Ekonomi Makro, Globalisasi, Industrialisasi, dan Kawasan Ekonomi

download Ekonomi Makro, Globalisasi, Industrialisasi, dan Kawasan Ekonomi

of 187

Embed Size (px)

description

Indonesia telah menuju deindustrialisasi sebelum dapat mencapai industrialisasi. Keadaan ini menunjukkan bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi negatif. Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa industrialisasi adalah suatu keadaan yang ditandai dengan menjadi lebih pentingnya sektor industri dalam perekonomian. Cara melihatnya adalah dengan memperhatikan struktur produksi di dalam Produk Domestik Bruto (PDB) yang berisikan sumbangan sektor-sektor ekonomi dalam pereko-nomian, termasuk di dalamnya sumbangan sektor industri.

Transcript of Ekonomi Makro, Globalisasi, Industrialisasi, dan Kawasan Ekonomi

  • 1.Kumpulan Makalah Tentang : Ekonomi Makro Globalisasi Industrialisasi Kawasan Ekonomi Industrialisasi: "Apa dan Bagaimana Indonesia"........................................... 3 Akumulasi Teknologi dan Pertumbuhan Industri : Perbandingan Negara Maju dan Berkembang .......................................................................13 Mempersiapkan Kawasan-Kawasan Industri Dengan Berbagai Insentif Dan Dukungan Infrastruktur Pelabuhan dan Jaringan Transportasi Yang Kompetitif Untuk Menarik Investor Asing Menanamkan Modalnya di Indonesia ......................................................................................40 Industrialisasi Nasional dan Cita-cita Kemakmuran .....................................54 Negara dan Kebijakan Industri .............................................................63 Strategi Industrialisasi dan Proteksionisme...............................................71 Khilafah dan Strategi Industrialisasi Dunia Islam ........................................78 Industrialisasi dan Wiraswasta: Masyarakat Industri Belah Ketupat.................88 Kawasan Ekonomi Khusus ...................................................................92 Prospek Kawasan Ekonomi Khusus dan Pertumbuhan Ekonomi ........................94 Business Environment Analysis : Pemikiran dan Konsep .............................. 114 Sektor Manufaktur Unggulan Indonesia ke Depan...................................... 133 Modal Asing dengan Kawasan Ekonomi Khusus......................................... 136 Jangan Kuper, Berpikirlah Cara ASEAN.................................................. 139 Kita Harus Berbenah ....................................................................... 143 10 Dampak Negatif Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) .................................. 146 FTZ: Istilah dan Pengertiannya........................................................... 158 Tujuh Paradoks SEZ ? ...................................................................... 161

2. - 2 - Bukan KEK tapi Industrialisasi Nasional ................................................. 166 KEK: Sebuah Pelajaran Dari Batam ...................................................... 170 Nilai Strategis Batam-Bintan Sebagai Proyek Percontohan Penerapan Zona Ekonomi Khusus di Indonesia ............................................................. 173 KEK, Negara dan Ancaman terhadap Buruh dan Masyarakat Indonesia............. 180 Menjadi Bangsa Mandiri "Mungkinkah ?"................................................. 186 3. Industrialisasi: "Apa dan Bagaimana Indonesia"1 Indonesia telah menuju deindustria- lisasi sebelum dapat mencapai indus- trialisasi. Keadaan ini menunjukkan bahwa Indonesia mengalami dein- dustrialisasi negatif. Demikian disampaikan Prof. Dr. Ine Minara Ruky, Guru Besar Fakultas Eko- nomi Universitas Indonesia (UI) dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Forum Keadilan Ekonomi (FKE) yang diselenggarakan Institute for Global Justice-IGJ, beberapa saat lalu (10/12/2008). Diskusi yang bertema- kan Masalah Industrialisasi, Investasi dan Tenaga Kerja di Indonesia: Sebuah Upaya Mencari Jalan Alternatif, me- rupakan bagian dari rangkaian pene- litian yang dilakukan IGJ tentang eko- nomi heterodoks. Secara panjang lebar Prof. Ine Minara menjelaskan industrialisasi mulai dari dasar teori hingga prakteknya di Indo- nesia. Menurutnya, banyak penafsiran yang salah kaprah dalam mendefinisi- kan industrialisasi. Industrialisasi se- ring diartikan dengan membangun in- dustri. Padahal konsep industrialisasi adalah perubahan sosial dan ekono- mi, di mana masyarakat ditransfor- masikan dari tahap atau keadaan pra industri ketika akumulasi modal per- kapita itu rendah, ke tahap indus- trialisasi. Jadi, industrialisasi bukan 1 http://www.globaljust.org/index.php? option=com_content&task=view&id=178&Itemid=136 sekedar transformasi ekonomi melain- kan sebuah transformasi sosial. Peru- bahan sosial dan ekonomi itu sendiri terkait dengan penemuan teknologi, khususnya pembangunan produksi energi skala besar dan metalurgi (besi dan baja). Kemajuan industrialisasi suatu negara bisa diukur dari bagai- mana kontribusi industri besi baja terhadap total industrinya. Struktur industri yang semakin kuat, ditandai dengan tingkat kontribusi industri besi baja yang semakin besar dari kontri- busi industri lainnya terhadap total industrinya. Industrialisasi di Indonesia Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa industrialisasi adalah suatu keadaan yang ditandai dengan menjadi lebih pentingnya sektor industri dalam perekonomian. Cara melihatnya ada- lah dengan memperhatikan struktur produksi di dalam Produk Domestik Bruto (PDB) yang berisikan sumbangan sektor-sektor ekonomi dalam pereko- nomian, termasuk di dalamnya sum- bangan sektor industri. Jika diamati kondisi ekonomi Indone- sia, dapat dilihat bahwa sumbangan sektor industri terhadap PDB cukup besar dan menunjukkan peningkatan dalam 27 tahun terakhir. Kondisi ter- sebut menjelaskan adanya perubahan struktur ekonomi di mana sumbangan sektor industri semakin besar dalam pembentukan PDB sementara sum- bangan sektor pertanian semakin kecil. Jika dilihat dari satu aspek itu saja maka dapat disimpulkan bahwa 4. - 4 - Indonesia tengah mengalami indus- trialisasi. Akan tetapi hal tersebut tidak cukup, lebih jauh lagi harus diamati bagaimana sesungguhnya keadaan sektor industri dan keadaan sektor lainnya, terutama pertanian. Dalam suatu negara industrialisasi dapat dikatakan berhasil jika di da- lam masyarakat terjadi transformasi dari masyarakat pertanian ke masya- rakat industri. Selama proses indus- trialisasi, pendapatan perkapita ma- syarakat naik dan produktivitas me- ningkat, sehingga, untuk mengamati proses industrialisasi kita tidak bisa melihat dari kontribusi sektor perta- nian terhadap perekonomian saja, akan tetapi juga pendapatan perka- pita dan produktivitas yang ada, apa- kah mengalami pertambahan atau tidak. Selain itu, ciri lain proses industrialisasi adalah : adanya perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan, adanya pergeseran aktivitas dari produksi rumah tangga ke pabrik dan meningkatnya penggunaan alat-alat bermesin dalam pertanian yang me- nyebabkan aktivitas pertanian me- ningkat dan ketersediaan pangan bagi masyara- kat perkotaan. Industrialisasi yang berhasil tidak da- pat dilihat dari sektor ekonomi saja, atau kontribusi sektor pertanian ter- hadap PDB atau dari pendapatan per- kapita atau dari produktivitas semata. Akan tetapi juga bahwa di dalam masyarakat terjadi perubahan filosof atau perubahan sikap yang berbeda dalam transaksi. Dalam suatu negara, norma-norma tradisional yang masih kuat dapat menghalangi transaksi yang efsien. Misalnya kalau masyarakat ma- sih membatasi kemampuan perempuan untuk bekerja di pabrik, atau bentuk- bentuk diskriminasi lain terhadap ke- lompok tertentu, maka laju industria- lisasi akan melambat. Mengutip pendapat dari tiga peneliti Universitas Berkeley, Edward Miguel, Paul Gertler, David I. Levine, June 2002. Industrialisasi di Indonesia dimulai dari Repelita I (pertama) sampai dengan Repelita V (lima). Ekonomi Indonesia dirancang dibangun melalui industrialisasi. Sampai dengan 5. - 5 - tahun 1990-an bahwa Indonesia men- jalankan suatu proses industrialisasi itu diakui oleh dunia internasional. Ketiga peneliti dari Berkeley menyim- pulkan bahwa industrialisasi di Indone- sia dirancang dengan setting ideologi bahwa pemerintah adalah pendorong kelompok-kelompok masyarakat dan gotong royong. Akan tetapi, menurut ketiga peneliti tersebut, tindakan kolektif atau go- tong royong, tidak mendorong pertum- buhan industri. Dalam prosesnya jus- tru tindakan individulah yang lebih dominan. Sementara industrialisasi di daerah menjurus kepada pengurang- an modal sosial. Sifat kelompok yang saling menolong, rasa kasih sayang di dalam masyarakat, yang merupakan modal sosial di dalam suatu negara, justru tergerus. Mereka juga menun- jukkan bahwa industrialisasi tersebut bersifat merusak kepada masyarakat, terutama terhadap masyarakat pede- saan. Sementara industrialisasi di dae- rah menjurus ke pengurangan dalam modal sosial. Statement tersebut menambah kredi- bilitas atas pendapat bahwa indus- trialisasi kadang-kadang dapat ber- sifat merusak bagi masyarakat (so- cially destructive), dan ada kemung- kinan bahwa akibat samping dari in- dustrialisasi ini di masyarakat pede- saan telah meratakan jalan menuju ke kerusuhan sosial/masyarakat (so- cial unrest) di Indonesia. Pengikisan kekuatan-kekuatan yang mempersa- tukan (co-hesive forces), seperti gotong royong, yang sebelumnya ber- hasil mempersatukan penduduk de- sa, telah mengakibatkan kejahatan, kekerasan, dan kerusuhan di antara pekerja-pekerja yang dipecat (di-PHK- kan), yang kembali ke desa-desa me- reka di pedalaman Pulau Jawa selama dan sesudah Krisis Keuangan Asia ta- hun 1998 dan bagaimanapun hal ini menyebabkan instabilitas sosial di Indonesia (Breman, 2001). Ine Minara mengingatkan bahwa in- dustrialisasi yang berjalan dengan baik dapat memberi stimulasi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kalau ki- ta lihat kondisi sekarang, meningkat- nya peran sektor industri dan sektor lain dalam PDB diikuti dengan menu- runnya peran, kualitas maupun pro- duktivitas sektor pertanian. Maka industrialisasi tidak dapat dikatakan berhasil ketika kegagalan justru ter- gantung akan menyebabkan pasokan pangan bagi penduduk kota terjadi karena hal tersebut. Jika produktivi- tas pangan rendah dan kebutuhan pangan sendiri tidak dapat terpenuhi, dan pada impor, jelas hal ini pertum- buhan rendah atau pertumbuhan tidak berkualitas. Apabila suatu negara mengimpor kebutuhan pangannya dalam memenuhi kebutuhan masya- rakat, maka pendapatan perkapita yang meningkat di negara tersebut akibat dari industrialisasi, maka akan terjadi multiplier effect di luar, bu- kan di wilayah perekonomian negara tersebut, sehingga peningkatan pen- dapatan dan produktivitas justru digu- nakan untuk membiayai impor perta