Panduan Punilasan Karya Tulis Ilmiah - Pertanian

of 47/47
  • date post

    02-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Panduan Punilasan Karya Tulis Ilmiah - Pertanian

Panduan Punilasan Karya Tulis Ilmiah.inddKARYA TULIS ILMIAH Penanggung Jawab Kasdi Subagiono
Penyusun: Muhaman Arifi n Darman M. Arsyad Sjahrul Bustaman Agus Muharam Azmi Dhalimi Rachmat Hendayana R. Sad Hutomo Pribadi Hari Hermawan
Nara sumber: Prof. Dr. Sumarno
Desain Cover dan Layout: Nadimin
BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) JAWA BARAT
BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
Cetakan ke-2 ini dibiayai dari DIPA BPTP Jawa Barat, TA. 2015
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat Jalan Kayuambon 80 Lembang Bandung Barat 40391 Telp. 022-2786238, Fax. 022-2789846 Ext. VOIP Balitbangtan: 10700 e-mail : [email protected] website : jabar.litbang.pertanian.go.id
Diterbitkan Oleh:
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Jl. Tentara Pelajar No. 10 Bogor 16114, Jawa Barat Telp : (0251) 8351277 Fax : (0251) 8350928 Website : bbp2tp.litbang.pertanian.go.id E-mail : [email protected]
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
i
PENGANTAR
Penyusunan karya tulis ilmiah merupakan salah satu proses komunikasi penting dalam kegiatan pengkajian teknologi pertanian. Tanpa karya tulis ilmiah, suatu teknologi tidak dapat diinformasikan kepada pengguna (pembuat kebijakan, ilmuan, penyuluh, atau petani) untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengkaji dalam mengkomunikasikan hasil pengkajian harus memenuhi dua persyaratan. Pertama, hasil pengkajian tersebut harus layak dikomunikasikan, baik dari segi kebenaran, ketetapan, maupun kegunaannya. Kedua, karya tulis ilmiah yang disusun harus menarik dan sesuai kaidah penulisan.
Akhirnya, panduan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengkaji lingkup Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Tim Penyusun dan berbagai pihak yang telah membantu dalam penyelesaian panduan ini.
Lembang, Agustus 2015 Kepala BPTP Jawa Barat,
Dr. Ir. Nandang Sunandar, MP
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
ii
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
iii
II. JENIS PUBLIKASI DAN KARYA TULIS ILMIAH ...............3
2.1. Publikasi Ilmiah ........................................................................ 3 2.2. Karya Tulis Ilmiah ..................................................................... 4
III. RANGKAIAN LANGKAH PENULISAN ............................ 6
3.1. Persiapan ..................................................................................... 6 3.2. Perencanaan .............................................................................. 7 3.3. Penulisan ..................................................................................... 9 3.4. Perbaikan Naskah ...................................................................11
IV. KARYA TULIS ILMIAH PRIMER .....................................14
4.1. Judul ...........................................................................................14 4.2. Nama dan Alamat Instansi Penulis (-penulis) ...............15 4.3. Abstrak .......................................................................................16 4.4. Kata Kunci .................................................................................16 4.5. Pendahuluan ............................................................................16 4.6. Bahan dan Metode ................................................................17 4.7. Hasil dan Pembahasan .........................................................17 4.8. Kesimpulan ...............................................................................27 4.9. Penghargaan ............................................................................20 4.10. Pustaka ....................................................................................20
iv
V. KARYA TULIS ILMIAN SEKUNDER ................................23
VI. KARYA TULIS ILMIAN POPULER ..................................25
VII. PENUTUP .....................................................................28
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
1
PENDAHULUAN
Setiap pengkaji (peneliti dan penyuluh lingkup BBP2TP) w-ernpunyai dua tugas utama, yakni melakukan pengkajian melalui prosedur ilmiah, clan mengkomunikasikan hasil pengkajiannya dalam bentuk karya tulis ilmiah. Komunikasi tersebut dilakukan, antara lain melalui publikasi (ilmiah, semi ilmiah, dan populer) dan pertemuan ilmiah (seminar, lokakarya, can simposium). Untuk menyiapkan karya tulis ilmiah, penulis harus rajin menggali khazanah pustaka guna melengkapi eoriJkonsep yang mendukung karya tulisnya. Selain itu, penulis harus mampu mengembangkan sikap ilmiah seperti sikap ingin tahu. kritis, terbuka, objektif, menghargai karya orang lain, berani mempertahankan kebenaran, dan menjangkau ke depan Vuslich, 2010), serta meningkatkan motivasi clan mutu karya tulisnya. Jadikan karya tulis sebagai amal ibadah bagi pengkaji.
Kegiatan penyusunan karya tulis ilmiah merupakan serangkaian proses komunikasi yang diawali oleh adanya sumber komunikasi (penulis) yang menyiapkan pesan (informasi) can mengirimkannya melalui suatu saluran komunikasi (publikasi) untuk pengguna (peneliti, penyuluh, pembuat kebijakan, dan lain-lain) (Wiggin dan Bernsten, 1979). Agar proses tersebut berjalan lancar, penulis harus menguasai setiap komponen dari proses komunikasi tersebut. Pertama, penulis harus mengetahui siapa pengguna informasi yang dijadikan target agar penulis mudah menentukan bahasa yang sesuai bagi pengguna informasi tersebut. Selanjutnya, penulis harus mempelajari semua ketentuan yang dipersyaratkan dalam publikasi ilmiah yang akan menerbitkan tulisannya. Setelah penulis mengetahui target pengguna informasinya dan
I
2
persyaratan dalam publikasi ilmiah, penulis siap merencanakan dan menulis karya tulis yang merupakan bagian penyiapan pesan (informasi) dari proses komunikasi.
Karya tulis ilmiah harus dapat membawa pemikiran (idea) penulisnya. Bahasa yang dipakai harus jelas dan mudah dimengerti agar tidak terjadi salah penafsiran. Karya tulis harus tepat (accurate), singkat (brief), dan jelas (clear) (Rifai, 1997), serta memberi informasi baru (informative) dan mudah dimengerti (understandable). Karya tulis harus ditulis dengan jujur, dan tidak ada yang disembunyikan. Bila karya tulis tidak akurat dan tidak jujur, kemudian diterbitkan, maka informasinya akan tersebar secara cepat dan diterima oieh pembaca sebagai informasi yang dianggap “benar”. Oleh karena itu penulis bertanggung-jawab terhadap keakuratan dan kejujuran karya tulis ilmiahnya.
1.2. Tujuan
Panduan karya tulis ilmiah ini bertujuan membantu pengkaji dalam menyusun karya tulis ilmiah primer, sekunder (tinjauan atau review), dan populer untuk diterbitkan dalam suatu majalah ilmiah atau publikasi lainnya.
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
3
2.1. Publikasi Ilmiah
Secara umum, ada dua jenis publikasi, yakni publikasi wairg terbit berurutan dan yang terbit secara tunggal. Publikasi ywg terbit berurutan secara berkala disebut majalah, jurnal, atau buletin, sedangkan yang terbit berurutan, tetapi tidak berkala dsebut publikasi berseri. Publikasi yang diterbitkan secara tanggal dengan topik tertentu disebut buku atau monografi . Publikasi yang terbit berurutan diberi nomor ISSN (International Standard Serial Number), sedangkan yang terbit secara tunggal diberi nomor ISBN (International Standard Book Number). Nomor ISSN atau ISBN dapat diperoleh di Pusat Dokumentasi Ilmiah kidanesia, LIPI. Pencantuman ISSN atau ISBN tidak mencirikan status kualitas suatu publikasi, tetapi oleh nomor akreditasi LIPI.
Publikasi yang memuat artikel hasil penelitian dan persgkajian asli (original) disebut publikasi primer. Artikel tersebut merupakan temuan baru yang pertama kali disebar- luaskan, dicirikan oleh adanya uraian Bahan dan Metode, serta Hasil dan Pembahasan. Publikasi sekunder memuat artikel tinjauan, ulasan atau rangkuman. Naskah (manuscript) adalah karya tulis yang belum diterbitkan. Disertasi atau tesis dikategorikan sebagai naskah karena belum diterbitkan.
Publikasi yang memuat artikel dari suatu pertemuan, seperti seminar, simposium, atau lokakarya disebut prosiding atau risalah. Umumnya prosiding dimaksudkan untuk karya
DA
II
4
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
tulis, sekunder, namun ada pula yang memuat karya tulis primer.’ Sebagian besar pakar berpendapat bahwa karya tulis primer yang dimuat dalam prosiding merupakan laporan sementara. Artikel demikian dinilai tidak memadai sebagai bahan sitiran atau bahan rujukan suatu artikel ilmiah. Artikel primer dinilai syah (valid), jika dimuat dalam publikasi primer (Day, 1983). Publikasi ilmiah primer dan tinjauan terutama untuk para pakar, sedangkan publikasi ilmiah populer untuk kalangan yang lebih luas. Setiap jenis publikasi memuat ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi oleh penulis.
2.2. Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah dibedakan menjadi tiga jenis, yakni: a) karya tulis primer, b) karya tulis sekunder, dan c) karya tulis populer. Karya tulis ilmiah primer mempersyaratkan adanya uraian Metode dan Pembahasan. Penyajian metode dimaksud agar pembaca dapat mengkaji validitas temuan penulis. Di samping itu, pengkaji lain dapat mengulang kajian tersebut dengan cara yang sama atau dapat mengembangkan metode yang dipakai oleh penulis.
Karya tulis ilmiah sekunder adalah suatu karya tulis yang isinya menyajikan telaah ilmiah secara kritis tentang status perkembangan subyek tertentu dari suatu disiplin ilmu terhadap karya tulis primer yang telah diterbitkan. Dalam penelaahan, ada kemungkinan aspek tertentu yang dapat dikembangkan menjadi sairan untuk bahan kebijakan atau untuk kepentingan praktis. Berdasarkan pengertian tersebut, minimal ada tiga aspek yang tercandung dalam suatu karya tulis sekunder, yakni: a) evaluasi, kritik. penjelasan, perbedaan atau persamaan dari karya tulis yraing dibahas, b) pemikiran penulis clan ungkapan konsep baru bagi pengembangan disiplin ilmu, dan c) saran, pemanfaatan, program, kebijakan,
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
5
dan/atau pengkajian lanjutan yang dlidasarkan atas evaluasi tingkat perkembangan disiplin ilmu atau teknologi (Soehardjan, 1977).
Karya tulis ilmiah sekunder berfungsi memberikan infornasi ilmiah yang berfokus pada suatu topik agar pengkaji disiplin yang bersangkutan atau disiplin lain tidak perlu menelu-suri pustaka yang diperlukannya. Karya tulis sekunder dapat menunjukkan hal-hal atau asumsi yang masih harus dliibuktikan. Dengan demikian karya tulis sekunder dapat memberikan jalan bagi pengkaji lain untuk memperoleh ide untuk rnemperoleh topik pengkajian yang dapat menghasilkan data yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karya tulis ilmiah populer adalah karya tulis yang Tengikuti standar ilmiah, tetapi ditampilkan dengan bahasa populer sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas. Isi tulisannya berupa bahan untuk menambah pengetahuan, kegiatan operasional praktis, keterampilan, atau himbauan. Karya tulis ilmiah populer disusun dengan jalan menggantungkan ide dan pengalaman penulis dengan bahan dari hasil menyadur, mengutip, dan meramu informasi dari berbagai tulisan orang lain dengan pencantuman sumber rujukan. Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa karya tulis ilmiah populer merupakan sarana komunikasi ilmuan dengan masyarakat umum. Jenis publikasi untuk karya tulis ilmiah populer antara lain majalah populer, tabloid, warta, dan surat kabar.
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
6
RANGKAIAN
Penyusinan karya tulis ilmiah meliputi beberapa langkah yang dapat dikelompokkan dalam empat tahap, yakni persiapan, perencanaan, penulisan, serta perbaikan (Mundy dan Bernsten, 1985; Wiggin dan Bernsten 1979).
3.1. Persiapan
Tahapan persiapan dalam penyusunan karya tulis ilmiah meliputi pemilihan topik, pemilihan majalah ilmiah, dan pemahaman pedoman bagi penulis.
Topik tidak sama dengan judul. Topik menunjukkan pokok ;persoalan yang akan dikembangkan menjadi judul tulisan. Dalam memilih topik, penulis harus telah memahami substansi topik yang akan ditulis. Contoh topik tulisan: “Pengendalian Hama dengan Insektisida”. Judul yang dapat dipilih dari topik tersebut misalnya: “Mengendalikan Hama Wereng pada Padi Menggunakan Insektisida secara Ramah Lingkungan”.
Setiap majalah ilmiah mempunyai tujuan, ruang lingkup disiplin ilmu, jenis tulisan (primer, sekunder, atau populer), dan target pembaca. Hal tersebut biasanya tercantum dalam Panduan Penulisan (Statement of Purpose) dari majalah ilmiah tersebut. Penulis harus memilih majaiah yang sesuai dengan topik tulisannya agar penuiis mendapatkan pembaca yang tertarik pada tulisannya. Contoh Statement of Purpose dari beberapa majalah ilmiah: a. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan merupakan
pubiikasi yang memuat karya tulis ilmiah primer hasil
III
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
7
penelitian tanaman pangan (padi clan palawija). Redaksi menerima karya tuiis dari peneliti lingkup Puslitbang Tanaman Pangan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), maupun perguruan tinggi. Karya tulis yang dikirimkan hendaknya sudah mendapat persetujuan dari pimpinan instansi masing-masing. Ketentuan penulisan karya tulis untuk dapat dimuat di jurnal ini tertera dalam “Petunjuk bagi Penulis” di halaman terakhir.
b. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit 4 kali per tahun oleh Badan Penelitian clan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evolusi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, clan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal dapat diakses melalui http://www.pustaka-deptan.go.id
Setiap majalah ilmiah memberi persyaratan yang harus diikuti oleh penulis. Persyaratan tersebut, antara lain meliputi gaya (style), format, panjang karya tulis, dan bentuk daftar pustaka. Pedoman bagi Penulis (Notes to Authors) umumnya tertera di halaman akhir dari majalah ilmiah. Verifi kasi terhadap tahap persiapan, dilakukan berdasarkan butir-butir pada lampiran 1.
3.2. Perencanaan
Setelah memilih topik dan membuat judul makalah, penulis harus menentukan permasalahan dan membangun hipotesis, baik secara eksplisit, maupun implisit. Pengungkapan asalahan
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
8
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
tersebut akan membantu penulis untuk memilih bahan yang akan dibahas dalam karya tulis. Masalah yang akan dibahas harus aktual dan faktual, serta relevan dengan topik dan tnbuan pengkajian. Oleh karena itu, penulis harus memahami substansi permasalahan.
Penulis perlu membuat catatan dari pustaka yang dirujuk. Catatan tersebut berisi rujukan lengkap dengan gaya yang ehendaki majalah, serta komentar pembaca, kutipan, dan lain -lain yang membantu penulis dalam menyusun karya tulisnya nanti. Pilih referensi yang relevan dengan topik dan substansi karya tulis, berbobot, dan terbaru. Jurnal yang disitir sebaiknya unya berasal dari kesimpulan serta bahan dan metode saja.
Langkah ini diperlukan dalam penulisan karya tulis primer tidak diperlukan dalam penulisan karya tulis sekunder. Langkah ini bertujuan: a) memberi batasan lingkup pengkajian, b) menunjukkan cakupan objek pengkajian, waktu dan lokasi, c) menjelaskan bahan yang digunakan dan metode pengkajian, supaya dapat diulang oleh pengkaji lain bila diperlukan, d) menunjukkan tingkat persyaratan kaidah ilmiah, dan e) menunjukkan data yang diamati dan cara analisis data.
Dalam persiapan menulis Hasil Pengkajian, pahami temuan penting yang diperoleh dari percobaan kemudian tuliskan dengan kalimat pendek. Contoh: Pengaruh pupuk organik terhadap hasil - rendah, tn (tidak nyata); Peningkatan dosis, pupuk organik - hasil tidak naik, tn. Setelah itu, tulis kesimpulan sementara. Contoh: Pupuk organik dengan dosis yang dikaji tidak meningkatkan hasil gabah.
Kerangka karya tulis (out line) adalah pokok-pokok tulisan yang disusun secara sistematis dalam setiap bab pada penyusunan karya tulis dan merupakan pedoman dalam penulisan karya tulis. Kerangka tersebut disusun dengan cara
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
9
membagi pokok permasalahan menjadi beberapa bagian utama (diberi nomor angka romawi). Bagian utama dibagi menjadi beberapa subbagian (diberi urutan huruf besar), dan subbagian dibagi menjadi beberapa sub-subbagian (diberi nomor angka numerik). Pembagian selanjutnya, berturut- turut diberi nomor huruf kecil, nomor angka dalam kurung, dan nomor huruf dalam kurung.
Pokok-pokok tulisan diwujudkan dalam bentuk pointer yang terdiri atas kerangka topik, yang selanjutnya diuraikan dalam bentuk kalimat, kemudian dikembangkan menjadi bentuk paragraf. Ketiga langkah tersebut menunjukkan urutan penyusunan setiap bab dalam membuat karya tulis (Mills dan Walter, 1988).
Langkah-langkah dalam membuat painters adalah sebagai berikut: a) menginventarisasi butir-butir pada catatan pustaka yang sesuai dengan komponen dari karya tulis, b) menuliskan gagasan/pemikiran tentang isi karya tulis, c) menuliskan informasi pendukung isi karya tulis, d) megmukakan data, tabel, dan fakta yang tersedia, e) merginventarisasi isi pustaka yang pro maupun kontra (kalau ada), f ) menuliskan pesan penting yang akan dikemukakan, g) an kesimpulan karya tulis (sementara), h) menseleksi dan memperbaiki pointers; buang yang kurang relevan, i) mediskusikan dengan teman sebidang untuk mendapatkan masukan. nan j) menyusun urutan pointers agar informasinya runut. Verifi kasi terhadap tahap perencanaan dilakukan bedasarkan butir-butir pada Lampiran 1.
3.3. Penulisan
Tahapan penulisan karya tulis ilmiah terdiri atas penulisan judul penyusunan abstrak, penyusunan tabel dan ilustrasi, penulisan draft naskah, dan penyusunan daftar pustaka.
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
10
Penulisan judul sangat awal akan membantu mengorganisasikan pikiran penulis. Meskipun mungkin dapat berubah setelah penulis mengakhiri tulisannya. Setelah judul ditentukan, upayakan: a) memahami substansi seluas mungkin, b) mengumpulkan fakta, data, dan hasil observasi, c) mengumpulkan dukungan pustaka yang relevan, d) mendiskusikan dengan teman sebidang, e) memformulasikan alternatif clan mempelajari yang terbaik, f ) memipertimbangkan kelebihan dan kelemahan solusi tersebut berikut implikasinya, dan g) menentukan kelayakan teknis, sosial ekonomis, dan ekologis secara berkelanjutan. Ide penulisan judul mudah diperoleh, antara lain dari: a) pemahaman substansi bahan makalah, b) judul penelitian/pengkajian, c) hasil observasi, serta d) diskusi dan seminar. Contoh judul yang dikembangkan dari topik: - Pemantauan Populasi Wereng Batang Coklat sebagai Dasar
Pengendalian dengan Insektisida secara Bijaksana - Pemberdayaan Kelompok Tani sebagai Penangkar Benih
Padi
Penyusunan abstrak didahului oleh penyusunan draft abstrak. Hal tersebut akan membantu dalam menata susunan substansi karya tulis. Abstrak harus ringkas, padat, lengkap, bermakna, dan mampu memberikan informasi utuh kepada pembaca. Panjang abstrak berkisar antara 150-200 kata. Abstrak dilengkapi dengan kata kunci untuk mempermudah penelusuran artikel.
Tabel dan ilustrasi sebaiknya disusun terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan penulisan deskripsinya. Penyusunan tabel dan ilustrasi dalam bentuk yang komunikatif akan membantu penulis menginterpretasikan data. Hal-hal
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
11
yang perlu diperhatikan, antara lain: a) memeriksa data dengan cermat sebelum dianalisis, b) memahami teknik analisis data dan hasil analisisnya, c) membuat tabel seperti yang nanti akan terbit dipublikasi, d) memahami makna hasil analisis data, dan e) membuat kesimpulan sementara dari hasil analisis data.
Tabel dan ilustrasi diberi judul singkat tetapi jelas dengan catatan secukupnya, sehingga setiap tabel dan ilustrasi mampu menjelaskan informasi yang disajikan secara mandiri. Setiap tabel dan ilustrasi diulas dan dibahas di dalam teks, bukan dibunyikan angkanya. Bentuk penyajian data perlu dipertimbangkan, apakah tabel lebih efektif dari pada gambar, atau sebaliknya.
Draft naskah pertama setiap bab-nya disusun berdasarkan kerangka tulisan, sebaiknya dikerjakan sekaligus agar kalimat dan paragrafnya berkesinambungan satu sama lain. Pointers biasanya digunakan sebagai kalimat pembuka (lead sentence) dari paragraf. Kalimat pembuka paragraf diikuti kalimat penjelasan, penguraian, pengkontrasan, penguatan, dan pembanding. Kalimat akhir paragraf sering berfungsi sebagai penutup/kesimpulan paragraf.
Pustaka yang dirujuk disusun sesuai dengan pedoman penulisan publikasi yang dipilih. Sumber rujukan berasal dari majalah ilmiah, buku (textbook), risalah (proceeding), atau internet. Setiap pustaka yang tercantum pada daftar pustaka harus dikutip (disitir) pada teks. Sebaliknya, setiap kutipan (sitasi) pada batang tubuh makalah harus dicantumkan dalam daftar pustaka. Verifi kasi terhadap tahap penulisan dilakukan berdasarkan butir-butir pada Lampiran 1.
3.4. Perbaikan Naskah
12
pemeriksaan naskah oleh senior, perbaikan naskah dan penyerahan naskah kepada dewan redaksi.
Naskah yang baik biasanya telah diperbaiki beberapa kali sebuelum diserahkan ke dewan redaksi. Kesalahan teknis, isi, dan Ketikan harus dihindari agar naskah dapat diproses dengan cepat. Susunan paragraf harus mengalir dengan lancar dan sistematis. Informasi yang diperlukan tetapi belum ditulis perlu dilengkapi. Sebaliknya, bila ada informasi yang tidak relevan dengan topik, perlu dihilangkan. Abstrak harus mewakili informasi secara lengkap yang dikemukakan dalam naskah.
Naskah harus ditulis dalam tata bahasa formal ilmiah yang baik dengan menggunakan istilah yang tepat. Gaya penulisan ditentukan oleh jenis publikasi, misalnya bentuk judul dan sub-judul, penggunaan huruf besar dan kecil, titik atau koma sebagai tanda desimal, serta perfakuan tabel dan ilustrasi. Penyesuaian gaya sebelum naskah diserahkan kepada redaksi publikasi oleh penulis akan menjamin kemudahan dan kecepatan pemprosesan oleh penyunting.
Naskah versi terakhir disarankan untuk diperiksa oleh teman sebidang. Teman tersebut kemungkinan mempunyai sudut pandang yang berbeda dan dapat meiihat kelemahan yang ada dalam naskah. Penulis sering tidak menyadari ketidak- jelasan tulisannya karena mengira pembaca memahami apa yang dia tulis. Kritik dan saran tersebut tidak harus diikuti kalau dipandang tidak relevan.
Naskah yang telah diperbaiki sesuai dengan saran senior, dikirim kepada dewan redaksi. Setelah diperiksa oleh dewan redaksi, penulis memperbaiki naskah secepatnya. sesuai saran dan koreksi dewan redaksi. Bila dibutuhkan, penulis
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
13
dapat berkomunikasi dengan dewan redaksi. Karya tulis hasil perbaikan akhir diserahkan kembali kepada dewan redaksi dalam bentuk soft dan hardcopy. Verifi kasi terhadap tahap perbaikan naskah, dilakukan berdasarkan butir-butir pada Lampiran 1.
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
14
KARYA TULIS
ILMIAH PRIMER
Karya tulis primer memuat judul, nama dan alamat instansi penulis, abstrak (bahasa Indonesia dan Inggris), kata kunci, pendahuluan, bahan dan metode, hasil dan pembahasan, kesimpulan, penghargaan/ucapan terima kasih, dan pustaka.
4.1. Judul
Judul harus informatif dan mampu menarik perhatian per-icaca secara sepintas agar sekali dibaca, judul tadi mudah kap maknanya. Judul harus singkat, maksimum 15 kata, dan rnenggambarkan isi karya tulis dengan tepat, serta menggambarkan subjek (pokok atau topik makalah). Keterangan metode. lokasi atau tahun/musim hendaknya ditulis di bab Bahan dan Metode atau Pendahuluan. Oleh karena itu jangan membuat judui terlalu umum, misalnya: Pentingnya Plasma Nutfah Kedelai, diubah menjadi: Skrining Plasma Nutfah Kedelai untuk Toleran Keringan. Hindari membuat judul terlalu spesifi k, misalnya: Pengaruh Waktu dan Jumlah Penyiraman Air ferhadap Pertumbuhan dan Hasil dari Empat Varietas Kacang Tanah yang mbuhkan dalam Pot, diubah menjadi: Waktu dan Jumlah Persyraman Air pada Kacang Tanah.
Agar mudah dimasukkan ke dalam indeks dan katalog perpustakaan, sebaiknya judul diawali dengan kata kunci (keyword), sepanjang hal tersebut tidak menimbulkan kejanggalan, misalnya judul Cara Bercocok Tanam Kedelai
IV
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
15
Jenuh Air dapat diganti dengan Kedelai, Tanggap Jenuh Air. Sebaiknya, jangan; memakai kata (-kata) yang kurang berarti, seperti Penelitian! Pendahuluan, Studi Perbandingan, Pengaruh, dan Beberapa Macam. Hindari keterangan tambahan yang kurang relevan,’ seperti varietas tanaman dan lokasi percobaan. Istilah atau nama kimia yang panjang sebaiknya ditulis singkatannya, sedangkan keterangannya yang lengkap ditulis dalam pendahuluan.
4.2. Nama dan Alamat Instansi Penulis(-penulis)
Siapa saja yang dinyatakan sebagai penulis harus ditentukan pada saat persiapan penulisan karya tulis. Anggota tim pengkaji, dan orang yang memberi masukan nyata, patut disebut sebagai penulis, sedangkan yang hanya memberi usulan, saran, dan kritik tidak perlu dicantumkan sebagai penulis. Urutan penulis juga harus ditentukan. Orang yang langsung mengerjakan naskah, atau yang memberi masukan paling besar disebut penulis pertama. Bila setiap penulis memberi masukan yang bernilai sama, nama-nama dapat ditulis dalam urutan abjad. Agar kesatuan tulisan terjaga, sebaiknya karya tulis disusun oleh seorang penulis, setelah itu diperiksa dan diperbaiki oleh penulis lain.
Penulisan nama penulis harus konsisten, misalnya karya tulis terdahulu tertufi s Muhammad Ihwan, tetapi pada karya tulis berikutnya ditulis M. Ihwan Fahrurrazi. Hal tersebut akan menyulitkan pembaca yang akan merujuk karya tulisnya karena diduga kedua nama tersebut berlainan, dan tentunya akan merugikan penulis sendiri.
Penulis mencantumkan nama dan alamat instansinya sacara lengkap. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi dengan penulis.
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
16
4.3. Abstrak
Abstrak ditampilkan secara kuantitatif atau disebut juga abstrak informatif. Abstrak informatif merupakan ringkasan karya secara keseluruhan. Dalam abstrak ini dikemukakan masalah, tujuan, metode, hasil penelitian, kesimpulan, dan implikasinya..
Abstrak biasanya ditampilkan dalam satu paragraf dengan menggunakan tidak lebih dari 200 kata, tanpa rujukan dan singkatan. Hal-hal yang tidak diuraikan dalam karya tulis boleh dituliskan dalam abstrak. Abstrak sering dibaca sebagai petunjuk isi karya tulis dan diterbitkan dalam bibliografi atau jurnal abstrak. Abstrak harus singkat, padat, lengkap, dapat berdiri sendiri, dan mudah dimengerti oleh pembaca tanpa melihat karya tulisnya. Kata penghubung, seperti: oleh karena itu; sementara itu; dengan demikian; sehubungan dengan hal itu; meniurut analisa statistik; dan sejenisnya, tidak usah digunakan dalam penulisan abstrak.
4.4. Kata Kunci
Kata kunci (key-words) maksimum 5 kata, diperlukan untuk mempermudah penelusuran artikel, dan umumnya diletakkan di bawah abstrak. Kata kunci mencakup, antara lain pokok substansi karya tulis, hal baru yang ingin ditonjolkan, temuan penting yang ingin disampaikan, dan kata yang dapat dipakai sebagai dasar klasifi kasi topik karya tulis.
4.5. Pendahuluan
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
17
secara jelas. Ada empat fungsi utama Pendahuluan, yakni untuk menyatakan pokok permasalahan, ruang lingkup, dan tujuan pengkajian. Pendahuluan juga mengemukakan ringkasan temuan dari penelitian terdahulu, dan kadang-kadang juga menjelaskan nilai penting dari pokok permasalahan.
Pendahuluan harus dapat menjawab pertanyaan apa dan mengapa pengkajian dilakukan. Pendahuluan harus mampu’ menarik perhatian pembaca clan cukup pendek serta jelas, terdiri atas 1 - 2 halaman cetak, berisi informasi yang langsung relevan dengan topik pengkajian. Pustaka yang diacu sebaiknya terbitan mutakhir (5 - 10 tahun terakhir).
4.6. Bahan dan Metode
Bahan dan Metode menguraikan materi yang digunakan, lokasi dan waktu pengkajian, kondisi lingkungan, rancangan percobaan, unit percobaan, teknik penarikan contoh, data yang dikumpulkan, cara pengumpulan data, rincian pelaksanaan, clan teknik analisis data. Metode baku dan metode yang dipakai oleh pengkaji lain, tidak perlu dikutip secara lengkap, sedangkan metode yang dimodifi kasi oleh penulis harus diuraikan secara rinci. Bahan clan Metode diuraikan sedemikian rupa untuk memberikan penjelasan ruang lingkup pengkajian, sehingga pengkaji lain dapat mengulangi pengkajian tersebut.
4.7. Hasil dan Pembahasan
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
18
dengan kesimpulan penulis. Apabila Hasil dipisahkan dengan Pembahasan, bagian Hasil tidak memuat pembahasan. Bagian Hasil hanya mengemukakan apa yang ditemukan dalam pengkajian berdasarkan data dalam tabel dan ilustrasi. Pustaka yang disitir tidak dimasukkan pada pemaparan hasil pengkajian, tetapi dimasukkan pada pembahasan.
Hasil kajian harus relevan dengan judul, masalah, hipotesis, dan tujuan. Hubungan antara Hasil dan Metode juga harus kansisten dan jelas. Pemaparan hasil jangan memuat hal yang seharusnya ada di Bahan dan Metode. Berikan makna hasil pengkajian dengan menyebutkan tabel datanya. Contoh: Tabel 1. menunjukkan bahwa pupuk organik dosis 2 t/ha tidak meningkatkan hasil kedelai. Atau lebih baik: Perlakuan pupuk organik dosis 2 t/ha tidak meningkatkan hasil kedelai (Tabel 1). Jangan hanya menggunakan kalimat: Hasil disajikan dalam Tabel 1.
Tabel dan ilustrasi harus berdiri sendiri, dapat dimengerti tanpa, perlu melihat tulisan. Pembaca sering melihat tabel dan i si sebelum membaca tulisan. Gambaran yang diperoleh dari tabel dan ilustrasi bukan hanya mengenai hasil, tetapi juga maksud pengkajian. Bila tidak menunjukkan maksud yang jelas, tabel dan ilustrasi dapat dihilangkan atau diubah bentuknya agar komunikatif. Data yang dapat dijelaskan dengan lebih singkat dalam beberapa kalimat tidak perlu disajikan sebagai tabel. Sebaliknya, penjelasan dengan tulisan yang terlalu rumit mungkin lebih baik bila disajikan dalam bentuk tabel atau ilustrasi. Data peubah yang disebutkan di Bahan dan Metode harus ditunjukkan dalam tabel.
Pengulangan setiap angka dari tabel di dalam teks harus dihindari karena tanpa membaca teks, pembaca dapat mengartikan data dalam tabel. Teks mengemukakan
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
19
pokok pokok utama yang dicerminkan oleh data atau mengulas interpretasi dan makna data, misalnya maksimum dan minimum serta kecenderungan atau hubungan antar peubah.
Pembahasan merupakan bagian karya tulis untuk mengemukakan pendapat, interpretasi, dan argumentasi oleh penulis secara bebas, tetapi singkat dan logis. Pendapat penulis lain yang telah diringkas di Pendahuluan tidak perlu diulang, tetapi diacu saja seperlunya. Hasil pengkajian perlu diulas agar memenuhi tujuan pengkajian. Temuan pengkajian dibahas dan dibandingkan dengan hasil sebelumnya dengan cara menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Penulis sebaiknya tidak menyatakan: Kesimpulan Achmad (1995) mendukung hasil pengkajian ini karena penulis membahas hasil pengkajiannya pada tahun 2010. Penulis sebaiknya menyatakan: Hasi pengkajian ini memperkuat kesimpulan Achmad (1995).
Arti temuan perlu ditelaah lebih dalam untuk memperluas ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara mengekstrapolasi hasil, memberi implikasi pada penerapannya, termasuk pula segi lain yang memerlukan pengkajian lebih lanjut. Spekulasi/ dugaan logis atas sebab-musabab hasil yang ditemukan dapat ditulis, tetapi batas antara fakta dan perkiraan harus jelas. Hanya spekulasi yang dapat diuji patut dimuat. Spekulasi tidak dihindari, terutama apabila ada hasil di luar dugaan dan penulis harus mencoba menjelaskan sebabnya. Contoh: Hasil yang lebih dari yang diharapkan pada pengkajian ini mungkin disebabkan oleh musim tanam yang kurang sesuai.
Secara ringkas, Pembahasan harus menjawab pertanyaan mengapa, apa arti dan implikasi dari hasil pengkajian dilakukan. Contoh:
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
20
- Mengapa perlakuan tertentu memberikan respon positif, sedangkan perlakuan lain responnya negatif.
- Apakah hasil pengkajian ini samalberbeda dengan hasil pengkajian sebelumnya.
- Apa arti penting hasil pengkajian ini dalam pengembangan IPTEK
- Apa implikasi dari hasil pengkajian ini dalam program operasional praktis.
- Apakah hasil penelitian sesuai hipotesis, kalau tidak sesuai, apa sebabnya.
4.8. Kesimpulan
Kesimpulan merupakan intisari hasil pengkajian, pada umumnya terdiri atas dua atau tiga hal penting. Kesimpulan memuat jawaban atas tujuan pengkajian atau hipotesis. Dalam merumuskan kesimpulan, penulis jangan mengemukakan pernyataan yang sudah berlaku umum. Penulis harus bersikap kritis dan bernalar secara konklusif, sehingga dicapai kesimpulan yang mendekati kesempurnaan. Kesimpulan jangan hanya membunyikan data. Umumnya makalah ilmiah tidak mengakomodasi saran.
4.9. Penghargaan
Bantuan dalam pelaksanaan pengkajian berupa dana, saran, atau nasehat dari perorangan atau organisasi dihargai dengan menuliskan ucapan terima kasih. Persetujuan dari pihak yang dihargai harus diminta sebelum penghargaan tersebut dimuat.
4.10. Pustaka
Setiap sumber kutipan atau gagasan harus dirujuk dalarn karya tulis. Rujukan pustaka yang digunakan harus
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
21
dicantumkan dalam Daftar Pustaka. Sebaliknya, Daftar Pustaka tidak memuat pustaka yang tidak dirujuk.
Umumnya, rujukan dalam majalah ilmiah menggunaka sistern nama-tahun atau sistern nomor. Dalam sistern nama tahun, setiap rujukan dapat berupa nama penulis disertai dengan tahun penerbitan, misalnya: “........ (Abdurachman et al., 2007) atau “Bustaman (2009) menyatakan bahwa ......”. Dalam sistern nomor, rujukan yang disusun secara abjad dalam Daftar Pustak diberi nomor urut, dan nomor urut inilah yang dimuat dala tulisan, misalnya: “Bustaman (6) menyatakan bahwa ....” atau rujukan kalimat tanpa menyebut nama “........ (6)”.
Tulisan yang tidak atau belum diterbitkan dapat diruju pada akhir teks dengan menambahkan catatan “tidak diterbitkan atau “dalam penerbitan” dalam tanda kurung pada Dafta Pustaka. Informasi yang diperoleh secara lisan atau lewat surat dijelaskan dengan menyebut nama sumber diikuti dengan kat~l “komunikasi pribadi” dalam tanda kurung. Komunikasi pribadi, dicantumkan pada teks dan tidak dirujuk dalam Daftar Pustaka. Kutipan yang bersumber dari suatu institusi dirujuk dengan menyebutkan nama institusi tersebut sebagai penulis.
Berikut ini beberapa contoh penulisan Pustaka: 1. Rujukan dari majalah ilmiah:
Bustaman, S. 2009. Strategi pengembangan industri biodisel berbasis kelapa di Maluku. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 28(2): 46-53.
Negeri, M.R. and L.D. Bernik. 2008. Tracking the sex pheromone of codling moth against a background of host volatiles with an electronic nose. Crop Protection. 1: 1-8.
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
22
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
2. Rujukan dari buku (textbook): BBP2TP. 2010. Balai Besar Pengkajian: Rencana Strategis
2010-2014. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor. 11 hlm.
Pedigo, L.P. and M. Rice. 2008. Entomology and Pest Management. 6’h ed. Prentice Hall, Inc., Upper Saddle River, New Jersey. 816 pp.
3. Rujukan dari risalah (proceeding) atau buku berisi banyak makalah: Ananto, E.E. 2007. Menjadikan Program Peningkatan
Pendapatan Petani melalui Inovasi (P4M1) sebagai ujung tombak peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan, hlm. 34-51. Dalam D.M. Arsyad et al. (Ed.). Prosiding Lokakarya Nasional Akselerasi Diseminasi Inovasi Pertanian Mendukung Pembangunan Berawal dari Desa. Bogor, 27 Agustus 2007. BBP2TP, Bogor.
Kartohardjono, A. and M. Arifi n. 2007. Control of rice armyworm using virus formulation (MsNPV) on rice, p. 56 59. In L. Sulistyowati et al. (Eds.) Proceedings of The 1St International Conference on Crop Security 2005, Crop Security for Food Safety and Human Health. Malang, September 20th - 22nd, 2005. Agriculture Faculty, Brawijaya University, Malang, Indonesia.
4. Rujukan dari internet: Alwin, A. 2008. Tepung terigu: stok aman, harga melambung.
www.sriboga-fl ourmill.com [17 November 2008]. Ali, J. and A.F. Santiaguel. 2011. Greener rice. Rice Today, IRRI.
http://irri.org/knowledge/publications/rice today/ features/greener-rice [February 07, 2011]
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
23
Karya tulis ilmiah sekunder merupakan tulisan yang memuat evaluasi konsep, pendapat, perubahan, tanggapan kritis, atau tingkat perkembangan ilmu. Karya tulis ilmiah sekunder tidak memiliki struktur baku sehingga lebih memberikan keleluasaan bagi penulisnya dibandingkan dengan karya tulis ilmiah primer. Strukturnya disesuaikan dengan tujuan penulisan dan sistematika pembahasan secara logis.
Karya tulis ilmiah sekunder memuat unsur-unsur, antara lain: (a) penyajian pemikiran penulis dan status informasi dari pustaka; (b) pengungkapan status perkembangan ilmu atau teknologi; (c) penjelasan tentang perbedaan pendapat; (d) pengungkapan konsepsi baru, (e) pengungkapan aspek yang perlu dikembangkan atau ditindak lanjuti, dan (f ) pengungkapan pemecahan masalah untuk bahan kebijakan atau kepentingan praktis. Namun demikian, pada umumnya karya tulis sekunder terdiri atas pendahuluan, aspek yang ditinjau, pembahasan, kesimpulan dan pustaka.
Pendahuluan menguraikan masalah yang mencakup: (a) topik dan ruang lingkup pembahasan; (b) tinjauan pustaka penting yang terkait dengan topik; dan (c) hal-hal penting yang berkaitan dengan topik. Ulasan kritis mengenai karya tulis ilmiah primer sebagai referensi diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada pembaca mengenai latar belakang dan alasan diadakannya pembahasan. Alinea
V
24
terakhir Pendahuluan biasanya menyajikan tujuan tulisan dan manfaat yang diharapkan.
Bab berikutnya menguraikan aspek yang ditinjau, mencakup sistematika substansi bahasan yang bersumber dari pendapat atau hasil penelitian/pengkajian terdahulu, yang diulas secara kritis kemudian disusul dengan pendapat penulis sendiri. Pustaka yang digunakan umumnya berasal dari karya tulis ilmiah primer yang relevan dengan topik yang dibahas. Dengan demikian, pembaca terlebih dahulu diberi informasi mengenai penemuan-penemuan dalam karya tulis ilmiah primer yang telah diterbitkan. Pendapat atau temuan penulis terdahulu dianalisis kemudian dirangkum dan dibahas. Analisis dimaksudkan untuk mengungkap temuan, pemikiran dan kesimpulan dari karya tulis ilmiah primer yang terkait dengan topik.
Bahasan merupakan hasil pemikiran penulis yang memberikan argumentasi mengenai alasan-alasan penulis menyatakan sependapat atau tidak sependapat. Karya tulis ilimiah primer yang ditulis sendiri oleh penulis karya tulis ilmiah sekunder dapat dipakai sebagai bahan bahasan. Pada akhir tulisan disajikan pula kesimpulan. Tabel dan ilustrasi dapat dicantumkan bila dipakai sebagai bahan pembahasan. Pencantuman abstrak atau ringkasan bergantung format publikasi yang akan menerbitkan. Contoh kerangka karya tulis ilmiah sekunder disajikan pada Lampiran 2.
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
25
KARYA TULIS
ILMIAH POPULER
Sebagaimana halnya karya tulis ilmiah sekunder, format dan sistematika karya tulis ilmiah populer tidak dibakukan karena sangat beragam, baik isi dan bentuk maupun sasarannya. Oleh karena itu, karya tulis ilmiah populer biasanya mengandalkan penalaran dan alur pemikiran yang sistematis, sehingga mampu memberikan informasi yang jelas, lengkap dan menarik.
Dalam mempersiapkan tulisan, pertama-tama penulis harus memilih ide yang dinilai penting untuk ditulis. Sumber ide dapat diperoleh dari pengamatan, pengalaman, media massa, internet, dan seminar. Suatu ide dinyatakan baik apabila setelah ditulis: (a) akan memberikan edukasi dan pencerahan bagi kemajuan masyarakat, (b) mengandung informasi baru yang belum diketahui masyarakat sasaran, (c) cukup menarik perhatian masyarakat, (d) membahas topik spesifi k secara tuntas yang tidak terlalu luas atau terlalu sempit, (e) didukung oleh fakta dan kenyataan dilapangan atau informasi yang cukup, dan (f ) data dan sumber informasi dapat dijangkau bagi pembaca yang memerlukan (Soediyanto dan Soehardjan, 1999).
Langkah berikutnya adalah mengumpulkan bahan- bahan informasi yang relevan untuk mendukung ide tersebut. Sumber informasi dapat diperoleh dari berbagai artikel, baik publikasi primer maupun sekunder. Setelah bahan informasi terkumpul, mulailah menyusun kerangka tulisan untuk
VI
26
dituangkan dalam bentuk tulisan, maupun tergambar dalam pikiran yang nantinya dapat dituangkan.dalam tulisan.
Penulis hendaknya menyusun judul tulisan yang lebih memikat pembaca. Pesan-pesan yang disampaikan harus memberikan pengayaan pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi sosial ekonomi, dan budaya, yang perlu diketahui masyarakat umum. Kalimat pada tulisan ilmiah populer tidak harus formal dan juga tidak bersifat personal, tetapi penyajiannya harus sistematis. Karena sifat populer, susunan kalimat diusahakan sederhana. Istilah-istilah yang dipilih hendaknya yang telah umum dipakai dan mempunyai arti yang jelas dan tepat. Jika diperlukan, penjelasan diberikan untuk istilah yang dipakai.
Adakalanya penulis menyajikan informasi berupa topik baru yang ingin disebarluaskan untuk kepentingan umum. Bila topik tulisan berupa pedoman teknik, perlu disajikan rincian tahapannya sehingga pembaca tidak kesulitan untuk melaksanakannya.
Empat tahapan dalam proses penulisan suatu karya tulis ilmiah, yakni: (a) tahap persiapan; (b) tahap inkubasi; (c) tahap iluminasi; dan (d) tahap verifi kasi/evaluasi (Nunan, 1991).
Tahap persiapan adalah tahap penulis menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, mengamati, dan lain lain yang memperkaya masukan yang akan diproses selanjutnya.
Tahap inkubasi adalah tahap penulis memproses informasi yang dimilikinya sedemikian rupa, sehingga mengantarkannya pada ditemukannya pemecahan masalah atau jalan keluar yang dicarinya. Proses inkubasi ini analog
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
27
dengan ayam yang mengerami telurnya sampai telur menetas menjadi anak ayam.
Tahap iluminasi adalah tahap penulis mencetuskan substansi tulisan yang akan dibuat berdasarkan inspirasi atau insight, yaitu gagasan yang datang secara tiba-tiba dan berloncatan dari pikiran kita. Pada tahap ini, penulis menemukan pemecahan masalah atau jalan keluar dari apa yang telah lama di pikirkan.
Tahap verifi kasi adalah tahapan pemeriksaan kembali hasil tahap iluminasi dan diseleksi serta disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu, ada hal-hal yang perlu ditambah, ada hal-hal yang peka, sehingga kata-kata atau kalimat dipilih yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya. Jadi, pada tahap ini pengujian karya tulis berdasarkan realitas sosial, budaya, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Contoh karya tulis ilmiah populer disajikan pada Lampiran 3.
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
28
PENUTUP
Panduan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini merupakan acuan bagi pengkaji lingkup BBP2TP dalam menyusun karya tulis ilmiah. Implikasi yang diharapkan dari penggunaan panduan ini adalah meningkatnya mutu karya tulis ilmiah, sehingga lebih berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal- jurnal internasional dan nasional terakreditasi. Hal tersebut lebih lanjut diharapkan akan memotivasi pengkaji untuk lebih kreatif dan produktif dalam menghasilkan karya tulis ilmiah.
VII
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
29
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, D.M. dan Purwanto. 2010. Kriteria seleksi dan toleransi galur kedelai pada lahan kering masam. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 29(2): 97- 103.
Bustaman, S. 2009. Strategi pengembangan industri biodisel berbasis kelapa di Maluku. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 28(2): 46-53.
Day, R.A. 1983. How to Write and Publish a Scientifi c Paper. ISI Press, Philadelphia.
Hendayana, R. 2011. Memacu peningkatan produksi padi dengan mengintensifkan pendampingan. Sinar Tani Edisi 6-12 April 2011. Hlm. 17.
Mills, G.H. and J.A. Walter. 1998. Technical Writing. Holt, Rinehart and Winston, New York. 434 p.
Mundy, P. dan J. Bernsten. 1985. Bagaimana Menulis Karya Tulis dan Menyajikan Seminar Ilmiah. Puslitbangtan, Bogor. 74 p.
Nunan, D. 1991. Language Teaching Methodology: A Text Book for Teachers. Prentice Hall, New York. 252 p.
Rifai, M.A. 1997. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 180 p.
Soediyanto dan M. Soehardjan. 1999. Petunjuk Teknis Menyusun Tulisan Ilmiah Populer. PUSTAKA - ARMP II. Badan Litbang Pertanian.
Soehardjan, M. 1977. Pengeditan Publikasi Ilmiah dan Populer. Balai Pustaka, Jakarta. 52 p.
Wiggin, B. and J. Bernsten. 1979. Communicating in Technical English: A Handbook for Agricultural Scientists. AARD, Bogor. 152 p.
VIII
30
Lampiran 1. Pemeriksaan Karya Tulis Ilmiah
Berikut ini dikemukan daftar pemeriksaan karya tulis menurut Mitls dan Walter (1988).
A. Sebelum anda mulai menulis, apakah anda telah:
1. Mendifi nisikan masalah? 2. Mengkompilasi semua informasi yang dibutuhkan? 3. Memeriksa ketepatan semua informasi yang akan
disajikan? 4. Mengingat hasil kajian sebelumnya yang terkait bidang
yang sama? 5. Mempelajari siapa yang akan membaca karya tulis
anda? 6. Menentukan mengapa mereka akan membacanya? 7. Mencoba mengantisipasi pertanyaan pembaca yang
akan ingin anda jawab? 8. Menentukan sikap pembaca mengenai tujuan karya
tulis? 9. Menentukan sudut pandang yang anda ingin
kembangkan? 10. Memeriksa kesesuaian pendekatan anda dengan
kebijakan dan tujuan pembangunan?
1. Merencanakan pendahuluan yang akan memperkenalkan pokok permasalahan dan menyajikannya?
2. Menyusun bagian-bagian penyajian sedemikian rupa, sehingga bagian-bagian tersebut berperanan dalam tulisan dan memudahkan pemahaman bagi pembaca?
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
31
3. Mengemukakan latar belakang informasi dengan jelas?
4. Membuang rincian yang tidak relevan dan tidak perlu? 5. Merencanakan kesimpulan yang jelas? 6. Menentukan secara jelas kesimpulan dan rekomendasi
yang harus disajikan? 7. Menetapkan format fungsional: kepala (heading),
subheading, ilustrasi, dll? C. Pada saat menulis, apakah anda telah:
1. Mengungkapkan dengan bahasa sendiri yang mudah ciipahami pembaca mengenai apa yang anda ingin katakan?
2. Menggunakan bahasa yang diadaptasikan ke pembaca?
3. Menggunakan sesedikit mungkin kata-kata yang konsisten dengan kejelasan, kelengkapan, dan kesopanan?
4. Menyajikan tulisan yang memberikan tanggapan sesuai keinginan?
5. Mencoba menghasilkan gaya yang tidak hanya akurat, jelas, dan meyakinkan, tetapi juga menarik?
6. Menyajikan semua fakta dan memberikan komentar terhadap fakta tersebut?
7. Menjelaskan pembaca mengenai kegiatan yang anda rekomendasikan dan mengapa?
8. Menghubungkan ilustrasi dan kondisi faktual di lapangan dengan tulisan?
D. Pada saat memeriksa dan memperbaiki, apakah anda telah: 1. Menyesuaikan maksud dengan kebutuhan dan
keinginan pembaca?
32
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
2. Mengkoreksi ketikan secara teliti mengenai susunan bahasa, tanda baca, dan ejaan?
3. Membuang susunan kata-kata yang panjang dan kurang berguna?
4. Memisahkan kalimat panjang? 5. Memeriksa fungsi kepala (heading) sebagai label
bagi pokok permasalahan? 6. Menghapus kalimat, kata-kata dan ungkapan yang
bertentangan? 7. Memutuskan secara bijak mengenai kejelasan
pilihan kata-kata anda bagi pembaca? 8. Memeriksa kejelasan sistematika pembahasan? 9. Memeriksa untuk kedua kalinya untuk melihat
bahwa pendahuluan telah menetapkan latar belakang, tujuan, ruang lingkup, dan rencana pengembangan secara jelas?
10. Memberi kesempatan bagi orang lain untuk memeriksa karya tulis anda?
E. Akhirnya, apakah anda telah: 1. Menyelesaikan karya tulis tepat waktu? 2. Menghasilkan karya tulisan yang dapat anda
banggakan? 3. Tidak merasa khawatir clan malu apabila tulisan
anda dibaca oleh orang-orang penting terkait dengan bidang yang anda tulis?
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
33
Primer
Kriteria Seleksi dan Toleransi Galur Kedelai pada Lahan
Kering Masam
I. Abstrak 1. Dasar pertimbangan: penyediaan varietas kedelai
toleransi masam. 2. Tujuan: identifi kasi galur kedelai toleran lahan kering
masam dan analisis sifat komponen hasil sebagai kriteria seleksi untuk hasil.
3. Metode: rancangan acak kelompok dengan 30 galur/ varietas clan 3 ulangan.
4. Hasil: 2 galur berbiji sedang dan 2 galur berbiji besar toleran lahan kering masam. Jumlah polong/tanaman dan ukuran biji merupakan kriteria seleksi pemilihan galur toleran lahan kering masam.
II. Pendahuluan 1. Upaya perluasan areal tanaman kedelai pada lahan
kering masam memerlukan varietas adaptif. 2. Keragaman genetik kedelai untuk sifat toleran cekaman
edafi k memberikan peluang pengembangan beberapa varietas berbiji besar yang berdaya hasil tinggi dan toleran lahan masam.
3. Hasil-hasil penelitian tentang beberapa sifat komponen hasil kedelai yang dapat digunakan sebagai kriteria seleksi hasil tinggi.
4. Tujuan: mengidentifi kasi galur kedelai biji seclang dan besar yang toleran lahan kering masam dan analisis
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
34
sifat komponen hasil sebagai kriteria seleksi untuk hasil.
III. Bahan dan Metode 1. Lokasi: lahan kering di Muara Enim (agak masam) dan
Lampung Tengah (masam). 2. Waktu: MH 2005/2006. 3. Bahan: 13 galur berbiji besar, 11 galur berbiji kecil, 6
varietas pembanding. 4. Rancangan acak kelompok dengan 30 galur/varietas
clan 3 ulangan. 5. Pengamatan: komponen hasil dan hasil. 6. Analisis data: analisis ragam individual clan gabungan,
analisis indeks toleran cekaman, serta analisis korelasi dan sidik lintas.
IV. Hasil dan Pembahasan 1. Keragaan galur dan indeks toleran cekaman.
a. Analisis ragam individual dan gabungan: - Lokasi berpengaruh nyata terhadap hasil dan
ukuran biji. - Galur serta interaksi galur X lokasi berpengaruh
nyata terhadap hasil, tinggi tanaman, jumlah cabang, dan jumlah polong, dan ukuran biji.
- Pemilihan galur beradaptasi berdasarkan spesifi k lokasi.
b. Kedelai dengan produktivitas tinggi di Muara Enim ada 2 galur, sedangkan di Lampung Tengah ada 5 galur.
c. Analisis indeks toleran cekaman: ada 4 galur terbaik.
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
35
2. Analisis korelasi clan sidik lintas a. Di Muara Enim, hasil biji berkorelasi dengan ukuran
biji, sedangkan di Lampung Tengah berkorelasi dengan jumlah polong. Ini peluang mendapatkan galur berbiji besar dengan hasil tinggi.
b. Di Muara Enim, pengaruh langsung terhadap hasil ditunjukkan oleh ukuran biji, jumlah polong, dan jurnlah cabang, sedangkan di Lampung Tengah ditunjukkan oleh ukuran biji. Jumlah polong dan ukuran biji dapat digunakan sebagai kreteria seleksi untuk hasil.
V. Kesimpulan 1. Ada 2 galur berbiji besar dan 2 galur berbiji sedang
yang toleran pada lahan kering masam. 2. Kriteria varietas berdaya hasil tinggi dan toleran lahan
kering masam adalah jumlah polong dan ukuran biji. 3. Varietas toleran lahan kering masam dapat
menghasilkan 2 t/ha.
VI. Daftar pustaka
36
Lampiran 3. Contoh Kerangka untuk Karya Tulis Ilmiah
Sekunder
Kelapa di Maluku
biodiesel. 3. Strategi clan pola pengembangan biodiesel berbasis
kelapa. 4. Langkah operasional Pemda dalam pengembangan
biodiesel.
1. Manfaat biodiesel sebagai substitusi solar. 2. Kebutuhan biodiesel clan perlunya subsidi agar usaha
biodiesel menguntungkan. 3. Kondisi Maluku clan kebutuhan BBM. 4. Faktor pendukung pengembangan biodiesel. 5. Tujuan tulisan: menggambarkan strategi
pengembangan industri biodiesel melalui analisis SWOT.
III. Biodiesel, bioenergi alternatif clan prospektif
1. Proses pembuatan bodiesel kelapa. 2. Keunggulan dan kelemahan biodiesel.
IV. Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pengembangan biodiesel
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
37
V. Strategi pengembangan industri biodiesel berbasis kelapa 1. Strategi pengembangan pertanaman kelapa. 2. Strategi pengembangan industri biodiesel.
a. Pola usaha rumah tangga. b. Pola usaha mikro dan kecil. c. Pola komersial. d. Pola plasma clan inti.
3. Dukungan kebijakan Pemda Maluku.
VI. Kesimpulan dan implikasi kebijakan
VII. Daftar pustaka
38
Lampiran 4. Contoh Kerangka untuk Karya Tulis Ilmiah
Populer (berdasarkan Hendayana, 2011)
Mengintensifkan Pendampingan
produksi padi. 2. Target pendampingan: meningkatkan produktivitas
padi di lahan LL dan SL.
II. Pendampingan Mendorong Peningkatan Produksi Padi? 1. Pendampingan mempengaruhi perubahan sikap
individu yang didampinginya. 2. Teori perubahan sikap yang berpijak pada strategi
persuasi dan efek suatu komunikasi yang berupa perubahan sikap.
3. Berdasarkan teori perubahan sikap: - Pendampingan mendorong peningkatan
produksi melalui perubahan sikap individu yang didampinginya.
- Tujuan pendampingan dapat ditentukan.
III. Peran Pendamping 1. Peran sebagai fasilitator : member motivasi, kesempatan,
dan dukungan bagi masyarakat. 2. Peran sebagai pendidik: memberi masukan
positif dan direktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya kepada masyarakat.
Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah
BPTP JABAR Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
39
4. Peran bersifat teknis: membantu tugas-tugas teknis sesuai dengan berbagai keterampilan dasar.
IV. Metode Pendampingan Harus Spesifik Lokasi 1. Metode: harus mengacu pada panduan umum dan
selektif, sesuai kondisi setempat. 2. Pendampingan diawali pemahaman karakteristik dan
kebutuhan masyarakat.
40