Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan ...

of 180 /180
Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Tahun 2008 Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

Embed Size (px)

Transcript of Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan ...

  • Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

    Tahun 2008

    Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

  • Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

    Tahun 2008

    Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

  • i

    PENYAJIAN DATA INFORMASI KEMENTERIAN NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA TAHUN 2008 ISBN: Ukuran Buku: 15,7 cm x 24 cm Jumlah Halaman: 163 + xii Naskah: Tim Penyusun Gambar Kulit: Tim Penyusun Diterbitkan oleh: Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya

  • ii

    PENYAJIAN DATA INFORMASI KEMENTERIAN NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA TAHUN 2008 Tim Penyusun Naskah

    Penangung Jawab : Wynandin Imawan

    Penyunting : Wien Kusdiatmono

    Nur Syahrizal

    Penulis : Wien Kusdiatmono

    Retno Harisah

    Dewa Ayu Eka Sumarningsih

    Suhariadi

    Penyiapan Data : Wien Kusdiatmono

    Retno Harisah

    Dewa Ayu Eka Sumarningsih

    Suhariadi

  • iii

    Kata Pengantar

    Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan

    Olahraga 2008 merupakan publikasi yang menyajikan informasi

    mengenai kepemudaan dan keolahragaan di Indonesia. Data

    dan Informasi pemuda yang disajikan meliputi kependudukan,

    pendidikan, kesehatan, angkatan kerja, pemberdayaan pemuda,

    proyeksi penduduk, serta pemuda dan pengentasan kemiskinan.

    Informasi kependudukan mencakup jumlah dan persebaran

    pemuda, pemuda menurut jenis kelamin, status perkawinan dan

    partisipasi pemuda dalam keluarga berencana. Informasi aspek

    pendidikan antara lain mencakup partisipasi sekolah, dan

    pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Informasi aspek kesehatan

    meliputi angka kesakitan dan jenis keluhan kesehatan.

    Pembahasan angkatan kerja meliputi tingkat partispasi angkatan

    kerja pemuda dan angka pengangguran di kalangan pemuda.

    Informasi pada aspek pemberdayaan pemuda mencakup

    ketersediaan fasilitas olah raga, prestasi olah raga dan sains yang

    dicapai pemuda Indonesia dan Sarjana Pembangunan di

    Pedesaan (SP-3). Publikasi ini juga menyajikan proyeksi pemuda

    sampai tahun 2015. Pembahasan pemuda dan pengentasan

    kemiskinan, meliputi kemiskinan dan umur dan peranan pemuda

    dalam pengentasan kemiskinan.

    Sumber data dan informasi yang digunakan dalam publikasi

    ini berasal dari berbagai sumber antara lain: Survei Sosial Ekonomi

    Nasional (Susenas) Panel Maret 2005 dan Susenas Panel Maret

    2007, Susenas Kor Juli 2007, Survei Potensi Desa (PODES) 2005 dan

    PODES 2008, dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2007.

    Ketiga sumber data tersebut berasal dari kegitan survei/sensus

    yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS). Selain ketiga

    sumber data tersebut, dalam publikasi ini menggunakan pula

  • iv

    data yang bersumber dari Komite Olahraga Nasional Indonesia

    (KONI) dan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

    khususnya mengenai pencapaian prestasi olah raga dan Sarjana

    Penggerak Pembangunan di Pedesaan.

    Publikasi ini merupakan publikasi tahunan Kementerian

    Pemuda dan Olahraga. Kepada semua pihak yang telah

    berpartisipasi dalam penyusunan publikasi ini, disampaikan

    penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga

    publikasi ini bermanfaat. Kritik dan saran sangat kami harapkan

    guna penyempurnaan di masa mendatang.

    Jakarta, Desember 2008

    Tim Penyusun

  • v

    Sambutan

    ...

  • vi

  • vii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    Kata Pengantar...................................................................................... iii

    Sambutan ..............................................................................................v

    Daftar Isi ...............................................................................................vii

    Daftar Tabel.......................................................................................... ix

    Daftar Gambar ......................................................................................xi

    Daftar Lampiran ...................................................................................xii

    Bab 1 Pendahuluan ...............................................................................1

    1.1 Latar Belakang....................................................................1

    1.2 Tujuan.................................................................................3

    1.3 Sumber Data .......................................................................5

    1.4 Sistematika Penyajian.........................................................6

    Bab 2 Kependudukan............................................................................7

    2.1 Jumlah dan Persebaran Pemuda..........................................7

    2.2 Rasio Jenis Kelamin Pemuda menurut Propinsi dan

    Kelompok Umur ................................................................10

    2.3 Status Perkawinan Pemuda.................................................11

    2.4 Partisipasi Pemuda dalam Keluarga Berencana .................12

    Bab 3 Pendidikan..................................................................................15

    3.1 Tingkat Partisipasi Sekolah ................................................16

    3.2 Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan .............................18

    3.3 Buta Aksara ........................................................................20

    Bab 4 Kesehatan ...................................................................................23

    4.1 Angka Kesakitan Pemuda...................................................25

    4.2 Jenis Keluhan Kesehatan ....................................................27

    Bab 5 Pemuda dan Angkatan Kerja......................................................29

    5.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Pemuda......................31

    5.2 Tingkat Pengangguran Terbuka..........................................34

  • viii

    Bab 6 Pemberdayaan Pemuda ..............................................................37

    6.1 Pembangunan Olahraga ......................................................39

    6.2 Prestasi Pemuda..................................................................42

    6.2.1 Prestasi Pemuda di Pekan Olahraga Nasional ...........43

    6.2.2 Prestasi Pemuda di SEA Games................................44

    6.2.3 Prestasi Pemuda di ASIAN Games ...........................48

    6.2.4 Prestasi Pemuda di Olimpiade...................................51

    6.2.5 Prestasi Pemuda di Bidang Sains ..............................53

    6.2.6 Prestasi Sarjana Penggerak Pembangunan di

    Pedesaan.....................................................................57

    Bab 7 Proyeksi Pemuda........................................................................63

    7.1 Metode Proyeksi .................................................................63

    7.2 Hasil Proyeksi.....................................................................64

    Bab 8 Pemuda dan Pengentasan Kemiskinan.......................................69

    8.1 Rata-rata Umur Kepala Rumah Tangga Miskin .................71

    8.2 Distribusi Kemiskinan Pemuda Sebagai Kepala

    Rumah Tangga....................................................................76

    8.3 Peran Pemuda dalam Program Penanggulangan

    Kemiskinan.........................................................................81

    8.3.1 Program Terpadu Program Keluarga

    Sejahtera (PROKESRA)...........................................82

    8.3.2 Program Pembangunan Keluarga Sejahtera .............83

    8.3.3 Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) ....................84

    8.3.4 Program Kesejahteraan Sosial (PROKESOS)..........85

    8.3.5 Program Terkait Lainnya..........................................87

    Daftar Pustaka ......................................................................................89

    Lampiran...............................................................................................91

  • ix

    DAFTAR TABEL

    Halaman

    Tabel 2.1. Persentase Pemuda menurut Status Perkawinan, Daerah Tempat Tinggal, dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ............12 Tabel 2.2 Persentase Pemuda Pernah Kawin menurut Partisipasi dalam Keluarga Berencana dan Daerah Tempat Tinggal, Tahun 2007 .......................................................................13 Tabel 3.1 Persentase Pemuda menurut Partisipasi Sekolah dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ...............................................17 Tabel 3.2 Angka Buta Aksara menurut Daerah Tempat Tinggal Kelompok umur dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 .............21 Tabel 4.1 Angka Kesakitan Pemuda menurut Jenis Kelamin dan Pulau/Kepulauan, Tahun 2007 ...................................26 Tabel 4.2 Persentase Pemuda yang Sakit menurut Jenis Keluhan Kesehatan dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ......................28 Tabel 4.3 Persentase Pemuda yang Sakit menurut Jenis Keluhan Kesehatan dan , Kelompok Umur Tahun 2007 .................28 Tabel 5.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Pemuda menurut Propinsi, Jenis Kelamin dan Daerah, Tahun 2007 ............33 Tabel 5.2 Tingkat Pengangguran Terbuka Pemuda menurut Propinsi, Daerah dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ............36 Tabel 6.1 Perolehan Medali SEA Games Tahun 2007 .....................46 Tabel 6.2 Lokasi ASEAN ParaGames...............................................46 Tabel 6.3 Perolehan Medali ASEAN ParaGames III .......................47 Tabel 6.4 Perolehan Medali ASEAN ParaGames IV .......................47 Tabel 6.5 Perkembangan Peringkat Indonesia dalam ASEAN Games .................................................................49 Tabel 6.6 Perolehan Medali Kejuaraan ASEAN Beach Games I......50

  • x

    Tabel 6.7 Perolehan Medali Tim Indonesia, menurut Cabang Olahraga, Olimpiade Tahun 1952-2008 ...........................51 Tabel 6.8 Perolehan Medali Tim Indonesia menurut Tahun Kejuaraan...........................................................................52 Tabel 7.1 Jumlah Pemuda 2005 dan Proyeksi Pemuda 2006-2015 menurut Kelompok Umur (dalam ribuan) .........................66 Tabel 7.2 Perbandingan Jumlah Pemuda 2005 dan Proyeksi Pemuda, Tahun 2015 .........................................................68 Tabel 8.1 Karakteristik Sosial Demografi Rumah Tangga Miskin dan Rumah Tangga Tidak Miskin menurut Daerah, Tahun 2007 .......................................................................72 Tabel 8.2 Karakteristik Sosial Demografi Rumah Tangga Miskin dan Rumah Tangga Tidak Miskin menurut Daerah, Tahun 2005 .......................................................................73 Tabel 8.3 Persentase Rumah Tangga Miskin, Tidak Miskin dan Head Count Index menurut Jenis Kelamin Kepala Rumah Tangga, Tahun 2007 .............................................75 Tabel 8.4 Persentase Rumah Tangga Miskin, Tidak Miskin dan Head Count Index menurut Jenis Kelamin Kepala Rumah Tangga, Tahun 2005 .............................................76 Tabel 8.5 Persentase Rumah Tangga Miskin menurut Jenis Kelamin Kepala Rumah Tangga, Tahun 2007...................77 Tabel 8.6 Distribusi Persentase Pemuda sebagai Kepala Rumah Tangga Miskin menurut Provinsi dan Pendidikan, Tahun 2007 ........................................................................79 Tabel 8.7 Persentase Pemuda sebagai Kepala Rumah Tangga Miskin menurut Provinsi dan Lapangan Pekerjaan, Tahun 2007 ........................................................................80 Tabel 8.8 Persentase Pemuda sebagai Kepala Rumah Tangga Tangga menurut Status Pekerjaan dan Provinsi, Tahun 2007 ........................................................................81

  • xi

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    Gambar 2.1 Persentase Pemuda menurut Pulau, Tahun 2007 ........... 9 Gambar 2.2 Rasio Pemuda menurut Kelompok Umur, Tahun2007...11 Gambar 2.3 Persentase Pemuda dalam Keluarga Berencana menurut Kelompok Umur, Tahun 2007 .........................14 Gambar 3.1 Partisipasi Sekolah Pemuda menurut Daerah Tempat Tinggal, Tahun 2007 .......................................................18 Gambar 3.2 Persentase Pemuda menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Tahun 2007........................19 Gambar 4.1 Angka Kesakitan Pemuda menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ........................26

    Gambar 5.1 Persentase Pemuda menurut Kegiatan, Tahun 2007.......30 Gambar 5.2 Persentase Pemuda Bekerja dan Mengurus Rumah Tangga, Tahun 2007 ......................................................30 Gambar 5.3 Persentase Pemuda Bekerja menurut Jenis Kelamin, dan Daerah Tempat Tinggal Tahun 2007 .....................31 Gambar 6.1 Jumlah SP-3 menurut Angkatan ....................................59 Gambar 7.1 Proyeksi Pemuda menurut Kelompok Umur, 2005-2015 ......................................................................65 Gambar 7.2 Persentase Pemuda menurut Pulau, 2005-2015..............68

  • xii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Halaman

    Lampiran 1 Jumlah Pemuda menurut Propinsi dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ...................................................92 Lampiran 2 Jumlah Pemuda menurut Propinsi dan Kepadatan Pemuda, Tahun 2007 ....................................................93 Lampiran 3 Rasio Pemuda menurut Propinsi, Tahun 2007 ...............94 Lampiran 4 Partisipasi Pemuda dalam Keluarga Berencana menurut Propinsi dan Tipe Daerah, Tahun 2007 .........95 Lampiran 5 Persentase Pemuda menurut Propinsi dan Partisipasi Sekolah, Tahun 2007 ...................................97 Lampiran 6 Persentase Pemuda menurut Propinsi, Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ..........................................98 Lampiran 7 Persentase Pemuda menurut Kemampuan Baca-Tulis dan Propinsi, Tahun 2007 ..........................100 Lampiran 8 Angka Kesakitan Pemuda menurut Propinsi dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ..........................................101 Lampiran 9 Persentase Pemuda yang Sakit menurut Jenis Keluhan Kesehatan dan Propinsi, Tahun 2007 .............102 Lampiran 10 Persentase Desa menurut Keberadaan Lapangan Olahraga, Propinsi dan Jenis Lapangan Olahraga, Tahun 2005 ..................................................104 Lampiran 11 Persentase Desa menurut Keberadaan Lapangan Olahraga, Propinsi dan Jenis Lapangan Olahraga, Tahun 2008 ..................................................106 Lampiran 12 Persentase Desa yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga menurut Propinsi dan Jenis Olahraga, Tahun 2005 ...................................................................108

  • xiii

    Lampiran 13 Persentase Desa yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga menurut Propinsi dan jenis Olahraga, Tahun 2008 ...................................................................110 Lampiran 14 Jumlah Perolehan Medali PON menurut Propinsi, Jenis Medali dan Peringkat, Tahun 1993 ......................112 Lampiran 15 Jumlah Perolehan Medali PON menurut Propinsi, Jenis Medali dan Peringkat, Tahun 1996 ......................113 Lampiran 16 Jumlah Perolehan Medali PON menurut Propinsi, Jenis Medali dan Peringkat, Tahun 2000 ......................114 Lampiran 17 Jumlah Perolehan Medali PON menurut Propinsi, Jenis Medali, dan Peringkat, Tahun 2004 .....................115 Lampiran 18 Jumlah Perolehan Medali PON XVII menurut Propinsi, dan Jenis Medali, Tahun 2008 .......................116 Lampiran 19 Jumlah Perolehan Medali SEA Games XXI menurut Cabang Olahraga dan Jenis Medali, Tahun 2001 ...................................................................117 Lampiran 20 Jumlah Perolehan Medali dari Medali Emas yang Diperebutkan SEA Games XXII menurut Cabang Olahraga dan Jenis Medali, Tahun 2003 ......................118 Lampiran 21 Jumlah Perolehan Medali SEA Games XXIV menurut Negara, Jenis Medali, Jenis Kelamin, dan Peringkat, Tahun 2007 ...........................................119 Lampiran 22 Banyaknya Nomor yang Dipertandingkan, Nomor yang Diikuti dan Perolehan Medali SEA Games XXIII menurut Cabang Olahraga, Events, dan Jenis Medali, Tahun 2005 .........................120 Lampiran 23 Banyaknya Nomor yang Dipertandingkan, Nomor yang Diikuti dan Perolehan Medali SEA Games XXIII menurut Cabang Olahraga, Events, dan Jenis Medali, Tahun 2005 .........................122

  • xiv

    Lampiran 24 Banyaknya Events SEA Games XIX-XXIV menurut Cabang Olahraga, Tahun 1997-2007 ..............126 Lampiran 25 Jumlah Perolehan Medali dan Nama Atlet menurut Cabang Olahraga, Events, Jenis Medali, dan Nama Pelatih SEA Games XXIV, Tahun 2007 ............128 Lampiran 26 Jumlah Perolehan Medali Asian Beach Games Bali menurut Peringkat, Negara, dan Jenis Medali, Tahun 2008 ...................................................................152 Lampiran 27 Jumlah Perolehan Medali Olimpiade menurut Event Olahraga, Cabang Olahraga, Atlet Peraih Medali, dan Jenis Medali, Tahun 1988-2008 ...............153 Lampiran 28 Data Realisasi SP-3 Angkatan I s/d XVII .....................154 Lampiran 29 Proyeksi Pemuda Berumur 18-35 Tahun menurut Propinsi, Tahun 2005-2015 (dalam ribuan) ..................156 Lampiran 30 Proyeksi Pemuda Laki-Laki Berumur 18-35 Tahun menurut Propinsi, Tahun 2005-2015 (dalam Ribuan) .............................................................158 Lampiran 31 Proyeksi Pemuda Perempuan Berumur 18-35 Tahun menurut Provinsi, Tahun 2005-2015 (dalam Ribuan) .............................................................160 Lampiran 32 Proyeksi Pemuda Indonesia menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, Tahun 2005 2015 (dalam Ribuan) .............................................................162 Lampiran 33 Jumlah Pemuda 2005 dan Proyeksi Pemuda Tahun 2006-2015 menurut Kelompok Umur (dalam ribuan) ...............................................................163

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 1

    Pendahuluan

    1.1 Latar Belakang

    Pemuda dan olahraga mempunyai peran strategis dalam

    menunjang terciptanya masyarakat Indonesia yang berkualitas di masa

    mendatang. Pemuda merupakan kelompok masyarakat yang memiliki

    peranan penting dalam pembangunan serta memiliki nilai dan posisi

    strategis dalam masyarakat. Hal ini dapat dilihat dalam perjalanan

    sejarah bangsa Indonesia, kelompok pemuda selalu mengambil peran

    penting, mulai dari sebagai pelopor organisasi modern Budi Utomo,

    Sumpah Pemuda, pelaksanaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI)

    1945, peristiwa sekitar tahun 1965 sampai pelopor reformasi di tanah air.

    Siapakah pemuda yang dimaksud? Pemuda merupakan sebutan bagi

    penduduk yang berusia 18 hingga 35 tahun.

    Pada publikasi Penyajian Data Informasi Kementerian Pemuda

    dan Olahraga Tahun 2006 dan 2007 yang disebut dengan pemuda adalah

    penduduk yang berumur 15-35 tahun. Namun, berdasarkan Rancangan

    Undang-Undang Kepemudaan tahun 2008, penyebutan pemuda

    ditujukan untuk penduduk yang berusia 18-35 tahun. Dalam Undang

    Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 Pasal 1 tentang

    Perlindungan Anak disebutkan secara jelas bahwa usia di bawah 18

    BAB

    1

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 2

    tahun dikategorikan sebagai anak. Sehingga definisi pemuda yang

    digunakan pada publikasi tahun 2008 tidak memasukkan anak (15-17

    tahun) sebagai bagian dari pemuda.

    Peranan pemuda tidak berhenti sampai perjalanan sejarah bangsa

    di masa lalu. Kini pemuda merupakan generasi penerus, penanggung

    jawab dan pelaku pembangunan. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia

    khususnya kelompok pemuda yang berkualitas di masa depan sangat

    dibutuhkan.

    Untuk menunjang terciptanya manusia yang berkualitas, maka

    olahraga merupakan salah satu instrumen pembangunan nasional yang

    akan mewujudkannya. Dalam UU No. 3 Tahun 2005 secara jelas

    disebutkan bahwa tujuan keolahragaan nasional adalah untuk memelihara

    dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia,

    menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin,

    mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh

    ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan

    bangsa. Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem

    Keolahragaan Nasional disebutkan bahwa olahraga adalah segala

    kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta

    mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.

    Mengingat peran penting pemuda dalam pembangunan serta

    proporsinya yang mencapai 32,4 persen penduduk Indonesia (Angka

    Proyeksi, BPS) menjadikan pembangunan pemuda sebagai fokus

    perhatian pemerintah. Keberhasilan pembangunan pemuda sebagai

    sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keunggulan daya

    saing, merupakan salah satu kunci untuk membuka peluang keberhasilan

    di berbagai sektor pembangunan lainnya. Di samping itu, berbagai

    tantangan yang muncul dalam mempersiapkan, membangun, dan

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 3

    memberdayakan pemuda dapat mengganggu kesinambungan, kestabilan

    dalam pembangunan nasional, bahkan mungkin akan mengancam

    integrasi bangsa. Seperti tawuran dan kriminalitas lainnya,

    penyalahgunaan Narkoba dan Zat Adiktif lainnya (NAZA), minuman

    keras, penyebaran penyakit HIV/AIDS dan penyakit menular, penyaluran

    aspirasi dan partisipasi, serta apresiasi terhadap kalangan pemuda.

    Pembangunan di bidang kepemudaan secara khusus ditangani oleh

    Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Kementerian ini mempunyai

    tugas membantu presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi

    di bidang pemuda dan olahraga.

    Untuk mendukung pembangunan di bidang kepemudaan dan

    olahraga yang terarah dan tepat sasaran, maka diperlukan perencanaan

    berbasis data pemuda dan olahraga yang akurat. Data pemuda dan

    olahraga ini dapat menjadi pijakan dalam mempersiapkan, membangun,

    dan memberdayakan pemuda. Berkaitan dengan hal tersebut, maka

    dipandang perlu melakukan kegiatan penyediaan data pemuda dan

    olahraga yang berkelanjutan dan mencakup seluruh wilayah di Indonesia.

    Keberadaan data ini diharapkan dapat membantu berbagai program

    pembangunan pemuda dan olahraga di masa mendatang yang dapat

    dipertanggungjawabkan.

    1.2 Tujuan

    Penyajian data dan informasi Kementerian Negara Pemuda dan

    Olahraga, tahun 2008 ini bertujuan untuk:

    1. Menyajikan gambaran kondisi (profil) pemuda Indonesia dilihat

    dari aspek jenis kelamin, umur, pendidikan, kesehatan, dan

    ketenagakerjaan. Profil ini akan memberikan gambaran tentang

    sumber daya pemuda Indonesia. Sehingga diharapkan dapat

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 4

    diketahui kualitas pemuda dari aspek pendidikan dan kesehatan.

    Melalui profil ini diharapkan pula dapat mengetahui angka

    penyerapan tenaga kerja dan tingkat pengangguran di kalangan

    pemuda.

    2. Menyajikan data ketersediaan fasilitas olahraga di setiap propinsi.

    Ketersediaan fasilitas merupakan syarat mutlak memasyarakatkan

    olahraga di masyarakat. Adalah suatu kemustahilan apabila

    mengharapkan prestasi olahraga yang tinggi tanpa memperhatikan

    ketersediaan fasilitas, karena itu perlu diketahui ketersediaan

    fasilitas olahraga di setiap propinsi.

    3. Menyajikan data tingkat pencapaian prestasi keolahragaan pemuda

    Indonesia. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan di

    bidang olahraga adalah tingkat pencapaian prestasi. Pada dasarnya

    semua kegiatan pembangunan bidang olahraga, baik yang berupa

    sarana dan prasarana, regulasi dan kebijakan bermuara pada tujuan

    meningkatnya prestasi di bidang keolahragaan.

    4. Menyajikan data proyeksi pemuda Indonesia sampai tahun 2015.

    Proyeksi penduduk diperlukan terutama terkait dengan

    perencanaan program pembangunan di masa mendatang. Sehingga

    diharapkan dapat disusun suatu program yang tepat guna dan tepat

    waktu.

    5. Menyajikan karakteristik rumah tangga miskin, termasuk di

    dalamnya adalah rumah tangga miskin yang dikepalai pemuda.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 5

    1.3 Sumber Data

    Sumber data dan informasi yang digunakan dalam publikasi ini

    sebagian besar bersumber dari survei atau sensus yang dilakukan oleh

    Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu meliputi:

    1. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Maret 2005 dan

    Susenas Panel Maret 2007 dan Kor Juli 2007. Susenas adalah

    survei rutin tahunan yang diselengarakan BPS melalui pendekatan

    rumah tangga. Sampel Susenas mencakup seluruh wilayah

    Indonesia. Data yang dicakup meliputi variabel sosial dan

    ekonomi.

    2. Potensi Desa (Podes) 2005 dan Podes 2008. Podes adalah suatu

    kegiatan pencacahan lengkap (sensus) terhadap seluruh

    desa/kelurahan di Indonesia.

    3. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2007. Sakernas

    merupakan kegiatan survei tahunan khusus mengenai angkatan

    kerja. Sampel Sakernas mencakup seluruh wilayah Indonesia.

    4. Data tingkat pencapaian prestasi pemuda Indonesia dalam arena

    olahraga bersumber dari Komite Olahraga Nasional Indonesia

    (KONI), Kementerian Pemuda dan Olahraga serta website-website

    yang berhubungan.

    5. Data Sarjana Pendamping Penggerak Pembangunan di Perdesaan

    tahun 2006.

    6. Data Proyeksi Pemuda 2008 yang diolah dari Proyeksi Penduduk

    Indonesia per Propinsi tahun 2005-2015.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 6

    1.4 Sistematika Penyajian

    Publikasi ini dibagi menjadi 8 bab. Bab pertama adalah

    pendahuluan, yang membahas mengenai latar belakang, tujuan, sumber

    data dan sistematika penulisan. Bab ke dua menyajikan masalah

    kependudukan yang meliputi jumlah dan persebaran pemuda, pemuda

    menurut jenis kelamin, status perkawinan dan partisipasi pemuda dalam

    keluarga berencana. Bab ke tiga mengenai pendidikan yang mengulas

    tentang partisipasi sekolah, pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan

    buta aksara. Bab ke empat membahas tentang kesehatan yang mencakup

    angka morbiditas dan pemuda yang mempunyai keluhan kesehatan. Bab

    ke lima membahas pemuda dan angkatan kerja yang meliputi partisipasi

    pemuda dalam angkatan kerja, dan angka pengangguran. Bab ke enam

    tentang pemberdayaan pemuda yang meliputi peran serta pemuda dalam

    keolahragaan, di bidang sains, serta prestasi sarjana penggerak

    pembangunan di perdesaan. Bab ke tujuh mengenai proyeksi jumlah

    pemuda sampai tahun 2015. Dan bab ke delapan yang merupakan bab

    terakhir membahas mengenai pemuda dan pengentasan kemiskinan,

    kemiskinan dan umur dan peranan pemuda dalam pengentasan

    kemiskinan.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 7

    Kependudukan

    Dalam perencanaan pembangunan, data kependudukan memegang

    peranan penting. Data kependudukan yang lengkap dan akurat akan

    mempermudah pembuatan perencanaan pembangunan serta diperoleh

    perencanaan pembangunan yang tepat.

    Data kependudukan, khususnya kelompok usia 18-35 tahun yang

    dikategorikan sebagai pemuda juga sama pentingnya dengan data

    kependudukan keseluruhan, karena terkait dengan peran strategis mereka

    di dalam pembangunan bangsa.

    Data kependudukan, khususnya kelompok pemuda akan

    membahas masalah jumlah dan persebaran pemuda di Indonesia, rasio

    jenis kelamin pemuda menurut kelompok umur, status perkawinan

    pemuda, dan partisipasi pemuda dalam Keluarga Berencana (KB).

    2.1 Jumlah dan Persebaran Pemuda

    Berdasarkan angka proyeksi BPS, penduduk Indonesia pada tahun

    2007 sebanyak 225,64 juta jiwa, 32,4 persen di antaranya adalah

    kelompok pemuda. Jumlah pemuda yang cukup besar merupakan salah

    satu potensi yang dimiliki bangsa Indonesia dalam rangka membangun

    BAB

    2

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 8

    Indonesia di masa kini dan mendatang. Dari 73,12 juta jiwa, ternyata

    persentase pemuda perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki, namun

    selisihnya tidak berbeda jauh, yaitu hanya 0,11 persen dengan

    perbandingan 50,37 persen berbanding 50,48 persen.

    Di samping jumlah, persebaran penduduk juga perlu mendapat

    perhatian khusus para perencana pembangunan. Informasi mengenai

    persebaran penduduk, khususnya pemuda dapat menjadi pijakan dalam

    menentukan tingkat konsentrasi pembangunan. Wilayah dengan

    konsentrasi pemuda tinggi memerlukan perhatian khusus agar sesuai

    dengan daya dukung lingkungan dan dapat menciptakan lapangan

    pekerjaan yang dapat meminimalisasi arus urbanisasi maupun

    perpindahan penduduk ke satu wilayah saja.

    Data Susenas tahun 2007 menunjukkan lebih dari 50 persen

    (tepatnya 52,62%) pemuda bertempat tinggal di perdesaan. Hal tersebut

    merupakan suatu kewajaran mengingat jumlah penduduk Indonesia yang

    bertempat tinggal di perdesaan mencapai 56 persen dan wilayah di

    Indonesia masih berstatus perdesaan sekitar 87,8 persen (Podes 2005).

    Jika persebaran pemuda dilihat menurut kepulauan, tampak

    persebaran yang sangat tidak merata. Sebagian besar terkonsentrasi di

    Pulau Jawa dan Pulau Sumatera yang masing-masing mencapai 57,69

    persen dan 21,32 persen (lihat Gambar 2.1.). Kedua pulau tersebut

    termasuk sebagai kawasan barat Indonesia (KBI). Seperti diketahui

    selama ini bahwa pembangunan di Indonesia lebih banyak terkonsentrasi

    di kawasan tersebut. GBHN 1999 secara eksplisit menyebutkan bahwa

    salah satu arah kebijakan pembangunan daerah adalah meningkatkan

    pembangunan di seluruh daerah terutama kawasan timur Indonesia

    (KTI). Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan di kawasan barat

    Indonesia lebih maju dibanding kawasan timur sehingga KTI perlu

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 9

    perhatian khusus. Menurut garis Wallace, KBI meliputi seluruh propinsi

    di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali, sedangkan KTI meliputi

    seluruh propinsi di Pulau Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua, NTB,

    dan NTT.

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Berdasarkan hasil proyeksi, propinsi-propinsi yang menjadi pusat

    konsentrasi pemuda di Pulau Jawa adalah Jawa Barat (13,26 juta), Jawa

    Tengah (9,77 juta), dan Jawa Timur (11,46 juta), untuk lebih lengkapnya

    dapat dilihat di Lampiran 1.

    Besarnya konsentrasi pemuda (lihat Lampiran 2) di Pulau Jawa

    menyebabkan kepadatan yang tinggi dibanding pulau-pulau utama

    lainnya. Pulau Jawa yang hanya 7 persen dari keseluruhan wilayah

    Indonesia dan memiliki jumlah pemuda tertinggi menyebabkan sangat

    tingginya kepadatan pemuda di Pulau Jawa yaitu mencapai 326 jiwa

    setiap 1 km2. Sedangkan, Propinsi Papua yang luasnya mencapai 16,70

    persen dari total wilayah Indonesia (merupakan propinsi terluas), pada

    setiap kilometer perseginya hanya didiami sekitar 2 pemuda. Propinsi-

    propinsi dengan kepadatan pemuda tertinggi semuanya berada di Pulau

    Jawa, yaitu DKI Jakarta (5.285 jiwa/ km2) dengan kepadatan tertinggi

    jauh di atas propinsi lainnya, kemudian diikuti oleh propinsi lain di Pulau

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 10

    Jawa dengan kisaran di atas 200 pemuda per kilometer persegi. Untuk

    propinsi di luar Pulau Jawa, Bali merupakan propinsi dengan kepadatan

    tertinggi (191 jiwa/ km2).

    2.2 Rasio Jenis Kelamin Pemuda menurut Propinsi dan Kelompok Umur

    Rasio jenis kelamin adalah perbandingan jumlah penduduk laki-

    laki dengan 100 penduduk perempuan. Data ini berguna untuk

    pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan gender,

    terutama berkaitan dengan perimbangan pembangunan laki-laki dan

    perempuan secara adil.

    Rasio jenis kelamin di Indonesia secara keseluruhan menunjukkan

    angka 98 yang berarti bahwa untuk setiap 98 pemuda laki-laki dibarengi

    dengan 100 pemuda perempuan atau dengan kata lain pemuda yang

    berjenis laki-laki jumlahnya lebih sedikit dibanding pemuda yang

    berjenis kelamin perempuan. Namun, rasio ini tidak menggambarkan

    keadaan setiap wilayah di Indonesia. Seperti Propinsi Riau, Sumatera

    Selatan, Lampung, Bangka Belitung, D.I. Yogyakarta, Bali, Kalimantan

    Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi

    Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat,

    dan Papua menunjukkan hal yang sebaliknya, yaitu jumlah pemuda laki-

    laki yang lebih banyak dibanding pemuda perempuan (lihat Lampiran 3).

    Menurut kelompok umur (lihat Gambar 2.2.), terlihat pola yang

    menarik. Semakin tua, rasio jenis kelamin pemuda semakin menurun

    yang berarti semakin tua, jumlah pemuda laki-laki semakin berkurang

    dibanding pemuda perempuan. Pada kelompok umur 18-19 tahun dan

    20-24 tahun, jumlah pemuda laki-laki lebih banyak dibanding pemuda

    perempuan (rasio di atas 100). Pada kelompok umur yang lebih tua, yaitu

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 11

    25-29 tahun dan 30-35 tahun, terjadi kodisi sebaliknya, jumlah pemuda

    perempuan lebih banyak dibanding pemuda laki-laki (rasio di bawah

    100).

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    2.2 Status Perkawinan Pemuda

    Mengingat definisi pemuda adalah penduduk yang berumur 18-35

    tahun, maka sesuatu yang wajar jika ditemukan ada pemuda yang telah

    berstatus kawin. BPS mendefinisikan seseorang berstatus kawin apabila

    mereka terikat dalam perkawinan pada saat pencacahan, baik yang

    tinggal bersama maupun terpisah, yang menikah secara sah maupun yang

    hidup bersama yang oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sah sebagai

    suami istri.

    Dari Tabel 2.1 terlihat sebagian besar pemuda di Indonesia telah

    berstatus kawin. Seperti di perkotaan, lebih dari 50 persen penduduk

    yang berusia 18-35 tahun telah berstatus kawin. Di perdesaan bahkan

    hampir mencapai 66 persen.

    Pola yang cukup menarik terlihat dalam Tabel 2.1 pemuda

    perempuan yang berstatus kawin, cerai hidup, dan cerai mati

    menunjukkan persentase yang lebih tinggi dibanding pemuda laki-laki

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 12

    baik yang tinggal di perkotaan maupun perdesaan, begitu juga halnya

    dengan pola nasional. Tingginya persentase pemuda perempuan yang

    berstatus kawin dibanding pemuda laki-laki terkait dengan keberadaan

    UU Perkawinan No. 1 Tahun 2004 mengijinkan perempuan dapat

    melakukan perkawinan dengan umur terendah 16 tahun, sedangkan laki-

    laki harus berumur 21 tahun ke atas. Serta adanya stigma dalam

    masyarakat bahwa menjadi perawan tua merupakan sesuatu yang harus

    dihindari dapat menjadi pemicu tingginya perkawinan pemuda

    perempuan.

    Tabel 2.1: Persentase Pemuda menurut Status Perkawinan, Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, Tahun 2007

    Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin

    Belum kawin Kawin

    Cerai hidup

    Cerai mati

    (1) (2) (3) (4) (5)

    Perkotaan 45,70 52,60 1,40 0,40

    Laki-laki 54,90 44,30 0,70 0,10

    Perempuan 36,90 60,60 2,00 0,60 Perdesaan 31,90 65,80 1,80 0,50

    Laki-laki 43,80 54,80 1,10 0,20

    Perempuan 20,40 76,40 2,40 0,70 Perkotaan + Perdesaan 38,40 59,60 1,60 0,40

    Laki-laki 49,00 49,90 0,90 0,20

    Perempuan 28,20 68,90 2,20 0,70 Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    2.3 Partisipasi Pemuda dalam Keluarga Berencana (KB)

    Program keluarga berencana (KB) merupakan salah satu bentuk

    komitmen pemerintah Indonesia dalam rangka menekan jumlah

    penduduk. Program yang mulai diluncurkan pada 29 Juni 1970 ini telah

    menunjukkan keberhasilan yang ditandai dengan penurunan tingkat

    fertilitas, yaitu mulai dari 5,61 anak per wanita pada tahun 1968 menjadi

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 13

    4,68 tahun 1977, dan mencapai 2,27 anak per wanita pada tahun 2000

    (www.datastatistik-indonesia.com).

    Pelaku KB adalah pasangan usia subur yaitu pasangan suami istri

    yang istrinya berusia 15-49 tahun. Hal ini berarti pemuda yang

    merupakan penduduk berusia 18-35 tahun (termasuk penduduk usia

    subur) merupakan salah satu pelaku KB. Jumlah yang mencapai

    sepertiga penduduk Indonesia, pemuda dapat menunjukkan perannya

    sebagai pelaku KB dalam rangka mengendalikan jumlah serta

    meningkatkan kualitas penduduk.

    Tabel 2.2: Persentase Pemuda Pernah Kawin menurut Partispasi dalam Keluarga Berencana dan Daerah Tempat Tinggal, Tahun 2007

    Partisipasi dalam Keluarga Berencana Daerah Tempat

    Tinggal Sedang menggunakan

    Tidak menggunakan lagi

    Tidak pernah menggunakan

    (1) (2) (3) (4)

    Perkotaan 59,20 18,60 22,20

    Perdesaan 60,80 17,40 21,80

    Total 60,10 17,90 22,00

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Hasil Susenas 2007 menunjukkan jumlah pemuda yang sedang

    menggunakan alat KB atau yang sedang berpartispasi dalam KB telah

    mencapai lebih 60 persen yang merupakan tingkat partisipasi yang cukup

    tinggi. Jika dibedakan menurut daerah tempat tinggal, ternyata selisih

    antara pemuda yang sedang menggunakan KB yang tinggal di perkotaan

    dengan yang tinggal di daerah perdesaan hanya 1,6 persen. Ini

    merupakan indikasi bahwa kesadaran pemuda untuk mengikuti program

    KB di perdesaan hampir sama dengan di perkotaan.

    Pencapaian partisipasi KB secara nasional yang mencapai 60

    persen tidak searah dengan pencapaian di KTI seperti di Nusa Tenggara

    http://www.datastatistik/

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 14

    Timur (NTT), Maluku, Papua, dan Papua Barat (lihat Lampiran 4).

    Di keempat propinsi tersebut keikutsertaan pemuda dalam program KB

    termasuk rendah. Pemuda yang tidak pernah menggunakan KB di NTT

    mencapai 48,6 persen, di Maluku mencapai 52,4 persen, di Papua

    mencapai 52,7 persen dan di Papua Barat mencatat angka tertinggi yaitu

    sebesar 54,7 persen.

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Partisipasi KB menurut kelompok umur dari kelompok umur 18-

    19 tahun ke kelompok 30-35 tahun tampak meningkat sejalan dengan

    meningkatnya umur, yaitu dari 40,89 persen menjadi 62,37 persen.

    Kelompok umur 18-19 tahun adalah kelompok pasangan usia

    perkawinan muda yang pada umumnya menginginkan punya anak

    sehingga mereka belum menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah

    kehamilan. Sebaliknya pada umur perkawinan tua, mereka sudah

    memiliki anak yang mungkin lebih dari 10 orang, sehingga mereka

    banyak menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 15

    Pendidikan

    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

    suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

    mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

    keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

    serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

    (http://id.wikipedia.org). Proses pembelajaran yang dilalui melalui

    pendidikan merupakan salah satu cara dalam peningkatan kualitas

    sumber daya manusia, khususnya pemuda yang merupakan tulang

    punggung pembangunan nasional.

    Pendidikan sangat berperan dalam peningkatan kualitas sumber

    daya manusia. Pendidikan yang selalu disertai dengan terobosan secara

    konsisten dan berkelanjutan akan mampu menghasilkan manusia-

    manusia yang unggul, cerdas, dan kompetitif. Pendidikan merupakan

    pondasi dasar untuk menyiapkan SDM bangsa yang berkualitas,

    khususnya bagi pemuda yang notabene merupakan SDM potensial yang

    akan menjadi penggerak aktif pembangunan bangsa.

    Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan di Indonesia

    dapat dilihat dari tingkat partisipasi sekolah, tingkat pendidikan tertinggi

    yang ditamatkan, dan angka buta aksara. Ketiga indikator yang

    BAB

    3

    http://id.wikipedia.org/wiki/Belajarhttp://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaranhttp://id.wikipedia.org/wiki/Peserta_didikhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kepribadian&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasanhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keterampilan&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakathttp://id.wikipedia.org/

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 16

    disebutkan di atas akan dibahas pada bab ini, baik menurut jenis kelamin

    maupun daerah tempat tinggal.

    3.1 Tingkat Partisipasi Sekolah

    Susenas 2007 membedakan tingkat partisipasi sekolah menjadi

    tiga, yaitu tidak atau belum pernah bersekolah, masih bersekolah, dan

    tidak bersekolah lagi. Partisipasi sekolah di sini merujuk kepada jenjang

    pendidikan formal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang

    diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini

    mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar,

    pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

    Pemuda masih termasuk penduduk aktif di pendidikan formal,

    yaitu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi berdasarkan usia yang

    dijadikan standar menurut jenjang pendidikan di Indonesia atau rentang

    usia yang dianjurkan pemerintah dan umum. Usia 18 tahun merupakan

    bagian dari kelompok usia standar untuk jenjang pendidikan SMA dan

    usia 19 tahun ke atas merupakan kelompok usia standar untuk jenjang

    perguruan tinggi.

    Tingkat partisipasi sekolah menggambarkan bagaimana status

    pemuda dalam jenjang pendidikan formal. Dari Tabel 3.1 terlihat bahwa

    lebih dari 90 persen pemuda berumur 18-35 tahun sudah tidak duduk di

    bangku sekolah formal lagi atau tidak bersekolah lagi baik laki-laki

    maupun perempuan.

    Pada penduduk usia 18-35 tahun ini, ternyata ada yang sama sekali

    belum pernah mengenyam pendidikan formal, baik laki-laki mapun

    perempuan. Dalam Tabel 3.1 terlihat sebesar 1,34 persen pemuda laki-

    laki belum pernah mengenyam bangku sekolah. Bias gender dalam dunia

    pendidikan masih kentara terlihat di Indonesia. Masih ditemukan sebesar

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 17

    2,12 persen (lebih tinggi dari pemuda laki-laki) pemuda perempuan yang

    juga belum pernah mencicipi bangku sekolah.

    Tabel 3.1: Persentase Pemuda menurut Partisipasi Sekolah dan Jenis Kelamin, Tahun 2007

    Jenis Kelamin Belum/Tidak

    Pernah Sekolah

    Masih/Sedang Sekolah

    Tidak Bersekolah Lagi

    (1) (2) (3) (4)

    Laki-laki 1,34 7,38 91,28

    Perempuan 2,12 6,53 91,35

    Total 1,74 6,94 91,32

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Sekitar 7 persen pemuda, tepatnya pemuda laki-laki 7,38 persen

    dan pemuda perempuan 6,53 persen masih berstatus sekolah. Pada usia

    ini (18-35 tahun) umumnya pemuda bersekolah di pendidikan menengah

    (SMA) atau perguruan tinggi.

    Fakta menarik terlihat pada partisipasi sekolah pemuda di

    propinsi-propinsi di Indonesia (lihat Lampiran 5). Pemuda yang

    tidak/belum pernah sekolah antar propinsi secara umum tidak terlalu

    bervariasi, angkanya berkisar antara 0,50 s.d. 5,80 persen, kecuali Papua.

    Persentase pemuda yang tidak pernah sekolah di Propinsi Papua

    mencapai 22,60 persen, suatu angka yang sangat tinggi dibandingkan

    dengan propinsi lainnya. Dengan propinsi tetangga pun menunjukkan

    perbedaan yang sangat signifikan, yaitu Papua Barat yang hanya 5,80

    persen.

    Sesuai dengan julukan yang disematkan ke Propinsi Daerah

    Istimewa Yogyakarta, yaitu kota pelajar, pemuda yang tidak pernah

    sekolah termasuk rendah, yaitu hanya 0,60 persen dan jumlah pemuda

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 18

    yang masih berstatus sekolah merupakan yang tertinggi dibanding

    propinsi lain, yakni mencapai 21,50 persen.

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Selama ini ada wacana mengenai ketimpangan pendidikan antara

    masyarakat perdesaan dengan perkotaan. Data Susenas 2007, secara jelas

    menunjukkan hal tersebut (lihat Gambar 3.1). Persentase pemuda yang

    belum sempat mengenyam pendidikan formal di perdesaan jauh lebih

    rendah dibanding yang tinggal di perkotaan, yaitu 0,72 persen

    berbanding 2,65 persen. Di sisi lain, pemuda yang masih/sedang

    bersekolah di perdesaan hanya mencapai separuhnya (4,32%) dari

    pemuda yang tinggal di perkotaan (9,86%).

    3.2 Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

    Angka pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh pemuda dapat

    menjadi acuan dalam membuat perencanaan tenaga kerja dan memberi

    gambaran tentang kualitas sumber daya tenaga kerja yang tersedia di

    suatu wilayah, serta dapat digunakan untuk menilai keberhasilan

    pembangunan pendidikan di wilayah tersebut.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 19

    Data pendidikan tertinggi yang ditamatkan pemuda merupakan

    persentase pemuda yang menamatkan jenjang pendidikan tertentu

    terhadap jumlah pemuda.

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Gambar 3.2 menunjukkan bahwa sumber daya pemuda Indonesia

    lebih dari sepertiganya (31,81%) berpendidikan SMA; 29,20 persen

    berpendidikan SD, dan 24,02 persen telah berpendidikan SMP dan hanya

    7,15 persen yang telah menyelesaikan perguruan tinggi.

    Pola serupa dapat ditemukan di hampir semua propinsi di

    Indonesia (lihat Lampiran 6), tingkat pendidikan tertinggi yang

    ditamatkan oleh pemuda rata-rata SD, SMP, dan SMA. Dibanding

    dengan angka nasional, pemuda yang berpendidikan sampai tingkat

    perguruan tinggi di Propinsi DKI Jakarta dan D.I Yogyakarta mencapai

    lebih dari 10 persen, yaitu masing-masing 15,40 persen dan 13,10 persen.

    Di samping itu, ternyata cukup banyak pemuda yang tidak punya ijazah,

    yang berarti belum pernah menamatkan pendidikan SD sekalipun.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 20

    3.3 Buta Aksara

    Ukuran yang sangat mendasar dari tingkat pendidikan adalah

    kemampuan baca tulis penduduk dewasa. Kemampuan baca tulis

    tercermin dari data angka melek huruf. Sebaliknya buta aksara

    menunjukkan kondisi yang berlawanan. Angka buta aksara merupakan

    indikator yang mengukur persentase penduduk (pemuda) yang tidak bisa

    membaca dan menulis huruf latin. Tinggi rendahnya angka buta aksara di

    suatu wilayah dapat menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan

    sumber daya manusia di bidang pendidikan.

    Kualitas pemuda pun dapat dicerminkan oleh data buta aksara ini.

    Persentase pemuda dengan angka buta aksara yang tinggi perlu mendapat

    perhatian. Kemampuan baca tulis adalah modal dasar pemuda untuk

    mengembangkan diri dan membangun bangsanya.

    Berdasarkan data Susenas 2007, secara nasional persentase

    pemuda yang tidak bisa membaca dan menulis huruf latin mencapai 2,60

    persen. Meskipun angka buta aksara secara nasional hanya 2,60 persen,

    namun masih ada propinsi dengan angka buta aksara di atas angka

    nasional. Sebanyak 14 propinsi memiliki persentase pemuda yang buta

    aksara di atas 2,6 persen. Di antara 14 propinsi tersebut, Propinsi Papua

    mempunyai angka buta aksara tertinggi yaitu mencapai 22,60 persen.

    Secara keseluruhan angka buta aksara untuk pemuda di propinsi-propinsi

    di Indonesia kurang dari 8 persen dan predikat propinsi dengan angka

    buta aksara pemuda terendah terdapat di Propinsi DKI Jakarta yang

    hanya 0,6 persen.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 21

    Tabel 3.2: Angka Buta Aksara menurut Daerah Tempat Tinggal,

    Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, Tahun 2007

    Kategori Perkotaan Perdesaan Total

    (1) (2) (3) (4)

    Kelompok Umur

    18-19 1,39 2,36 1,91

    20-24 1,07 2,81 1,95

    25-29 1,27 3,62 2,50

    30-35 1,67 4,85 3,40

    Jenis Kelamin

    Laki-laki 1,14 2,91 2,07

    Perempuan 1,56 4,44 3,07

    Total 1,35 3,69 2,58 Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Mengamati angka buta aksara menurut kelompok umur, tampak

    pola yang wajar. Angka buta aksara pemuda yang berada pada kelompok

    umur yang lebih muda cenderung lebih rendah dibanding pemuda pada

    kelompok umur lebih tua. Seperti yang terlihat pada Tabel 3.2, angka

    buta aksara pemuda yang berumur 30-35 tahun lebih tinggi dibanding

    yang berumur 25-29 tahun, begitu juga angka buta aksara pada kelompok

    umur 25-29 tahun lebih tinggi dibanding pada kelompok umur 20-24

    tahun. Namun, pola yang sedikit berbeda diperlihatkan angka buta aksara

    pemuda di perkotaan. Angka buta aksara pemuda umur 18-19 tahun lebih

    tinggi dibanding yang berumur 20-24 tahun.

    Secara keseluruhan memperlihatkan bahwa pemuda yang buta

    aksara di perdesaan jauh lebih tinggi dibanding di perkotaan, pemuda

    yang buta aksara di perdesaan mencapai dua kali lipat dibanding

    perkotaan, yaitu 3,69 persen berbanding 1,35 persen.

    Angka buta aksara menurut jenis kelamin masih memperlihatkan

    ketertinggalan dan keterbatasan kesempatan bagi perempuan dalam

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 22

    mengenyam pendidikan. Di perkotaan maupun di perdesaan

    menunjukkan kesenjangan tersebut. Seperti di perdesaan, persentase

    perempuan yang buta aksara mencapai 4,44 persen dan laki-laki hanya

    2,91 persen. Sebenarnya pola serupa terlihat di perkotaan, namun

    kesenjangan tersebut tidaklah terlalu tinggi. Walaupun persentase

    pemuda yang buta aksara lebih rendah dibanding pemudi, namun

    selisihnya tidak terlalu jauh, yaitu hanya 0,42 persen.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 23

    Kesehatan

    Sebagai generasi penerus bangsa, kaum muda harus siap

    mengahadapi persaingan hidup. Untuk itu, sudah selayaknya pemuda

    senantiasa meningkatkan kemampuannya agar tidak terlindas oleh roda

    kemajuan zaman. Peningkatan kualitas kesehatan di kalangan pemuda

    menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber

    daya manusia sekarang dan di masa yang akan datang.

    Pada bulan April 2007, Menteri Kesehatan mencanangkan

    pembentukan Pemuda Siaga Peduli Kesehatan. Dalam sambutannya,

    dikatakan bahwa pemuda yang tergabung dalam Pemuda Siaga Peduli

    Kesehatan akan dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai

    berbagai hal tentang kesehatan seperti penanggulangan bencana, wabah

    demam berdarah, flu burung dan lain-lain. Sehingga diharapkan

    organisasi kepemudaan dan mahasiswa dapat berperan aktif menangani

    masalah kesehatan yang terjadi. Isi Deklarasi Pemuda Siaga Peduli

    Kesehatan sebagai berikut:

    BAB

    4

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 24

    Sumber: http://www.ppk-depkes.org/index.php?option=com_content&view=article&

    id=275:pemuda-siaga-peduli-kesehatan&Itemid=151

    DEKLARASI PEMUDA SIAGA PEDULI KESEHATAN

    Pemuda sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang

    mempunyai hak hidup sehat berkewajiban untuk memelihara dan

    meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat. Menyadari bahwa

    Indonesia masih dilanda berbagai masalah kesehatan yang perlu segera

    ditanggulangi.

    Pemuda Indonesia sebagai pejuang bangsa dengan potensi

    pengetahuan dan keterampilan memiliki kewajiban untuk ikut berperan aktif

    dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan masyarakat dan

    berperan sebagai pelopor, penggerak, pelaksana pembangunan

    kesehatan bangsa.

    Untuk itu kami:

    - Pemuda Siaga Peduli Kesehatan sebagai pelopor pembangunan

    kesehatan siap memprakarsai dan memberdayakan masyarakat

    dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatannya.

    - Pemuda Siaga Peduli Kesehatan sebagai penggerak

    pembangunan kesehatan siap menggerakkan sumber daya yang

    ada dalam membantu penanganan masalah kesehatan.

    - Pemuda Siaga Peduli Kesehatan sebagai pelaksana

    pembangunan siap bersama masyarakat untuk mengatasi

    masalah kesehatan khususnya menjadi mitra pelaksana di desa

    siaga.

    - Pemuda Siaga Peduli Kesehatan bersama dengan komponen

    masyarakat lainnya ikut mengkritisi jalannya pembangunan

    kesehatan.

    Dalam rangka merealisasikan kegiatan-kegiatan tersebut dibentuk

    kelompok Pemuda Siaga Peduli Kesehatan yang anggota-anggotanya

    adalah organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang dikoordinasi dan

    difasilitasi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

    Demikian Deklarasi ini kami nyatakan sebagai bentuk komitmen dan

    http://www.ppk-depkes.org/index.php?option=com_content&

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 25

    Deklarasi ini menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar

    menyadari betapa pentingnya peran pemuda dalam pembangunan

    bangsa.

    4.1 Angka Kesakitan Pemuda

    Informasi status kesehatan pemuda memberikan gambaran

    mengenai kondisi kesehatan pemuda yang dapat dilihat melalui indikator

    angka kesakitan. Angka ini menyatakan persentase pemuda yang

    mengalami gangguan kesehatan hingga menggangu aktivitas sehari-hari.

    Secara nasional, angka kesakitan pemuda di daerah perdesaan

    lebih tinggi dibanding di daerah perkotaan. Hal ini mungkin disebabkan

    kesadaran untuk menjaga pola hidup sehat di perdesaan relatif masih

    rendah. Sedangkan jika dilihat menurut propinsi yang disajikan pada

    Lampiran 7, ada 4 propinsi yang angka kesakitan pemuda di daerah

    perkotaannya justru lebih tinggi dibanding perdesaan. Keempat propinsi

    tersebut beruturt-turut dari yang angka kesakitan pemudanya paling

    tinggi adalah Banten (kota = 11,56% - desa = 11,11%), Nusa Tenggara

    Barat (kota = 18,22% - desa = 17,96%), Papua Barat (kota = 23,09% -

    desa = 14,36%), dan Papua (kota = 17,34% desa = 16,16%). Angka

    kesakitan pemuda menurut tipe daerah dan jenis kelamin Tahun 2007

    disajikan pada Gambar 4.1

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 26

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Dari Gambar 4.1 terlihat bahwa secara nasional tingkat kesakitan

    pemuda laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal

    serupa juga tergambar pada angka kesakitan pemuda menurut pulau dan

    jenis kelamin tahun 2007 yang disajikan pada Tabel 4.1 berikut.

    Tabel 4.1: Angka Kesakitan Pemuda menurut Jenis Kelamin dan Pulau/Kepulauan, Tahun 2007

    Angka Kesakitan Pulau/Kepulauan

    Laki-laki Perempuan Total (1) (2) (3) (4)

    Sumatera 13,40 13,20 13,30

    Jawa 11,10 10,50 10,76

    Nusa Tenggara 19,50 18,80 19,10

    Kalimantan 12,50 12,90 12,67

    Sulawesi 17,40 17,00 17,20

    Maluku 18,10 18,10 18,08

    Papua 17,20 16,40 16,79

    Total 12,70 12,30 12,49 Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Secara nasional, pada tahun 2007 pemuda yang mengalami

    gangguan keluhan kesehatan sebesar 12,49 persen. Angka kesakitan laki-

    laki lebih tinggi 0,40 persen dibanding angka kesakitan perempuan.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 27

    Tidak ada perbedaan signifikan antara pemuda laki-laki dengan

    perempuan.

    Jika dilihat menurut pulau, angka kesakitan pemuda tertinggi

    berada di Kepulauan Nusa Tenggara sebesar 19,1%, Maluku di urutan

    kedua sebesar 18,08% dan Pulau Jawa pada urutan terendah sebesar

    10,76%.

    Dilihat menurut propinsi (Lampiran 8), 5 propinsi dengan angka

    kesakitan tertinggi berturut-turut adalah Nusa Tenggara Timur (24%),

    Gorontalo (21,9%), Maluku Utara (21,7%), Sulawesi Tengah (21,5%),

    dan Sulawesi Barat (21,1%). Tahun 2007, Propinsi Jawa Tengah

    mencetak angka kesakitan terendah sebesar 9,3%.

    Dari daerah tempat tinggal, angka kesakitan pemuda pada daerah

    perdesaan relatif lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan. Angka

    kesakitan di daerah perdesaan sebesar 14,07 persen, sedangkan di daerah

    perkotaan hanya 10,7 persen. Hal ini dimungkinkan karena di daerah

    perdesaan pada umumnya prasarana kesehatan dan kesadaran terhadap

    pentingnya hidup sehat masih lebih rendah dibanding perkotaan,

    sehingga berdampak pada rendahnya tingkat kesehatan pemuda.

    4.2 Jenis Keluhan Kesehatan

    Pada umumnya, semua orang pernah merasakan gangguan

    kesehatan. Hasil Susenas 2007 menunjukkan bahwa gangguan kesehatan

    pilek dan batuk paling banyak diderita pemuda dibandingkan penyakit

    yang lain. Persentase pemuda yang sakit menurut jenis keluhan

    kesehatan disajikan pada Tabel 4.2.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 28

    Tabel 4.2: Persentase Pemuda yang Sakit menurut Jenis Keluhan Kesehatan dan Jenis Kelamin, Tahun 2007

    Jenis Keluhan Jenis Kelamin Panas Batuk Pilek Asma Diare Sakit Kepala

    Sakit Gigi

    Lain- nya

    (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

    Laki-laki 35,10 45,10 46,20 3,90 5,80 21,80 7,60 31,10

    Perempuan 30,10 38,30 41,60 4,20 5,40 26,90 8,10 34,20

    Total 32,50 41,60 43,80 4,10 5,60 24,50 7,90 32,70

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

    Dari Tabel 4.2 terlihat tidak ada perbedaan yang signifikan

    antara persentase pemuda laki-laki dan perempuan yang mengalami

    keluhan kesehatan dari setiap jenis keluhan. Jika melihat tingkat keluhan

    kesehatan menurut kelompok umur yang disajikan pada Tabel 4.3, relatif

    tidak ada perbedaan.

    Tabel 4.3: Persentase Pemuda yang Sakit menurut Jenis Keluhan Kesehatan dan Kelompok Umur, Tahun 2007

    Jenis Keluhan Kelompok Umur Panas Batuk Pilek Asma Diare Sakit Kepala

    Sakit Gigi

    Lain- nya

    (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

    18-19 35,20 41,00 44,50 3,70 5,40 21,30 7,40 31,40

    20-24 33,00 41,20 44,00 3,70 5,40 22,40 7,50 32,20

    25-29 32,50 41,20 43,70 4,20 5,60 25,30 8,10 32,40

    30-35 31,70 42,20 43,60 4,30 5,70 25,90 8,10 33,60

    Total 32,50 41,60 43,80 4,10 5,60 24,50 7,90 32,70

    Sumber: Susenas KOR Juli 2007, BPS

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 29

    Pemuda dan Angkatan Kerja

    Ketenagakerjaan merupakan salah satu sektor penting bagi

    pembangunan ekonomi nasional, khususnya dalam upaya pemerintah

    untuk mengurangi jumlah penduduk miskin. Untuk itu pemerintah terus

    berusaha menciptakan program pembangunan pada sektor ekonomi dan

    sektor ketenagakerjaan, terutama ditujukan pada kelompok penduduk

    yang tergolong miskin. Tujuannya adalah untuk meningkatkan

    pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

    Penduduk usia kerja (PUK) dikelompokkan menjadi angkatan

    kerja dan bukan angkatan kerja. Di Indonesia, PUK adalah penduduk

    yang telah berusia 15 tahun ke atas. Angka PUK ini terus mengalami

    peningkatan dari waktu ke waktu. Jumlah PUK pada bulan Agustus 2007

    mengalami peningkatan sekitar 1,05 persen dibandingkan kondisi

    Februari 2007 (Sumber: Sakernas Agustus 2007, BPS). Dari seluruh

    PUK pada Agustus 2008, sekitar 67 persennya adalah pemuda berusia

    18-35 tahun. Persentase pemuda menurut jenis kegiatannya sehari-hari

    disajikan pada Gambar 5.1.

    BAB

    5

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 30

    Sumber: Sakernas Agustus 2007, BPS

    Dari Gambar 5.1 terlihat bahwa kegiatan pemuda terkonsentrasi

    pada kegiatan bekerja dan mengurus rumah tangga. Jika ditinjau menurut

    jenis kelamin, ada perbedaan yang cukup signifikan pada dua kegiatan

    ini. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.2.

    Sumber: Sakernas Agustus 2007, BPS

    Dari Gambar 5.2 terlihat bahwa hampir semua pemuda yang

    mengurus rumah tangga adalah perempuan. Pemuda laki-laki

    mendominasi dalam kegiatan bekerja, dari semua pemuda yang bekerja,

    sekitar 63 persennya adalah laki-laki. Persentase pemuda yang bekerja

    berdasarkan jenis kelamin dan daerah tempat tinggal disajikan pada

    Gambar 5.3.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 31

    Sumber: Sakernas Agustus 2007, BPS

    Dari Gambar 5.3 terlihat bahwa dalam kegiatan bekerja, laki-laki

    tidak hanya mendominasi secara keseluruhan, tapi juga di daerah

    perkotaan dan perdesaan. Hal ini sangat wajar karena secara umum,

    tanggung jawab menopang kebutuhan keluarga ada di pundak laki-laki.

    Peran angkatan kerja sebagai faktor penting dalam proses

    produksi, kedudukannya lebih penting daripada sarana produksi yang

    lainnya, seperti; bahan mentah, tanah, air dan sebagainya. Hal itu tidak

    lain karena manusialah yang menggerakkan semua sumber-sumber

    tersebut untuk menghasilkan barang.

    Besarnya partisipasi angkatan kerja digambarkan melalui indikator

    Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran

    Terbuka (TPT). Dua indikator ini merupakan indikator utama

    ketenagakerjaan yang sering dipakai untuk melihat perkembangan suatu

    wilayah di bidang ketenagakerjaan.

    5.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Pemuda

    Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menyatakan

    persentase jumlah penduduk angkatan kerja terhadap jumlah penduduk

    usia kerja. Angka TPAK menunjukkan besaran relatif dari pasokan

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 32

    tenaga kerja yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa

    dalam suatu perekonomian.

    Ada berbagai faktor yang menyebabkan pemuda memasuki

    angkatan kerja. Salah satu alasan di antaranya karena sudah tidak

    bersekolah lagi, baik sukarela maupun terpaksa. Sukarela, misalnya

    apabila seseorang telah menamatkan jenjang pendidikan tertentu.

    Sedangkan yang terpaksa, misalnya karena alasan ekonomi seseorang

    memilih putus sekolah sementara masih mempunyai keinginan untuk

    melanjutkan. Dengan kondisi tersebut terpaksa harus bekerja/mencari

    pekerjaan.

    Angka TPAK pemuda menurut jenis kelamin dan wilayah per

    propinsi disajikan dalam Tabel 5.1. Secara nasional, TPAK pemuda

    tahun 2007 sebesar 69,76, lebih tinggi 3,57 poin dibandingkan angka

    TPAK untuk PUK yang nilainya 66,19. Angka TPAK pemuda laki-laki

    adalah 88,88 persen, sedangkan perempuan sebesar 51,65 persen.

    Perbedaan antara TPAK pemuda laki-laki dengan perempuan cukup

    signifikan, yaitu sebesar 37,23 poin. Angka yang cukup bisa

    menggambarkan bahwa di Indonesia, laki-laki masih mendominasi peran

    sebagai tulang punggung keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup.

    Menurut propinsi, TPAK tertinggi ada di Bali yaitu sebesar 80,46.

    Untuk pemuda laki-laki, TPAK pemuda tertinggi ada di Kalimantan

    Tengah sebesar 94,96, sedangkan terendah ada di DI Yogyakarta sebesar

    81,26. Untuk TPAK pemuda perempuan, TPAK tertinggi ada di Papua

    sebesar 71,23, sedangkan terendah ada di Propinsi Riau sebesar 31,48.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 33

    Tabel 5.1: Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Pemuda menurut Propinsi, Jenis Kelamin dan Daerah Tahun 2007

    Wilayah Jenis Kelamin PROPINSI Per-

    kotaan Per-

    desaan Laki-laki Perem-puan

    Total

    NAD 59,35 69,95 84,07 51,02 66,76

    Sumatera Utara 70,42 73,75 89,19 55,74 72,16

    Sumatera Barat 66,34 68,98 87,04 49,68 68,07

    Riau 57,32 58,72 87,24 31,48 58,27

    Jambi 69,90 72,36 91,16 53,09 71,63

    Sumatera Selatan 63,34 79,99 90,85 58,59 74,17

    Bengkulu 77,46 79,93 92,89 67,27 79,20

    Lampung 65,57 72,36 89,87 52,00 70,77

    Kep Bangka Belitung 73,91 71,30 94,04 49,80 72,40

    Kepulauan Riau 80,85 60,16 94,13 61,59 76,29

    DKI Jakarta 67,41 - 85,78 50,11 67,41

    Jawa Barat 63,63 62,93 89,49 39,26 63,32

    Jawa Tengah 74,60 75,34 89,57 60,68 75,02

    DI Yogyakarta 68,63 78,30 81,26 62,71 71,92

    Jawa Timur 67,89 71,88 87,81 52,48 70,09

    Banten 66,88 65,39 89,42 44,25 66,26

    Bali 75,50 86,18 90,48 70,83 80,46

    Nusa Tenggara Barat 69,93 74,76 89,12 60,06 72,87

    Nusa Tenggara Timur 64,56 80,60 89,27 67,12 77,24

    Kalimantan Barat 68,03 82,33 92,75 64,13 78,27

    Kalimantan Tengah 74,29 81,60 94,96 64,21 79,32

    Kalimantan Selatan 64,45 76,54 90,99 54,22 72,00

    Kalimantan Timur 63,77 71,05 87,42 46,42 66,99

    Sulawesi Utara 73,59 68,74 92,90 50,67 70,65

    Sulawesi Tengah 63,16 69,01 87,18 50,48 67,67

    Sulawesi Selatan 63,31 66,22 86,84 45,11 65,11

    Sulawesi Tenggara 63,37 73,35 91,53 53,57 71,16

    Gorontalo 62,37 71,16 89,16 48,73 68,68

    Sulawesi Barat 73,78 64,90 89,80 47,29 66,76

    Maluku 64,10 64,46 81,48 48,13 64,35

    Mauku Utara 65,85 75,16 90,05 55,36 72,31

    Papua Barat 70,66 77,33 92,29 59,14 75,10

    Papua 62,68 85,54 89,58 71,23 79,99

    Total 67,58 71,64 88,88 51,65 69,76 Sumber: Sakernas Agustus 2007, BPS

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 34

    5.2 Tingkat Pengangguran Terbuka

    Sampai saat ini, pengangguran masih menjadi isu sentral sebagai

    salah satu faktor terbesar penyebab kemiskinan. Penyebab umum

    pengangguran antara lain adalah karena jumlah lapangan pekerjaan yang

    tersedia tidak mampu mengimbangi kian meningkatnya jumlah pencari

    kerja, tidak sesuainya kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan pasar,

    masalah besaran gaji yang ditawarkan dan masalah-masalah lainnya.

    Peningkatan angka pengangguran juga diperparah dengan banyaknya

    pemutusan hubungan kerja oleh perusahan yang gulung tikar atau

    melakukan efisiensi karena peningkatan biaya produksi.

    Angka pengangguran digambarkan dengan indikator Tingkat

    Pengangguran Terbuka (TPT) yang menunjukkan persentase jumlah

    pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja. Tingginya angka

    pengangguran tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, melainkan

    berimbas juga pada masalah sosial, seperti kemiskinan dan kerawanan

    sosial. Tabel 5.2 menyajikan angka TPT pemuda Indonesia menurut jenis

    kelamin dan wilayah perkotaan/perdesaan per propinsi tahun 2007.

    Ada hal yang menarik jika mengamati angka TPAK menurut jenis

    kelamin. Angka TPT pemuda di tingkat nasional sebesar 15,30 persen,

    dengan TPT laki-laki sebesar 13,52 persen dan perempuan 18,20 persen.

    Hampir di semua propinsi, angka TPT laki-laki lebih rendah dari TPT

    perempuan kecuali di tiga propinsi yaitu DI Yogyakarta, NTB, dan

    Papua. Lebih tingginya angka TPT perempuan dimungkinkan karena

    lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan kondisi tenaga

    kerja yang ditawarkan serta tidak sesuainya kompetensi dan kualifikasi

    pencari kerja perempuan dengan kebutuhan pasar kerja yang tersedia.

    Di tingkat propinsi, TPT tertinggi ada di Propinsi Maluku sebesar

    24,29 persen, sedangkan terendah ada di Propinsi Sulawesi Barat sebesar

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 35

    6,07 persen. Jika dipisahkan pengamatan TPT pada daerah perkotaan dan

    perdesaan, secara umum angka TPT di perkotaan relatif lebih tinggi

    kecuali di Kepulauan Riau dan Kalimantan Timur. Angka TPT di

    perkotaan sebesar 19,7 persen, sedangkan di perdesaan 11,71 persen.

    Angka-angka ini membantah anggapan banyak orang bahwa di kota

    selalu lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan.

    Sejalan dengan angka TPT nasional, angka TPT di tingkat propinsi

    juga memiliki kecenderungan yang sama, yaitu angka TPT di perkotaan

    relatif lebih tinggi daripada di perdesaan. Angka TPT perkotaan per

    propinsi berkisar antara 9,54 persen (Bali) dan 29,47 persen (Sumatera

    Selatan). Di perdesaan, angka TPT berkisar antara 3,01 persen (NTT)

    dan 23,18 persen (Maluku). Diduga penyebab angka pengangguran

    terbuka di perkotaan lebih tinggi daripada perdesaan karena lapangan

    pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan jumlah pencari kerja,

    kompetensi dan kualifikasi pencari kerja.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 36

    Tabel 5.2 Tingkat Pengangguran Terbuka Pemuda menurut Propinsi, Daerah, dan Jenis Kelamin, Tahun 2007

    Wilayah Jenis Kelamin PROPINSI Per-

    kotaan Per-

    desaan Laki-laki

    Perem- puan

    Total

    NAD 20,99 13,32 8,64 25,46 15,37

    Sumatera Utara 18,45 13,05 11,65 21,61 15,57

    Sumatera Barat 22,10 15,78 13,94 24,63 17,90

    Riau 25,22 10,25 11,22 24,60 14,97

    Jambi 14,80 8,86 8,43 14,04 10,56

    Sumatera Selatan 29,47 8,42 13,72 16,12 14,70

    Bengkulu 13,64 5,24 6,09 9,61 7,69

    Lampung 21,41 10,88 8,95 20,32 13,16

    Kep Bangka Belitung 15,12 5,78 7,35 14,61 9,79

    Kepulauan Riau 9,73 13,85 9,42 11,73 10,45

    DKI Jakarta 17,65 - 17,47 17,93 17,65

    Jawa Barat 24,41 18,63 19,38 27,00 21,84

    Jawa Tengah 16,23 12,75 14,11 14,46 14,25

    DI Yogyakarta 15,97 6,13 12,45 12,18 12,33

    Jawa Timur 17,91 9,85 12,67 14,50 13,36

    Banten 21,91 20,03 19,92 23,51 21,14

    Bali 9,54 6,77 7,80 8,60 8,16

    Nusa Tenggara Barat 16,46 8,84 12,60 10,65 11,70

    Nusa Tenggara Timur 20,68 3,01 3,42 9,10 6,10

    Kalimantan Barat 20,80 6,54 8,36 12,44 10,05

    Kalimantan Tengah 14,59 4,30 5,62 9,69 7,30

    Kalimantan Selatan 19,34 4,96 9,12 10,88 9,80

    Kalimantan Timur 17,90 20,29 15,30 26,07 19,02

    Sulawesi Utara 29,41 17,12 11,37 39,93 22,16

    Sulawesi Tengah 20,12 8,37 6,39 17,72 10,89

    Sulawesi Selatan 24,88 14,03 12,31 28,29 18,07

    Sulawesi Tenggara 16,74 8,68 5,48 17,30 10,25

    Gorontalo 13,68 7,31 4,13 17,51 8,95

    Sulawesi Barat 12,27 4,20 5,43 7,09 6,07

    Maluku 26,86 23,18 16,72 36,42 24,29

    Mauku Utara 23,46 8,28 8,73 18,37 12,50

    Papua Barat 28,12 7,70 9,74 20,46 14,12

    Papua 19,57 5,28 8,11 7,87 8,00

    Total 19,70 11,71 13,52 18,20 15,30 Sumber: Sakernas Agustus 2007, BPS

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 37

    Pemberdayaan Pemuda

    Indonesia saat ini adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar

    keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Penduduk

    yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang terkendali dan berkualitas,

    akan sangat mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional.

    Selanjutnya, pemuda sebagai generasi penerus, penanggung jawab, dan

    pelaku pembangunan di masa depan, memiliki proporsi yang relatif besar

    dari penduduk Indonesia, yaitu 32,4% (Proyeksi Penduduk Indonesia

    2005-2015, BPS, 2007). Pemuda sebagai pemegang peran potensi

    pembangunan dan merupakan generasi penerus bangsa, tenaga kerja

    produktif bangsa, memiliki peran penting di dalam menggerakkan arah

    pembangunan dan menentukan masa depan bangsa, sehingga perlu

    diupayakan peningkatan kualitasnya. Pemuda dituntut untuk menjadi

    sumber daya yang bermutu, yang memiliki kemampuan bersaing dengan

    bangsa-bangsa lain di dunia. Kemampuan tersebut meliputi penguasaan

    ilmu pengetahuan yang terus berkembang, teknologi dan seni, bekerja

    secara profesional, dan menghasilkan karya unggul yang mampu

    bersaing di pasar global. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan

    kebijakan dalam program-program pembangunan pemuda. Program-

    program kebijakan pembangunan pemuda ini perlu mendapat perhatian

    BAB

    6

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 38

    dan pemikiran prioritas di dalam agenda pembangunan melalui

    penyusunan kebijakan dan program, dan bila tidak ditangani dengan

    baik, maka akan merugikan perkembangan negara di masa yang akan

    datang.

    Oleh karena itu, pembangunan pemuda memiliki peran stategis

    dalam peningkatan kualitas SDM. Upaya untuk meningkatkan kualitas

    SDM juga dilakukan malalui pembangunan olahraga yang bertujuan

    untuk menciptakan manusia yang sehat, ulet dan berjiwa sportif.

    Kebijakan di bidang olahraga diarahkan untuk mewujudkan kebijakan

    dan manajemen olahraga; meningkatkan budaya dan prestasi olahraga

    secara berjenjang termasuk pemanduan bakat, pembibitan dan

    pengembangan bakat; dan meningkatkan kemitraan antara pemerintah

    dan masyarakat termasuk dunia usaha dalam mendukung pembangunan

    olahraga. Saat ini telah ditunjukkan kepedulian pemerintah terhadap

    pembangunan pemuda. Hasil yang dicapai pembangunan pemuda dan

    olahraga di antaranya adalah disahkan dan disosialisasikannya UU No. 3

    Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan Peraturan

    Pemerintah No. 17/2007 tentang Penyelenggaraan Pekan dan Kejuaraan

    Olahraga, serta Peraturan Pemerintah No. 18/2007 tentang Pendanaan

    Keolahragaan; disusunnya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang

    Kepemudaan; dilaksanakannya pelatihan kepemimpinan pemuda;

    dioptimalkannya peran sarjana penggerak pembangunan di perdesaan;

    disusunnya Sport Deevelopment Index (SDI) sebagai indikator

    keberhasilan keolahragaan nasional; dicapainya prestasi di beberapa

    cabang olahraga internasional, seperti meningkatnya peringkat Indonesia

    dari lima pada SEA Games tahun 2005 di Manila ke peringkat empat

    pada tahun 2007 di Thailand; dan dilaksanakannya pembinaan

    keolahragaan melalui event Olahraga Pelajar Nasional. Penyusunan dan

    pembinaan ini merupakan sinyal kuat bahwa adanya keseriusan

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 39

    pemerintah dalam pengembangan dan peningkatan peran pemuda dan

    olahraga sebagai dua pilar bangsa dalam menunjang pembangunan

    nasional.

    Bab ini mengulas tentang pemuda serta prestasi pemuda baik

    lingkup nasional maupun internasional. Pembahasan difokuskan pada

    peran serta kegiatan pemuda dalam olahraga dan prestasi yang telah

    dicapai pemuda Indonesia. Pembahasan kegiatan pemuda terbatas pada

    peran serta pemuda dalam olahraga. Prestasi pemuda dilihat dari bidang

    olahraga, sains dan prestasi kepeloporan pemuda di tingkat nasional

    dalam program Sarjana Penggerak di Perdesaan (SP-3).

    6.1 Pembangunan Olahraga

    Pembangunan negara membutuhkan pemuda yang berkualitas,

    yaitu pemuda yang sehat dan cerdas. Pemuda yang berkualitas, antara

    lain ditentukan oleh derajat kesehatan dan kebugaran jasmani, serta

    perilaku terpuji seperti kejujuran dan sportivitas. Namun demikian,

    penerapan hidup sehat dan kebiasaan olahraga secara teratur dan

    berkesinambungan, belum menjadi budaya di tengah masyarakat,

    termasuk di kalangan pemuda.

    Dalam rangka mengukur kemajuan pembangunan olahraga

    pemuda di Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyusun

    suatu indeks yang disebut Sport Development Index (SDI). Ada empat

    dimensi yang diukur yaitu ruang terbuka, sumber daya manusia,

    partisipasi, dan kebugaran. Keempat dimensi indeks tersebut merupakan

    ukuran indikator input dalam keolahragaan. Ada tiga aktegori penilaian

    yang dihasilkan dari SDI yaitu kategori tinggi jika indeks yang diperoleh

    antara 0,800 1, menengah jika indeks antara 0,500 0,799, dan rendah

    jika antara 0 0,499.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 40

    Pada tahun 2006 SDI nasional sebesar 0,280 dengan rincian

    dimensi ruang terbuka sebesar 0,226, dimensi sumber daya manusia

    sebesar 0,099, dimensi partisipasi sebesar 0,422, dan dimensi kebugaran

    sebesar 0,335. Dari semua indeks yang diperoleh menunjukkan bahwa

    semua masuk dalam ketegori rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa

    masih rendahnya perhatian semua pihak terhadap olahraga. Masyarakat

    lebih mementingkan membangun prasarana perekonomian daripada

    prasarana umum untuk olahraga. Di sisi lain peduduk juga belum

    menjadikan kegiatan olahraga sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, apa

    lagi untuk berprestasi sehingga partisipasi penduduk dalam keolahragaan

    masih kurang. Tidak tersedianya prasarana umum untuk olahraga, belum

    membudayanya olahraga, dan pasifnya penduduk terhadap keolahragaan

    maka mengakibatkan kebugaran penduduk yang rendah.

    Salah satu upaya untuk melindungi pemuda dari aktifitas yang

    bersifat destruktif adalah melalui kegiatan positif, seperti olahraga.

    Olahraga yang terarah dan terbina memerlukan waktu dan keseriusan.

    Oleh karena itu, waktu luang pemuda dapat dialihkan kepada kegiatan

    olahraga dengan didukung pengembangan sarana dan prasarana olahraga.

    Berdasarkan data Podes 2008, untuk ketersediaan fasilitas

    lapangan olahraga, lapangan sepakbola banyak terdapat di

    desa/kelurahan di wilayah Propinsi Bangka Belitung (93,02%), Riau

    (85,72%), Kalimantan Barat (83,75%) dan Kepulauan Riau (83,44%).

    Lapangan bola voli relatif lebih banyak dibanding lapangan

    sepakbola. Terdapat 5 propinsi yang memiliki persentase desa/kelurahan

    yang memiliki lapangan voli lebih dari 95 persen, yaitu Riau (97,92%),

    D.I. Yogyakarta (97,72%), Bangka Belitung (96,57%) dan Kalimantan

    Barat (95,25%). Sedangkan ketersediaan lapangan bulu tangkis paling

    banyak ditemui di desa/kelurahan wilayah Propinsi DKI Jakarta.

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 41

    Sebanyak 96,25 persen desa/kelurahan di DKI Jakarta terdapat lapangan

    bulu tangkis. Terbanyak kedua adalah D.I. Yogyakarta (94,52%),

    kemudian diikuti Jawa Barat (82,52%). Sedangkan ketersediaan untuk

    lapangan bola basket hanya menonjol di beberapa propinsi. Persentase

    yang tinggi untuk lapangan bola basket terdapat di DKI Jakarta

    (65,17%), D.I. Yogyakarta (24,66%) dan Sumatera Barat (21,75%).

    Demikian pula untuk lapangan tenis dan renang yang tampak menonjol

    di DKI Jakarta dan D.I. Yogyakarta. (Lihat Lampiran 11).

    Berdasarkan data Podes 2008 bahwa lapangan yang banyak

    tersedia sampai ke tingkat desa/kelurahan berturut-turut bola voli, sepak

    bola dan bulu tangkis. Pada tahun 2008 sebanyak 78,10 persen, sedikit

    menurun dibandingkan dibandingkan tahun 2005 yang sebesar 79,35

    persen desa/kelurahan memiliki lapangan bola voli; 56,11 persen

    desa/kelurahan memiliki lapangan sepak bola sama banyak dengan tahun

    2005; dan 49,36 persen desa/kelurahan memiliki lapangan bulu tangkis

    sedikit meningkat dari tahun 2005 yang sebesar 47,3 persen. Hal ini

    merupakan sinyalemen bahwa ketiga jenis olahraga tersebut merupakan

    olahraga rakyat yang digemari dan dilakukan banyak orang. Sementara

    lapangan/gelanggang untuk bola basket, tenis lapangan dan kolam renang

    masih sangat terbatas. Ketiga jenis olahraga yang terakhir ini pada

    umumnya dilakukan oleh masyarakat perkotaan. sehingga wajar apabila

    ketersediaan lapangan untuk olahraga tersebut sangat terbatas hanya di

    sebagian kecil desa/kelurahan (lihat Lampiran 10-11).

    Keberadaan kelompok kegiatan olahraga pada umumnya seiring

    dengan ketersediaan fasilitas lapangan olahraga yang ada. Berdasarkan

    data Podes 2008, untuk keberadaan kelompok kegiatan olahraga sepak

    bola banyak terdapat di desa/kelurahan di wilayah Propinsi Bangka

    Belitung (96,22%) hampir sama dengan tahun 2005 yang sebesar 96,57

    persen, Jawa Barat (91,23%), Banten (89,69%), Kepulauan Riau

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 42

    (88,65%), dan D.I. Yogyakarta (88,58%). Kelompok kegiatan bola voli

    relatif lebih banyak dibanding kelompok kegiatan sepak bola. Hanya satu

    propinsi yang memiliki persentase desa/kelurahan yang memiliki

    lapangan voli lebih dari 95 persen, yaitu Kepulauan Riau (98,16%).

    Sedangkan kelompok kegiatan bulu tangkis paling banyak ditemui di

    desa/kelurahan wilayah Propinsi D.I. Yogyakarta. Sebanyak 94,75

    persen desa/kelurahan di D.I. Yogyakarta terdapat kelompok kegiatan

    bulu tangkis. Terbanyak kedua adalah DKI Jakarta (89,51%), kemudian

    diikuti Jawa Barat (83,43%). Sedangkan ketersediaan untuk kelompok

    kegiatan bola basket hanya menonjol di beberapa propinsi. Persentase

    yang tinggi untuk kelompok kegiatan bola basket terdapat di DKI Jakarta

    (50,56%), D.I. Yogyakarta (19,63%) dan Kepulauan Bangka Belitung

    (18,02%). Demikian pula untuk kelompok kegiatan tenis lapangan,

    renang, tenis meja dan bela diri tampak menonjol di DKI Jakarta dan

    D.I. Yogyakarta. (Lampiran 13).

    6.2 Prestasi Pemuda

    Prestasi yang telah dicapai dalam arena kompetisi baik di tingkat

    regional maupun internasional sering dijadikan sebagai indikator untuk

    mengevaluasi program di dalam penyusunan rencana strategis

    pembangunan pendidikan, pemuda dan olahraga, terutama yang bersifat

    pendidikan/pembinaan. Namun, keberhasilan program pendidikan/

    pembinaan bukan hanya dinilai dari tingkat pencapaian prestasi yang

    telah diperoleh, banyak hal lain yang ikut berperan. Akan tetapi karena

    prestasi merupakan salah satu bentuk output yang mudah untuk

    dievaluasi, sehingga sering dijadikan sebagai acuan keberhasilan suatu

    program. Keunggulan prestasi hanya dapat dilihat melalui arena

    kompetensi. Bab ini akan mengulas prestasi pemuda Indonesia pada

    kompetisi olahraga dan sains, baik di tingkat regional maupun

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 43

    internasional, serta prestasi kepeloporan pemuda di tingkat nasional

    dalam program Sarjana Penggerak di Perdesaan (SP-3).

    6.2.1 Prestasi Pemuda di Pekan Olahraga Nasional

    Prestasi pemuda di bidang olahraga tercermin dari perolehan

    peringkat di arena-arena olahraga baik di tingkat regional maupun

    internasional. Prestasi di tingkat nasional salah satunya dapat terlihat dari

    prestasi masing-masing propinsi di arena kompetisi kejuaraan Pekan

    Olahraga Nasional (PON).

    Prestasi olahraga antar propinsi sangat beragam. Perkembangan

    perolehan peringkat PON selama empat kali pelaksanaan PON terakhir

    (1993, 1996, 2000, 2004 dan 2008) posisi ke 1 4 tetap diraih oleh

    propinsi di Pulau Jawa. DKI Jakarta selalu mengungguli propinsi lain

    dalam perolehan medali sampai dengan PON 2004. Jawa Tengah selama

    tiga kali pelaksaan PON tersebut tetap bertahan pada posisi ke 4.

    Sedangkan Jawa Timur menggeser posisi Jawa Barat. Pada PON 1996

    Jawa Timur berada di posisi ke 3 dan Jawa Barat pada posisi ke 2, mulai

    PON 2000 Jawa Timur meraih posisi peringkat II dan Jawa Barat

    peringkat III. Gebrakan terjadi pada PON 2008, yaitu Jawa Timur dapat

    mengungguli DKI Jakarta ke posisi pertama. Sedangkan di posisi ketiga,

    tuan rumah Kalimantan Timur menggeser Jawa Barat dan Jawa Tengah

    yang menjadi urutan IV dan V. Perolehan peringkat masing-masing

    propinsi disajikan pada Lampiran 14-18.

    Kejuaran kompetisi baik di tingkat nasional maupun internasional

    bukan hanya untuk kondisi atlet yang sehat jasmani saja, namun event

    olahraga atlet cacat telah membuktikan bahwa setiap individu

    mempunyai potensi yang dapat dikembangkan. Walaupun dengan

    keterbatasan fisik, dilandasi oleh semangat jiwa penuh sportivitas dan

  • Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008 44

    mengabdi bagi daerah, para atlet ini dapat memberikan sumbangsih baik

    bagi propinsi maupun mengharumkan nama bangsa di kancah

    internasional. Pada kejuaran tingkat nasional di ajang Pekan Olahraga

    Cacat Nasional (Porcanas) XII, juara umum diraih oleh Jawa Barat

    dengan perolehan 30 medali emas, 23 perak dan 18 perunggu. Urutan

    kedua dipegang oleh Jawa Tengah dengan 22 emas, 17 perak dan 14

    perunggu. Sedangkan pada Porcanas XIII, J