap dan terus

ditingkatkan sampai pasien dapat mencapai aktivitas aktif yang optimal

(Wirawan, 2009). Tujuan dari program latihan fase kronis ini yaitu untuk

mengoptimalkan kemampuan fungsional pasien, mempertahankan

kemampuan fungsional yang telah dicapai, mengoptimalkan kualitas hidup

pasien, dan mencegah komplikasi. Latihan fase kronis yaitu meliputi

Locomotor Training Program yang terdiri dari latihan berjalan di treadmill

dan Home Exercise Program yang terdiri dari latihan kekuatan, latihan

keseimbangan, latihan berjalan setiap hari (Fuath, 2015).

2.1.8 Penatalaksanaan Medis

Tujuan intervensi adalah berusaha menstabilkan tanda tanda vital dengan

melakukan tindakan sebagai berikut :

1. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan penghisapan lendir

yang sering, oksigenasi, jika perlu lakukan trakheostomi utuk membantu

pernapasan.

2. Mengendalikan tekanan darah berdasarkan kondisi klien, termasuk usaha

untuk memperbaiki hipotensi dan hipertensi.

Page 34: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

17

3. Berusaha menentukan dan memperbaiki aritma jantung

4. Menempatkan klien dalam posisi yang tepat, klien harus dirubah posisi setiap

2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.

5. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK.

Menurut (Nanda, 2016) pengobatan konservatif

1. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral

2. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial

3. Anti koagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya tombosis atau

emboli ditempat lain di sistem kardiovaskuler.

2.1.8 Diagnosa Keperawatan

Berikut ini adalah diagnosis keperawatan yang mungkin muncul akibat CVA:

1. Ketidak efektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan aliran ke otak

tersumbat.

2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi ke

otak

3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan otot/paralisis

4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler dan

kelemahan.

5. Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan kesadaran.

2.1.9 Patofisiologi

1. CVA non hemoragik

Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh

thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya

aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi

Page 35: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

18

tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan

iskemia, kemudian menjadi kompleks iskemia menyebabkan terjadinya infark

pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju

arteri serebral melalui arteri karotis, dan mengakibatkan terjadinya

penyumbatan pada arteri tersebut, menyebabkan iskemia yang tiba-tiba

berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal, perdarahan otak

dapat disebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli

(Fransisca, 2013).

2. Stroke hemoragik

Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi

atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen

intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen

intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan

peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak

sehingga timbul kematian. Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi

otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh

darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah

berkurang atau tidak ada, sehingga terjadi nekrosis jaringan otak (Fransisca,

2013).

Page 36: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

19

2.1.10 Pathway Cerebrovasculer Accident (CVA)

Fransisca, 2013

Gambar 2. Patway CVA

2.2 Konsep Defisit Perawatan Diri

2.2.1 Definisi Defisit Perawatan Diri

Merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan

dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti

mandi, berpakian/berhias, makan, dan BAB/BAK (Fitria, 2012).

2.2.2 Klasifikasi Defisit Perawatan Diri

Jenis-jenis perawatan diri dapat menjadi 4 bagian menurut Nuratif dan Kusuma

(2012), yaitu:

Page 37: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

20

1. Kurang Perawatan diri: Mandi

Gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.

2. Kurang Perawatan Diri: Berpakian atau berhias

Gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktifitas berhias sendiri.

3. Kurang Perawatan Diri: Makan

Gangguan kemampuan untuk menunjukan aktivitas makan.

4. Kurang Perawatan Diri: Toileting.

Gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas

toileting sendiri.

Keterbatasan kebersihan diri biasanya diakibatkan karena stressor yang cukup

berat dan sulit ditangani oleh klien, sehingga dirinya tidak mengurus merawat

dirinya sendiri baik dalam hal mandi, berpakaian, dan berhias. Keterbatasan

tersebut akan terus berlanjut dalam pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Manusia

mempunyai kebutuhan yang beragam, namun pada hakikatnya setiap manusia

mempunyai kebutuhan dasar yang sama. Salah satunya yang mengalami defisit

perawatan diri adalah klien yang terkena penyakit Cerebrovasculer Accident

(CVA) memiliki keterbatasan pergerakan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan

dasar (Asmadi,2012).

2.2.3 Etiologi Defisit Perawatan Diri

1. Faktor predisposisi

a. Perkembangan

Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga

perkembangan inisiatif terganggu.

Page 38: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

21

b. Biologis

Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan

perawatan diri.

c. Kemampuan realita turun

Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang

menyebabkan ketidak pedulian dirinya dan lingkungan termasuk

perawatan diri.

d. Sosial

Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.

Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan

diri.

2. Faktor presiptasi

Menurut Watonah (2006) ada beberapa faktor presipitasi yang akan

menyebabkan seseorang kuarang perawatan diri. Faktor-faktor tersebut

berasal dari berbagai stressor antara lain:

a) Body image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan

diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak

peduli terhadap kebersihannya.

b) Praktik Sosial

Pada anak-anak selalu dimanjakan dalam kebersihan diri, maka

kemungkinan akan terjadi perubahan personal hygine.

c) Status sosioekonomi

Page 39: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

22

Personal hygine memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,

skita gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk

menyediakannnya.

Menurut Tarwoto (2012), ada beberapa dampak sering timbul pada masalah

defisit perawatan diri seperti:

a. Dampak Fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak dipelihara

kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi

adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membran mukisa mulut, infeksi

pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.

b. Dampak Psikososial

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah gangguan

kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga

diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

2.2.4 Manifestasi klinis Defisit Perawatan Diri

Menurut Purba dkk, 2011 ada tanda dan gejala pada Defisit Perawatan Diri

a. Mandi / hygine

Ketidakmampuan klien mengalami dalam membersihkan badan,

mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan

perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh. Gangguan kebersihan ini ditandai

dengan rambur kotoe, gigi kotor, kulit berdaki dan bau, kuku panjang dan

kotor.

Page 40: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

23

b. BAB/BAK (toileting)

Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan

kamar kecil atau jamban, duduk atau berdiri di jamban,manipulasi pakaian

untuk toileting, membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat, dan

menyiram toilet, klien BAB/BAK tidak pada tempatnya.

c. Berpakaian/Berhias

Klien mengalami kelemahan dalam meletakan atau mengambil potongan

pakaian, menanggalkan pakaian serta memperoleh atau memakai,

ketidakmampuan klien untuk mengenakan pakaian dalam, menggunakan

kancing tarik, melepas pakaian, menggunakan kaos kaki, mempertahankan

penampilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian dan

mengenakan sepatu. Ketidakmampuan ini ditandai dengan rambut tidak rapi,

pakaian kotor dan tidak rapi.

d. Makan/Minum

Klien mengalami ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan

makanan, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan, manipulasi

makanan dalam minum, mengambil makanan dari wadah untuk dimasukan ke

dalam mulut, serta tidak dapat mencerna makanan dengan baik dan aman.

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan pada Cerebrovasculer Accident

(CVA) dengan Masalah Defisit Perawatan Diri

2.3.1 Pengkajian

Pengkajian adalah langkah pertama dalam proses keperawatan. Proses ini meliputi

langkah-langkah sebagai berikut (Debora, 2017).

1. Pengumpulan data secara sistematis

Page 41: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

24

2. Verifikasi data

3. Organisasi data

4. Interpretasi data

5. Pendokumentasian data

a. Identitas Diri Klien

1) Klien ( diisi lengkap ): Nama, Umur, Jenis kelamin, Status

perkawinan, Agama, Pendidikan, Pekerjaan, Suku bangsa, Tanggal

masuk RS, No. RM, Alamat.

2) Penanggung jawab ( diisi lengkap ): Nama, Umur, Jenis kelamin,

Agama, Pendidikan, Pekerjaan dan Alamat.

b. Riwayat kesehatan

1) Keluhan utama

Biasanya klien datang ke rumah sakit dalam kondisi, penurunan

kesadaran atau koma disertai kelumpuhan dan keluhan sakit kepala

hebat bila masih sadar dan klien menguluhkan tidak dapat melakukan

aktifitas seperti mandi, toileting, makan, dan berpakaian (Padila,

2014)

2) Riwayat kesehatan sekarang

Klien mengalami gangguan neurologis, meliputi adanya riwayat

trauma, riwayat jatuh, keluhan mendadak lumpuh klien sedang

melakukan aktifitas, disamping gejala kelumpuhan separuh badan dan

gangguan fungsi otak yang lain, gelisah, letargi, lelah, apatis dan

perubahan pupil (Mutaqin, 2013).

Page 42: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

25

3) Riwayat kesehatan dahulu

Adanya riwayat dahulu yaitu hipertensi, penyakit kardiovaskuler,

kolesterol tinggi, obesitas, riwayat DM, aterosklerosis, Merokok,

pemakaian konstipasi yang disertai hipertensi dan meningkatkan kadar

esterogen, riwayat mengkonsumsi alcohol (Mutaqin, 2013).

4) Riwayat Kesehatan Keluarga

Adakah riwayat penyakit dalam keluarga yang diderita seperti

hipertensi atau diabetes militus ( Mutaqin, 2013).

c. Pemeriksaan data dasar

1) Aktivitas/istirahat

a) Merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat (nyeri/kejang otot)

(Doenges, Moorrhous, & Geisler, 2014).

b) Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan,

kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia) (Wijaya & Putri,

2014).

1) Sirkulasi

a) Adanya penyakit jantung (reumatik atau penyakit jantung

vaskuler, endokarditis, polisitemia, riwayat hipotensi postural )

b) Hipotensi arterial behubungan dengan embolisme atau

malformasi vaskuler

c) Frekuensi nadi dapat berfariasi karena ketidak efektifan fungsi

(Mutaqin, 2013).

2) Eliminasi

a) Perubahan pola berkemih seperti : inkontinesia urin, anuria

Page 43: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

26

b) Distensi abdomen, bising usus (-)

3) Makanan/cairan

a) Nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut atau

peningkatan TIK.

b) Kehilangan sensasi (rasa kecap pada lidah, pipi dan tengkorak)

c) Disfagia, riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah

d) Kesulitan menelan (gangguan pada reflek palatum dan faringeal),

obesitas.

4) Neurosensori

a) Adanya sinkope atau pusing,sakit kepala berat.

b) Kelemahan, kesemutan, kebas pada sisi terkena seperti mati

lumpuh.

c) Penglihatan menurun: buta total, kehilangan daya lihat sebagian

( kebutaan monokuler), penglihatan ganda (diplopia)

d) Sentuhan ; hilangnya rangsangan sensori kontra lateral (ada sisi

tubuh yang berlawanan atau pada ekstremitas dan kadang lateral

satu sisi ) pada wajah.

e) Gangguan rasa pengecap dan penciuman,

f) Gangguan kognitif : penurunan memori.

g) Ekstremitas “: kelemahan atau paralise (kontra leteral), tidak

dapat menggenggam reflek tendon melemah secara kontra lateral.

( Mutaqin, 2013).

5) Pemeriksaan fisik

a) Keadaan umum

Page 44: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

27

(1) Kesadaran; umumnya klien Cerebrovasculer Accident (CVA)

mengalami penurunan kesadaran.

(2) Cara bicara: umumnya pada klien Cerebrovasculer Accident

(CVA) sering mengalami gangguan dalam berbicara yaitu

sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara (Muttaqin, 2012)

(3) Tanda-tanda vital: Umumnya pada klien Cerebrovasculer

Accident (CVA) tekanan darah terjadi peningkatan dan dapat

terjadi hipertensi masif ( tekanan darah > 200 mmHg), denyut

nadi bervariasi dan frekuensi pernapasan meningkat (Muttaqin,

2012)

b) Pemeriksaan Kepala

Kepala Inspeksi :kesimetrisan muka, tengkorak, kulit kepala (lesi,

massa). Palpasi: dengan cara merotasi dengan lembut ujung jari ke

bawah dari tengah tengah garis kepala ke samping. Untuk

mengetahui adanya bentuk kepala pembengkakan, massa, dan nyeri

tekan, kekuatan akar rambut (satyanegara, 2010).

c) Wajah

Pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA) umumnya tidak

simetri yaitu miring ke salah satu sisi yang sehat, klien kesulitan

untuk menggerakkan otot wajah dan berekspresi (Muttaqin, 2011).

d) Mata

Inspeksi: pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA) dengan

serangan berulang umumnya salah satu kelopak mata tampak jatuh,

Page 45: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

28

sklera ikterik, besar pupil anisokor, reflek pupil negatif,

konjungtiva anemis, adanya kotoran atau tidak.

Palpasi: Umumnya bola mata teraba kenyal dan melenting

( Muttaqin, 2011).

e) Hidung

Inspeksi: lubang hidung simetris, ada tidaknya produksi secret,

adanya pendarahan atau tidak, ada tidaknya gangguan penciuman.

Palpasi: ada tidaknya nyeri pada saat sinus di tekan (Debora,2013)

f) Telinga

Inspeksi: pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA) umumnya

simetris, ada tidaknya serumen.

Palpasi: pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA) umumnya

tidak ada nyeri tekan pada daerah tragus (Muttaqin, 2011)

g) Mulut

Inspeksi: Lihat kebersihan mulut dan gigi,umumnya pada klien

Cerebrovasculer Accident (CVA) sianosis, mukosa bibir kering,

terdapat stomatitis, ada plak, mengalami gangguan pengecap, reflek

menguyah dan menelan buruk, paralisis lidah ( Setyadi, 2014).

h) Kulit dan kuku

Inspeksi: umumnya pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA)

kulit tampak pucat karena kekurangan oksigen, pada klien dengan

gangguan imobilisasi fisik umumnya terdapat lesi atau dekubitus

pada tulang yang menonjol seperti punggung,tulang ekor dan

Page 46: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

29

tungkai. Terkadang pada kuku sianosis dan kebersihan kuku

(Muttaqin, 2011).

Palpasi: umumnya pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA)

turgor kulit buruk kembali < 3 detikkarena kekurangan cairan.

i) Leher

Inspeksi: umumnya pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA)

kaku kuduk jarang terjadi, lihat kebersihan kulit sekitar leher

(satyanegara, 2010).

Palpasi: ada tidaknya bendungan ven jugularis, ada tidaknya

pembesaran kelenjar teroid, ada tidaknya deviasi trakea (Debora,

2013)

j) Thorax

Paru-paru

Inspeksi: tampak penggunaan otot bantun nafas diafragma, tampak

retraksi interkosta, peningkatan frekuensi pernafasan, sesak nafas.

Perkusi: terdengar sonor pada ICS 1-5 dextra dan ICS 1-2 sinistra.

Palpasi: Taktil fremitus teraba sama kanan dan kiri, taktil fermitus

teraba lemah

Auskultasi: pemeriksaan bisa tidak ada kelainan dan bisa juga

terdapat bunyi nafas tambahan seperti ronchi pada klien dengan

peningkatan produksi secret, kemampuan batu yang menurun pada

klien yang mengalami penurunan kesadaran (Muttaqin,2011 ;

Debora, 2013).

Page 47: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

30

Pemeriksaan jantung

Inspeksi iktus kordis : denyut jantung (saat kntraksi ventrikel) atau

iktus kordis dapat dilihat di permukaan dinding dada pada ICS 5

midklavukular garis sinistra (Debora, 2013).

Perkusi: jika hasil perkusi terdengar pekak lebih dari batas

sepanjang ICS 3-5, dicurigai terdapat cardiomegali ( pembesaran

jantung), pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA) terjadi

karena adanya komplikasi penyakit lain.

Auskultasi jantung: Bunyi jantung S1 dan S2 murni, tidak ada

suara jantung tambahan ( Nursalam, 2013).

k) Pemeriksaan Punggung

Inspeksi: Perhatikan bentuk tulang belakang klien dari samping dan

belakang. Jika memungkinkan klien diminta untuk berdiri, jika

tidak perhatikan posisi klien saat duduk (Debora, 2017). Perhatikan

gaya berjalan klien, kesimetrisan, dan perubahan yang dirasakan

klien terkain dengan nyeri (Debora, 2017)

Palpasi: Melakukan pemeriksaan taktil fremitus, dengan meleakkan

tangan dipunggung klien lalu minta klien mengatakan “tujuh puluh

tujuh” atau “sembilan puluh sembilan”. Prinsipnya adalah getaran

suara akan merambat melalui udara yang ada dalam paru-paru.

Normalnya getaran akan teraba sama pada telapak tangan kanan

dan kiri (Debora, 2017). Dicari kemungkinan adanya deviasi ke

arah lateral atau anteroposterior (Debora, 2017).

Page 48: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

31

l) Abdomen

Inspeksi: Persebaran warna kulit merata, terdapat distensi perut

atau tidak, umumnya pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA)

tidak terdapat distensi perut kecuali komplikasi lain (Muttaqin,

2011).

Palpasi: ada tidaknya asites atau tidak, umumnya pada klien

Cerebrovasculer Accident (CVA) tidak terdapat nyeri tekan kecuali

pasien mengalamai komplikasi lain.

Perkusi: Untuk mengetahui suara yang dihasilkan dari rongga

abdomen, apakh timpani atau dullnes yanng mana timpani adalah

suara normal dan dullness menunjukkan adanya obstruksi.

Auskultasi: pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA), sura

bising usu menurun < 5x/menit akibat immobilisasi (Muttaqin,

2011).

m) Musculoskeletal

Inspeksi: pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA) sering

terjadi hemiplegi (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada

sisi otak yang berlawanan, hemiparesis atau kelemahan salah satu

sisi tubuh maupun seluruhnya (mutaqin, 2011).

Palpasi: pemeriksaan adanya edema atau tidak pada ekstremitas

atas dan bawah (Debora, 2013).

n) Genetalia

Inspeksi: bersih atau kotor, terdapat perdarahan atau tidak terdapat

massa atau tidak,umumnya pada klien Cerebrovasculer Accident

Page 49: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

32

(CVA) tidak terdapat perdarahan atau peradangan pada genetalia

kecuali ada komplikasi penyakit lain.

Palpasi: terdapat nyeri tekan atau tidak, umumnya pada klien

Cerebrovasculer Accident (CVA) tidak terdapat nyeri tekan kecuali

klien mempunyai komplikasi penyakit lain (Mutaqin, 2011).

o) Anus

Inspeksi :Lihat anus dan area disekitarnya, baik warna, integritas

kulit, lesi kulit. Lalu minta klien untuk mengedan, karean dengan

mengedan kulit bagian dalam anus akan terdorong keluar sehingga

pemeriksa dapat melihat hemoroid internal.

6) Pengkajian saraf kranial

a) Saraf kranial 1

Saraf olfaktorius (saraf karnial 1) menghantar rangsangan bau

menuju otak dan kemudian diolah lebih lanjut. Saraf ini tidak di

periksa rutin, saraf ini hanya di periksa apabila klien tidak dapat

membaui ( Anosmia ).

b) Saraf kranial II

Saraf optikus ( saraf karnial II ) merupakan saraf sensorik murni

yang di mulai di retina. Saraf ini diperiksa untuk mengetahui tes

ketajaman penglihatan, tes konfrontasi dan pemeriksaan fundus.

c) Saraf III, IV dan VI

Saraf okulomotoris, troklearis dan abdusens diperiksa bersama-

sama untuk mengetahui pemeriksaan dan reaksi pupil, dan

pemeriksaan gerakan bola mata.

Page 50: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

33

d) Saraf V

Saraf trigeminus terdiri atas serabut sensorik dan serabut motorik.

Untuk mengetahui pemeriksaan refleks trigeminal, refleks

massester, dan reflek kornea.

e) Saraf kranial IIV

Saraf vasialis mempunyai fungsi sensorik maupun fungsi motorik.

Terdapat teknik pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu inspeksi

adanya asimetri wajah dan lakukan tes kekuatan otot.

f) Saraf kranial VIII

Saraf vestibulokoklearis berfungsi mempertahankan

keseimbangan dan menganhantarkan implus yang memungkinkan

seseorang mendengar. Pada saraf ini dilakukan pemeriksaan

pendengaran dan pemeriksaan fungsi vestibular dimulai dengan

mengkaji adanya keluhan pusing, baik yang bersifat vertigo

maupun yang kurang jelas sifatnya.

g) Saraf kranial IX dan X

Gangguan terhadap saraf glosofaringeus dapat menimbulkan

gangguan menelan, gangguan pengecap dan gangguan di sekitar

orofaring.

h) Saraf kranial XI

Saraf aksesoris untuk menguji kekuatan otot

strenokleidomastoideus dan trapezius dengan menilai kekuatan

otot-otot tersebut, klien diminta untuk memutar kepala ke salah

Page 51: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

34

satu bahu dan berusaha melawan, usaha pemeriksaan untuk

menggerakkan kepala ke arah bahu yang berlawanan

i) Saraf kranial XII

Saraf hipoglosus mengatur otot-otot lidah. Pada pemeriksaan

klien hampir tidak dapat berbicara dan menelan. Pemeriksaan

lidah termasuk ada tidaknya asimetris, deviasi pada satu sisi, dan

fasikuler (Muttaqin, 2012).

1.3.2

2.3.2 Diagnosa Keperawatan

Pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA) dapat ditegakkan diagnosa

keperawatan adalah defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan.

(NANDA, 2016).

Batasan karakteristik klien Cerebrovasculer Accident (CVA) dengan defisit

perawatan diri

1. Tidak mampu melakukan perawatan diri

2. Klien tidak mampu mandi secara mandiri

3. Klien tidak mampu makan secara mandiri

4. Klien tidak mampu berhias secara mandiri

5. Klien tidak mampu ketoilet secara mandiri

6. Minat melakukan perawatan diri kurang

(SDKI, 2016)

Faktor-faktor yang berhubungan (SDKI, 2016)

b. Gangguan muskuloskeletal

c. Gangguan neuromuskuler

Page 52: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

35

d. Kelemahan

e. Gangguan psikologis dan/atau psikotik

f. Penurunan motivasi/minat

2.2 Rencana keperawatan Defisit Perawatan Diri pada klien Cerebrovasculer Accident (CVA).

Tabel 2.2 Rencana KeperawatanTujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x 24 jam diharpkan klien dapat meningkatkan perawatan diri

1. Kemampuan mandi klien meningkat

2. Kemampuan mengenakan pakaian klien meningkat

3. Kemampuan makan klien meningkat

4. Kemampuan klien ke toilet (BAK, BAB)

5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri

6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat.

7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri

8. Klien dapat mempertahan

Observasi:1) monitor tingkat

kemandirian

2) monitor kemampan menelan

3) monitor integritas kulit

4) monitor kebersihan tubuh (mis. Rambut, mulut, kulit, kuku

Terapeutik:5) fasilitasi

kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri

6) dampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri

7) bersihkan alat bantu BAK/BAB setelah dignakan

8) fasilitasi berhias

1) Untuk mengtahui tingkat kemandirian dalam melakukan perawatan diri.

2) untuk memenuhi nutrisi peroral

3) untuk mengetahui tingkat kelembaban kulit

4) untuk mengetahui tingkat kebersihan tubuh klien

5) Agar klien dapat melakukakan perawatan diri secara mandiri

6) untuk mengetahui tingkat kemandirian klien

7) Agar bakteri tidak berkembang di alat tersebut

8) untuk menjaga keberihan dalam

Page 53: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

36

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

kan kebersihan mulut..

(SLKI, 2018)

(mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot)

9) atur posisi yang nyaman untuk makan/minum

10) sediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi,

11) sediakan lingkungan aman dan nyaman

Edukasi:12) anjurkan

melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

13) ajarkan mengenakan pakaian

14) jelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan

15) ajarkan kepada keluarga cara memandikan klien

(SIKI, 2018)

penampilan

9) Untuk menghindari terjadinya klien tersedak

10) mengetahui tingkat kemandirian klien dan menjaga kebersihan tubuh paien

11)agar mempercepat penyembuhan penyakit

12) untuk menetahui tingkat kemandirian klien

13) untuk menetahui tingkat kemandirian klien

14)Agar tubuh bersih dan terawat

15) Agar keluarga dapat merawat kebersihan diri klien secara mandiri

1)

Page 54: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

37

2.3.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan, tahap ini

muncul jika perencanaan yang dibuat diaplikasikan pada klien. Aplikasi yang

dilakukan pada klien akan berbeda, disesuikan dengan kondisi klien saat ini dan

kebutuhan yang paling dirasakan oleh klien ( Nurul, 2016).

2.3.4 Evaluasi

Evaluasi adalah tahap kelima dari proses keperawatan. Pada tahap ini perawat

membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan kriteria hasil yang

sudah ditetapkan serta menilai apakah masalah yang terjadi sudah teratasi

seluruhnya, hanya sebagian, atau bahkan belum teratasi semuanya. Evaluasi

adalah proses yang berkelanjutan yaitu proses yang digunakan untuk mengukur

dan memonitor kondisi klien mengetahui:

1. Kemampuan mandi klien meningkat

2. Kemampuan mengenakan pakaian klien meningkat

3. Kemampuan makan klien meningkat

4. Kemampuan klien ke toilet (BAK, BAB)

5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri

6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat.

7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri

8. Klien dapat mempertahankan kebersihan mulut..

(SLKI, 2018)

Page 55: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Pada penelitian ini desain yang digunakan adalah studi kasus yang bertujuan

untuk mengesplorasi masalah asuhan keperawatan pada klien Cerbrovasculer

acident (CVA) degan masalah defisit perawatan diri di RS panti Waluya Malang.

3.2 Batasan Istilah

Asuhan keperawatan pada klien Cerbrovasculer acident (CVA) degan masalah

defisit perawatan di Rumah Sakit Panti Waluya Malang. Dengan salah satu

batasan karakteristik dibawah ini, yaitu:

1. Klien yang didiagnosa Cerebrovasculer acident (CVA) baik karena

perdarahan ataupun sumbatan

2. Klien tidak mampu mandi secara mandiri

3. Klien tidak mampu berdandan secara mandiri

4. Klien tidak mampu makan dan minum secara mandiri

5. Klien tidak mampu BAK/BAB secara mandiri.

(SDKI, 2016)

3.3 Partisipan

Pada penelitian ini yang menjadi partipan adalah 2 klien yang di diagnosa medis

Cerbrovasculer acident (CVA) degan masalah defisit perawatan diri yang sudah

diperbolehkan oleh dokter penanggung jawab untuk dilakukan mobilisasi di RS

Panti Sawahan Waluya Malang, yaitu Ny.S usia 72 Tahun dan Tn. S usia 63

Tahun.

38

Page 56: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

39

a)

b)

c)

1.

2.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Studi kasus ini dilaksanakan di ruang rawat inap Maria Paviliun dan ruang rawat

inap Unit Stroke Rumah Sakit Panti Waluya Malang dan penelitian ini

dilaksanakan pada bulan April 2020 dengan lama perawatan selama 3 hari. Klien

pertama masuk Rumah Sakit pada tanggal 18-05-2020 dan klien ke dua masuk

rumah sakit pada tanggal 20-05-2020.

4. Pengumpulan Data

Mencari data klien Cerbrovasculer acident (CVA) dengan masalah defisit

perawatan diri. Penulisan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1) Data sekunder

Data yang didapatkan dari perawat yang digunakan untuk melengkapi hasil

penelitian pada klien Cerbrovasculer acident (CVA) degan masalah defisit

perawatan diri di RS Panti Waluya Malang.

5. Uji Keabsahan Data

Disamping integritas penulis, uji keabsahan data dilakukan dengan cara berikut

ini:

1) Memperpanjang waktu pengamatan/ tindakan.

Page 57: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

40

2) Sumber informasi tambahan menggunakan triagulasi dari tiga sumber data

utama yaitu klien, perawat, dan keluarga klien yang berkaitan dengan

masalah yang diteliti.

6. Analisa Data

1. Data dikumpulkan dari hasil World Health Organization (wawancara,

observasi, dokumen). Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian

disalin dalam bentuk transkrip (catatan terstruktur).

2. Penyajian data dapat dilakukan dengan table, gambar, bagan maupun teks

naratif. Kerahasian dari klien dijamin dengan jalan identitas klien dibuat

inisial.

3. Kesimpulan

Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan

hasil-hasil penelitian terdahulu dan secara teoritis dengan perilaku kesehatan.

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi. Data yang

dikumpulkan terkait dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan,

tindakan, dan evaluasi.

7. Etik Penelitian

Dicantumkan etika yang mendasari penyusunan studi kasus, terdiri dari :

1) Lembar persetujuan yang akan diberikan responden yang akan diteliti dan

memenuhi kriteria inklusif dan disertai judul penelitian dan manfaat

penelitian.

2) Anonymity (tanpa nama)

Page 58: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

41

Untuk menjaga kerahasiaan penelitian tidak mencantumkan nama responden

namun hanya dicanrumkan inisial saja.

3) Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok

data tertentu yang dilaporkan hasil peneliti.

Page 59: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada BAB ini penulis membahas hasil dan pembahasan tentang asuhan

keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident dengan masalah Defisit

Perawatan Diri di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

4.2 Hasil

4.1.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data

Penelitan ini dilaksanakan di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.

Pengambilan data pada Klien 1 di rawat di ruang Maria Paviliun diruangan ini

terdapat fasilitas oksigen sentral yang berfungsi sangat baik, didalam kamar

terdapat 2 bed yang fungsinya untuk tempat tidur pasien dan tempat tidur

keluarga. Dilengkapi dengan kamar andi serta fasilitas berupa kulkas untuk

menyimpan makanan. Penggambilan data klien 2 di rawat di ruangan Unit Stroke

yang merupakan ruangan khusus untuk perawatan klien CVA dengan kapasitas 8

tempat tidur yang dilengkapi dengan pagar tempat tidur dan dapat diatur derajat

sudutnya. Ruang perawatan tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas berupa dua

kamar mandi dalam, yang terdiri dari bak mandi, WC duduk, serta tersedia pispot

dan urinal untuk klien. Selain itu juga tersedia 8 oksigen sentral, 8 monitor, 6 AC,

almari pakaian, meja kecil untuk masing-masing klien dan kursi yang disediakan

untuk keluarga saat jam berkunjung, tirai untuk menjaga privasi klien tempat tidur

satu dengan yang lain.

42

Page 60: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

43

4.1.2 Karakteristik Partisipan

Tabel 4. 1 Identitas KlienIdentitas Klien Klien 1 Klien 2

No. RMNamaUmurJenis KelaminAlamat

AgamaPendidikanPekerjaanStatus PernikahanSuku BangsaRuangKamar dan Tempat tidurTanggal MRSTanggal PengkajianDiagnosa Medis

204xxxNy. S72 TahunPerempuanDs.Prodo RT 04/07 Singosari MalangIslamSLTATidak bekerjaPernah KawinJawaMaria Paviliun 4118-05-2020 /13.0020-05-2020/08.30CVA Trombosis

173xxxTn. S63 TahunLaki-lakiJl.Raya Parangargo,Wagir

IslamSDPegawai SwastaKawinJawaUnit Stroke20-05-2020/01.3020-05-2020/13.07CVA Hemoragic

Tabel 4. 2 Identitas Penanggung JawabIdentitas Klien 1 Klien 2

NamaUmurAgamaPendidikanPekerjaanHubungan dengan klien

Ny. S45 TahunIslamSLTAIbu Rumah TanggaKeluarga

Ny. S60 TahunIslamSLTAIbu Rumah TanggaIstri

4.1.3 Data Asuhan Keperawatan

1) Data Riwayat Klien

Tabel 4. 3 Riwayat PenyakitRiwayat Penyakit Klien 1 Klien 2Keluhan Utama Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder klien mengatakan badannya lemas kaki dan tangan sebelah kanan sejak 2 hari yang lalu

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder keluarga Klien mengatakan badan klien tiba-tiba lemas dan bicara pelo sejak 2 jam yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien mengatakan pada tanggal 18-05-2020 pukul 13.00WIB klien masih beraktivitas biasa, dan pada sore harinya klien merasa badan kaki dan tangannya terasa lemas sulit bicara dan sering lupa kemudian pada tanggal 20-05-2020 klien di bawa ke Rumah Sakit Panti Waluya pukul 07.00 WIB, klien

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder keluarga mengatakan pada tanggal 19-05-2020 pukul 07.00 WIB klien masih beraktivitas seperti biasa , Keluarga Klien mengatakan badan klien tiba-tiba lemas dan bicara pelo. Kemudian klien dibawa ke RS Panti Waluya pukul 01.30 WIB, klien masuk di ruang IGD. Saat

Page 61: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

44

Riwayat Penyakit Klien 1 Klien 2masuk di ruangan IGD. Saat dilakukan pemeriksaan didapakan data kelemahan pada bagian kanan, mulut tidak simetris ( cenderung ke

kanan ), kekuatan otot 1|41|4

selain

itu dilakukan pemeriksaan darah lengkap, dan thorax hasil TTV, TD:140/80 mmHg, N: 82 x/menit, S:36,8 ºC, RR: 22x/menit, SpO2 :96 %, GCS: E 4 V 2 M 4, kesadaran composmentis, pusing (+), sulit bicara, badan sebelah kanan lemas. Kemudian dokter memberikan advice infus RL 1000 cc/24 jam, Naulin 500 mg, Ranitidine 50 mg, Topazol 1x1,CPG 75 mg. Dokter menyarankan untuk rawat inap, atas persetujuan keluarga, pukul 12.00 WIB klien dipindahkan ke ruangan Maria Paviliun, hasil pemeriksaan composmentis, GCS: E 4 V 2 M 4, pusing, sulit bicara, badan sebelah kanan lemas.dilakukan pemeriksaan CT Scan Hasil bacaan: Infark subakut di lobus parietooccipitalis kiri, senile brain atrophy, Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20-05-2020 klien mengatakan badan terasa lemas kaki dan tangan sebelah kanan, klien rambut klien tampak sedikit kotor, klien menggunakan katater ukuran 14 dan klien menggunakan pempres, Klien tidak bisa memenuhi kebutuhan ADL secara mandiri (makan, oral hygiene, toileting, berpakaian, mandi), segala sesuatu yang berhubungan dengan klien di bantu oleh perawat dan keluarga Hasil pemeriksaan GCS: E 4 V 2 M 4 kesadaran composmentis,

kekuatan otot 1|41|4

TTV; TD:

140/80 mmHg, Nadi: 82 x/menit, RR: 22 x/menit, Suhu: 36,8 ºC, spO2: 96%. Dan didaptkan pemeriksaan sarafN. I (olfaktorius): penciuman normal, klien dapat mencium bau minyak kayu putihN. II (optikus): klien dapat melihat benda di sekitarnya dengan jelas pada jarak 1 meter

dilakukan pemeriksaan didapatkan data kelemahan pada tubuh bagian kanan, mulut tidak simetris (cenderung ke kiri), kekuatan otot 5|35|3 selain itu dilakukan

pemeriksaan darah lengkap dan thorax, hasil TTV; TD: 220/120 mmHg, N: 118 x/menit, S: 36,9ºC, RR: 24x/menit, SpO2: 95%, GCS: E 2 V 2 M 4, kesadaran: Stupor , bicara pelo, badan sebelah kiri lemas. Kemudian dokter memberikan advice RL 500cc/24 jamBeclov/citicoline 500 mg 3x, topazol, katese 3x1 santagesic 1 amp, ondancentron. Dokter menyarankan untuk rawat inap, atas persetujuan keluarga, pukul 16.00 klien di pindahkan ke ruang US, hasil pemeriksaan kesadaran composmentis, GCS: E 2 V 2 M 4, badan kaki tangan sebelah kiri lemas, bicara pelo, dilakukan CT Scan kepala dengan hasil intra cerebral hemorrhage dextra.Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20-05-2020 pukul 14.00 WIB keluarga klien mengatakan badan sebelah kiri terasa lemas. Klien tidak bisa memenuhi kebutuhan ADL secara mandiri (makan, oral hygiene, toileting, berpakaian, mandi), segala sesuatu yang berhubungan dengan klien di bantu oleh perawat dan keluarga. Hasil pemeriksaan GCS: E 2 V 2 M 4 kesadaran stupor, kekuatan otot 5|35|3 TTV; TD: 140/90 mmHg,

Nadi: 86 x/menit, RR: 20 x/menit, Suhu: 36 ºC, spO2: 95%. Dan didapatkan pemeriksaan sarafN. I (olfaktorius): klien belum bisa membauN. II (optikus): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak bisa membuka mataN. III (kulomotoris):saat dilakukan

Page 62: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

45

Riwayat Penyakit Klien 1 Klien 2N. III (kulomotoris): kelopak mata tampak normal, klien dapat mengangkat kelopak mata (berkedip), diameter pupil 2 mm isokor, reflek cahaya +/+N. IV (troklearis): klien dapat mengikuti arah gerak jari pemeriksa ke atas, bawah, kanan dan kiriN. V (trigeminus): klien dapat membuka rahang dan tampak simetris, klien dapat menutup mulut dengan rapatN. VI (abdusen): klien dapat menggerakkan bola mata ke samping kanan dan kiri.N. VII (fasialis): bentuk mulut tidak simetris, senyum klien tidak simetris cenderung ke posisi kananN. VIII (vestibularis): fungsi pendengaran klien normal, klien dapat menjawab pertanyaan dengan benar saat diberi pertanyaan oleh perawat dengan terbatah-terbatah pada jarak 1 meterN. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien dapat membuka mulutN. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, bahu kiri yang dapat menggerakkan ke atasN. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien mampu menggerakkan lidah ke kanan dan ke kiri

pemeriksaan pada kelopak mata klien tidak bisa membuka mata, diameter pupil 2 mm isokor, reflek cahaya +/+N. IV (troklearis): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. V (trigeminus): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. VI (abdusen): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. VII (fasialis): bentuk mulut simetris, senyum klien tidak simetris cenderung ke posisi sebelah kiriN. VIII (vestibularis): fungsi pendengaran klien normal, klien dapat menjawab pertanyaan dengan benar saat diberi pertanyaan oleh perawat dan dokter pada jarak 2 meterN. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien tidak dapat membuka mulutN. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, klien tidak dapat mengikuti perintahN. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien tidak mampu menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan

Riwayat Penyakit Dahulu

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien mengatakan mempunyai riwayat hipertensi dan rutin minum obat (captopril, furosemide, amlodipine, candesartan) sesuai yang diberikan oleh dokter. Jadi ini serangan stroke pertama

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder keluarga klien mengatakan klien menderita darah tinggi, klien juga tidak rutin minum obat hipertensi (captopril). Ini serangan stroke pertama karena sebelumnya klien tidak pernah sakit stroke.

Riwayat Penyakit Keluarga

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien menjelaskan keluarga tidak memiliki riwayat hipertensi

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder keluarga klien mengatankan ibunya memiliki riwayat hipertensi.

Page 63: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

46

Riwayat Penyakit Klien 1 Klien 2

Genogram

: laki-laki : perempuan : menikah : keturunan : tinggal serumahX : meninggal : klien

: laki-laki : perempuan : menikah : keturunan : tinggal serumahX : meninggal : klien

Riwayat Alergi Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi baik terhadap makanan, minuman maupun obat.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder keluarga klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi baik terhadap makanan, minuman maupun obat.

2) Pola Konsep DiriTabel 4.4 Persepsi Diri

Persepsi Diri Klien 1 Klien 2Gambaran Diri Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder klien mampu menerima keadaannya saat ini, meski tangan dan kaki kanannya lemas.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien tidak terkaji dikarenakan kesadaran klien stupor

Identitas Diri Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien adalah wanita yang harus banyak beristirahat karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bekerja.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien tidak terkaji dikarenakan kesadaran klien stupor

Peran Diri Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien adalah wanita yang pernah menikah dan hanya mengurus rumah sendiri.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien tidak terkaji dikarenakan kesadaran klien stupor

Ideal Diri Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien mengatakan ingin

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien tidak terkaji dikarenakan kesadaran klien

Page 64: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

47

cepat pulang dan bisa beraktivitas seperti biasa.

stupor

Harga Diri Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien mengatakan tidak malu dengan penyakit yang dideritanya saat ini

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien tidak terkaji dikarenakan kesadaran klien stupor

3) Perubahan Pola KesehatanTabel 4. 5 Pola Kesehatan

Pola Kesehatan Klien 1 Klien 2Pola NutrisiDi Rumah Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder klien Makan 2x/hariMinum ± 800 cchariJenis makanan sayur, tempe, ayam, nasiJenis minuman air putihKeterangan: klien mengatakan menyukai semua jenis makanan, tetapi bukan makanan sembarangan (sesuai anjuran dokter).

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data klien Makan 3x/hariMinum ± 1500ccJenis makanan nasi, ayam, sayurJenis minuman air putih, kopiKeterangan: klien mengatakan menyukai semua jenis makanan, kecuali yang manis-manis

Di Rumah Sakit Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien pada saat dilakukan pengkajian klien mendapat diet cair 6x200 cc.Minum sari kacang hijau, jus dan air putihDiit kalori sonde vuding (bubur nasi, telur rebus, wortel rebus, tahu/tempe rebus, air hangat).Input cairan ± 1250

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data klien Pada saat dilakukan pengkajian klien mendapat diet cair 6x200 cc.Minum sari kacang hijau, jus dan air putihDiit Sonde Bubur RGRL sayur lauk halusInput cairan ± 1250

Pola Kebersihan DiriDi Rumah Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder klien klien mengatakan di rumah mandi 2x sehari menggunakan sabun mandi, keramas 1x satu minggu menggunakan shampoo.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien klien mengatakan di rumah mandi 2x sehari menggunakan sabun mandi, keramas 2x satu minggu menggunakan shampo, gosok gigi 2x sehari.

Di Rumah Sakit Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien saat dilakukan pengkajian, keluarga mengatakan di seka 2x sehari oleh perawat dan oral hygine 2x sehari.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien saat dilakukan pengkajian klien mengatakan 2x sehari di seka oleh keluarganya dan gosok gigi 2x sehari.

Pola EliminasiDi Rumah Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder klien klien mengatakan BAK frekuensi ±5-6 x/hari, warna

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien klien mengatakan BAK frekuensi ±5-6x/hari, warna

Page 65: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

48

Pola Kesehatan Klien 1 Klien 2urine kuning jernih. Klien mengatakan BAB 1 x/hari, konsistensi lembek, bau khas BAB warna kuning kecoklatan

urine kuning jernih. Klien BAB 1-2x/hari, konsistensi lembek, bau khas BAB, warna kuning kecoklatan

Di Rumah Sakit Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien saat dilakukan pengkajian klien Klien menggunakan kateter BAK dari jam 06.00-12.00 WIB ± 600cc, warna kuning jernih. Selama di Rumah sakit klien belum BAB.Balance cairan: 1250 – 600 = 550

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien saat dilakukan pengkajian jumlah Klien menggunakan kateter BAK dari jam 06.00-12.00 WIB ± 650cc, warna kuning jernih. Selama di Rumah sakit klien belum BAB.Balance cairan: 1250 – 650 = 600

Pola AktivitasDi Rumah Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder klien klien berperan sebagai seorang anak yang belum menikah dan tinggal sendiri, kegiatan sehari-hari di rumah saja dilakukan secara mandiri seperti membersihkan rumah, mengambil air minum, mandi, berpakaian, BAK, BAB.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien klien berperan sebagai ayah dan kepala rumah tangga, kegiatan sehari-hari adalah bekerja sebagai pedagang di pasar, aktivitas dilakukan secara mandiri seperti kepasar, berjualan, makan, mandi, berpakaian, BAK, BAB.

Di Rumah Sakit Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien klien bedrest total aktivitasnya dilakukan di tempat tidur di bantu (mandi, berpakaian, BAK, BAB, makan, berhias) keluarga dan perawat, aktivitas sesuai anjuran dokter (mis. Miring kanan-kiri, ROM pasif-aktif).

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien klien bedrest total aktivitasnya dilakukan di tempat tidur di bantu (mandi, berpakaian, BAK, BAB, makan, berhias) keluarga dan perawat, aktivitas sesuai anjuran dokter (mis. Miring kanan-kiri, ROM pasif-aktif).

Pola Istirahat TidurDi Rumah Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder klien klien mengatakan tidur selama 8 jam mulai dari jam 21.00 WIB sampai jam 05.00 WIB klien mengatakan tidur siang 2 jam dari jam 13.00 WIB sampai jam 15.00 WIB

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien keluarga klien mengatakan tidur malam selama 6 jam mulai dari ja 22.00 WIB sampai jam 04.00 WIB klien mengatakan jarang tidur siang karena pada siang hari klien bekerja jualan di pasar

Di Rumah Sakit Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien klien tidur malam 9 jam, mulai jam 20.00 WIB sampai jam 05.00 WIB tidur siang ±1 jam mulai dari jam 12.00 WIB kemudian tidur siang mulai jam 14.00 sampai jam 15.00 WIB

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien saat dilakukan pengkajian klien bedrest total

4) Pemeriksaan FisikTabel 4. 6 Pemeriksaan Fisik

Page 66: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

49

Observasi Klien 1 Klien 2

Kesadaran UmumKesadaranGCSTDNadiSuhuRespirasiSaturasi O2

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klienCukupComposmentisE 4 V 2 M 4140/80 mmHg82 x/menit36,8 0C22 x/menit96%

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klienLemasStuporE 2 V 2 M 4220/120 mmHg118 x/menit36,9 0C24 x/menit97%

Pemeriksaan Kulit dan Kuku

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- Inspeksi : warna kulit kuning langsat, persebaran warna merata, tidak ada edema, tidak ada lesi, kuku terlihat panjang dan terlihat kotor.

- Palpasi : kondisi kulit keringTurgor kulit : <2 detikCRT : <2 detik

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- Inspeksi : warna kulit putih, persebaran warna merata, tidak ada edema, tidak ada lesi

- Palpasi : kondisi kulit lembab, tidak ada nyeri tekan

Turgor kulit : <2detikCRT : <2detik

Pemeriksaan Kepala Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- Inspeksi : Normal cepal, persebaran rambut merata, rambut beruban, tidak tampak lesi, rambut sedikit berketombe

- Palpasi : tidak teraba massa, tidak ada lesi

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- Inspeksi : Normal cepal, persebaran rambut merata, rambut beruban, tidak tampak lesi, rambut sedikit berketombe

- Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada kepala klien, tidak teraba massa

Pemeriksaan Mata Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunderInspeksi

Alis : persebaran merata, simetris kanan-kiri

Mata : simetrisBola mata : bulatSklera : putih susuKonjungtiva : merah mudaPupil : isokor

- Palpasi : teraba kenyal pada kedua bola mata

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien

- Inspeksi :-Alis : persebaran merata,

simetris kanan-kiriMata : simetris, tidak terdapat

kantong mataBola mata : bulat, gerakan bola

mata normalSklera : putih susuKonjungtiva : merah mudaPupil : isokor

- Palpasi : teraba kenyal pada kedua bola mata, klien mengatakan tidak ada nyeri tekan

Page 67: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

50

Observasi Klien 1 Klien 2Pemeriksaan Hidung Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiLubang hidung: bentuk simetris, lubang hidung bersih, Hidung : terpasang nasal kanul 4 lpm

- PalpasiKlien mengatakan tidak ada nyeri tekan saat di palpasi

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiLubang hidung : bentuk

simetris, lubang hidung bersih

Hidung : terpasang nasal kanul 3 lpm, tidak ada pernapasan cuping hidung

- PalpasiKlien mengatakan tidak ada nyeri tekan saat di palpasi

Pemeriksaan Telinga Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiDaun telinga : simetris, tidak

ada lesiLubang telinga : terdapat

sedikit serumen, gendang telinga utuh

- Palpasi : tidak tampak pembesaran pada kelenjar tyroid

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiDaun telinga : simetris, tidak

ada lesi di sekitar daun telinga

Lubang telinga : bersih, tampak adanya serumen, gendang telinga utuh

- Palpasi : klien mengatakan tidak ada nyeri tekan saat di palpasi dan tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

Pemeriksaan Mulut Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Bibir : mukosa bibir lembab, tidak sianosis, nampak tidak simetris dan cenderung kekiri.

Gigi : gigi masih utuh, belum gosok gigi, tidak ada caries gigi

Gusi : berwarna merah mudaLidah : berwarna merah mudaUvula : tepat berada ditengahTonsil : tidak ada pembesaran

tonsilBau mulut tidak sedap

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Bibir : mukosa bibir lembab, tidak sianosis, nampak tidak simteris dan cenderung kekanan.

Gigi : gigi masih utuh, belum gosok gigi, tidak ada caries gigi

Gusi : berwarna merah mudaLidah : berwarna merah mudaUvula : tepat berada ditengahTonsil :tidak ada pembesaran

tonsilBau mulut tidak sedap

Pemeriksaan Leher Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiKondisi kulit : persebaran

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiKondisi kulit : persebaran

Page 68: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

51

Observasi Klien 1 Klien 2warna kulit merata, tidak tampak lesi.

- PalpasiKelenjar tyroid : tidak ada

benjolan, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

Vena jugularis : tidak bendungan pada vena jugularis

Trakea : berada ditengahKelenjar limfe : tidak ada

pembesaran

warna kulit merata, tidak tampak lesi

- PalpasiKelenjar tyroid : tidak ada

benjolan, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

Vena jugularis : tidak ada bendungan pada vena jugularis

Trakea : berada ditengah, tidak nyeri saat menelan

Kelenjar limfe : tidak ada pembesaran limfe, tidak ada nyeri tekan pada kelenjar limfe

Pemeriksaan Thorax Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Pemeriksaan paru

- InspeksiDada : bentuk dada normal

Kondisi kulit : bersih, persebaran warna kulit merata, tidak tampak lesi

Tampak retraksi dinding dada

- PalpasiTaktil fremitus teraba kanan

dan kiri pada dada

- PerkusiSonor pada ICS 1-2

- AuskultasiTidak terdapat suara napas

tambahan

(ronchi) (wheezing)

Pemeriksaan jantung

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Pemeriksaan paru

- InspeksiDada : bentuk dada normalKondisi kulit : bersih,

persebaran warna kulit merata, tidak tampak lesi

Tampak retraksi dinding dada

- PalpasiTaktil fremitus teraba kanan dan

kiri pada dada

- PerkusiSonor pada ICS 1-2

- AuskultasiTidak terdapat suara napas

tambahan

(ronchi) (wheezing)

Pemeriksaan jantung

- InspeksiIctus cordis tampak pada ics 5

midclavicula sinistra

- Palpasi

Page 69: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

52

Observasi Klien 1 Klien 2- InspeksiIctus cordis tampak pada ics 5

midclavicula sinistra

- PalpasiIctus cordis : tinggi tidak lebih

dari 1 cm

- PerkusiTerdengar sonor pada seluruh

lapang paru kecuali ics 3-5 sinistra terdengar pekak

- AuskultasiBj 1 : bunyi jantung terdengar

(lup) tunggalBj 2 : bunyi jantung terdengar

(dup) tunggalBj 3 : tidak ada bunyi jantung

tambahan

Ictus cordis : tinggi tidak lebih dari 1 cm

- PerkusiTerdengar sonor pada seluruh

lapang paru kecuali ics 3-5 sinistra terdengar pekak

- AuskultasiBj 1 : bunyi jantung terdengar

(lup) tunggalBj 2 : bunyi jantung terdengar

(dup) tunggalBj 3 : tidak ada bunyi jantung

tambahan

Pemeriksaan Abdomen Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiAbdomen datar, persebaran

warna abdomen merata, tidak tampak lesi

- AuskultasiBising usus x8/menit

- PalpasiTidak ada pembesaran pada

hepar

- PerkusiTimpany di semua lapang

abdomen

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiAbdomen datar, persebaran

warna abdomen merata, tidak ada lesi

- AuskultasiBising usus 6x/menit

- PalpasiTidak ada pembesaran hepar,

tidak ada nyeri tekan

- PerkusiTimpany di semua lapang

abdomenPemeriksaan Genetalia Berdasarkan informasi dari

perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi :klien menggunakan kateter, klien memakai diapers, tidak tampak lesi

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi : klien memakai kateter, slang kateter bersih, memakai diapers, tidak tampak lesi

Pemeriksaan Muskolosketal

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiTidak ada edema, persebaran

warna kulit merata

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

- InspeksiTidak ada edema, persebaran

warna kulit merata

Page 70: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

53

Observasi Klien 1 Klien 2- PalpasiTidak ada nyeri tekan- Kekuatan otot : tidak

melawan gravitasi, kelemahan pada ekstremitas kanan

1 4

1 4

- PalpasiTidak ada nyeri tekan- Kekuatan otot : tidak

melawan gravitasi, kelemahan pada ekstremitas kiri

5 35 3

Pemeriksaan saraf Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunderN. I (olfaktorius): penciuman normal, klien dapat mencium bau minyak kayu putihN. II (optikus): klien dapat melihat benda di sekitarnya dengan jelas pada jarak 1 meterN. III (kulomotoris): kelopak mata tampak normal, klien dapat mengangkat kelopak mata (berkedip), diameter pupil 2 mm isokor, reflek cahaya +/+N. IV (troklearis): klien dapat mengikuti arah gerak jari pemeriksa ke atas, bawah, kanan dan kiriN. V (trigeminus): klien dapat membuka rahang dan tampak simetris, klien dapat menutup mulut dengan rapatN. VI (abdusen): klien dapat menggerakkan bola mata ke samping kanan dan kiri.N. VII (fasialis): bentuk mulut tidak simetris, senyum klien tidak simetris cenderung ke posisi kananN. VIII (vestibularis): fungsi pendengaran klien normal, klien dapat menjawab pertanyaan dengan benar saat diberi pertanyaan oleh perawat dengan terbatah-terbatah pada jarak 1 meterN. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien dapat membuka mulutN. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, bahu kiri yang dapat

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunderN. I (olfaktorius): klien belum bisa membauN. II (optikus): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak bisa membuka mataN. III (kulomotoris):saat dilakukan pemeriksaan pada kelopak mata klien tidak bisa membuka mata, diameter pupil 2 mm isokor, reflek cahaya +/+N. IV (troklearis): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. V (trigeminus): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. VI (abdusen): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. VII (fasialis): bentuk mulut simetris, senyum klien tidak simetris cenderung ke posisi sebelah kiriN. VIII (vestibularis): fungsi pendengaran klien normal, klien dapat menjawab pertanyaan dengan benar saat diberi pertanyaan oleh perawat dan dokter pada jarak 2 meterN. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien tidak dapat membuka mulutN. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, klien tidak dapat mengikuti perintahN. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien tidak mampu

Page 71: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

54

Observasi Klien 1 Klien 2menggerakkan ke atasN. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien mampu menggerakkan lidah ke kanan dan ke kiri

menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan

5) Pemeriksaan PenunjangTabel 4. 7 Pemeriksaan Penunjang Klien 1

Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal03-03-2020 CT Scan Kepala Hasil bacaan: Infark subakut di lobus

parietooccipitalis kiri, senile brain atrophy02-03-2020 THORAX COR ukuran membesar Aorta klasifikasi

Pulmo tak tampak kelainan, diafragma dan sinus costofrenikus baik

02-03-2020; 19.29

Jumlah LeukositJumlah EritrositHemoglobinHematocritMCVMCHMCHCJumlah TrombositRDW-SDRDW-CVPDWMPVP-LCRPCTNeutrophilLimfositMonositEosinophilBasophilJumlah NeutrofilJumlah LimfositJumlah MonositJumlah EosinofilJumlah BasofilUreumBUNKreatininNatrium (Na)Kalium (K)Klorida (CI)

14.825,0615,745,489,731,034,67234413,410,39,320,60.67078,012,17,61,80.511,61,81.120.30.135.716,70.561403,86101

10^3/µL10^6/µLg/dL%fLpgg/dL10^3/µLfL%fLfL%%%%%%%10^3/µL10^3/µL10^3/µL10^3/µL10^3/µLmg/dLmg/dLmg/dLmEq/LmEq/LmEq/L

4.0-11.04.00-5.0011.5-15.037.0-45.082.0-92.027.0-31.032.0-37.0150-40035-4711.5-14.59.0-13.07.2-11.115.0-25.00.150-0.40050-7020-402-81-30-11.5-7.01.0-3.70.16-1.000-0.80-0.221-4310,0-20,0<0.95135-145

Tabel 4. 8 Pemeriksaa Penunjang Klien 2Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

10-03-2020 CT Scan Kepala Hasil bacaan: intra cerebral hemorrhage dextra10-03-2020 THORAX Kedua sinus/diaphragma normal

Bentuk dan besar COR “suspect membesar kekiri” foto exp, tidak tampak infiltrat proses

Page 72: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

55

Corakan brnchovascular paru normal10-03-2020; 22.06

Jumlah LeukositJumlah EritrositHemoglobinHematocritMCVMCHMCHCJumlah TrombositRDW-SDRDW-CVPDWMPVP-LCRPCTNeutrophilLimfositMonositEosinophilBasophilJumlah NeutrofilJumlah LimfositJumlah MonositJumlah EosinofilJumlah BasofilUreumBUNKreatininNatrium (Na)Kalium (K)Klorida

16,675,5416,448,787,929,633,72544313,312,811,032,60.28065,422,85,55,90.410,93,80.911,00.145,421,21,231422,86105

10^3/µL10^6/µLg/dL%fLpgg/dL10^3/µLfL%fLfL%%%%%%%10^3/µL10^3/µL10^3/µL10^3/µL10^3/µLmg/dLmg/dLmg/dLmEq/LmEq/LmEq/L

4.0-11.04.50-5.5013.0-17.040.0-50.082.0-92.027.0-31.032.0-37.0150-40035-4711.5-14.59.0-13.07.2-11.115.0-25.00.150-0.40050-7020-402-81-30-11.5-7.01.0-3.70.16-1.000-0.80-0.218-5510,0-20,0<1,20135-1453,50-5,5094-110

6) Terapi Tabel 4. 9 Terapi Obat Klien 1

Nama Obat Rute TerapiRL 1000cc/24 jam

IV Ralutan steril yang digunakan sebagai penambahan cairan dan elektrolit tubuh untuk mengambilkan keseimbangannya, cairan ini juga dapat bertidak sebagai alkalisator yang mengurangi keasaman

Neulin 500 mg 3x1

IV Memelihara kesehatan dengan memperbaiki daya ingat dan fungsi kognitif

Neurotam 3x3 gr IV untuk pengobatan infark serebral (kerusakan jaringan di otak akibat tidak mendapatkan cukup suplai oksigen, karena terhambatnya aliran darah ke otak).

Ketesse 3x 1 IV Untuk Nyeri muskuloskeletal akut, dismenorea, sakit gigi, nyeri paska operasi.

Topazol 1x1 IV untuk mengatasi berbagai masalah perut dan kerongkongan yang disebabkan oleh asam lambung

CPG 75 mg1-0-0

Oral untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke pada orang-orang yang beresiko tinggi.

Tromboredutin1-0-0

Oral  untuk mengobati pasien dengan esensial trombositemia yang terkait kelainan myeloproliferative, untuk mengurangi jumlah trombosit yang meningkat dan mengurangi risiko trombosis dan untuk memperbaiki gejala terkait dan termasuk kejadian trombohemorrhagic

Velcom Plus 2x Oral obat yang digunakan sebagai anti diabetes mellitus tipe 2 atau

Page 73: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

56

500 penyakit kencing manis

Tabel 4. 10 Terapi Obat Klien 2Nama Obat Rute Terapi

RL 500cc/24 jam

IV Ralutan steril yang digunakan sebagai penambahan cairan dan elektrolit tubuh untuk mengambilkan keseimbangannya, cairan ini juga dapat bertidak sebagai alkalisator yang mengurangi keasaman

Beclov/citicoline 500 mg 3x1

IV Digunakan untuk klien yang kehilangan kesadaran akibat kerusakan atau bedah otak, trauma dan infark serta infeksi serebral. Mempercepat pemulihan ekstremitas atas pada klien dengan hemiplegia yang menyertai apopleksia serebral, untuk terapi klien dengan paralisis ekstremitas bawah yang relatif ringan dalam 1 tahun terakhir dan sedang menjalani rehabilitasi serta mendapat terapi obat oral biasa.

Katese 3x1 IV Untuk Nyeri muskuloskeletal akut, dismenorea, sakit gigi, nyeri paska operasi.

Topazol IV untuk mengatasi berbagai masalah perut dan kerongkongan yang disebabkan oleh asam lambung.

Santagesic 1 amp

IV untuk mengatasi nyeri akut atau kronik berat seperti sakit kepala, sakit gigi, tumor, nyeri pasca operasi dan nyeri pasca cedera, nyeri berat yang berhubungan dengan spasme otot polos (akut atau kronik)

Ondancentron IV untuk mencegah serta mengobati mual dan muntah yang bisa disebabkan oleh efek samping kemoterapi, radioterapi, atau operasi.

Acran IV obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung, seperti sakit maag dan tukak lambung

Nircadipin IV mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi). Menurunkan tekanan darah tinggi akan membantu mencegah stroke, serangan jantung, dan masalah ginjal

Captopril Oral berfungsi untuk menangani hipertensi ndan gagal jantung..

7) Analisa DataTabel 4. 11 Analisa Data

Analisa Data Masalah EtiologiKlien 1DS:- klien mengatakan badan terasa lemas sebelah

kanan- Klien mengatakan tangan dan kaki kanan

lemah serta bedrest total.- Klien mengatakan kebutuhan aktivitas mandi,

makan, brhias, BAK/BAB dibantu oleh keluarga atau perawat.

DO:- Klien didiagnosa CVA pada tanggal 18-05-

2020- Kesadaran composmentis- K/U cukup- Kondisi kulit kering- Rambut terdapat ketombe- Kuku trlihat panjang dan kotor- Adanya serumen di telinga- Belum gosok gigi bau tidak sedap

Defisit perawatan diri CVA

Non Hemoragik

trombus

sumbatan arteri

aliran darah menurun

iskemik

gangguan mobilitas fisik

Page 74: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

57

- Tidak mampu mandi secara mandiri- Tidak mampu mengenakan pakaian secara

mandiri- Tidak mampu ke toilet secara mandiri- Tidak mampu berhias secara mandiri.- Klien saat mau mandi sedikit malas- Klien terlihat bedrest total dan hanya mampu

miring kanan-kiri dan ROM pasif- Pemeriksaan saraf:N. V (trigeminus): klien dapat membuka rahang dan tampak simetris, klien dapat menutup mulut dengan rapatN. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien dapat membuka mulutN. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, bahu kiri yang dapat menggerakkan ke atasN. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien mampu menggerakkan lidah ke kanan dan ke kiri

- TTVTD :140/80 mmHgN :82 x/menitS :36,8 0CRR :22 x/menitSPO2 : 96%- Kekuatan otot klien:

kanan kiri 1 4

1 4

defisit perawatan diri

Klien 2DS:

- Keluarga Klien mengatakan badan klien tiba-tiba lemas dan bicara pelo sejak

- Keluarga klien mengatakan memiliki riwayat hipertensi

- Keluarga klien mengatakan kebutuhan aktivitas dibantu oleh keluarga atau perawat.

DO:- Klien didiagnosa CVA pada tanggal 20-05-

2020- Kesadaran stupor- K/U lemas- Rambut sedikit berketombe- Adanya serumen di telinga- Klien belum gosok gigi

Defisit perawatan diri CVA

hemoragic

pecahnya pembuluh darah

aliran subtansi aracnoid

perubahan komponen intracranial

Page 75: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

58

- Tidak mampu mandi secara mandiri- Tidak mampu mengenakan pakaian secara

mandiri- Tidak mampu ke toilet secara mandiri- Tidak mampu berhias secara mandiri.- Pemerksaan saraf :- N. V (trigeminus): pada saat dilakukan

pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintah

- N. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien tidak dapat membuka mulut

- N. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, klien tidak dapat mengikuti perintah

- N. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien tidak mampu menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan- TTV

TD: 220/120 mmHgN: 118 x/menitS: 36,9 0CRR: 24 x/menit

- Kekuatan otot:

5 3

5 3

TIK meningkat

Herniasi otak

Nekrosis jaringan otak

Gangguan mobilitas fisik

Defisit perawatan diri

8) Diagnosa KeperawatanTabel 4. 12 Diagnosa Keperawatan

Tanggal Diagnosa KeperawatanKlien 105-03-2020 Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler

ditandai dengan kelemahan otot,tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB

Klien 212-03-2020 Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler

ditandai dengan kelemahan otot,tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB

9) Intervensi KeperawatanTabel 4. 13 Intervensi Keperawatan Klien 1

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

Setelah dilakukan

Menurut PPNI, 2018 Menurut PPNI, 2018 Menurut PPNI, 2018

Page 76: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

59

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

tindakan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam klien dan keluargamengerti tentang pentingnya perawatan diri seperti mandi, makan, berhias, BAK/BAB

1. Kemampuan mandi klien meningkat

2. Kemampuan mengenakan pakaian klien meningkat

3. Kemampuan makan klien meningkat

4. Kemampuan klien ke toilet (BAK, BAB)

5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri

6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat.

7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri

8. Klien dapat mempertahankan kebersihan mulut..

Observasi:1. monitor tingkat

kemandirian

2. monitor kemampan menelan

3. monitor integritas kulit

4. monitor kebersihan tubuh (mis. Rambut, mulut, kulit, kuku

Terapeutik:5. fasilitasi

kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri

6. dampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri

7. bersihkan alat bantu BAK/BAB setelah dignakan

8. fasilitasi berhias (mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot)

9. atur posisi yang nyaman untuk makan/minum

10. sediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi,

11. sediakan lingkungan aman dan nyaman

Edukasi:12. anjurkan melakukan

13. perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

14. ajarkan mengenakan pakaian

1) Untuk mengtahui tingkat kemandirian dalam melakukan perawatan diri.

2) untuk memenuhi nutrisi peroral

3) untuk mengetahui tingkat kelembaban kulit

4) untuk mengetahui tingkat kebersihan tubuh klien

5) Agar klien dapat melakukakan perawatan diri secara mandiri

6) untuk mengetahui tingkat kemandirian klien

7) Agar bakteri tidak berkembang di alat tersebut

8) untuk menjaga keberihan dalam penampilan

9) Untuk menghindari terjadinya klien tersedak

10) mengetahui tingkat kemandirian klien dan menjaga kebersihan tubuh paien

11)agar mempercepat penyembuhan penyakit

12) untuk menetahui tingkat kemandirian klien

13) untuk menetahui tingkat kemandirian klien

14) agar klien mampu mengenakan pakian secara mandiri

Page 77: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

60

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

15. jelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan

16. ajarkan kepada keluarga cara memandikan klien

17. Beri penyuluhan kepada keluarga dan klien tentang Defisit perawatan diri

15) Agar tubuh bersih dan terawat

16) Agar keluarga dapat merawat kebersihan diri klien secara mandiri

17) Agar keluarga dan klien memahami tentang defisit perawatan diri

Tabel 4. 14 Intervensi Keperawatan Klien 2Diagnosa

KeperawatanTujuan dan

Kriteria HasilIntervensi Rasional

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam klien dan keluargamengerti tentang pentingnya perawatan diri seperti mandi, makan, berhias, BAK/BAB

Menurut PPNI, 2018

1. Kemampuan mandi klien meningkat

2. Kemampuan mengenakan pakaian klien meningkat

3. Kemampuan makan klien meningkat

4. Kemampuan klien ke toilet (BAK, BAB)

5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri

6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat.

Menurut PPNI, 2018

Observasi:1. monitor tingkat

kemandirian

2. monitor kemampan menelan

3. monitor integritas kulit

4. monitor kebersihan tubuh (mis. Rambut, mulut, kulit, kuku

Terapeutik:5. fasilitasi

kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri

6. dampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri

7. bersihkan alat bantu BAK/BAB setelah

Menurut PPNI, 2018

1) Untuk mengtahui tingkat kemandirian dalam melakukan perawatan diri.

2) untuk memenuhi nutrisi peroral

3) untuk mengetahui tingkat kelembaban kulit

4) untuk mengetahui tingkat kebersihan tubuh klien

5) Agar klien dapat melakukakan perawatan diri secara mandiri

6) untuk mengetahui tingkat kemandirian klien

7) Agar bakteri tidak berkembang di alat tersebut

Page 78: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

61

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri

8. Klien dapat mempertahankan kebersihan mulut.

dignakan

8. fasilitasi berhias (mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot)

9. atur posisi yang nyaman untuk makan/minum

10. sediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi,

11. sediakan lingkungan aman dan nyaman

Edukasi:12. anjurkan melakukan

13. perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

14. ajarkan mengenakan pakaian

15. jelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan

16. ajarkan kepada keluarga cara memandikan klien

17. Beri penyuluhan kepada keluarga dan klien tentang defisit perawatan diri

8) untuk menjaga keberihan dalam penampilan

9) Untuk menghindari terjadinya klien tersedak

10) mengetahui tingkat kemandirian klien dan menjaga kebersihan tubuh paien

11)agar mempercepat penyembuhan penyakit

12) untuk menetahui tingkat kemandirian klien

13) untuk menetahui tingkat kemandirian klien

14) agar dapat mengenakan pakaian secara mandiri

15) Agar tubuh bersih dan terawat

16) Agar keluarga dapat merawat kebersihan diri klien secara mandiri

17).Agar keluarga dan klien memahami tentang defisit perawatan diri

Page 79: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

62

10) Implementasi KeperawatanTabel 4. 15 Implementasi Keperawatan

Dx Keperawatan

Hari 1 Hari 2 Hari 3

Klien 1 05-03-2020 06-03-2020 07-03-2020Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot,tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB

15.00

15.15

15.3015.45

15.45

16.0016.15

16.15

16.2016.35

16.55

1. Melihat tingkat kemandirian atau aktivitas klien

2. Melihat dan memeriksa apakah klien bisa menelan

3. Melihat dan memeriksa kelembaban kulit klien

4. Memeriksa kebersihan rambut dan kulit

5. Merapikan rambut klien6. Mengatur posisi semi

fowler untuk makan7. Mempersiapkan peralatan

mandi8. Membantu klien BAB9. Menganjurkan aktivitas

sesuai kemampuan10. Mengajarkan dan

membantu mengenakan pakaian

10.00

10.15

10.20

10.25

10.4511.00

11.30

12.00

1. Melihat tingkat kemandirian atau aktivitas klien

2. Melihat dan memeriksa apakah klien bisa menelan

3. Memeriksa kebersihan mulut

4. Merapikan rambut klien

5. Mengatur posisi nyaman6. Mempersiapkan peralatan

mandi7. menyediakan lingkungan

aman dan nyamanImplementasi mandiri

8. Memberikan pengatahuan tentang defisit perawatan diri kepada klien dan keluarga memberi leaflet

12.00

12.15

12.35

12.4012.5513.0013.15

13.25

13.3013.45

13.55

1. Melihat tingkat kemandirian atau aktivitas klien

2. Melihat dan memeriksa apakah klien bisa menelan

3. Melihat dan memeriksa kelembaban kulit klien

4. Melihat kebersihan kuku5. Menyisir rambut klian6. Mengatur posisi sami

fowler7. menyediakan lingkungan

aman dan nyaman8. Membantu klien BAB9. mengajarkan mengenakan

pakaian10. mengingatkan kembali

kepada keluarga tentang defisit perawatan diri

Page 80: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

63

Klien 2 12-03-2020 13-03-2020 14-03-2020Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot,tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB

14.00

14.15

14.25

14.3014.45

15.0015.25

15.35

15.45

16.15

1. Melihat dan memeriksa apakah klien bisa menelan

2. Melihat dan memeriksa kelembaban kulit klien

3. Memeriksa kebersihan rambut dan kulit

4. Memotong kuku klien5. Membersihkan dan

melakukan oral hygine6. Merapikan rambut klien7. Mengatur posisi nyaman

untuk makan8. Mempersiapkan

peralatan mandi9. Membantu klien BAB

(mengganti pempres)Implementasi mandiri

10. Memberikan pengetahuan tentang defisit perawatan diri kepada keluarga, memberi leaflet

15.00

15.15

15.30

15.35

15.4516.00

16.15

16.25

1. Melihat dan memeriksa apakah klien bisa menelan

2. Melihat dan memeriksa kelembaban kulit klien

3. Memeriksa kebersihan kuku

4. Membersihkan dan melakukan oral hygine

5. Merapikan rambut klien6. Membantu klien BAB

(mengganti pempres)7. Menyediakan lingkungan

aman dan nyaman8. Mengatur posisi nyaman

untuk makan

13.00

13.20

13.3013.45

14.00

14.15

14.30

1. Melihat dan memeriksa kelembaban kulit klien

2. Memeriksa kebersihan rambut dan kulit

3. Memotong kuku klien4. Merapikan rambut

klien5. Mengatur posisi

nyaman untuk makan6. Mempersiapkan

peralatan mandi7. Mengingatkan kepada

klien tentang defisit perawatan diri

Page 81: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

64

11) Evaluasi KeperawatanTabel 4. 16 Evaluasi Keperawatan

Klien 1Diagnosa 20-05-2020 21-05-2020 22-05-2020Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot,tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB

S- klien mengatakan badan terasa lemas

sebelah kanan- Klien mengatakan tidak mampu mandi

sendiri- Klien mengatakan tidak mampu

mengenakan pakaian sendiri- Klien mengatakan tidak mampu ke

toilet sendiri- Klien mengatakan tidak mampu

makan sendiriO- Kesadaran composmentis- K/U cukup- Klien tampak lemas- klien terlihat bedrest total dan hanya

mampu miring kanan-kiri dan ROM pasif

- Klien tidak mampu makan secara mandiri

- klien tidak mampu mandi secara mandiri

- klien tidak mampu berhias secara mandiri

- klien tidak mampu ke toilet secara mandiri

- TTVTD :140/80 mmHg

S- klien mengatakan badan masih lemas

sebelah kanan- Klien mengatakan tidak mampu

mandi sendiri- Klien mengatakan tidak mampu

mengenakan pakaian sendiri- Klien mengatakan tidak mampu ke

toilet sendiri- Klien mengatakan ingin makan

sendiri

O- Kesadaran composmentis- K/U cukup- klien terlihat bedrest total dan hanya

mampu miring kanan-kiri dan ROM pasif

- klien telihat dapat memegang sendok makan

- klien tidak mampu mandi secara mandiri

- klien tidak mampu berhias secara mandiri

- klien tidak mampu ke toilet secara mandiri

- TTVTD :140/80 mmHg

S- klien mengatakan badan masih lemas

sebelah kanan- Klien mengatakan tidak mampu

mandi sendiri- Klien mengatakan tidak mampu

mengenakan pakaian sendiri- Klien mengatakan tidak mampu ke

toilet sendiri- Klien mengatakan ingin makan

sendiri

O- Kesadaran composmentis- K/U cukup- Klien tampak lebih segar- Klien dapat memegang sendok- Klien mampu makan dengan

dampingan perawat- klien tidak mampu mandi secara

mandiri- klien tidak mampu berhias secara

mandiri- klien tidak mampu ke toilet secara

mandiri- TTV

TD :140/70 mmHgN :82 x/menitS :36,5 0C

Page 82: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

65

N :82 x/menitS :36,8 0CRR :22 x/menitSPO2 : 96%

kanan kiri 1 4

1 4A: belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi

N :80 x/menitS :36 0CRR :22 x/menitSPO2 : 96%- Kekuatan otot klien:

kanan kiri 2 4

1 4A: belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi

RR :22 x/menitSPO2 : 96%- Kekuatan otot klien:

kanan kiri 3 4

1 4A: belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi

Klien 2Diagnosa 20-05-2020 21-05-2020 22-05-2020Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot,tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB

S:- Keluarga klien mengatakan badan

klien masih lemas dan bicara pelo- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu mandi sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu mengenakan pakaian sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu ke toilet sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu makan sendiri

S:- Keluarga Klien mengatakan badan

klien masih lemas dan bicara sedikit pelo

- Keluarga klien mengatakan kebutuhan

- aktivitas dibantu oleh keluarga atau perawat.

- Keluarga klien mengatakan tidak mampu mandi sendiri

- Keluarga klien mengatakan tidak

S:- Keluarga Klien mengatakan badan klien

masih lemas dan bicara sedikit pelo- Keluarga klien mengatakan kebutuhan aktivitas dibantu oleh keluarga atau

perawat.- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu mandi sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu mengenakan pakaian sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

Page 83: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

66

O:- K/U lemas- Kesadaran stupor- Klien terlihat lemas- Rambut klien sedikit kotor- klien tidak mampu mandi secara

mandiri- klien mengatakan tidak mampu

mengenakan pakaian secara mandiri- klien tidak mampu ke toilet secara

mandiri- klien tidak mampu makan secara

mandiri- Klien di seka 2x sehari- Klien sonde 3x sehari.- TTV

TD: 220/120 mmHgN: 118 x/menitS: 36,9 0CRR: 24 x/menit- Kekuatan otot:

5 3

5 3

A: belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

mampu mengenakan pakaian sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu ke toilet sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu makan sendiriO:

- K/U lemas- Kesadaran stupor- Klien terlihat lemas- Rambut klien terlihat bersih- klien tidak mampu mandi secara

mandiri- klien tidak mampu mengenakan

pakaian secara mandiri- klien tidak mampu ke toilet secara

mandiri- klien tidak mampu makan secara

mandiri- Klien di seka 2x sehari- Klien sonde 3x sehari..- TTV

TD: 200/100 mmHgN: 90 x/menitS: 36,8 0CRR: 24 x/menit

- Kekuatan otot:

5 3

5 3

A: belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

mampu ke toilet sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak

mampu makan sendiri

O:- K/U lemas- Kesadaran stupor- Klien terlihat lemas- Rambut klien terlihat bersih- klien tidak mampu mandi secara

mandiri- klien tidak mampu mengenakan

pakaian secara mandiri- klien tidak mampu ke toilet secara

mandiri- klien tidak mampu makan secara

mandiri- Klien di seka 2x sehari- Klien sonde 3x sehari.- TTVTD: 180/90 mmHgN: 90 x/menitS: 36,9 0CRR: 22 x/menit- Kekuatan otot:

5 3

5 3

A: belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

Page 84: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengkajian

Tabel 4. 17 Tabel Pembahasan PengkajianKlien 1 Klien 2

klien mengatakan badan terasa lemas sebelah kanan, Klien mengatakan tangan dan kaki kanan lemah serta bedrest total, klien mengatakan kebutuhan aktivitas dibantu oleh keluarga atau perawat, kesadaran klien composmentis, K/U cukup, klien mendapat diet vuding cair 6x200 cc, pola aktivitas seperti makan, mandi, berpakaian, BAK, BAB, miring, duduk dibantu keluarga atau perawat, klien terlihat bedrest total dan hanya boleh miring kanan-kiri dan ROM pasif aktif, tekanan darah :140/80 mmHg, nadi:82 x/menit, suhu :36,8 0C, respirasi:22 x/menit,SPO2 : 96%, kekuatan otot klien: kanan kiri

1 4

1 4Pemeriksaan saraf:N. I (olfaktorius): penciuman normal, klien dapat mencium bau minyak kayu putihN. II (optikus): klien dapat melihat benda di sekitarnya dengan jelas pada jarak 1 meterN. III (kulomotoris): kelopak mata tampak normal, klien dapat mengangkat kelopak mata (berkedip), diameter pupil 2 mm isokor, reflek cahaya +/+N. IV (troklearis): klien dapat mengikuti arah gerak jari pemeriksa ke atas, bawah, kanan dan kiriN. V (trigeminus): klien dapat membuka rahang dan tampak simetris, klien dapat menutup mulut dengan rapatN. VI (abdusen): klien dapat menggerakkan bola mata ke samping kanan dan kiri.N. VII (fasialis): bentuk mulut tidak simetris, senyum klien tidak simetris cenderung ke posisi kananN. VIII (vestibularis): fungsi pendengaran klien normal, klien dapat menjawab pertanyaan dengan benar saat diberi pertanyaan oleh perawat dengan terbatah-terbatah pada jarak 1 meterN. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien dapat membuka mulutN. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, bahu kiri yang dapat menggerakkan ke atas

Keluarga Klien mengatakan badan klien tiba-tiba lemas dan bicara pelo sejak , keluarga klien mengatakan memiliki riwayat hipertensi, keluarga klien mengatakan kebutuhan aktivitas dibantu oleh keluarga atau perawat, K/U lemas, kesadaran klien stupor, klien terlihat lemas, rambut klien seikit kotor, pada pemeriksaan telinga terdapat sedikit serumen, minum sari kacang hijau, jus dan air putih, tekanan darah klien: 220/120 mmHg, nadi: 118 x/menit, suhu: 36,9 0C, resperasi: 24 x/menit, kekuatan otot:5 3

5 3Pemeriksaan saraf:N. I (olfaktorius): klien belum bisa membauN. II (optikus): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak bisa membuka mataN. III (kulomotoris):saat dilakukan pemeriksaan pada kelopak mata klien tidak bisa membuka mata, diameter pupil 2 mm isokor, reflek cahaya +/+N. IV (troklearis): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. V (trigeminus): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. VI (abdusen): pada saat dilakukan pemeriksaan klien tidak dapat mengikuti perintahN. VII (fasialis): bentuk mulut simetris, senyum klien tidak simetris cenderung ke posisi sebelah kiriN. VIII (vestibularis): fungsi pendengaran klien normal, klien dapat menjawab pertanyaan dengan benar saat diberi pertanyaan oleh perawat dan dokter pada jarak 2 meterN. X (vagus) dan N.IX: ada gangguan pada reflek menelan, sehingga klien diharuskan menggunakan selang NGT untuk makan, klien tidak dapat membuka mulutN. XI (assesoris) saat diberikan perintah untuk menggerakkan bahu, bahu klien tampak tidak simetris, klien tidak dapat mengikuti perintahN. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien tidak mampu menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan

Page 85: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

68

N. XII (hipoglosus): posisi lidah klien berada tepat di tengah, klien mampu menggerakkan lidah ke kanan dan ke kiri

Opini :Peneliti menemukan perberdaan data yang terjadi pada klien 1 dan klien 2, dimana klien 1 di diagnosa CVA trombosis, klien mengalami kelemahan otot yang pada klien 1 mengalami kelemahan otot pada bagian kiri, dan klien mengalami badtrest total, kesadaran klien composmentis, dan klien 2 diagnosa CVA hemoragic, mengalami kelemahan otot yang pada klien 1 mengalami kelemahan otot pada bagian kanan dan klien mengalami badtrest total, kesadaran klien stupor, dan peneliti menemukan data pada data yang terjadi pada klie 1 dan 2 didapatkan persamaan data tidak mampu melakakuan perawatan diri seperti mandi, makan, berhias, BAB/BAK secara mandiri, maka berdasarkan data hasil pengkajian tersebut menunjukkan bahwa klien mengalami CVA dengan masalah keperawatan defisit perawatan diri .

Teori :Merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi, berpakian/berhias, makan, dan BAB/BAK (Fitria, 2012). Keterbatasan kebersihan diri biasanya diakibatkan karena stressor yang cukup berat dan sulit ditangani oleh klien, sehingga dirinya tidak mengurus merawat dirinya sendiri baik dalam hal mandi, berpakaian, dan berhias. Keterbatasan tersebut akan terus berlanjut dalam pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Manusia mempunyai kebutuhan yang beragam, namun pada hakikatnya setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar yang sama. Salah satunya yang mengalami defisit perawatan diri adalah klien yang terkena penyakit Cerebrovasculer Accident (CVA) memiliki keterbatasan pergerakan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar (Asmadi,2012). Menurut Purba dkk, 2011 Mandi / hygine adalah etidakmampuan klien mengalami dalam membersihkan badan, mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh, BAB/BAK (toileting) adalah ketidakmampuan dalam mendapatkan kamar kecil atau jamban, duduk atau berdiri di jamban,manipulasi pakaian untuk toileting, membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat, dan menyiram toilet, klien BAB/BAK tidak pada tempatnya, Berpakaian/Berhias adalah mengalami kelemahan dalam meletakan atau mengambil potongan pakaian, menanggalkan pakaian serta memperoleh atau memakai, ketidakmampuan klien untuk mengenakan pakaian dalam, menggunakan kancing tarik, melepas pakaian, makan/minum adalah ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan makanan, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan, manipulasi makanan dalam minum, mengambil makanan dari wadah untuk dimasukan ke dalam mulut, serta tidak dapat mencerna makanan dengan baik dan aman

Page 86: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

69

4.2.2 Diagnosa Keperawatan Klien 1 dan 2

Tabel 4.18 Pembahasan DiagnosaDiagnosa Klien 1 dan 2

Fakta Klien 1 Fakta Klien 2

Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot,tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB

Pada klien pertama, ditetapkan diagnosa defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot, tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB bisa dibuktikan dengan kelemahan pada tangan dan kaki kanan, mengalami penurunan kekuatan otot, dapat ditandai dengan Pola aktivitas seperti makan, mandi , berpakian, BAK, BAB, miring, duduk dibantu keluarga atau perawat.

Pada klien kedua, ditetapkan diagnosa keperawatan Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot, tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB bisa dibuktikan dengan kesadaran klien stupor dengan kelemahan pada tangan dan kaki kiri, mengalami penurunan kekuatan otot, dapat ditandai dengan Pola aktivitas seperti makan, mandi , berpakian, BAK, BAB, miring, duduk dibantu keluarga atau perawat

Opini :Pada klien 1 dan 2 didapatkan bahwa kedua klien didiagnosa CVA dengan masalah Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan kelemahan otot, tidak mampu mandi,makan,berhias, BAK/BAB dibuktikan dengan penurunan kekuatan otot,klien belum mandi, rambut klien terlihat kotor , kuku klien panjang,bau mulut klien tidak sedap, adanya serumen di telinga, tidak mampu melakukan aktivitas hanya dibantu oleh keluarga dan perawat, karena perawatan diri yang kurang maka dapat menimbulkan defisit perawatan diri.Teori :Diagnosa yang ditetapkan sesuai dengan teori menurut (Fitria, 2012). yaitu menimbulkan defisit perawatan diri akan mengalami suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi, berpakian/berhias, makan, dan BAB/BAK. Keterbatasan kebersihan diri biasanya diakibatkan karena stressor yang cukup berat dan sulit ditangani oleh klien, sehingga dirinya tidak mengurus merawat dirinya sendiri baik dalam hal mandi, berpakaian, dan berhias. Keterbatasan tersebut akan terus berlanjut dalam pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Manusia mempunyai kebutuhan yang beragam, namun pada hakikatnya setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar yang sama. Salah satunya yang mengalami defisit perawatan diri adalah klien yang terkena penyakit Cerebrovasculer Accident (CVA) memiliki keterbatasan pergerakan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar (Asmadi,2012).

Page 87: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

70

4.2.3 Intervensi Keperawatan

Berdasarkan dari diagnosa yang telah ditetapkan pada kedua klien, dapat

dilakukan perancanaan tindakan keperawatan sesuai dengan tinjauan pustaka.

Tabel 4.19 Pembahasan Tujuan Intervensi Keperawatan

TujuanSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam klien dan keluargamengerti tentang pentingnya perawatan diri seperti mandi, makan, berhias, BAK/BAB

Pasien 1 Pasien 2Pada klien pertama juga ditetapkan tujuan yang sama yaitu diharapkan perawatan diri pada klien dapat kembali secara normal, setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari.

Pada klien kedua juga ditetapkan tujuan yang sama yaitu diharapkan perawatan diri pada klien dapat kembali secara normal, setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari.

Opini :

Berdasarkan data yang didapatkan Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam klien dan keluarga mengerti tentang pentingnya perawatan diri seperti mandi, makan, berhias, BAK/BAB. Maka dari itu penting untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah defisit perawatan diri, agar perawatan diri pada klien dapat kembali secara normal .

Teori :Menurut Purba dkk, 2011 dikatakan defisit perawatan diri ketidakmampuan klien mengalami dalam membersihkan badan, klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam BAK/BAB, Klien mengalami kelemahan ketidakmampuan klien untuk mengenakan pakaian, klien mengalami ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan makanan, mengunyah makanan sehingga menurut (PPNI, 2018) tujuan yang telah ditetapkan untuk kedua klien sesuai dengan teori, menyatakan bahwa penetapan tujuan rencana keperawatan bagi klien CVA dengan masalah keperawatan defisit perawatan diri adalah supaya perawatan diri pada klien dapat kembali secara normal.

Page 88: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

71

Tabel 4.20 Pembahasan Kriteria Hasil Intervensi KeperawatanKriteria Hasil

1. Kemampuan mandi klien meningkat

2. Kemampuan mengenakan pakaian klien meningkat

3. Kemampuan makan klien meningkat

4. Kemampuan klien ke toilet (BAK, BAB)

5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri

6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat.

7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri

8. Klien dapat mempertahankan kebersihan mulut..

(SLKI, 2018)

Pasien 1 Pasien 21. Kemampuan mandi klien

meningkat2. Kemampuan mengenakan

pakaian meningkat3. Kemampuan makan klien

meningkat4. Kemampuan klien ke toilet

BAK maupun BAB meningkat.

5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat

6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat

7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri meningkat

8. Klien dapat mempertahankan kebersihan mulut meningkat

1. Kemampuan mandi klien meningkat

2. Kemampuan mengenakan pakaian meningkat

3. Kemampuan makan klien meningkat

4. Kemampuan klien ke toilet BAK maupun BAB meningkat.

5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat

6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat

7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri meningkat

8. Klien dapat mempertahankan kebersihan mulut meningkat

Opini :Kriteria hasil untuk kedua klien sudah sesuai teori penulis pada tinjauan pustaka Pada kedua klien diharapkan kemampuan mandi klien meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan klien meningkat, kemampuan klien ke toilet BAK maupun BAB meningkat, verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat, minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat, klien dapat mempertahankan kebersihan diri meningkat, klien dapat mempertahankan kebersihan mulut membaik, apabila kedua klien mampu mencapai kriteria hasil yang sudah ditetapkan, maka hal ini menunjukkan bahwa defisit perawatan diri dapat kembali secara normal.

Teori :Dari kriteria hasil kedua klien diatas sesuai dengan tinjauan teori menurut (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2018) kriteria diatas ditandai dengan kemampuan dalam melakukan perawatan diri seperti mandi, makan, berpakaian, BAB/BAK meningkat.

Tabel 4.21 Pembahasan Intervensi Keperawatan

Intervensi

Menurut PPNI, 20181. monitor tingkat

kemandirian2. monitor kemampan

menelan3. monitor integritas

kulit4. monitor kebersihan

Pasien 1 Pasien 2Menurut PPNI, 20181. memonitor tingkat

kemandirian2. memonitor kemampan

menelan3. memonitor integritas kulit4. memonitor kebersihan

tubuh (mis. Rambut,

Menurut PPNI, 2018:1. memonitor tingkat

kemandirian2. memonitor kemampan

menelan3. memonitor integritas kulit4. memonitor kebersihan

tubuh (mis. Rambut,

Page 89: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

72

tubuh (mis. Rambut, mulut, kulit, kuku

5. fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri

6. dampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri

7. bersihkan alat bantu BAK/BAB setelah dignakan

8. fasilitasi berhias (mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot)

9. atur posisi yang nyaman untuk makan/minum

10. sediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi,

11. sediakan lingkungan aman dan nyaman

12. anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

13. ajarkan mengenakan pakaian

14. jelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan

15. ajarkan kepada keluarga cara memandikan klien

mulut, kulit, kuku5. memfasilitasi

kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri

6. mendampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri

7. membersihkan alat bantu BAK/BAB setelah dignakan

8. memfasilitasi berhias (mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot)

9. mengatur posisi yang nyaman untuk makan/minum

10. menyediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi,

11. menyediakan lingkungan aman dan nyaman

12. menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

13. mengajarkan mengenakan pakaian

14. menjelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan

15. mengajarkan kepada keluarga cara memandikan klien

mulut, kulit, kuku5. memfasilitasi

kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri

6. mendampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri

7. membersihkan alat bantu BAK/BAB setelah dignakan

8. memfasilitasi berhias (mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot)

9. mengatur posisi yang nyaman untuk makan/minum

10. menyediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi,

11. menyediakan lingkungan aman dan nyaman

12. menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

13. mengajarkan mengenakan pakaian

14. menjelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan

15. mengajarkan kepada keluarga cara memandikan klien

Opini :intervensi diatas membantu mengatasi masalah pada kedua klien, direncanakan ada 15 intervensi yang mengacu sesuai dengan tinjauan pustaka. Peneliti berharap semua intervensi yang telah disusun ditujukan untuk dapat mencapai kriteria hasil yang telah ditetapkan sesuai permasalahan defisit perawatan diri yang dialami klien.Teori :Intervensi yang dilaksanakan sudah sesuai dengan teori menurut (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018). Dengan cara memonitor tingkat kemandirian, memonitor kemampan menelan, memonitor integritas kulit, memonitor kebersihan tubuh (mis. Rambut, mulut, kulit, kuku, memfasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri, mendampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri, membersihkan alat bantu BAK/BAB setelah dignakan, memfasilitasi berhias (mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot), mengatur posisi yang nyaman untuk makan/minum, menyediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi, menyediakan

Page 90: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

73

lingkungan aman dan nyaman, menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan, mengajarkan mengenakan pakaian, menjelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan,mengajarkan kepada keluarga cara memandikan klien

4.2.4 Implementasi

Tabel 4.22 Pembahasan Implementasi KeperawatanPasien 1 Pasien 2

1. memonitor tingkat kemandirian2. memonitor kemampan menelan3. memonitor integritas kulit4. memonitor kebersihan tubuh (mis.

Rambut, mulut, kulit, kuku5. memfasilitasi kemandirian, bantu jika

tidak mampu malakukan perawatan diri6. mendampingi dalam melakukan

perawatan diri secara mandiri7. membersihkan alat bantu BAK/BAB

setelah dignakan8. memfasilitasi berhias (mis. Menyisir

rambut, merapikan kumis dan jenggot)9. mengatur posisi yang nyaman untuk

makan/minum10. menyediakan peralatan mandi ( mis.

Sabun, sikat gigi,11. menyediakan lingkungan aman dan

nyaman12. menganjurkan melakukan perawatan diri

secara konsisten sesuai kemampuan13. mengajarkan mengenakan pakaian14. menjelakan manfaat mandi dan dampat

tidak mandi terhadap kesehatan15. mengajarkan kepada keluarga cara

memandikan klienIMPLEMENTASI MANDIRI

16. memberikan pengetahuan tentang defisit perawatan diri dan memberikan leaflet defisit perawatan

1. memonitor tingkat kemandirian2. memonitor kemampan menelan3. memonitor integritas kulit4. memonitor kebersihan tubuh (mis.

Rambut, mulut, kulit, kuku5. memfasilitasi kemandirian, bantu jika

tidak mampu malakukan perawatan diri6. mendampingi dalam melakukan

perawatan diri secara mandiri7. membersihkan alat bantu BAK/BAB

setelah dignakan8. memfasilitasi berhias (mis. Menyisir

rambut, merapikan kumis dan jenggot)9. mengatur posisi yang nyaman untuk

makan/minum10. menyediakan peralatan mandi ( mis.

Sabun, sikat gigi,11. menyediakan lingkungan aman dan

nyaman12. menganjurkan melakukan perawatan diri

secara konsisten sesuai kemampuan13. mengajarkan mengenakan pakaian14. menjelakan manfaat mandi dan dampat

tidak mandi terhadap kesehatan15. mengajarkan kepada keluarga cara

memandikan klienIMPLEMENTASI MANDIRI

16. memberikan pengetahuan tentang defisit perawatan diri dan memberikan leaflet defisit perawatan

Opini :Implementasi merupakan pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahan perencanaan. Pada penelitian ini, peneliti memberikan implementasi sesuai dengan intervensi yang direncanakan. Pada klien 1 dan 2 memiliki persamaan pada implementasi menjelaskan tujuan dan prosedur penanganan yang tepat pada klien dengan defisit perawatan diri pada klien dan keluarga klien yang dapat membantu untuk perawatan diri seperti makan, mandi, berpakian, BAK/BAB, serta dapat membantu dalam keluarga mengetahui pentingnya perawatan diri pada klien yang sakit.

Page 91: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

74

Teori :Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan, tahap ini muncul jika perencanaan yang dibuat diaplikasikan pada klien. Aplikasi yang dilakukan pada klien akan berbeda, disesuikan dengan kondisi klien saat ini dan kebutuhan yang paling dirasakan oleh klien ( Nurul, 2016). Hal ini sudah sesuai dengan intervensi yang ada yaitu Tim Pokja SIKI DPP PPNI (2018) monitor tingkat kemandirian, monitor kemampan menelan, monitor integritas kulit, monitor kebersihan tubuh (mis. Rambut, mulut, kulit, kuku, fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu malakukan perawatan diri, dampingi dalam melakukan perawatan diri secara mandiri, bersihkan alat bantu BAK/BAB setelah dignakan, fasilitasi berhias (mis. Menyisir rambut, merapikan kumis dan jenggot), atur posisi yang nyaman untuk makan/minum, sediakan peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat gigi), sediakan lingkungan aman dan nyaman, anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan, ajarkan mengenakan pakaian, jelakan manfaat mandi dan dampat tidak mandi terhadap kesehatan, ajarkan kepada keluarga cara memandikan klien.

4.2.5 Evaluasi

Tabel 4.23 Pembahasan Evaluasi

Pasien 1 Pasien 2S- klien mengatakan badan masih lemas

sebelah kanan- Klien mengatakan tidak mampu mandi

sendiri- Klien mengatakan tidak mampu

mengenakan pakaian sendiri- Klien mengatakan tidak mampu ke

toilet sendiri- Klien mengatakan ingin makan sendiri

O

- Kesadaran composmentis- K/U cukup- Klien tampak lebih segar- Klien dapat memegang sendok- Klien mampu makan dengan

dampingan perawat- klien tidak mampu mandi secara

mandiri- klien tidak mampu berhias secara

mandiri- klien tidak mampu ke toilet secara

mandiri- TTV

TD :140/70 mmHg

N :82 x/menit

S:

- Keluarga Klien mengatakan badan klien masih lemas dan bicara sedikit pelo

- Keluarga klien mengatakan kebutuhan aktivitas dibantu oleh keluarga atau

perawat.- Keluarga klien mengatakan tidak mampu

mandi sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak mampu

mengenakan pakaian sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak mampu

ke toilet sendiri- Keluarga klien mengatakan tidak mampu

makan sendiriO:

- K/U lemas- Kesadaran stupor- Klien terlihat lemas- Rambut klien terlihat bersih- klien tidak mampu mandi secara mandiri- klien tidak mampu mengenakan pakaian

secara mandiri- klien tidak mampu ke toilet secara

mandiri- klien tidak mampu makan secara mandiri- Klien di seka 2x sehari- Klien sonde 3x sehari.

Page 92: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

75

S :36,5 0C

RR :22 x/menit

SPO2 : 96%

- Kekuatan otot klien: kanan kiri

3 4

1 4

A: belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi

- TTVTD: 180/90 mmHg

N: 90 x/menit

S: 36,9 0C

RR: 22 x/menit

- Kekuatan otot:

5 3

5 3

A: belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

Opini :Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari perawatan, pada klien 1 dan 2 masalah belum teratasi dikarenakan perawatan kurang, pada klien 1 mencapai 8 kriteria hasil, dan pada klien 2 mencapai 8 kriteria hasil, pada klien pertama kesadaran klien composmentis, klien mampu memegang sendok dengan tangan kanannya, Pola aktivitas seperti makan, mandi, berpakaian, BAK, BAB, miring, duduk dibantu keluarga atau perawat. Pada klien kedua kesadaran stupor, klien masih terlihat lemas, pola aktivitas seperti makan, mandi, berpakaian, BAK, BAB, miring kanan dan kiri dibantu keluarga atau perawat.Teori :Evaluasi adalah tahap kelima dari proses keperawatan. Pada tahap ini perawat membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan kriteria hasil yang sudah ditetapkan serta menilai apakah masalah yang terjadi sudah teratasi seluruhnya, hanya sebagian, atau bahkan belum teratasi semuanya. Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan yaitu proses yang digunakan untuk mengukur dan memonitor kondisi klien mengetahui:

1. Kemampuan mandi klien meningkat2. Kemampuan mengenakan pakaian klien meningkat3. Kemampuan makan klien meningkat4. Kemampuan klien ke toilet (BAK, BAB)5. Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri6. Minat klien untuk melakukan perawatan diri meningkat.7. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri8. Klien dapat mempertahankan kebersihan mulut..(Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Page 93: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada klien CVA dengan masalah defisit

perawatan diri di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang, kedua klien telah

dilakukan pengkajian sampai dengan evaluasi selama kurang lebih 3 hari sesuai

dengan kriteria hasil yang sudah ditetapkan, pada klien 1 didapatkan hasil masalah

teratasi sebagian ditandai dengan kelemahan pada tangan dan kaki kanan

berkurang, bicaranya agak kembali normal, dan TTV dalam batas normal, rambut

klien terlihat bersih, klien di seka 2x sehari, klien sonde 3x sehari. Klien 2 dengan

hasil masalah teratasi sebagian ditandai dengan kelemahan pada tangan dan kaki

kanan berkurang, rambut klien terlihat bersih, klien di seka 2x sehari, klien sonde

3x sehari.

Berdasarkan data pada kedua klien yaitu klien mengalami kelemahan pada tangan

dan kaki sebelah kanan maupun kiri, berbicara pelo, tidak dapat melakukan

aktifitas secara mandiri misalnya mandi, makan, berhias, BAK/BAB, dan

penurunan kekuatan otot. Data tersebut sesuai dengan teori untuk dilakukan

asuhan keperawatan pada klien CVA dengan masalah defisit perawatan diri.

5.2 Diagnosa keperawatan

Dalam menentukan diagnosa keperawatan, penulis mengacu pada teori dan

kondisi klien saat dilakukan pengkajian. Berdasarkan hasil pengkajian pada kedua

Page 94: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

77

klien dapat ditentukan diagnosa keperawatan yaitu defisit perawatan diri

berhubungan dengan gangguan mobiltas fisik.

5.3 Rencana Keperawatan

Berdasarkan diagnosa yang telah ditetapkan maka kedua klien telah dilakukan

penyusunan rencana keperawatan yang sesuai dengan kasus klien CVA dengan

masalah defisit perawatan diri. Rencana keperawatan pada kedua klien tidak jauh

berbeda akan tetapi ada beberapa yang tidak dilakukan berdasarkan kondisi

masing-masing klien

5.4 Implementasi Keperawatan

Kedua klien telah dilakukan rencana keperawatan dengan jumlah rencana yang

sama. Rencana keperawatan yang direncanakan ada 15 rencana, dan pada klien 1

dan 2 bisa terlaksana sebanyak 15 rencana keperawatan.

5.5 Evaluasi Keperawatan

Dengan hasil penelitian dapat dievaluasi pada 3 hari diberikan tindakan

keperawatan, pada klien pertama kesadaran klien composmentis, klien mampu

memegang sendok dengan tangan kanannya, Pola aktivitas seperti makan, mandi,

berpakaian, BAK, BAB, miring, duduk dibantu keluarga atau perawat. Pada klien

kedua Kesadaran stupor, klien masih terlihat lemas, pola aktivitas seperti makan,

mandi, berpakaian, BAK, BAB, miring, duduk dibantu keluarga atau perawat.

Page 95: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

78

5.6 Saran

5.6.1 Bagi Lahan Penelitian

Melalui hasil penelitian ini penulis berharap dapat dijadikan sumber referensi

kepada tenaga perawat di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang supaya

dapat mengaplikasikan intervensi yang sudah diperbarui lewat sumber pustaka

yang baru. Serta bisa menjadi bahan untuk meningkatkan kepuasan dan dalam

melayani klien khususnya klien CVA dengan masalah Defisit Perawatan Diri.

5.6.2 Bagi Institusi Pendidikan

Melalui hasil penelitian ini penulis berharap institusi pendidikan dapat menambah

materi asuhan keperawatan pada klien CVA dengan masalah Defisit Perawatan

Diri dengan inovasi baru sehingga mahasiswa lebih ahli dalam melaksana asuhan

dan pendidikan kesehatan kepada klien atau masyarakat yang memiliki masalah

Defisit Perawatan Diri.

5.6.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Penulis berharap bagi peneliti selanjutnya lebih memperhatikan keadaan pasien

khususnya CVA dengan masalah defisit perawatan diri, baik segi usia pola

asuahan dan pemberian tindak lanjut yang lebih maksimal maka peneliti berharap

peneliti selanjutnya lebih memberikan kreasi, inovasi sehingga rencana asuhan

dapat dilakukan secara maksimal untuk membantu dalam proses peneyembuhan

dapat mengikut sertakan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri kepada

klien yang sakit dengan masalah defisit perawatan diri secara lebih baik.

Page 96: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

79

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi, (2012).Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC

Andra Saferi. 2013. Keperawatan Medikal Bedah II, Keperawatan Dewasa Teori Dan Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha Medika.

American Heart Association/AHA. (2012). Risk factors. http: //stroke .ahajournals .org/ cgi/ content/ full/28/7/1507 diperoleh tanggal 07 Februari 2020.

Debora, Oda. (2017). Proses Keperawatan Dan Pemeriksaan Fisik Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Laporan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) nasional 2010. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2010.

Data Rekam Medis Rumah Sakit Panti Waluya Malang 2018.

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Geissler, A. C. (2014). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Paien. Jakarta: EGC.

Fitria, N. 2010, Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Fransisca B.B, 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Jakarta : Salemba Medika.

Harahap, S., & Siringoringo, E. (2016). Aktivitas Sehari-hari Pasien Stroke Non Hemoragik Di RSUD Dr . Pirngadi Medan Tahun 2016, 69–73.

Jurnal Keperawatan Soedirman (The SoedirmanOf Nursing), Volume 9, No2, Juli 2014

Kemenkes RI, 2013, Pedoman pengendalian stroke, Direktorat pengendalian penyakit menular, Subdit pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah, Jakarta.

Lingga, 2013, All About Stroke: Hidup Sebelum Dan Pasca Stroke, Penerbit Gramedia, Jakarta.

Muttaqin, A,(2013). Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem persyarafan. Jakarta: Saalemba Medika.

Misbach, J., & Kalim, H. (2012). Stroke mengancam usia produktif. http:// www. medicastore. com/stroke/ diperoleh tanggal 07 Februari 2020

Page 97: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

80

Nursalam. 2013. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Ns. Yessie Mariza Putri, S.Kep. 2013. KMB 2 Keperawatan Medikal Bedah (Keperawatan Dewasa).Yogyakarta:Nuha Medika.

Padila. (2012).Buku Ajaran :Keperawatan Keluarga. Yogyakaerta: Nuha Medika.

Pudiastuti, R. D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke. Yogjakarta : Nuha medika

Purba TR. Perilaku Kebersihan Gigi dan Perbedahan status oral : 2011, 33. Sherwood L. Introduction to Human Physiology.

Rudiyanto, S. (2010). Anda bertanya Dokter menjawab: Stroke dan Rehabilitasi Pasca Stroke. Jakarta: PT. Buana Ilmu Populer

Siregar, (2013). Faktor risiko kejadian stroke penderita rawat inap rsup haji adam malik medan. http://www.adln.lib.inair.ac.id/go.php?id=jiptunair-gdl-s2-2012-siregar2c-967-stroke& node =264& start=6&PHPSESSID = bccdd 1697194693047e 0123d794d2529 diperoleh tanggal 07 Februari 2020

.Setyadi. (2014). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan (2nd ed.).

yogyakarta: Graha Ilmu.

Sonatha B. 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Keluarga Dalam Pemberian Perawatan Klien Pasca Stroke.

Sumartono, R.W., & Aryastami, N.K. (2013). Penyakit jantung dan pembuluh darah pada usia 55 tahun menurut survai kesehatan rumah tangga 2011. http: // www. Kalbe .co.id/files/cdk/files/05Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 123.pdf/05 Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 123 . html diperoleh tanggal 07 Februari 2020

Smeltzer & Bare, 2013. Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8. Jakarta; EGC

Tim pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar intervensi Keperawatan indonesia Jakarta selatan. Dewan Pengurus pusat.

Tim pokja SLKI DPP PPNI. 2019.Standar iuran keperawatan indonesia, Jakarta selatan: Dewan pengurusa pusat.

Tim Pokja DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) Edisi 1. DPP PPNI. Jakarta

Widiyanto dan Triwibowo. 2013. Trend Diasease (trend penyakit saat ini). Jakarta CV. Trans info media.

Page 98: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

81

Wijaya, A. S., & Putri, Y. M (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika.

World Health Organization (WHO). (2016). Stroke, Cerebrovascular accident. Diakses tanggal 17 Juni 2016 dari http://www.who.int/topics/cerebrovascular_accident/en

Wartonah. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi Ke-3. Jakarta: Salemba Meidka.

Wiwit, S. (2010) Stroke & penanganannya: Memahami, Mencegah, dan Mengobati Stroke. Jogjakarta: Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbit, KAHATI

Page 99: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

lampiran 1 Surat Ijin Studi Pendahuluan

Page 100: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

83

Lampiran 2 Surat Jawaban Studi Pendahuluan

Page 101: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

84

Lampiran 3 Lembar Konsultasi Pembimbing 1

Page 102: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

85

Page 103: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

86

Lampiran 4 Lembar Konsultasi Pembimbing 2

Page 104: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

87

Lampiran 5 Lembar Konsultasi Pembimbing 3

Page 105: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

88

Page 106: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

89

Lampiran 6 Surat Ijin Penelitian

Page 107: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

90

Lampiran 7 Lembar Konsultasi Pembimbing 1

Page 108: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

91

Page 109: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

92

Lampiran 8 Lembar Konsultasi Pembimbing 2

Page 110: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

93

Page 111: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

94

Lampiran 9 Lembar Konsultasi Pembimbing 3

Page 112: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

95

Page 113: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

96

Lampiran 10 Satuan Acara Penyuluhan

SATUAN ACARA PENYULUHANDEFISIT PERAWATAN DIRI

Topik : Mengenal Tentang Defisit Perawatan DiriSasaran : klien dan keluarga klienHari/tanggal : Kamis, 18-06-2020 Waktu : 45 menitTempat : Rumah Sakit Panti Waluya

i.

A. ANALISA SITUASI

1. Peserta : Keluarga pasien

2. Lingkungan : Rumah Sakit Panti Waluya Malang

3. Penyuluh : iventianus gantoro setianto hadi

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah dilakukan penyuluhan,diharapkan peserta mampu memahami konsep dasar defisit perawatan diri.

C. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah membahas materi konsep dasar defisit perawatan diri, peserta dapat :a. Menyebutkan pengertian defisit perawatan diri

b. Menyebutkan tentang penyebab defisit perawatan diri

c. Menyebutkan tanda dan gejala defisit perawatan diri

d. Menyebutkan jenis - jenis defisit perawatan diri

e. Menyebutkan dampak dari defisit perawatan diri

f. Menjelaskan cara penanganan pada pasien defisit perawatan diri.

D. MATERI ( Terlampir )

1. Pengertian defisit perawatan diri

2. Penyebab defisit perawatan diri

3. Tanda dan gejala defisit perawatan diri

4. Jenis - jenis defisit perawatan diri

5. Dampak dari defisit perawatan diri

Page 114: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

97

6. Penanganan pada pasien defisit perawatan diri.

E. METODE

1. Ceramah

2. Tanya jawab

F. MEDIA & ALAT BANTU

-LeafletG. KEGIATAN PENYULUHAN

WAKTU KEGIATAN PENYULUH KEGIATAN PESERTA

1. 5 menit Pembukaan : Membuka kegiatan dengan

mengucapkan salam.

Memperkenalkan diri

Menjelaskan tujuan dari

penyuluhan

Menyebutkan materi yang

akan diberikan

Appersepsi dan korelasi

materi dengan pengetahuan

dan pengalaman peserta didik

Menjawab salam

Mendengarkan

Memperhatikan

Memperhatikan

2. 30 menit Pelaksanaan : Menjelaskan tentang

pengertian defisit perawatan

diri

Menjelaskan tentang hal-hal

baik pengertian, penyebab,

tanda dan gejala, jenis – jenis ,

dampak dan cara penanganan

pada pasien defisit perawatan

diri

Memberi kesempatan kepada

peserta untuk bertanya

Memperhatikan

Memperhatikan

Bertanya dan menjawab

pertanyaan yang diajukan

Page 115: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

98

3. 5 menit Evaluasi : Menanyakan kepada peserta

tentang materi yang telah

diberikan, dan reinforcement

kepada peserta yang dapat

menjawab pertanyaan.

Menjawab pertanyaan

4. 5 menit Terminasi : Mengucapkan terimakasih

atas peran serta peserta

Mengucapkan salam penutup

Mendengarkan

Menjawab salam

H. EVALUASI

Kriteria evaluasi1. Evaluasi struktur

a) peserta hadir / ikut dalam kegiatan penyuluhan

b) Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di Rumah Sakit Panti Waluya

Malang

2. Evaluasi proses

a) Peserta antusias terhadap materi penyuluhan

b) Peserta tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan selesai

c) Peserta terlibat aktif dalam kegiatan penyuluhan.

3. Evaluasi hasil

a) Peserta mengerti tentang Defisit Perawatan Diri, dapat menyebutkan

pengertian, penyebab, dan pencegahan Defisit Perawatan Diri.

MATERI PENYULUHAN

A. Pengertian

Page 116: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

99

Defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami

penurunan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan

diri secara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian atau berhias, makan, BAB

dan BAK (toileting), kebersihan diri. Pemenuhan personal hygiene sangat perlu

dilakukan, mengingat banyak manfaat yang ada untuk pencegahan, misalnya

mencegah gangguan integritas kulit / jaringan dan resiko infeksi (Fitira 2012).

Defisit Perawatan Diri adalah Suatu kondisi pada seseorang yang

mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas

perawatan diri secara mandiri.

B. Etiologi

Faktor predisposisi

a. Perkembangan

Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga

perkembangan inisiatif terganggu.

b. Biologis

Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan

perawatan diri.

c. Kemampuan realita turun

Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang

menyebabkan ketidak pedulian dirinya dan lingkungan termasuk

perawatan diri.

d. Sosial

Page 117: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

100

Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.

Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan

diri.

Faktor presiptasi

Menurut Watonah (2006) ada beberapa faktor presipitasi yang akan

menyebabkan seseorang kuarang perawatan diri. Faktor-faktor tersebut

berasal dari berbagai stressor antara lain:

a. Body image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan

diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak

peduli terhadap kebersihannya.

b. Praktik Sosial

Pada anak-anak selalu dimanjakan dalam kebersihan diri, maka

kemungkinan akan terjadi perubahan personal hygine.

c. Status sosioekonomi

Personal hygine memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,

skita gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk

menyediakannnya.

C. Tanda dan GejalaMenurut Purba dkk, 2011 ada tanda dan gejala pada Defisit Perawatan Diri

a. Mandi / hygine

Ketidakmampuan klien mengalami dalam membersihkan badan,

mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan

perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh. Gangguan kebersihan ini ditandai

Page 118: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

101

dengan rambur kotoe, gigi kotor, kulit berdaki dan bau, kuku panjang dan

kotor.

b. BAB/BAK (toileting)

Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan

kamar kecil atau jamban, duduk atau berdiri di jamban,manipulasi pakaian

untuk toileting, membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat, dan

menyiram toilet, klien BAB/BAK tidak pada tempatnya.

c. Berpakaian/Berhias

Klien mengalami kelemahan dalam meletakan atau mengambil potongan

pakaian, menanggalkan pakaian serta memperoleh atau memakai,

ketidakmampuan klien untuk mengenakan pakaian dalam, menggunakan

kancing tarik, melepas pakaian, menggunakan kaos kaki, mempertahankan

penampilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian dan

mengenakan sepatu. Ketidakmampuan ini ditandai dengan rambut tidak rapi,

pakaian kotor dan tidak rapi.

d. Makan/Minum

Klien mengalami ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan

makanan, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan, manipulasi

makanan dalam minum, mengambil makanan dari wadah untuk dimasukan ke

dalam mulut, serta tidak dapat mencerna makanan dengan baik dan aman.

D. Jenis-Jenis Defisit Perawatan DiriJenis-jenis perawatan diri dapat menjadi 4 bagian menurut Nuratif dan

Kusuma (2012), yaitu:

1. Kurang Perawatan diri: Mandi

Gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.

Page 119: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

102

2. Kurang Perawatan Diri: Berpakian atau berhias

Gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktifitas berhias sendiri.

3. Kurang Perawatan Diri: Makan

Gangguan kemampuan untuk menunjukan aktivitas makan.

4. Kurang Perawatan Diri: Toileting.

Gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas

toileting sendiri.

E. Dampak masalah defisit perawatan diriMenurut Tarwoto (2012), ada beberapa dampak sering timbul pada masalah

defisit perawatan diri seperti:

a. Dampak Fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak dipelihara

kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi

adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membran mukisa mulut, infeksi

pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.

b. Dampak Psikososial

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah gangguan

kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga

diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

F. Cara Penganganan1. Jelaskan pentingnya kebersihan diri

2. Jelaskan cara menjaga kebersihan diri

3. Bantu pasien untuk mempraktikan cara menjaga kebersihan diri

4. Menjelaskan cara makan yang baik serta mempraktikan bagaimana cara

makan yang baik

5. Menjelaskan cara eliminasi yang baik dan praktikan cara eliminasi

Page 120: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

103

6. Jelaskan cara berdandan

7. Bantu pasien untuk mempraktikan cara berdandan

Page 121: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

104

DEFISIT PERAWATAN DIRI

Disusun oleh:Iventianus gantoro.s.h

STIKes Panti Waluya Malang2020

A.PENGERTIAN DEFISIT PERAWATAN DIRIsuatu kondisi pada seseorang yang mengalami penurunan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian atau berhias, makan,

BAB dan BAK (toileting), kebersihan diri

B.KLASIFIKASI1. Kurang Perawatan diri: Mandi

2. Kurang Perawatan Diri: Berpakian atau

berhias

3. Kurang Perawatan Diri: Makan

4. Kurang Perawatan Diri: Toileting

C.TANDA DAN GEJALA1. Mandi / hygine

Ketidakmampuan klien mengalami dalam membersihkan badan

2. BAB/BAK (toileting)Klien memiliki keterbatasan dalam membersihkan diri setelah

BAB/BAK dengan tepat, dan menyiram toilet, klien BAB/BAK tidak pada tempatnya.

3. Berpakaian/BerhiasKlien mengalami ketidakmampuan klien untuk mengenakan pakaian dalam, menggunakan kancing tarik, melepas pakaian, menggunakan kaos kaki, mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan

4. Makan/MinumKlien mengalami ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan makanan, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan, dalam minum, mengambil makanan dari wadah untuk dimasukan ke dalam mulut,

Page 122: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

105

D.ADA 2 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI1. Faktor predisposisi

Perkembangan Biologis Kemampuan realita turun Sosial

2. Faktor presipitasi

Praktik Sosial Body image Status sosial ekonomi

E. Ada beberapa dampak sering timbul pada masalah defisit perawatan diri seperti:

1. DAMPAK FISIKBanyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak dipelihara kebersihan perorangan dengan baik

2. DAMPAK PSIKOLOGISMasalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai

TERIMA

KASIH

Page 123: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CEREBROVASCULAR ACCIDENT DENGAN MASALAH DEFISIT PERAWATAN DIRI

DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG

Iventianus gantoro setianto hadi, Wisoedhanie Widi Anugrahanti, WibowoProdi D-III Keperawatan STIKes Panti Waluya Malang

E-mail: [email protected]

1 ABSTRAK

Cerebrovasculer Accident merupakan gangguan suplai darah pada otak terjadi karena pecahnya pembuluh darah atau sumbatan oleh gumpalan darah, kedua kondisi ini dapat menimbulkan keterbatasan fisik penurunan fungsi ekstremitas dan penurunan fungsi mobilitas dapat menghambat pemenuhan aktivitas sehari-hari, sehingga pada klien dengan cerebrovascular accident dapat terjadi defisit perawatan diri. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2020, dengan lama waktu perawatan selama tiga hari untuk kedua klien hasil penelitian menunjukan masalah belum teratasi, masalah defisit perawatan diri dapat teratasi melalui implementasi dalam pemenuhan ADL, bagi peneliti selanjutnya lebih memperhatikan keadaan pasien khususnya CVA dengan masalah defisit perawatan diri, baik segi usia pola asuahan dan pemberian tindak lanjut yang lebih maksimal untuk membantu dalam proses penyembuhan dapat mengikut sertakan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri kepada klien yang sakit dengan masalah defisit perawatan diri secara lebih baik.

Kata kunci : Cerebrovascular Accident, Defisit Perawatan Diri.

ABSTRACT

Cerebrovascular Accident is a disruption in the blood supply to the brain due to a rupture of a blood vessel or a blockage by a blood clot, these two conditions can cause physical limitations, decreased limb function and decreased mobility function can hinder the fulfillment of daily activities, so that a client with a cerebrovascular accident may experience deficits. self care. The study was conducted in May 2020, with a length of treatment for three days for both clients, the results of the study showed that the problem had not been resolved, the problem of self-care deficits could be resolved through the implementation of ADL compliance, for further researchers to pay more attention to the patient's condition, especially CVA with self-care deficits. , both in terms of age, pattern of care and provision of maximum follow-up to help in the healing process can involve families to improve self-care for sick clients with self-care deficit problems better.

Keywords: Cerebrovascular Accident, Self-Care Deficits.

Page 124: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

PENDAHULUAN

World Health Organization (2016),

Cerebrovascular accident (CVA) adalah

gejala defisit fungsi susunan saraf oleh

penyakit pembuluh darah di otak,

gangguan tersebut dapat mengakibatkan

gangguan fungsional dan adapun tanda

yang sering muncul adalah kelumpuhan,

berbicara pelo, serta gangguan menelan

(Rudiyanto, 2010).

Ada dua faktor dari Cerebrovascular

accident (CVA) yaitu sumbatan dan

pecahnya pembuluh darah ke jaringan

otak, sumbatan menyebabkan penurunan

suplai darah ke otak sedangkan pada

pecahnya pembuluh darah menyebabkan

perubahan intrakranial yang juga dapat

menyebabkan gangguan aliran darah ke

otak, Kedua kondisi ini menyebabkan

gangguan neurologis fokal yang

menimbulkan keterbatasan fisik akibat

adanya hemiparase dan hemiplegia.

Hemiparese dan hemiplegia akan

menyebabkan terjadinya penurunan

kekuatan otot. Penurunan fungsi

ekstremitas dan penurunan fungsi

mobilitas dapat menghambat pemenuhan

aktivitas sehari-hari, sehingga pada klien

dengan cerebrovascular accident (CVA)

dapat terjadi defisit perawatan diri

(Harahap dan Siringoringo, 2016).

Menurut WHO (2015), kasus CVA

diseluruh dunia di perkirakan mencapai

50 juta jiwa, dan 9 juta diantaranya

menderita kecacatan berat yang lebih

memprihatinkan lagi 10% diantaranya

yang terserang CVA mengalami

kematian. Di kawasan Asia Tenggara

terdapat 4,4 juta orang mengalami CVA

(World Health Organization, 2014).

Berdasarkan hasil laporan Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun

2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

yang paling utama, dengan menunjukkan

bahwa prevalensi CVA di Indonesia

sebesar 6% atau per 8,3% per 1000

penduduk. Berdasarkan diagnosis nakes

Page 125: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

108

maupun diagnosis/gejala, di Provinsi

Jawa Timur Riskesdas 2018

menunjukkan prevalensi Penyakit Tidak

Menular mengalami kenaikan jika

dibandingkan dengan Riskesdas 2013,

salah satunya prevalensi stroke naik dari

7% menjadi 10,9%. Angka kejadian

penyakit cerebrovascular accident

(CVA) di RS Panti Waluya Sawahan

Malang dari bulan Januari sampai

Desember 2018 sebanyak 38 klien dan

yang mengalami defisit perawatan diri

sekitar 30% atau sebanyak 15 klien

(Rekam Medis RS Panti Waluya Malang,

2018).

Menurut Fitria (2012), defisit perawatan

diri adalah suatu kondisi pada seseorang

yang mengalami penurunan kemampuan

dalam melakukan atau melengkapi

aktivitas perawatan diri secara mandiri

seperti mandi (hygiene), berpakaian atau

berhias, makan, BAB dan BAK

(toileting), kebersihan diri. Pemenuhan

personal hygiene sangat perlu dilakukan,

mengingat banyak manfaat yang ada

untuk pencegahan, misalnya mencegah

gangguan integritas kulit / jaringan dan

resiko infeksi.

Fenomena yang penulis temukan pada

bulan Februari 2019 diruang Unit Stroke

RS Panti Waluya Malang yaitu terdapat 2

klien cerebrovascular accident (CVA).

Keluarga klien pertama mengatakan

bahwa awalnya klien mengeluhkan badan

terasa lemas separuh badan bagian kanan,

sulit di ajak berkomunikasi dan

mengalami penurunan kesadaran. Pada

saat praktek klinik didapatkan klien tidak

mampu melakukan aktivitas seperti

mandi, makan, menggosok gigi,

berdandan, dan klien dibantu saat

BAB/BAK. Klien kedua, mengeluhkan

pusing, badannya terasa lemas separuh

bagian badan, cara berkomunikasi tidak

jelas, riwayat klien pernah di rawat

dengan penyakit yang sama 1 tahun yang

Page 126: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

109

lalu, perawat sudah melakukan edukasi

tentang perawatan diri pada klien tetapi

keluarga klien tidak kooperatif. Pada saat

praktek klinik didapatkan klien mampu

melakukan aktivitas sebagian seperti

makan dengan mandiri tapi selebihnya

dibantu oleh perawat seperti mandi,

berpakaian, BAB/BAK.

Peran perawat dalam merawat klien

dengan diagnosa cerebrovascular

accident (CVA) adalah membantu

memenuhi kebutuhan klien selama

perawatan, baik itu dari segi pemenuhan

kebutuhan perawatan diri seperti mandi,

berpakaian/berhias, makan, toileting di

Rumah Sakit dan selama klien menderita

penyakit tersebut. Perawat dapat

melibatkan keluarga klien dalam

membantu pemenuhan perawatan diri,

seperti mandi, berpakaian/berhias,

makan, toileting agar membantu proses

penyembuhan klien dengan cepat.

Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik

untuk memberikan tindakan asuhan

keperawatan klien cerebrovascular

accident (CVA) dengan masalah defisit

perawatan diri.

METODE

Peneliti ini menggunakan studi kasus

pada klien cerebrovascular accident

(CVA) dengan masalah defisit perawatan

diri. Pengambilan data pada klien 1 dan 2

pada tanggal 20-22 Mei 2020. Dengan

kriteria inklusi berikut:

4. Pasien yang terdiagnosis medis

cerebrovascular accident (CVA)

5. Klien yang ditemukan defisit

perawatan diri :

a. Tidak mampu melakukan perawtan

diri mandi.

b. Tidak mampu melakukan

perawatan diri makan.

c. Tidak mampu melakukan

perawatan diri mengenakan

pakaian.

Page 127: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

110

d. Tidak mampu melakukan

perawatan diri BAK/BAB.

Pada penelitian ini yaitu 2 klien dengan

Cerebrovascular accident (CVA) klien 1

perempuan berusia 72 tahun, klien 2 laki-

laki berusia 63 tahun yang mengalami

defisit perawatan diri di Rumah Sakit

Panti Waluya Malang.

HASIL

1. Pengkajian

Pada saat dilakukan pengkajian pada

tanggal 20-05-2020 klien mengatakan

badan terasa lemas kaki dan tangan

sebelah kanan, klien rambut klien

tampak sedikit kotor, klien

menggunakan katater ukuran 14 dan

klien menggunakan pempres, Klien

tidak bisa memenuhi kebutuhan ADL

secara mandiri (makan, oral hygiene,

toileting, berpakaian, mandi), segala

sesuatu yang berhubungan dengan

klien di bantu oleh perawat dan

keluarga, kesadaran composmentis,

kekuatan otot 1|41|4

Pada klien 2, pada saat dilakukan

pengkajian pada tanggal 20-05-2020

pukul 14.00 WIB keluarga klien

mengatakan badan sebelah kiri terasa

lemas. Klien tidak bisa memenuhi

kebutuhan ADL secara mandiri

(makan, oral hygiene, toileting,

berpakaian, mandi), segala sesuatu

yang berhubungan dengan klien di

bantu oleh perawat dan keluarga,

kesadaran stupor, kekuatan otot 5|35|3

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan hasil pengkajian dapat

ditegakkan diagnosa pada klien 1 dan

2 yaitu Defisit perawatan diri

berhubungan dengan gangguan

neuromuskuler ditandai dengan

kelemahan otot,tidak mampu

mandi,makan,berhias, BAK/BAB

Page 128: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

111

3. Intervensi Keperawatan

Pada klien 1 dan 2 telah disusun

intervensi sesuai dengan teori, terdapat

16 intervensi yang akan dilakukan

secara mandiri maupun kolaboratif

sesuai dengan kondisi atau keadaan

klien

4. Implementasi Keperawatan

Berdasarkan PPNI (2017) diagnosa

keperawatan Defisit Perawatan Diri,

rencana tindakan keperawatan yang

sudah dilaksanakan pada klien 1

dengan 10 intervensi sedangkan klien

2 dengan 9 intervensi yaitu sesuai

dengan teori yang telah disusun.

5. Evaluasi Keperawatan

Setelah diberikan asuhan keperawatan

selama 3 hari, pada klien 1 dan 2

masalah belum teratasi dikarenakan

perawatan kurang, pada klien 1 dan 2

mencapai 8 kriteria hasil yang tealh

ditetapkan Kemampuan mandi klien

meningkat, kemampuan mengenakan

pakaian klien meningkat, kemampuan

makan klien meningkat, kemampuan

klien ke toilet (BAK, BAB),

verbalisasi keinginan melakukan

perawatan diri, minat klien untuk

melakukan perawatan diri meningkat,

klien dapat mempertahankan

kebersihan diri, klien dapat

mempertahankan kebersihan mulut.

PEMBAHASAN

1. Pengkajian

Klien 1 mengatakan badan terasa

lemas sebelah kanan, klien

mengatakan tangan dan kaki kanan

lemah serta bedrest total, klien

mengatakan kebutuhan aktivitas

dibantu oleh keluarga atau perawat,

kesadaran klien composmentis, K/U

cukup, pola aktivitas seperti makan,

mandi, berpakaian, BAK, BAB,

Page 129: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

112

miring, duduk dibantu keluarga atau

perawat, klien terlihat bedrest total dan

hanya boleh miring kanan-kiri dan

ROM pasif aktif, tekanan

darah :140/80 mmHg, nadi:82 x/menit,

suhu :36,8 0C, respirasi:22

x/menit,SPO2 : 96%.

Klien 2 keluarga klien mengatakan

badan klien tiba-tiba lemas dan bicara

pelo sejak , keluarga klien mengatakan

memiliki riwayat hipertensi, keluarga

klien mengatakan kebutuhan aktivitas

dibantu oleh keluarga atau perawat,

K/U lemas, kesadaran klien stupor,

klien terlihat lemas, rambut klien

seikit kotor, pada pemeriksaan telinga

terdapat sedikit serumen, minum sari

kacang hijau, jus dan air putih,

tekanan darah klien: 220/120 mmHg,

nadi: 118 x/menit, suhu: 36,9 0C,

resperasi: 24 x/menit, kekuatan otot.

Peneliti menemukan perberdaan data

yang terjadi pada klien 1 dan klien 2,

dimana klien 1 di diagnosa CVA

trombosis, klien mengalami

kelemahan otot yang pada klien 1

mengalami kelemahan otot pada

bagian kiri, dan klien mengalami

badtrest total, kesadaran klien

composmentis, dan klien 2 diagnosa

CVA hemoragic, mengalami

kelemahan otot, pada klien 1

mengalami kelemahan otot pada

bagian kanan dan klien mengalami

badtrest total, kesadaran klien stupor,

dan peneliti menemukan data pada

data yang terjadi pada klien 1 dan 2

didapatkan persamaan data tidak

mampu melakakuan perawatan diri

seperti mandi, makan, berhias,

BAB/BAK secara mandiri, maka

berdasarkan data hasil pengkajian

tersebut menunjukkan bahwa klien

mengalami CVA dengan masalah

keperawatan defisit perawatan diri.

Defisit Perawatan Diri merupakan

suatu kondisi pada seseorang yang

mengalami kelemahan kemampuan

Page 130: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

113

dalam melakukan atau melengkapi

aktivitas perawatan diri secara mandiri

seperti mandi, berpakian/berhias,

makan, dan BAB/BAK (Fitria, 2012).

2. Diagnosa keperawatan

Pada kedua klien ditegakkan

diagnosis keperawatan Defisit

perawatan diri berhubungan dengan

gangguan neuromuskuler ditandai

dengan kelemahan otot, tidak mampu

mandi, makan, berhias, BAK/BAB .

Pada klien 1 dan 2 didapatkan bahwa

kedua klien didiagnosa CVA dengan

masalah Defisit perawatan diri

berhubungan dengan gangguan

neuromuskuler ditandai dengan

kelemahan otot, tidak mampu

mandi, makan, berhias, BAK/BAB

dibuktikan dengan penurunan

kekuatan otot,klien belum mandi,

rambut klien terlihat kotor , kuku

klien panjang,bau mulut klien tidak

sedap, adanya serumen di telinga,

tidak mampu melakukan aktivitas

hanya dibantu oleh keluarga dan

perawat, karena perawatan diri yang

kurang maka dapat menimbulkan

defisit perawatan diri.

Keterbatasan kebersihan diri

biasanya diakibatkan karena stressor

yang cukup berat dan sulit ditangani

oleh klien, sehingga dirinya tidak

mengurus merawat dirinya sendiri

baik dalam hal mandi, berpakaian,

dan berhias. Keterbatasan tersebut

akan terus berlanjut dalam

pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.

Manusia mempunyai kebutuhan yang

beragam, namun pada hakikatnya

setiap manusia mempunyai

kebutuhan dasar yang sama. Salah

satunya yang mengalami defisit

perawatan diri adalah klien yang

terkena penyakit Cerebrovasculer

Accident (CVA) memiliki

keterbatasan pergerakan dan tidak

Page 131: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

114

mampu memenuhi kebutuhan dasar

(Asmadi,2012).

3. Intervensi Keperawatan

Pada klien 1 dan 2 dilakukan rencana

keperawatan melakukan, monitor

tingkat kemandirian, monitor

kemampan menelan, monitor

integritas kulit, monitor kebersihan

tubuh (mis. Rambut, mulut, kulit,

kuku, fasilitasi kemandirian, bantu

jika tidak mampu malakukan

perawatan diri, dampingi dalam

melakukan perawatan diri secara

mandiri, bersihkan alat bantu

BAK/BAB setelah dignakan,

fasilitasi berhias (mis. Menyisir

rambut, merapikan kumis dan

jenggot), atur posisi yang nyaman

untuk makan/minum, sediakan

peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat

gigi), sediakan lingkungan aman dan

nyaman, anjurkan melakukan

perawatan diri secara konsisten

sesuai kemampuan, ajarkan

mengenakan pakaian, jelakan

manfaat mandi dan dampat tidak

mandi terhadap kesehatan, ajarkan

kepada keluarga cara memandikan

klien.

Menurut penulis, klien 1 dan 2

ditetapkan rencana tindakan ada 16

intervensi yang mengacu sesuai

dengan tinjauan pustaka. Peneliti

berharap semua intervensi yang telah

disusun ditujukan untuk dapat

mencapai kriteria hasil yang telah

ditetapkan sesuai permasalahan

defisit perawatan diri yang dialami

klien.

Intervensi yang dilaksanakan sudah

sesuai dengan teori menurut (Tim

Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).

Dengan cara memonitor tingkat

kemandirian, memonitor kemampan

menelan, memonitor integritas kulit,

memonitor kebersihan tubuh (mis.

Rambut, mulut, kulit, kuku,

memfasilitasi kemandirian, bantu

Page 132: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

115

jika tidak mampu malakukan

perawatan diri, mendampingi dalam

melakukan perawatan diri secara

mandiri, membersihkan alat bantu

BAK/BAB setelah dignakan,

memfasilitasi berhias (mis. Menyisir

rambut, merapikan kumis dan

jenggot), mengatur posisi yang

nyaman untuk makan/minum,

menyediakan peralatan mandi ( mis.

Sabun, sikat gigi, menyediakan

lingkungan aman dan nyaman,

menganjurkan melakukan perawatan

diri secara konsisten sesuai

kemampuan, mengajarkan

mengenakan pakaian, menjelakan

manfaat mandi dan dampat tidak

mandi terhadap kesehatan,

mengajarkan kepada keluarga cara

memandikan klien

Menurut Tim Pokja SIKI DPP PPNI

(2019) Rasional dari intervensi yang

diberikan pada klien

Cerebrovasculer Accident (CVA)

adalah :

Menurut PPNI, (2018) :

16.memonitor tingkat kemandirian

17.memonitor kemampuan menelan

18.memonitor integritas kulit

19.memonitor kebersihan tubuh (mis.

Rambut, mulut, kulit, kuku

20.memfasilitasi kemandirian, bantu

jika tidak mampu malakukan

perawatan diri

21.mendampingi dalam melakukan

perawatan diri secara mandiri

22.membersihkan alat bantu

BAK/BAB setelah dignakan

23.memfasilitasi berhias (mis.

Menyisir rambut, merapikan

kumis dan jenggot)

24.mengatur posisi yang nyaman

untuk makan/minum

25.menyediakan peralatan mandi

( mis. Sabun, sikat gigi,

26.menyediakan lingkungan aman

dan nyaman

Page 133: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

116

27.menganjurkan melakukan

perawatan diri secara konsisten

sesuai kemampuan

28.mengajarkan mengenakan pakaian

29.menjelakan manfaat mandi dan

dampat tidak mandi terhadap

kesehatan

30.mengajarkan kepada keluarga

cara memndikan klien

4. Implementasi

Pada klien 1 dan 2 dilakukan

tindakan keperawatan melakukan

memonitor tingkat kemandirian,

memonitor kemampan menelan,

memonitor integritas kulit,

memonitor kebersihan tubuh (mis.

Rambut, mulut, kulit, kuku),

memfasilitasi kemandirian, bantu jika

tidak mampu malakukan perawatan

diri, mendampingi dalam melakukan

perawatan diri secara mandiri,

membersihkan alat bantu BAK/BAB

setelah digunakan, memfasilitasi

berhias (mis. Menyisir rambut,

merapikan kumis dan jenggot),

mengatur posisi yang nyaman untuk

makan/minum, menyediakan

peralatan mandi ( mis. Sabun, sikat

gigi), menyediakan lingkungan aman

dan nyaman, menganjurkan

melakukan perawatan diri secara

konsisten sesuai kemampuan,

mengajarkan mengenakan pakaian,

menjelakan manfaat mandi dan

dampat tidak mandi terhadap

kesehatan, mengajarkan kepada

keluarga cara memandikan klien,

untuk tindakan mandiri memberikan

pengetahuan tentang defisit

perawatan diri dan memberikan

leaflet defisit perawatan

Implementasi merupakan pengolahan

dan perwujudan dari rencana

keperawatan yang telah disusun pada

tahan perencanaan. Pada penelitian

ini, peneliti memberikan

implementasi sesuai dengan

Page 134: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

117

intervensi yang direncanakan. Pada

klien 1 dan 2 memiliki persamaan

pada implementasi menjelaskan

tujuan dan prosedur penanganan

yang tepat pada klien dengan defisit

perawatan diri pada klien dan

keluarga klien yang dapat membantu

untuk perawatan diri seperti makan,

mandi, berpakian, BAK/BAB, serta

dapat membantu dalam keluarga

mengetahui pentingnya perawatan

diri pada klien yang sakit.

Implementasi merupakan tahap

keempat dari proses keperawatan,

tahap ini muncul jika perencanaan

yang dibuat diaplikasikan pada klien.

Aplikasi yang dilakukan pada klien

akan berbeda, disesuikan dengan

kondisi klien saat ini dan kebutuhan

yang paling dirasakan oleh klien

( Nurul, 2016).

5. Evaluasi Keperawatan

Pada klien 1 dan 2 dilakukan

evaluasi dengan lama waktu

perawatan selama tiga hari untuk

kedua klien hasil penelitian

menunjukan masalah belum teratasi.

Setelah dilakukan asuhan

keperawatan selama 3 hari

perawatan, pada klien 1 dan 2

masalah belum teratasi, pada klien 1

mencapai 8 kriteria hasil, dan pada

klien 2 mencapai 8 kriteria hasil,

pada klien pertama kesadaran klien

composmentis, klien mampu

memegang sendok dengan tangan

kanannya, Pola aktivitas seperti

makan, mandi, berpakaian, BAK,

BAB, miring, duduk dibantu

keluarga atau perawat. Pada klien

kedua kesadaran stupor, klien masih

terlihat lemas, pola aktivitas seperti

makan, mandi, berpakaian, BAK,

BAB, miring kanan dan kiri dibantu

keluarga atau perawat.

Page 135: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

118

Menurut PPNI (2018) evaluasi

adalah tahap kelima dari proses

keperawatan. Pada tahap ini perawat

membandingkan hasil tindakan yang

telah dilakukan dengan kriteria hasil

yang sudah ditetapkan serta menilai

apakah masalah yang terjadi sudah

teratasi seluruhnya, hanya sebagian,

atau bahkan belum teratasi

semuanya. Evaluasi adalah proses

yang berkelanjutan yaitu proses yang

digunakan untuk mengukur dan

memonitor kondisi klien mengetahui,

kemampuan mandi klien meningkat,

kemampuan mengenakan pakaian

klien meningkat, kemampuan makan

klien meningkat, kemampuan klien

ke toilet (BAK, BAB), verbalisasi

keinginan melakukan perawatan diri,

minat klien untuk melakukan

perawatan diri meningkat, klien

dapat mempertahankan kebersihan

diri, klien dapat mempertahankan

kebersihan mulut.

KESIMPULAN

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

pada klien CVA dengan masalah defisit

perawatan diri di Rumah Sakit Panti

Waluya Sawahan Malang, kedua klien

telah dilakukan pengkajian sampai

dengan evaluasi selama kurang lebih 3

hari sesuai dengan kriteria hasil yang

sudah ditetapkan, pada klien 1 didapatkan

hasil masalah belum teratasi ditandai

dengan kelemahan pada tangan dan kaki

kanan berkurang, bicaranya agak kembali

normal, dan TTV dalam batas normal,

rambut klien terlihat bersih, klien di seka

2x sehari, klien sonde 3x sehari. Klien 2

dengan hasil masalah teratasi belum

teratasi ditandai dengan kelemahan pada

tangan dan kaki kanan berkurang, rambut

klien terlihat bersih, klien di seka 2x

sehari, klien sonde 3x sehari.

Berdasarkan data pada kedua klien yaitu

klien mengalami kelemahan pada tangan

dan kaki sebelah kanan maupun kiri,

Page 136: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

119

berbicara pelo, tidak dapat melakukan

aktifitas secara mandiri misalnya mandi,

makan, berhias, BAK/BAB, dan

penurunan kekuatan otot. Data tersebut

sesuai dengan teori untuk dilakukan

asuhan keperawatan pada klien CVA

dengan masalah defisit perawatan diri.

Saran bagi peneliti selanjutnya berharap

lebih memperhatikan keadaan pasien

khususnya CVA dengan masalah defisit

perawatan diri, baik segi usia pola

asuahan dan pemberian tindak lanjut

yang lebih maksimal maka peneliti

berharap peneliti selanjutnya lebih

memberikan kreasi, inovasi sehingga

rencana asuhan dapat dilakukan secara

maksimal untuk membantu dalam proses

peneyembuhan dapat mengikut sertakan

keluarga untuk meningkatkan perawatan

diri kepada klien yang sakit dengan

masalah defisit perawatan diri secara

lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi, (2012).Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC

Fitria, N. 2012, Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Harahap, S., & Siringoringo, E. (2016). Aktivitas Sehari-hari Pasien Stroke Non Hemoragik Di RSUD Dr . Pirngadi Medan Tahun 2016, 69–73

Nurul. 2016. Dokumentasi keperawatan. Ponorogo: UNMUH Ponorogo Press

.Rudiyanto, S. (2010). Anda bertanya

Dokter menjawab: Stroke dan Rehabilitasi Pasca Stroke. Jakarta: PT. Buana Ilmu Populer

Tim pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar intervensi Keperawatan indonesia Jakarta selatan. Dewan Pengurus pusat

Tim pokja SLKI DPP PPNI. 2019.Standar iuran keperawatan indonesia, Jakarta selatan: Dewan pengurusa pusat.

Tim Pokja DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) Edisi 1. DPP PPNI. Jakarta

World Health Organization (WHO). (2016). Stroke, Cerebrovascular accident. Diakses tanggal 17 Juni 2016 dari

Page 137: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

120

http://www.who.int/topics/cerebrovascular_accident/en

Page 138: L DEPANrepository.stikespantiwaluya.ac.id/446/1/STIKESPW... · Web viewBerdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 di Indonesia CVA menjadi urutan

121