Karya Ilmiah

of 28 /28
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Melihat perkembangan global secara umumnya dan bangsa secara khususnya, tidaklah heran apabila tidak setiap orang mengetahui dan mengenal tentang perkembangan sastra Indonesia. Bahkan, tidak sedikit orang pula yang sampai dengan saat ini masih mencintai dan menghargai sastra sebagai sesuatu yang patut dijaga dan dijunjung tinggi, sebab disanalah kekayaan bangsa tertimbun. Pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal dari hari ke hari semakin sarat dengan berbagai persoalan. Tampaknya, pembelajaran sastra memang pembelajaran yang bermasalah sejak dahulu. Keluhan-keluhan para guru, siswa, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti konkret adanya sesuatu yang tak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal (Nestapa, 2005). Orang-orang pada setiap jaman mengalami perubahan, baik kemajuan ataupun kemunduran dalam bidang tertentu. Seperti halnya sastra Indonesia pun terus mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Sastra yang semakin baik dan mendidik memberikan dampak positif bagi pembacanya.

Embed Size (px)

description

B. Indonesia

Transcript of Karya Ilmiah

  • 1BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Melihat perkembangan global secara umumnya dan bangsa

    secara khususnya, tidaklah heran apabila tidak setiap orang mengetahui

    dan mengenal tentang perkembangan sastra Indonesia.

    Bahkan, tidak sedikit orang pula yang sampai dengan saat ini

    masih mencintai dan menghargai sastra sebagai sesuatu yang patut

    dijaga dan dijunjung tinggi, sebab disanalah kekayaan bangsa tertimbun.

    Pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal dari hari ke

    hari semakin sarat dengan berbagai persoalan. Tampaknya,

    pembelajaran sastra memang pembelajaran yang bermasalah sejak

    dahulu. Keluhan-keluhan para guru, siswa, dan sastrawan tentang

    rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti konkret

    adanya sesuatu yang tak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga

    pendidikan formal (Nestapa, 2005).

    Orang-orang pada setiap jaman mengalami perubahan, baik

    kemajuan ataupun kemunduran dalam bidang tertentu. Seperti halnya

    sastra Indonesia pun terus mengalami perubahan seiring berjalannya

    waktu. Sastra yang semakin baik dan mendidik memberikan dampak

    positif bagi pembacanya.

  • Jika kita membicarakan mengenai sastra, maka tentunya pasti

    menyinggung para pujangga bangsa yang tak habis-habisnya berkarya.

    Para sastrawan pun melimpahkan bakat dan kemampuannya dalam

    bidang sastra.

    Penulis juga sebagai seorang pelajar yang masih rentan terhadap

    perkembangan jaman, masih ingin mengenal lebih dalam mengenai

    sastra Indonesia, khususnya puisi, dengan tidak meninggalkan budaya

    dan tetap memperlihatkan kekhasan sastra pada setiap jamannya. Oleh

    karena itu untuk membuktikannya, penulis akan memaparkan hasil

    pencarian dari beberapa sumber.

    B. Perumusan Masalah

    Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka

    beberapa rumusan masalah dapat diuraikan sebagai berikut.

    a. Bagaimana perkembangan sastra Indonesia dari jaman ke

    jaman?

    b. Seperti apa saja bentuk puisi dan pantun?

    C. Tujuan Penelitian

    Penulisan karya ilmiah ini dilakukan untuk memenuhi tugas

    Bahasa Indonesia semester genap. Secara terperinci, tujuan dari

    penelitian dan penulisan karya ilmiah ini adalah :

    a. Mengenal lebih dalam sejarah dan perkembangan sastra

    Indonesia.

  • b. Membagikan pengetahuan kepada orang-orang yang

    membaca karya ilmah ini.

    D. Metode Penelitian

    Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penulis

    melakukan metode observasi dan kepustakaan. Adapun teknik-teknik

    yang dilakukan adalah sebagai berikut.

    a. Teknik Pengamatan Langsung

    Dalam teknik ini, penulis terjun langsung sebagai seorang

    pelajar yang tidak mengetahui perkembangan sastra Indonesia.

    Penulis pun terjun ke dalam komunitas pelajar yang mempelajari

    Bahasa Indonesia sejak SD namun tidak mengetahui

    perkembangannya sama sekali.

    b. Studi Pustaka

    Pada metode ini, penulis membaca buku dan mencari melalui

    website yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah ini.

    E. Waktu dan Lokasi Penelitian

    Jangka waktu penelitian adalah 7 hari (1 minggu), tepatnya

    selesai 17 Maret 2008. Penelitian ini dimulai dari perumusan masalah,

    pengumpulan data, pengolahan data, pengamatan hingga penulisan

    hasil penelitian. Lokasi dalam melakukan penelitian ini dibatasi hanya

    sekitar SMAN 78.

  • F. Sistematika Penulisan

    Pada karya ilmiah ini, penulis akan menjelaskan hasil observasi

    dimulai dengan bab pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang

    masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, waktu dan lokasi

    penelitian, dan sistematika penulisan. Bab berikutnya, penulis akan

    memaparkan mengenai perkembangan sastra Indonesia.

    Bab ketiga Penulis akan memaparkan mengenai contoh-contoh

    puisi dan pantun yang berkembang sesuai dengan jamannya. Bab

    keempat merupakan bab penutup dalam karya ilmiah ini. Pada bagian

    ini, Penulis memaparkan kesimpulan dari bab sebelumnya dan saran

    dari Penulis sendiri.

  • BAB II

    PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA

    Secara metode penyampaian sastra Indonesia terbagi atas 2 bagian besar,

    yaitu lisan dan tulisan.

    Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

    Pujangga Lama

    Sastra "Melayu Lama"

    Angkatan Balai Pustaka

    Pujangga Baru

    Angkatan '45

    Angkatan 50-an

    Angkatan 66-70-an

    Dasawarsa 80-an

    Angkatan Reformasi

    A. Pujangga Lama

    Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20.

    Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun,

    gurindam dan hikayat.

  • A.1 Karya Sastra Pujangga Lama

    Sejarah Melayu : Hikayat Abdullah - Hikayat Andaken Penurat - Hikayat

    Bayan Budiman - Hikayat Djahidin - Hikayat Hang Tuah - Hikayat

    Kadirun - Hikayat Kalila dan Damina - Hikayat Masydulhak - Hikayat

    Pandja Tanderan - Hikayat Putri Djohar Manikam - Hikayat Tjendera

    Hasan - - Tsahibul Hikayat

    Syair Bidasari - Syair Ken Tambuhan - Syair Raja Mambang Jauhari -

    Syair Raja Siak

    dan berbagai Sejarah, Hikayat, dan Syair lainnya

    B. Sastra Melayu Lama

    Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 -

    1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatera seperti

    "Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah sumatera lainnya", orang

    Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit

    sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan

    novel barat.

    B.1 Karya Sastra Melayu Lama

    Robinson Crusoe (terjemahan)

    Lawan-lawan Merah

    Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)

  • Graaf de Monte Cristo (terjemahan)

    Kapten Flamberger (terjemahan)

    Rocambole (terjemahan)

    Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)

    Bunga Rampai oleh A.F van Dewall

    Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe

    Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan

    Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya

    Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)

    Cerita Nyi Paina

    Cerita Nyai Sarikem

    Cerita Nyonya Kong Hong Nio

    Nona Leonie

    Warna Sari Melayu oleh Kat S.J

    Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan

    Cerita Rossina

    Nyai Isah oleh F. Wiggers

    Drama Raden Bei Surioretno

    Syair Java Bank Dirampok

    Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang

    Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen

    Tambahsia

    Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo

  • Nyai Permana

    C. Angkatan Balai Pustaka

    Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 - 1950, yang

    dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita

    pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair,

    pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia

    pada masa ini.

    Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh

    buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu

    Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan

    dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya

    dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan

    bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa

    Batak dan bahasa Madura.

    C.1 Pengarang dan Karya Sastra Balai Pustaka

    Merari Siregar

    o Azab dan Sengsara: kissah kehidoepan seorang gadis (1921)

    o Binasa kerna gadis Priangan! (1931)

    o Tjinta dan Hawa Nafsu

    o

    Marah Roesli

  • o Siti Nurbaya

    o La Hami

    o Anak dan Kemenakan

    Nur Sutan Iskandar

    o Apa Dayaku Karena Aku Seorang Perempuan

    o Hulubalang Raja (1961)

    o Karena Mentua (1978)

    o Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

    Abdul Muis

    o Pertemuan Djodoh (1964)

    o Salah Asuhan

    Tulis Sutan Sati

    o Sengsara Membawa Nikmat (1928)

    o Tak Membalas Guna

    o Memutuskan Pertalian (1978)

    Aman Datuk Madjoindo

    o Menebus Dosa (1964)

    o Si Tjebol Rindoekan Boelan (1934)

    Suman Hs.

    o Kasih Ta' Terlarai (1961)

  • o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)

    o Pertjobaan Setia (1940)

    Adinegoro

    o Darah Muda

    o Asmara Jaya

    Sutan Takdir Alisjahbana

    o Tak Putus Dirundung Malang

    o Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)

    o Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)

    Hamka

    o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)

    o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1957)

    o Tuan Direktur (1950)

    o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

    Anak Agung Pandji Tisna

    o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1975)

    o Sukreni Gadis Bali (1965)

    Said Daeng Muntu

    o Pembalasan

    o Karena Kerendahan Boedi (1941)

  • Marius Ramis Dayoh

    o Pahlawan Minahasa (1957)

    o Putra Budiman: Tjeritera Minahasa (1951)

    Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai Raja Pengarang Bali Pustaka

    oleh sebab banyaknya karya tulisnya pada masa tersebut.

    D. Pujangga Baru

    Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor

    yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada

    masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa

    nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah

    sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi "bapak" sastra modern

    Indonesia.

    Pada masa itu, terbit pula majalah "Poedjangga Baroe" yang

    dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane.

    Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 -

    1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua

    kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu 1. Kelompok "Seni untuk Seni"

    yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2.

    Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh

    Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

  • D.1 Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru

    Sutan Takdir Alisjahbana

    o Layar Terkembang (1948)

    o Tebaran Mega (1963)

    Armijn Pane

    o Belenggu (1954)

    o Jiwa Berjiwa

    o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)

    o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)

    o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)

    Tengku Amir Hamzah

    o Nyanyi Sunyi (1954)

    o Buah Rindu (1950)

    o Setanggi Timur (1939)

    Sanusi Pane

    o Pancaran Cinta (1926)

    o Puspa Mega (1971)

    o Madah Kelana (1931/1978)

    o Sandhyakala ning Majapahit (1971)

    o Kertadjaja (1971)

    o

  • Muhammad Yamin

    o Indonesia, Toempah Darahkoe! (1928)

    o Kalau Dewi Tara Sudah Berkata

    o Ken Arok dan Ken Dedes (1951)

    E. Angkatan '45

    Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah

    mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih

    realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik -

    idealistik.

    E.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan '45

    Chairil Anwar

    o Kerikil Tadjam (1949)

    o Deru Tjampur Debu (1949)

    o Asrul Sani , Rivai Apin Chairil Anwar

    o Tiga Menguak Takdir (1950)

    o Idrus

    o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)

    o Aki (1949)

    o Perempuan dan Kebangsaan

    o Pramoedya Ananta Toer

    o Bukan Pasar Malam (1951)

    o Ditepi Kali Bekasi (1951)

  • o Keluarga Gerilja (1951)

    o Mereka jang Dilumpuhkan (1951)

    o Mochtar Lubis

    o Tidak Ada Esok (1982)

    o Djalan Tak Ada Udjung (1958)

    o Achdiat K. Mihardja

    o Atheis 1958

    o Trisno Sumardjo

    o Katahati dan Perbuatan (1952)

    o Terjemahan karya W. Shakespeare : Hamlet, Impian di tengah

    Musim, Macbeth, Raja Lear, Romeo dan Julia, Saudagar Venezia, dll.

    F. Angkatan 50-an

    Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah

    asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang

    didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut

    bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra

    lainnya, Sastra.

    Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan

    sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra)

    yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan

    polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia

  • pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra

    karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965

    dengan pecahnya G30S di Indonesia.

    F.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 50-60-an

    Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain

    yang menonjol pada akhir dekade 80-an dengan beberapa karyanya

    antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan

    Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol

    pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya

    barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan

    pemikiran timur.

    Ajip Rosidi

    o Cari Muatan

    o Ditengah Keluarga (1956)

    o Pertemuan Kembali (1960

    o Sebuah Rumah Buat Hari Tua

    o Tahun-tahun Kematian (1955)

    o Nh. Dini

    o Dua Dunia (1950)

    o Hati jang Damai (1960)

  • o Sitor Situmorang

    o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)

    o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)

    o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)

    W.S. Rendra

    o Balada Orang Tertjinta (1957)

    o Empat Kumpulan Sajak (1961)

    o Ia Sudah Bertualang dan tjerita-tjerita pendek lainnja (1963)

    G. Angkatan 66-70-an

    Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison.

    Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak

    karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran

    sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran,

    arketip, absurd, dll pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit

    Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya

    sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang

    lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye,

    Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan

    Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo

    dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

  • Seorang sastrawan pada angkatan 50-60-an yang mendapat

    tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya,

    karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat

    perhatian bahkan sering menimbulkan kesalah-pahaman; ia lahir

    mendahului jamannya.

    Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam,

    Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman,

    Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti,

    Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi

    yang lainnya.

    G.1 Karya Sastra Angkatan '66

    Abdul Hadi WM

    o Laut Belum Pasang (kumpulan puisi)

    o Meditasi (kumpulan puisi)

    Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (kumpulan

    puisi)

    Sapardi Djoko Damono

    Mata Pisau dan Akuarium (kumpulan puisi)

    Ayat-ayat Api (kumpulan puisi)

    Goenawan Mohamad

  • o Interlude

    o Parikesit

    o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang

    (kumpulan esai)

    o Umar Kayam

    o Seribu Kunang-kunang di Manhattan

    o Sri Sumarah dan Bawuk (kumpulan cerita pendek)

    o Lebaran di Karet, di Karet - (kumpulan cerita pendek)

    Putu Wijaya

    o Telegram

    o Gres Putu Wijaya

    o Aduh (drama)

    o Edan (drama)

    o Dag Dig Dug (drama)

    Iwan Simatupang

    o Koong

    o RT Nol / RW Nol (drama)

    o Tegak Lurus Dengan Langit

    H. Dasawarsa 80-an

    Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980,

    ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita

  • yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Majalah Horison tidak

    ada lagi, karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas

    diberbagai majalah dan penerbitan umum.

    Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-

    an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca

    Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie

    alm, Micky HIdayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor

    Aini Cahya Khairani alm, dan Tajuddin Noor Ganie.

    H.1 Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80-an

    Antara lain adalah:

    Badai Pasti Berlalu - Cintaku di Kampus Biru - Sajak Sikat Gigi - Arjuna

    Mencari Cinta - Manusia Kamar - Karmila

    Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang

    menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada

    umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang

    dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa

    abad 19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa

    romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu

    mengalahkan peran antagonisnya.

    Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra

    yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap

    sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang

  • dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang

    ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik

    membaca karya-karya yang lebih "berat".

    Budaya barat dan konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus

    mempengaruhi sastra Indonesia sampai tahun 2000.

    I. Sastrawan Angkatan Reformasi

    Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan

    Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan

    Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang Sastrawan Angkatan

    Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-

    karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik,

    khususnya seputar Reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika,

    misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli

    bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak

    dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema

    sosial-politik.

    Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial

    dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan

    jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun

    1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi,

    cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula

    jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri,

  • Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan

    suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

    I.1 Sastrawan Angkatan 2000-an

    Setelah wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan Reformasi

    muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki 'juru bicara',

    Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya

    Sastrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang

    disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih

    penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke

    dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-

    an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma,

    serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Rosa

    Herliany.

  • BAB III

    BERBAGAI BENTUK PUISI DAN PANTUN

    A. Gurindam

    Sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat.

    Misalnya : Baik-baik memilih kawan

    Salah-salah bisa menjadi lawan

    B. Karmina

    Pantun dua seuntai (pantun kilat). Baris pertama sebagai sampiran dan

    baris kedua sebagai isi dengan rumus rima a-a.

    Misalnya : Kayu lurus dalam ladang

    Kerbau kurus banyak tulang

    C. Talibun

    Bentuk puisi lama dalam kesusastraan Indonesia (Melayu) yang

    jumlah barisnya lebih dari empat, biasanya sampai 16-20, serta punya

    persamaan bunyi pada akhir baris (ada juga yang seperti pantun dengan

    jumlah baris genap seperti 6, 8, 12).

  • Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena

    mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris (mulai dari 6 baris

    hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.

    Ciri-ciri Talibun adalah sebagai berikut :

    1. Merupakan sejenis puisi bebas.

    2. Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk menjelaskan pemerian.

    3. Isinya berdasarkan sesuatu perkara diceritakan secara terperinci.

    4. Tidak ada pembayang. Setiap rangkap dapat menjelaskan satu

    keseluruhan cerita.

    5. Menggunakan puisi lain (pantun/syair) dalam pembentukannya.

    6. Gaya bahasa yang luas dan lumrah (memberi penekanan kepada

    bahasa yang berirama seperti pengulangan).

    7. Berfungsi untuk menjelaskan suatu perkara.

    8. Merupakan bahan penting dalam pengkaryaan cerita pelipur lara.

    Tema Talibun :

    Tema talibun biasanya berdasarkan fungsi puisi tersebut. Contoh :

    1. Mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat

    2. Mengisahkan keajaiban sesuatu benda/peristiwa

    3. Mengisahkan kehebatan/kecantikan seseorang

    4. Mengisahkan kelakuan dan sikap manusia

    Contoh Talibun

    Tengah malam sudah terlampau

  • Dinihari belum lagi nampak

    Budak-budak dua kali jaga

    Orang muda pulang bertandang

    Orang tua berkalih tidur

    Embun jantan rintik-rintik

    Berbunyi kuang jauh ke tengah

    Sering lanting riang di rimba

    Melenguh lembu di padang

    Sambut menguak kerbau di kandang

    Berkokok mendung, Merak mengigal

    Fajar sidik menyinsing naik

    Kicak-kicau bunyi Murai

    Taktibau melambung tinggi

    Berkuku balam dihujung bendul

    Terdengar puyuh panjang bunyi

    Puntung sejengkal tinggal sejari

    Itulah alamat hari nak siang

    (Hikayat Malim Deman)

    D. Syair

    Syair adalah puisi atau karangan terikat yang mementingkan

    irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama a-a-a-a, keempat

  • baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2

    baris terakhir yang mengandung maksud).

    Daftar syair :

    1. Syair Bidasari

    2. Syair Ken Tambuhan

    3. Syair Kerajaan Bima

    4. Syair Raja Mambang Jauhari

    5. Syair Rajasiak

    Syair disebut juga puisi lama yang tiap-tiap baris terdiri dari empat larik

    (baris) yang berakhiran dengan bunyi sama.

  • BAB IV

    KESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan

    Dari pembahasan dalam karya ilmiah ini, dapat disimpulkan bahwa :

    1. Terdapat 9 angkatan sastrawan dalam sejarah yang telah

    mewarnai kehidupan sastra di Indonesia.

    2. Setiap angkatan para sastrawan memiliki karya dengan ciri

    khasnya masing-masing pada setiap jamannya dengan berbagai

    banyak judul yang memukau.

    3. Perkembangan sastra memiliki kemajuan yang pesat, namun

    pengetahuan para siswa akan sastra itu sendiri belum

    memuaskan dan masih butuh banyak belajar lagi, sebab

    bagaimanapun juga, sastra merupakan karya anak bangsa yang

    patut dibanggakan.

    4. Puisi dan pantun memiliki ciri khasnya masing-masing dalam

    pembuatannya.

  • Saran

    Berdasarkan pembahasan yang telah disajikan, penulis dapat

    memberikan saran sebagai berikut :

    1. Perlu adanya pembahasan mengenai sastra di dalam kelas

    dengan metode yang dapat menarik minat siswa sehingga tidak

    membosankan.

    2. Mengubah pola pikir masyarakat selama ini yang menganggap

    bahwa sastra sangatlah kuno.

    3. Membudidayakan buku-buku sastra Indonesia sehingga semua

    orang dapat membacanya.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

    Wikipedia. 2008. Syair. (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/Talibun)

    Wikipedia. 2008. Talibun. (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/Talibun)

    E. Angkatan '45E.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan '45

    F.Angkatan 50-anF.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 50-60-anNh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada akhir dekade 80-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

    G. Angkatan 66-70-anG.1 Karya Sastra Angkatan '66

    H.Dasawarsa 80-anH.1 Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80-an

    I.Sastrawan Angkatan ReformasiI.1 Sastrawan Angkatan 2000-an