Makalah Blok 8 p2

download Makalah Blok 8 p2

of 23

  • date post

    18-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.977
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Blok 8 p2

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr. Wb Puji beserta Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan segala Rahmat dan Karunia-Nya. Berkat Rahmat dan Karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul Tumbuh Kembang Gigi-Geligi dan Kelainannya ini tepat pada waktunya. Shalawat bermahkotakan salam kita hadiahkan keharibaan Baginda Rasullullah Muhammad SAW. yang telah membawa ummatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan penerangan islam dan pengetahuan. Ucapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada dosen pembimbing dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis sadar akan segala kelemahan dan kekurangan, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT semata. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari pembaca agar makalah ini mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca serta bagi penulis sendiri.

Darussalam, 5 Mei 2010

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perlu diketahui bahwa pada setiap individu, pertumbuhan dan perkembangan benih gigi terjadi dimulai pada umur embrio di awal minggu ke -6 intra uterin. Perkembangan tersebut meliputi beberapa tahap, dimulai dari pembentukan kuncup bud , proliferasi, histodiferensiasi dan morfodiferensiasi serta aposisi dan kalsifikasi kemudian erupsi hingga ke atrisi dimana gigi menjadi aus akibat pemakaian dalam waktu yang lama. Pada masa gigi sulung terdapat beberapa karakteristik seperti gigi insisivus yang renggang dan adanya flush terminal plane serta ciri-ciri lainnya. Dalam periode gigi campuran dimana telah erupsinya beberapa gigi permanen dan gigi susu belum tanggal seluruhnya, maka akan terjadi perubahan oklusi, dan hal ini akan terus berlanjut hingga ke periode gigi tetap. Dalam pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi terkadang terjadi kelainan atau penyimpangan. Kelainan pertumbuhan dan perkembangan tersebut bisa menurut struktur, bentuk, ukuran, maupun jumlahnya. Kelainan dapat terjadi akibat kesalahan atau kegagalan pada masing-masing proses pertumbuhan dan perkembangan gigi. Kelainan pada tumbuh kembang gigi juga bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya seperti faktor genetik dan hormonal. Pada pertumbuhan dan perkembangan gigi, praktisi bisa melihat dan mengidentifikasi perkembangan normal gigi pada periode gigi sulung dan gigi campuran melalui interpretasi gambaran radiografik. Kelainan tumbuh kembang gigi geligi juga dapat dilihat melalui gambaran radiografi dengan masing-masing karakteristik kelainan gigi tersebut.

1.2 Batasan Topik 1. Tumbuh kembang gigi-geligi normal 2. Karakteristik yang dijumpai pada masa gigi sulung 3. Kelainan tumbuh kembang gigi-geligi 4. Perkembangan oklusi pada periode gigi sulung, campuran dan tetap 5. Interpretasi radiografis pertumbuhan dan perkembangan normal gigi pada periode gigi sulung dan gigi campur 6. Interpretasi radiografis kelainan tumbuh kembang gigi dan rahang

1.3 Tujuan Tujuan penulis menulis makalah ini adalah agar mampu mengetahui tumbuh kembang gigi-geligi dan kelainannya hingga proses perubahan oklusi pada tahap gigi sulung, campuran dan tetap serta mengetahui interpretasi radiografis pada pertumbuhan dan perkembangan normal gigi sulung dan campuran juga kelainan tumbuh kembang gigi.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tumbuh Kembang Gigi-Geligi Normal Inisiasi (Bud Stage) Adanya bukti perkembangan gigi manusia bisa diobservasi pada awal minggu ke 6 usia embrio. Sel pada lapisan basal epitelium oral berpoliferasi lebih cepat dibandingkan sel yang berdekatan. Akhirnya epitelia menebal dibagian lengkung gigi. Nantinya yang meluas sepanjang seluruh margin bebas rahang. Hal ini disebut dengan premordium dari bagian ektodermal gigi . Dan hasilnya disebut lamina dental. Pada waktu yang bersamaan, 10 bulatan atau pembengkakan ovoid terjadi pada tiap rahang pada posisi yang akan diduduki oleh gigi sulung. Beberapa sel pada lapisan basal mulai berpoliferasi lebih cepat daripada sel yang berkembang. Sel sel yang berpoliferasi ini mengandung seluruh potensial pertumbuhan gigi. Molar permanent sama hal nya dengan gigi sulung muncul dari lamina dental. Insisor permanent, kaninus, dan premolar berkembang dari bud ( kuncup ) gigi sulung yang sebelumnya. Tidak adanya hubungan kogenital pada gigi merupakan hasil ( akibat ) dari kurangnya inisiasi penangkapan dalam proliferasi sel. Adanya superrnumery gigi merupakan hasil dari organa enamel yang terus berkembang. Proliferasi (Cap Stage) Proliferasi sel berlangsung selama cap stage sebagai akibat pertumbuhan yang tidak merata ( tidak sama ) pada berbagai bagian kuncup, bentuk topi ( caps )terbentuk. Suatu invaginasi yang dangkal muncul pada permukaan dalam kuncup. Sel sel perifer pada cap kemudian membentuk outer enamel dan inner enamel epitelium. Defisiensi pada tahap proliferasi akan berakibat pada gagalnya benih gigi untuk berkembang dan kurangnya jumlah gigi dibandingkan normalnya. Proliferasi yang berlebihan pada sel bisa menghasilkan sisa sisa jaringan epitel. Sisa sisa tersebut bisa tetap tidak aktif atau menjadi teraktivasi sebagai akibat dari iritasi atau stimulus. Jika sel berdiferensiasi sebagian/ terlepasnya dari organa enamel dalam keadaannya yang terdiferensiasi sebagian, sel sel tersebut menganggap fungsi sekretori umum untuk semua sel epitel dan kistapun berkembang. Dan jika sel sel berdiferensiasi sempurna atau terpisah dari organa enamel, maka menghasilkan enamel dan dentiin. Histodiferensiasi dan Morfodiferensiasi (Bell Stage) Epitelium terus berlangsung berinvaginasi dan mendalam hingga organ enamel membentuk bell . Selama tahap ini, terjadi diferensiasi sel sel dental papila menjadi

odontoblas dan sel sel inner menjadi odontoblast. Histodiferensiasi menandakan akhir dari tahap proliferatif dengan hilangnya kemampuan untuk membelah. Gangguan diferensiasi pada pembentukan sel benih gigi berakibat pada keabnormalan struktur dentin dan enamel. Contohnya : amelogenesis imperfecto. Kegagalan odontoblas berdiferensiasi dengan baik, dan keabnormalan struktur dentin akan membentuk dentinogenesis imperfecta. Pada tahap morfodiferensiasi, sel-sel pembentuk tersusun untuk membatasi bentuk dan ukuran gigi. Proses ini terjadi sebelum deposisi matriks. Pola morfologi gigi menjadi terbentuk saat inner enamel epithelium tersusun sehingga membatasi diantaranya dan odontoblas menguraikan dentinoenamel junction nantinya. Gangguan pada morfodiferensiasi akan berakibat pada keabnormalan bentuk dan ukuran gigi. Contohnya : peg teeth, tipe lain dari mikrodonsia, dan makrodonsia.1 Tahap Aposisi

Aposisi adalah pengendapan matriks dari struktur jaringan keras gigi. Pertumbuhan aposisi dari enamel dan dentin adalah pengendapan yang berlapis lapis dari matriks ekstra seluler. Pertumbuhan aposisi ditandai oleh pengendapan yang teratur dan berirama dari bahan ekstra seluler yang tidak mempunyai kemampuan sendiri untuk pertumbuhan akan dating. Bila terjadi gangguan pada tahap ini maka akan mengakibatkan kelainan/perubahan struktur dari jaringan keras gigi. Misalnya pada hipoplasia enamel,gigi terlihat kecoklatan akibat tetracycline. Tahap Kalsifikasi

Kalsifikasi adalah tahap dimana terjadi pengendapan garam garam kalsium anorganik selama pengendapan matriks. Kalsifikasi dimulai selama pengendapan matriks oleh endapan dari suatu nidus kecil, selanjutnya nidus garam garam kalsifikasi anorganik bertambah besar lapisan lapisan yang pekat. Apabila bila tahap ini terganggu,maka akan terbentuk butir kalsium yang tidak melekat atau tidak menyatu dengan dentin. Kekuranagan seperti ini sangat mudah dikenali di dalam dentin, tetapi itu semua dapat dikenali walaupun tidak jelas dalam kalsifikasi tulang dan enamel. Tahap Erupsi

Tahap ini adalah tahap dimana gigi telah terbentuk sempurna,khususnya mahkota gigi dan gigi melakukan pergerakan ke alah oklusal (erupsi). Dan pada tahap ini juga dimulai perkembangan dari rahang (bertambah panjang dan tinggi).

Disebutkan bahwa erupsi gigi sulung lebih cepat pada anak perempuan dibandingkan anak laki laki. Hal ini merupakan variasi normal, sehingga anak yang kurus memperlihatkan erupsi yang lebih cepat dari anak yang gemuk. Gangguan pada erupsi gigi lebih umum terjadi daripada saat pembentukkan gigi itu sendiri. Biasanya gangguan terjadi karena pencabutan yang belum pada waktunya.2

2.2 Karakteristik yang Dijumpai Pada Masa Gigi Sulung Ciri-ciri gigi sulung normal dan abnormal : 1. Hubungan molar kedua lurus Pada kebanyakan gigi geligi M2, susu berada dalam oklusi cusp to cusp sehingga kedudukan akhir dari gigi tersebut dalam garis lurus Pada keadaan lain M2 rahang bawah berada lebih mesial dari M2 rahang atas mesial step normal Dapat pula terjadi distal step dan hal ini menunjukkan hubungan lengkung rahang kelas 2 2. Spacing insisivus Spacing diantara gigi geligi insisivus susu adalah normal menunjukkan bahwa gigi-gigi tetap mempunyai tempat untuk bererupsi Kurangnya spacing insisivus susu merupakan tanda bahwa insisivus tetap mungkin akan berjejal, bila kelak erupsi 3. Anthropoid spacing (primata) Tempat gigi paling sering digunakan untuk menyediakan ruang pada gigi geligi susu adalah pada region kaninus (foster dan Hamilton 1969) Anthropoid spaces terletak di sebelah masial kaninus rahang atas pada bagian distal pada kaninus rahang bawah Derajat variasi yang nyata terjadi pada overbite dan overjet gigi insisivus dan sulit untuk menyatakan derajat normalnya Gigi geligi susu diantara usia 3-6 tahun Kalau gigi geligi susu telah lengkap, ukuran dan bentuk lengkung berubah sangat sedikit sampai gigi-gigi tetap mulai erupsi, penambahan lebar dan panjang sangatlah sedikit Ruang inpada gigi ggeligi yang jarang tidak bertambah lebarnya atau terjadi celah pada gigi geligi rapat

Akan tetapi, mungkin terliha